Showing posts with label Tips. Show all posts

Cara Membuka Kafe dari Nol: Ketika Kafe Bukan Sekadar Tempat Ngopi

Belakangan ini aku kayaknya lagi terikut arus mabuk Jing Boran. Padahal dulu dia adalah salah satu aktor yang kalau di drama/film ada dianya, aku bakal gak jadi nonton. Gara-gara ill feel sama karakter Xiao Nai versi film yang dia perankan di One Smile is very Alluring. Secara aku nonton versi dramanya duluan yang diperankan Yang Yang. Nah, pas lihat versi filmnya, waktu itu kurasa jadi banting kali. 

Barulah pas nonton The Psychologist tahun 2021
, cara pandangku tentang Jing Boran agak-agak terperbaiki. Padahal karakternya si Qian Kai Yi di situ bukan jenis yang idol drama gitu. Tapi kualitas aktingnya cocok kurasa.

Waktu itu nonton drama ini karena tokoh utamanya diperankan oleh Yang Zi. Maju mundur juga pas mau nontonnya gara-gara pemeran utama prianya adalah Jing Boran. Tapi akhirnya karena penasaran dengan ceritanya, jadilah nonton sampai tamat sesi ke-2. Dan jadi ketagihan menunggu sesi ke-3 gara-gara ending-nya yang kayak bersambung gitu. Tapi kayaknya gak akan ada sesi ke-3. Dan agaknya bukan itu saja sih, yang buat drama ini cukup melekat di otakku. 

Ada satu hal di drama ini yang membuat pikiranku melayang ke mana-mana, yaitu konsep kafe yang terhubung dengan penyiaran radio yang ada di drama The Psychologist ini. Studio rekamannya ada di tengah-tengah kafe, dengan kaca tembus pandang. 

Aku jadi membayangkan, kalau suatu hari punya kafe sendiri, aku juga mau ada konsep siaran radionya. Bagaimana kalau tempatnya bukan sekadar tempat makan dan ngopi?

Bagaimana kalau ada ruang baca, kegiatan literasi, mungkin aktivitas untuk anak dan keluarga, lalu ada semacam studio kecil untuk membuat konten atau siaran tentang buku, membaca nyaring, dongeng, baca puisi, dan sejenisnya? Kayaknya keren. 

Sampai aku sadar sendiri, “Ini mau buka kafe atau bikin kompleks pendidikan?” Wkwk.

Lalu aku coba menyortir-nyortir, menyederhanakannya. Kalau benar-benar ingin mewujudkannya, aku ingin punya satu konsep utama yaitu literasi. 

Kafenya menjadi wadah sekaligus sumber pendapatan. Kegiatan penyiarannya (broadcasting) menjadi media pendukung untuk menggaungkan aktivitas literasi ke luar. Anak-anak, keluarga, komunitas, bahkan sekolah bisa menjadi bagian dari ekosistemnya nanti.

Jadi, aku bukan ingin membuat kafe yang kebetulan punya rak buku, tapi aku maunya membuat ruang literasi yang punya kafe. 

Dari situ, kalau suatu hari nanti benar-benar menjalankan ide tersebut, kira-kira beginilah cara membuka kafe dari nol yang akan aku lakukan. 

11 langkah membuka kafe dari nol
Ilustrasi dibuatkan oleh akal imitasi

1. Tentukan Konsep Kafe Sebelum Memikirkan Dekorasi



Kalau membayangkan kafe, hal pertama yang sering muncul justru penampakannya, dekorasinya. Ya, namanya juga mata ya kan. Pasti awalnya gitu. 

Mau minimalis? Industrial? Klasik? Banyak tanaman? Atau penuh ornamen lucu untuk foto?

Padahal, menurutku, sebelum memilih warna dinding dan model kursi, ada pertanyaan yang jauh lebih penting kurasa; kafe ini sebenarnya mau jadi apa?

Kalau konsep utamanya literasi, maka buku tidak boleh sekadar menjadi pajangan.

Harus ada alasan kenapa orang datang dan merasa bahwa tempat ini memang berbeda. Bisa karena ada ruang baca, diskusi buku, kegiatan membaca nyaring, dongeng, kegiatan menulis, menggambar dan mewarnai, majalah dinding, peluncuran buku, atau acara kecil lainnya.

Sementara itu, makanan dan minuman tetap menjadi bagian penting karena kafe harus berjalan sebagai bisnis.

Untuk penyiaran (broadcasting), aku rasa tidak perlu langsung membangun studio radio yang besar. Ruang kecil untuk membuat siniar (podcast), merekam rekomendasi buku, wawancara penulis, atau sesi membaca nyaring dan bercerita rasanya sudah cukup untuk tahap awal. Dan diusahakan ruang siarannya ini kedap suara sih ya, kan. Jangan pula nanti suara blender dan suara numis bawang lebih kedengaran dari pada suara penyiarnya🤣. 


2. Tentukan Siapa yang Ingin Datang


Setelah konsep ditentukan, aku juga perlu membayangkan siapa yang bakal datang.

Kalau konsepnya literasi, tentu orang yang suka membaca, menulis, belajar, berdiskusi, atau melakukan kegiatan kreatif bisa menjadi bagian dari target pengunjung.

Keluarga juga bisa masuk di dalamnya. Anak-anak misalnya, bisa datang untuk membaca buku, mendengarkan cerita, menulis cerita sederhana, menggambar, mewarnai, atau mengikuti kegiatan literasi tertentu. Orang tua bisa menikmati makanan dan minuman sambil menemani.

Aku tentunya tidak harus menyediakan semuanya sejak hari pertama. Bisa bertahap, atau ya buat tema tertentu untuk hari tertentu, biar tak ribet. 

Aku pikir lebih baik memulai dengan kegiatan yang paling sederhana, kemudian melihat respon pengunjung.

Kalau nanti mulai berkembang, barulah terbuka kemungkinan bekerja sama dengan komunitas atau sekolah untuk membuat kegiatan literasi yang lebih rutin. Aku juga mikirnya, eh harapannya, bagian penyiaran radionya ini nantinya juga bisa diolah secara profesional. 😇


3. Cari Lokasi yang Mendukung Konsep


Lokasi tentu menjadi salah satu hal penting dalam cara membuka kafe.

Yang perlu ku pertimbangkan ketika mencari tempat bukan hanya ramainya saja, tetapi juga perlu memikirkan apakah lingkungannya sesuai dengan konsep.

Apakah cukup nyaman untuk membaca? Apakah aksesnya mudah? Apakah ada ruang untuk rak buku dan kegiatan kecil? Bagaimana tingkat kebisingannya? Apakah internet dan listriknya memadai?

Lokasi dekat sekolah, kampus, kawasan keluarga, atau komunitas mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Tapi aku juga tidak ingin menyewa tempat yang terlalu besar hanya karena kelihatannya keren.

Sebab makin besar tempatnya, tentu makin besar pula biaya yang harus ditanggung. Bukan begitu? Apalagi kalau eksekusinya di kota besar. 

Lebih baik memulai dari ruang yang realistis dan mengembangkannya ketika bisnis memang sudah membutuhkan ruang tambahan.


4. Buat Menu yang Sederhana tetapi Punya Karakter


Ya, namanya juga kafe, makanan dan minuman tentunya jadi sumber utama pendapatan ya, kan. 

Kalau aku sih mikirnya justru tidak ingin menyediakan terlalu banyak menu. Semakin banyak menu, semakin banyak bahan yang harus dibeli, disimpan, dan diawasi. Dan pastinya ribetnya semakin banyak saja. 

Mungkin cukup ada kopi, minuman non-kopi, kudapan, beberapa makanan berat yang bisa masuk semua kalangan, serta satu-dua menu yang menjadi ciri khas.

Kalau ingin sedikit bermain dengan konsep literasi, nama beberapa menu bisa dibuat terinspirasi dari buku atau cerita.

Tidak perlu sampai membuat pelanggan bingung menerjemahkan nama menunya, sih. Kayak baby fish and peanut with chilli sauce, rupanya sartika (sambal teri kacang). Wekawekaweka.

Oiya, aku juga maunya bahasa utama yang dipakai pada setiap penulisan informasi adalah bahasa Indonesia yang penulisannya sesuai kaidah EYD, kalau ada versi bahasa Inggrisnya, maka penulisannya juga mengikuti kaidah EYD; dimiringkan dan ditulis kecil di bawah versi bahasa Indonesianya. 😁

Yang tidak kalah penting, setiap menu harus diketahui biaya produksinya. Sebab makanan yang paling laris belum tentu menjadi makanan yang memberikan keuntungan paling besar.

Dan ini nantinya akan berkaitan dengan satu hal yang menurutku sangat penting, yaitu jangan cuma tahu berapa banyak uang yang masuk, tetapi tahu juga ke mana uang itu pergi.


5. Hitung Modal, Bukan Cuma Biaya Membuat Kafe Cantik


Kalau sudah mulai mencari inspirasi kafe di Pinterest atau media sosial, biasanya masalahnya adalah semua terlihat bagus.
Rasanya ingin punya semuanya.

Meja kayu cantik, sofa nyaman, rak buku besar, lampu estetik, mesin kopi bagus, tanaman di setiap sudut... 

Masalahnya, Pinterest tidak ikut membayar tagihan. Ha..ha..ha.

Jadi, sebelum membuka kafe, aku perlu menghitung modal dengan realistis. Mulai dari sewa tempat, renovasi, meja dan kursi, peralatan dapur, mesin kopi jika diperlukan, rak buku, koleksi buku, perangkat kasir, perangkat penyiaran, penjenamaan (branding), sampai perlengkapan untuk kegiatan literasi.

Setelah buka pun masih ada biaya bahan baku, listrik, internet, gaji pegawai, sewa, perawatan, dan promosi.

Artinya, modal bukan sekadar uang untuk membuat kafe terlihat cantik saat grand opening.

Aku juga perlu memikirkan bagaimana bisnis tersebut bisa tetap hidup setelah euforia pembukaan selesai.

Lain halnya kalau ada sponsor yang menawarkan, ada bujet 10 miliar nih, buat kafe kita, yuk! The problem is, gak ada yang ngajak🤭. So, let's be realistic, girl! 


6. Belajar “Melek Angka” Sebelum Kafe Ramai


Ada satu hal yang belakangan cukup sering kupikirkan ketika melihat usaha kecil milik teman, kenalan, atau keluarga, yaitu pembukuan.

Bukan berarti mereka tidak serius menjalankan usaha. Justru banyak yang sangat serius bekerja setiap hari. Hanya saja, pencatatan keuangan kadang menjadi pekerjaan yang paling dianggap tidak penting. 

Ketika ditanya, “Sehari omzetnya berapa?” mungkin masih bisa menjawab. Tapi ketika ditanya, “Kalau semua biaya dihitung, hari ini sebenarnya untung berapa?” Jawabannya kadang mulai, “Hmm... kayaknya...”, atau yang lebih sering malah, “Ah, entahlah. Capek ngitung-ngitungnya. “😅

Aku pun jadi teringat dracin berlatar zaman dulu. Entah kenapa, dalam cerita-cerita itu, buku catatan transaksi seolah menjadi benda wajib di meja pemilik toko.

Ketika blusukan, pemilik toko tinggal minta buku besar ke manajer toko, lalu jari-jari kanannya memainkan sempoa sembari jemari kiri menelusuri tiap transaksi di buku besar (ledger). Tik tik tik tik. Tak lama pun sang pemilik toko bisa langsung tahu keadaan tokonya. Misal, ini tokonya untung berapa, ada dana yang diselewengkan apa cemana. Ya, walau pun tak semua pemilik toko paham akuntansi, sih. Tapi adalah hal yang wajar di sana tiap toko punya catatan pembukuan. Aneh bin ajaib saja kalau ada toko yang tak punya buku besar. 

Nah, sedangkan di masyarakat kita, eh masyarakat sirkelku sih, dari dulu pembukuan adalah hal yang dirasa sangat elit dan jauh dari jangkauan. Entah dirasa ribet, entah dianggap tak penting, entah pun dianggap kurang kerjaan. 

Okelah dulu, nah sekarang, di zaman yang sudah serba akal imitasi ini pun, kayaknya pembukuan masih dirasa ribet juga. 

Kalau menurutku pembukuan itu sangat penting, selain bisa melihat kondisi bisnis kita saat ini, juga bisa sebagai proyeksi ke depan, karena kita punya data yang bisa diukur, bukan hanya sekadar pengalaman dan ingatan saja. Dan lebih mudah juga ketika kita mau merambah kerjasama dengan pihak lain. Kali aja ada yang mau menanam saham ya, kan perhitungannya juga lebih mudah, karena kita tahu angka pasti dari keuntungan atau kerugian di saat tertentu. 

Hmm, jadi nanti kalau suatu hari aku punya kafe, ketika ditanya, “Hari ini untung berapa?” aku bisa menjawab berdasarkan angka, bukan berdasarkan ingatan sambil menerka-nerka. 

Karena itu, aku mempertimbangkan penggunaan sistem manajemen restoran sejak awal. Menemukan platform seperti Labamu yang dirancang khusus untuk mengelola operasional bisnis F&B secara terstruktur dalam satu sistem jelas sangat membantu, mulai dari pencatatan transaksi kasir hingga alur kerja harian.

Kalau memang ada cara yang lebih praktis untuk membantu pencatatan transaksi sekaligus mengatur operasional, rasanya sayang kalau nggak dimanfaatkan ya, kan?

Karena kupikir  ini bukan sekadar urusan administrasi. Ini juga bagian dari literasi bisnis. Katanya mau membuat ruang literasi, masa pemiliknya sendiri tidak mau belajar membaca angka-angka bisnisnya? Bukan begitu? 


7. Bagaimana Kalau Pelanggan Bisa Pesan Sendiri dari Meja?


Selain urusan pembukuan, aku juga sudah membayangkan bagaimana pelanggan akan memesan makanan.

Aku termasuk kalangan yang merasa kalau sistem pesan dari meja itu menarik. Daripada pelanggan duduk lalu menunggu pramusaji datang membawa buku menu dan mencatat satu per satu pesanannya, aku ingin setiap meja memiliki akses ke menu digital.

Pelanggan bisa melihat menu dari meja, memilih makanan dan minuman yang diinginkan, lalu langsung melakukan pemesanan.

Kalau memungkinkan, pembayaran juga dilakukan langsung setelah pesanan dibuat. Dan juga kalau bisa ada fitur durasi menunggu ketika pesanan disiapkan yang bisa dipantau oleh pelanggan. Jadi pelanggan tidak merasa, "Kok pesananku gak datang-datang ya?"

Jadi, alurnya kira-kira:
Pilih menu → pesan → bayar → pesanan masuk → makanan disiapkan (menunggu) → pramusaji mengantarkan ke meja.

Dengan alur seperti ini, pramusaji tidak perlu mondar-mandir hanya untuk mencatat pesanan atau mengurus pembayaran. Mereka bisa lebih fokus pada hal yang memang membutuhkan kehadiran manusia, seperti mengantarkan makanan, membantu pelanggan yang membutuhkan, atau memastikan area kafe tetap nyaman.

Konsep pemesanan melalui QR sendiri memang sudah digunakan dalam solusi restoran digital, termasuk untuk membantu pelanggan memesan dari menu digital dan membuat pesanan masuk ke sistem pengelolaan pesanan. Tapi kalau konsep ini diterapkan di Aek Loba 1-2 tahun ini kayaknya belum bisa sih, 3 tahun ke depan kayaknya baru cocok😁. Kalau di kota Medan ya aman-aman saja. 

Aku membayangkan pengalaman pelanggan yang sederhana: duduk, membaca menu, memilih, membayar, lalu tinggal menunggu makanan datang. Tidak perlu melambaikan tangan berkali-kali hanya karena ingin pesan minuman tambahan. 😊


8. Stok Menu Juga Harus “Bicara”


Nah, bagian ini menurutku tidak kalah penting. Bayangkan, pelanggan sudah duduk nyaman, membaca menu, lalu memilih makanan yang kelihatannya paling menarik. Tak lama setelah dipesan, pramusaji datang dan memberitahu bahwa menu tersebut habis. Kan, kecewa ya, kan? 

Karena itu, aku ingin sistem pemesanan dan stok bisa saling terhubung. Misalnya bahan atau menu tertentu sudah tidak tersedia, informasi tersebut bisa diperbarui sehingga pelanggan tidak bakal memilih menu yang rupanya sudah habis. Di sisi internal, bagian dapur juga perlu mengetahui pesanan yang masuk dan kondisi persediaan.

Menurutku, semakin sedikit informasi yang harus disampaikan berulang-ulang secara manual, semakin kecil pula kemungkinan terjadi salah komunikasi.

Apalagi kalau suatu hari kafenya ramai, seperti ketika momen buka puasa ramadan. 

Bayangkan ada puluhan meja, banyak pesanan masuk hampir bersamaan, lalu waiter harus mengingat semuanya satu per satu. Aku saja sudah pusing membayangkannya. 😅

Ada lagi jenis pelanggan yang datang per grup (komunitas misalnya), memesan satu ruangan tapi dengan sistem bayar pesanan masing-masing (perorang). Ketua grupnya nih biasanya yang lumayan pening ketika sesi pembayaran. Seh, yang sudah pengalaman pasti paham🤭. 

Jadi, kalaulah ada sistem yang bisa membantu menghubungkan pesanan, transaksi, dan informasi operasional, pekerjaan manusia tentunya bisa lebih diarahkan pada pelayanan dan kualitas makanan.

Beberapa solusi pengelolaan restoran saat ini memang sudah mengintegrasikan pemesanan, stok, transaksi, dan laporan dalam satu sistem. 
Teknologi pesan makanan langsung dari meja sendiri
Ilustrasi dibuat dengan akal imitasi

Kalau kupikir, sih, teknologi seperti ini bukan untuk menggantikan manusia. Justru supaya manusia jadi tak terlalu sibuk mengerjakan hal-hal berulang yang sebenarnya bisa dibantu sistem. Kalau ada sistem yang tak ribet, kenapa tidak dimanfaatkan ya, kan? (Eh, kalimat terakhir itu tidak untuk membenarkan pada sistem sogok-menyogok loh, ya! ) 


9. Hari Pertama Buka: Kenapa Harus Ada Promo?


Nah, ini satu lagi yang sering membuatku penasaran setiap kali nonton dracin.

Hari pertama sebuah toko buka, pemiliknya sering memberikan promo. Ada diskon, bonus, harga khusus, bahkan kadang potongannya kelihatan besar sekali.

Aku sering mikir, “Lho, kalau diskon sampai 50 persen, memang masih bisa untung? Yakin gak jadi buntung?”

Ternyata, konsepnya tidak sesederhana “diskon = rugi”. Promo pembukaan bisa menjadi cara untuk menarik orang yang sebelumnya belum mengenal bisnis kita. Orang datang karena tertarik dengan harga, lalu mencoba produk. Kalau mereka suka, ada kemungkinan mereka kembali lagi meskipun harga sudah kembali normal.

Jadi, manfaat promo tidak selalu harus dilihat dari keuntungan satu transaksi yang sedang didiskon.

Ada hal lain yang ingin didapat; pengunjung pertama, kesempatan mencoba produk, pengenalan menu, promosi dari mulut ke mulut, dan kemungkinan pelanggan kembali.

Tapi ya memang bukan berarti semakin besar diskonnya semakin bagus. Kalau aku benar-benar akan membuka kafe, aku justru ingin menghitungnya dulu.

Berapa harga normalnya? Berapa biaya produksinya? Berapa batas diskon yang masih masuk akal? Menu mana yang bisa dipromosikan? Apakah promo berlaku untuk semua menu atau hanya produk tertentu?

Menurutku, daripada memberikan potongan besar untuk seluruh menu, bisa saja dibuat promo pembukaan yang lebih terukur. Misalnya, menu tertentu dengan harga khusus, promo pada jam tertentu, bonus minuman, atau voucer untuk kunjungan berikutnya.

Dengan begitu, promo bukan sekadar cara membuat kafe terlihat ramai pada hari pertama. Ada tujuan bisnis di baliknya. Bisa juga seperti menganggap harga potongan tersebut sebagai biaya promosi. 

Tapi ya, lagi-lagi angka memang sangat membantu menentukan apakah sebuah promo memang menarik atau justru membuat dompet pemilik kafe menangis diam-diam. Tetap realistis sih kalau aku. 


10. Lakukan Uji Coba sebelum Grand Opening


Sebelum benar-benar membuka pintu untuk umum, aku juga ingin melakukan soft opening.

Tujuannya bukan cuma memastikan makanan enak. Aku ingin melihat apakah alur pemesanan sudah nyaman, berapa lama makanan keluar, apakah pegawai memahami tugasnya, apakah sistem pembayaran berjalan lancar, dan apakah area membaca ternyata terlalu berisik, apakah siarannya mengudara dengan lancar? 

Kalau ada kegiatan literasi, aku juga bisa mencoba satu kegiatan sederhana. Misalnya bercerita, membaca nyaring, diskusi buku kecil, atau rekaman perdana Studio Literasi.

Dari sini, masalah-masalah kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa ditemukan. Lebih baik ketahuan ketika pengunjung masih terbatas daripada saat grand opening sudah penuh.


11. Setelah Hari Pertama, Jangan Cuma Hitung Uang Masuk



Setelah pintu ditutup pada hari pertama, tentu aku ingin tahu berapa banyak uang yang masuk. Tapi aku tidak ingin hanya berhenti sampai situ.

Aku juga mau melihat menu mana yang paling banyak dipesan, jam berapa pengunjung paling ramai, berapa banyak bahan yang terpakai, apakah ada pesanan yang terlambat, apakah pelanggan bingung dengan sistem pemesanan, dan bagaimana respons mereka terhadap konsep literasi.
Termasuk promo pembukaan tadi.

Apakah promo berhasil menarik pengunjung baru? Apakah ada pelanggan yang datang kembali setelah mendapatkan voucer? Menu apa yang paling menarik perhatian?

Semua itu bisa menjadi bahan evaluasi. Karena menurutku, hari pertama bukan ujian apakah kafe langsung sukses atau tidak.

Hari pertama adalah kesempatan pertama untuk mendapatkan data nyata tentang bagaimana bisnis tersebut berjalan.


Ketika Kafe Bukan Sekadar Tempat Ngopi

Kafe Literasi di Medan
Ilustrasi dibuat pakai akal imitasi


Kafe boleh dimulai dari secangkir kopi. Tapi kalau ingin bertahan lama, aku rasa harus ada sesuatu yang lebih dari sekadar kopi.

Seperti yang ku sebutkan di awal tadi, aku bukan ingin membuat kafe yang kebetulan punya rak buku, tapi aku ingin membuat ruang literasi yang punya kafe, dengan siaran radio sebagai medianya. 

Aku ingin membuat tempat yang memungkinkan orang makan, minum, membaca, berbincang, belajar, berbagi, dan mungkin suatu hari menghasilkan karya.

Kalau penyiarannya berkembang, ia bisa menjadi media untuk membawa cerita-cerita dari ruang kafe ke luar mengudara. Kalau ada kesempatan bekerja sama dengan sekolah atau komunitas, kegiatan literasinya bisa diperluas.

Tapi tetap kafenya tetap harus dikelola sebagai bisnis yang sehat.

Jadi, kalau suatu hari nanti benar-benar membuka kafe, aku tidak ingin sekadar membuat tempat yang Instagrammable, tapi juga wadah yang bisa menebar manfaat. 

Dan jika nanti kafe idamanku ini berwujud di kota Medan, kayaknya bakal jadi sekretariat dan Rumcaynya FLP Sumatra Utara. 😁

Kita angan-angankan saja lah dulu ya. Barangkali sosok yang menyodorkan 10 miliar itu muncul tiba-tiba😄. 

Evakuasi Sarang Tawon Panggil Damkar Bayar 200ribu?

Supaya Nyaman Berkebun di Musim Banyak Nyamuk

Siapa bilang musim penghujan adalah musim yang paling banyak nyamuknya? Kalau aku bilang musim yang paling banyak nyamuk dan paling ganas serangan nyamuknya justru ada di musim kemarau, percaya gak?

Aku juga baru ngeh dengan fakta ini bulan lalu, Juli, saat kemarau sedang di puncak-puncaknya untuk kawasan Aek Loba dan sekitarnya. Selain penampakan awan hujan yang hampir sebulan gak pernah kelihatan, suhu pun tiap hari makin panas. Malam pun sampai 32 derajat Celcius. Rata-rata penduduk Aek Loba susah tidur di malam hari saking gerahnya ditambah lagi nyamuk yang luar biasa banyaknya. Hingga akhirnya banyak penduduk yang bertumbangan. Jadilah bulan Juni (hingga Agustus) tahun ini selain musim kemarau juga jadi musim nyamuk dan musim sakit di sini. Mentang-mentang di Aek Kuasan sini ada 99 musim ya. 😏


Aku ingat ada turun hujan 2 kali di pagi hari (sejenak) setelah setengah bulan tak hujan. Nah, besoknya kok jadi banyak nyamuk kecil-kecil masuk kamar, dan makin hari makin ngelunjak. 

Halaman rumah kami kan rumput manis ya kan. Cuma lewat saja aku dari pintu depan ke rumah sebelah yang jaraknya kurleb 10 meter, nyamuk yang mengikutiku ada lebih dari 30 ekor, yang menempel di kulit bejibun. Ih, ngeri lah pokoknya. Padahal kalau soal air menggenang ya mana ada, pot bunga saja pun kering kerontang. Di mana lah nyamuk-nyamuk ini berkembang biaknya kok waw kali jumlahnya. Hujan yang waktu itu pun tak mampu membuat parit riul berair. Sat, kering. 


Sungguh fenomena nyamuk yang merajalela ini sedikit banyaknya jadi menurunkan tingkat kerajinan berkebunku awalnya. (Seh, sok rajin😅).Tapi ya cemana ya kan, cuaca udah lah panas terik plus kering-kerontang begini, kalau tak disiram tanaman-tanaman ini, pindah alam lah mereka🙄. Sehari wajib pagi sore disiram. Kalau tidak, sujud-sujud lah mereka, layu.

Rajin berkebun, sehat raga serta jiwa


Berkebun itu tak cuma petik-petik cabai kangkung dan semangka. Itu mah namanya panen bukan berkebun.

Bagiku berkebun itu... Mandi matahari sambil mencangkul lahan, buat kompos, mengangkut sampah sambil main tanah, memilah bahan bibit lalu dijemur sebelum membibit, buat penangkal hama, mencabuti gulma lalu dikasihkan ke anak lembu untuk cemilannya, menampung air cucian beras untuk dijadikan pupuk cair dan bahan semprotan hama, memindahkan bibit ke wadah yang lebih besar lalu dipindahkan lagi ke tanah kalau sudah besar, nyariin ulat satu-satu yang main petak umpet di daun-daun cabai, berburu bekicot malam-malam, pasang jaring supaya ayam tetangga gak mandi-mandi di bawah pokok cabai, memindahkan pot-pot bunga dan tanaman supaya gak diembat lembu pas mereka difungsikan jadi mesin potong rumput di halaman, mangkas pagar bambu biar rapi dan merapikan tanaman hias yang perlu dipangkas pakai pisau kater (berhubung gunting pagarku udah rusak). Mangkas pokok terung, rimbang, dan daun jeruk purut yang sudah terlalu rimbun supaya bertunas lagi (ya sambil dipanen lah pastinya), membabat daun ubi, daun katu dan daun ubi jakarta yang sudah menyemak tinggi, mencas batang daun pandan untuk stok masak nasi sambil dijadikan bunga meja sejenak, kadang juga sekadar metik bunga melati yang sudah mekar untuk dijadikan pengharum kamar.

Ya bukan berarti semuanya itu dilakukan tiap hari loh ya. Tapi tiap hari (kalau pas rajin) pasti ada kegiatan berkebun yang dibuat, paling gak aktivitas menyiram tanaman. 

Bagiku berkebun itu aktivitas yang kompleks; bukan cuma sekadar kegiatan bersih-bersih pekarangan, tapi juga memungsikan lahan jadi cantik dan menghasilkan, lalu sebagai gerakan ikut merawat bumi lewat mengompos dan menambah pasokan oksigen, tak hanya menyehatkan badan tapi juga jiwa.

Beraktifitas di bawah sinar matahari pagi meningkatkan produksi serotonin dan endorfin. Tak usah pun memanen hasil tanaman sendiri, tiap kali melihat yang kita taman dan rawat tumbuh dengan baik, berbunga apalagi berbuah selalu ada dopamin yang dilepaskan tubuh. 3 dari 4 hormon bahagia meningkat produksinya dengan aktivitas berkebun. Jadi jika sehari tak turun berkebun, rasanya rugi. Walau hanya menyiram tanaman pun jadi. 


Supaya Berkebun Tetap Nyaman dan Aman


Perihal banyak nyamuk ini, bagiku bukan hanya karena khawatir gigitannya menyebabkan penyakit malaria, DBD, cikungunya dan jenis penyakit lainnya yang dibawa nyamuk. Aku lebih khawatir dengan efeknya ke kulitku yang sensitif. Gatal sedikit saja efeknya langsung memicu alergiku. Lengkapnya ada di Cerita Alergi: Obat Absurd Tapi Ampuh.

Makanya kalau soal nyamuk, di rumah alat tempurku minimal ada kelambu, raket nyamuk, dan lotion nyamuk. Aku tak tahan anti nyamuk jenis bakar dan semprot. Dulu pernah pakai anti nyamuk elektrik sih, tapi merasa boros dari segi biaya, kurang ramah bagi organ pernapasanku, serta menghasilkan sampah juga, jadinya aku lebih pilih pakai kelambu dan raket listrik. 

Nah, dalam hal berkebun ku merasa lebih nyaman memakai lotion nyamuk. Dan ketika puncak serangan nyamuk bulan Juli kemarin, ku tambahkan dukungan raket nyamuk. Wkkk. 

Berikut 8 alat tempur yang wajib aku bawa dan gunakan saat berkebun:

1. Sunscreen alias tabir surya

Tabir surya ini wajib dipakai karena biasanya aku kalau udah keluar pasti banyak panas-panasannya. Apa lagi cuaca di Aek Loba ini kalau panas ya terik banget. Kadang kalau keasikan juga bisa sampai lewat tengah hari masih di luar. Ya walau kadang lupa pakai juga. Makanya sejak balik Aek Loba warna kulitku makin eksotis🙃. 

2. Topi

Paling suka pakai topi petani yang lebar gitu, jadi mau seterik apapun matahari, wajah dan kepala tetap adem rasanya. 

3. Kaos kaki

Bagiku kaos kaki ini wajib karena aku gak suka pakai booth karet, lebih suka pakai sandal jepit ketika berkebun. Kaos kaki ini manfaatnya banyak banget buatku; mencegah belang pada kaki, tak buat pasir dan tanah masuk di celah-celah kuku, dan tak membuat tumit kaki pecah-pecah (atau kalau pun sudah terlanjur tidak akan membuat tumit menjadi hitam retakannya), selain itu meminimalisasi kena gigitan semut dan serangga lainnya. 

4. Sarung tangan

Baik main tanah atau pun enggak, sarung tangan ini tak boleh absen, apalagi ketika job desk hari ini bagian memangkas ranting daun jeruk purut, bunga mawar, bunga kertas dan mengambil serai. Selain bisa meminimalisasi tertusuk dan terbeset duri, juga bisa menghindari gatal dan pastinya tangan tetap bersih dari tanah. 

5. Pisau kater

Meski sepele tapi ini termasuk yang kadang lupa ku bawa. Ketika butuh digunakan barulah teringat. Aku sih kalau sudah keluar paling malas masuk rumah lagi, dan paling anti menyuruh-nyuruh yang di dalam rumah untuk mengambilkan sesuatu. Makanya butuh atau enggak, kater, pisau dan parang selalu kubawa sebelum keluar rumah. 

5. Pisau

Udah bawa kater kenapa bawa pisau lagi? Pisau ini bagiku gunanya bukan untuk memotong sih. Lebih untuk membuat lubang bibit ketika dipindahkan ke polibag yang lebih besar. Dan untuk mencungkil bibit yang akan dipindahkan. 

6. Parang

Sama halnya dengan pisau, parang ini pun fungsinya sama, hanya saja lubangnya lebih besar dan lebih dalam. Biasanya untuk memindahkan tanaman dari polibag ke tanah. Kalau untuk memotong ranting dan batang besar, aku lebih suka pakai perpaduan cutter, parang dan gergaji. 

7. Lotion nyamuk

Sejak 2 tahun terakhir aku selalu pakai lotion nyamuk dulu baru keluar rumah untuk aktivitas berkebun. Pasalnya area perbatasan dengan tanah tetangga, yaitu area di dekat pohon rambutan pagar bambu dan pohon kelapa bagian ujung, entah kenapa selalu ada nyamuknya besar-besar. Padahal dulu enggak ada. Mungkin karena lumayan teduh ya dan di bawahnya juga rumput dan sebelahnya tanah tetangga juga rumput. Makanya sejak itu ya sekalian saja pakai lotion anti nyamuk. 

Nah, biasanya aku hanya pakai lotion saja ya kan, tapi semenjak Juli kemarin yang nyamuknya ngelunjak, aku tak hanya pakai di kulit saja, tapi juga ku usapkan ke jilbab, dan seluruh pakaian hingga kaos kaki. Lalu tube-nya ikut ku bawa ke luar rumah. Biasanya cukup sekali pakai saja, tapi nyamuk bulan Juli kemarin sungguh kurang ajar. Sekali pakai hanya tahan 1-2 jam saja, kadang harus pakai ulang beberapa kali.
Dee-dee mosquito repellent lotion orange yuri indonesia

Sengaja pilih lotion penolak nyamuk dee-dee dari Yuri Indonesia ini dengan pertimbangan lotion-nya aman untuk kulit anak-anak, jadi ya seharusnya aman untuk kulit sensitif ku ya kan. Lotion anti nyamuk ini cepat meresap di kulit dan ada sensasi lembab gitu di kulit dan telapak tangan. Gak ada rasa panas di kulitku dan gak terasa lengket. Ketika dioleskan ada wangi jeruknya gitu, segar macam pengharum ruangan. Wanginya bertahan kurang lebih semenit. Setelah itu hilang. Oiya, kuingat pernah cuci tangan setelah sejam pemakaian, dan saat cuci tangan pertama terasa lotion-nya tercuci gitu, berarti lotion-nya menempel tapi gak terasa lengket ketika kering ya kan. Dan yang tak kalah penting produk-produk dari Yuri ini tidak terafiliasi dan mendukung Si Rewel ya kan. 

8. Raket nyamuk

Sebelumnya raket nyamuk tak pernah kubawa. Gara-gara nyamuk bulan Juli ini lah raket nyamuk ini menambah daftar alat tempur berkebunku. Fungsinya? Ya tentu menyetrum nyamuk. Jadi pagi sebelum memulai aktifitas berkebun, aku mencari korban dulu... Wkkk... Mencari nyamuk maksudnya. Sampai baterai habis. Lalu dicas lagi dan sorenya ku mencari mangsa lagi. Di kegiatan inilah ku menemukan kalau di tanah-tanah juga banyak nyamuk besar-besar. Heran sih. Aktivitas ini ku lakukan tiap hari selama sepekan. Dan hasilnya... Jumlah nyamuk berkurang drastis. Alhamdulillah. Kini raket nyamuk ini sudah bisa tidak ikut berkebun😁. 


Nah, demikianlah sekilas pengalaman berkebunku di musim kemarau Juli lalu, musim yang nyamuknya ganas luar binasa. Semoga bermanfaat bagi kamu yang juga suka berkebun ya. Kalau kamu, biasanya supaya aktivitas berkebun tetap nyaman dan aman saat musim banyak nyamuk gimana, nih? 

Sering Berair Tanda Mata Kering, Jangan Sepele

Mata sering berair kok malah dibilang mata kering? Pertanyaan yang otomatis muncul ketika ku membaca sebuah artikel di halodoc tentang 9 Penyebab Mata Terus Berair dan Cara Mengatasinya. Nah, di situ dituliskan bahwa salah satu yang mungkin menyebabkan mata terus berair adalah karena kita mengalami mata kering. Jadi, keluarnya air mata secara berlebihan adalah respon tubuh yang mendeteksi kondisi mata kering. Sehingga otak memerintahkan kelenjar air mata untuk memproduksi air mata secara berlebihan sebagai upaya untuk melindungi mata kita. 

Nah, kalau mata kita sering berair ketika mengantuk, menguap, atau ketika ketawa sampai keluar air mata (emoticon nya ini ya kan 🤣), kondisi ini masih dalam taraf normal ya. Walaupun kalau dibandingkan dengan dulu, kini ketika merasa mengantuk, entah mengapa air mataku yang keluar jadi berkali-kali lipat banyaknya dibandingkan dulu ketika status mata masih normal, maksudnya ketika mata belum kena rabun jauh juga silindris. Makin tambah usia makin tambah saja sepertinya kuantitas air mata yang keluar. Lagi-lagi si faktor U yang jadi benang merahnya. 


Apa Sih Mata Kering Itu? 


Mata kering atau dry eye syndrome adalah suatu kondisi yang dipengaruhi oleh perubahan komposisi lapisan air mata yaitu ketika kuantitas dan/atau kualitas air mata tidak mencukupi untuk melumasi permukaan bola mata. Akibatnya kelembapan pada mata berkurang sehingga terjadi kekeringan pada bola mata yang dapat menyebabkan rusaknya permukaan bola mata. Sindrom mata kering ini akan menyebabkan penderitanya mengalami gejala dan tanda, seperti mata merah, mata terasa perih atau gatal, seperti ada benda asing atau berpasir, mata berair, maupun penglihatan menjadi buram. Begitu info yang kukutip dari rsmataundaan.co.id dan rspondokindah.co.id. 

Ternyata gejala seperti mata Sepet, Perih dan Lelah bisa sampai menyebabkan kerusakan bola mata ya. SePeLe tapi ternyata ngeri. Padahal gejala mata lelah dan sepet ini termasuk agak sering kualami kalau hampir seharian yang dipandangi layar hape melulu, entah itu nonton dracin, ngerjai deadline atau doomscrolling😌. Sedangkan kalau mata terasa berpasir paling kalau habis bergadang sampai pagi atau pas bangun tidur pasca insomnia semalaman. 


Kenapa Mata Bisa Kering? 


Ada beberapa faktor risiko serta kondisi yang bisa menyebabkan perubahan lapisan air mata sehingga menyebabkan sindrom mata kering. Diantaranya:

  1. 1. Berjenis kelamin wanita. 

  2. 2. Perubahan Hormon. Biasanya pada wanita hamil, menyusui dan menopause. 

  3. 3. Faktor usia 50 tahun ke atas. 

  4. 4. Konsumsi obat-obatan;  pil KB dan terapi hormon, antihistamin, dekongestan, obat jerawat minum (isotretinoin), obat hipertensi, antidepresan, antipsikotik, obat penyakit Parkinson, obat tidur dan obat sakit maag.

  5. 5. Habis menjalani operasi LASIK

  6. 6. Penggunaan lensa kontak dalam waktu yang lama. 

  7. 7. Kebiasaan menatap layar gawai dalam jangka waktu lama; komputer, laptop, tab, ponsel pintar, TV yang memiliki radiasi sinar biru. 

  8. 8. Kondisi medis : diabetes, rheumatoid arthritis, lupus, skleroderma, sindrom Sjogren, gangguan tiroid, kekurangan vitamin A, Bell’s palsy, alergi, dermatitis kontak, HIV,  blefaritis atau MGD (peradangan batas kelopak mata yang bisa menghadang kelenjar air mata untuk memproduksi minyak untuk lapisan air mata). 

  9. 9. Lingkungan seperti debu, asap rokok, asap, angin, matahari, cuaca kering, ruangan ber-AC, ruangan dengan mesin pemanas, tiupan angin panas, atau berada di tempat tinggi.

  10. 10. Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi visual sehingga mata cenderung fokus dan lebih jarang berkedip seperti membaca, menulis, dan bekerja di depan layar komputer. 

  11. 11. Masalah pada struktur kelopak mata seperti ektropi (pembalikan kelopak mata bagian dalam ke luar), entropi (kelopak mata luar yang masuk ke dalam), dan lagophthalmos nocturnal (suatu kondisi di mana kelopak mata tidak menutup sepenuhnya saat tidur). 

Gejala Mata Kering Yang Perlu Diwaspadai


Ada macam-macam gejala yang merupakan tanda dan gejala mata kering, mulai dari ringan hingga berat tergantung tingkat keparahannya. Dilansir dari berbagai sumber, biasanya penderita sindrom mata kering sering mengalami gejala berikut:

  • 1. Sensasi panas, kering, dan sensasi benda asing di mata. 
  • 2. Mata terasa nyeri, sepet, perih dan lelah. 
  • 3. Mata merah dan berair. 
  • 4. Mata lebih berair dari biasanya. 
  • 5. Kelopak mata berkedut.
  • 6. Kelopak mata terasa berat.
  • 7. Terasa sulit untuk membuka mata.
  • 8. Sensasi tidak nyaman, silau, saat melihat cahaya terang.
  • 9. Terdapat lendir di dalam atau di sekitar mata, terutama setelah bangun tidur.
  • 10. Penglihatan kabur.

Komplikasi Mata Kering


Seperti di awal tulisan disebutkan bahwa penyakit mata kering ini jika dibiarkan berlarut-larut dan tidak mendapatkan penangan tepat, bisa menyebabkan kerusakan permukaan bola mata. Ditambahkan juga info dari siloamhospitals.com, bahwa risiko kesehatan lainnya dari komplikasi mata kering ini dapat berupa infeksi mata, keratitis, kerusakan pada kornea, ulkus kornea, konjungtivitis, serta gangguan penglihatan. Intinya adalah #MataKeringJanganSepelein deh. 


Tips Menghindari Mata Kering

Mencegah selalu lebih baik dari pada mengobati ya kan. Berikut ada 15 tips yang ku rangkum dari berbagai sumber yang bisa kita terapkan untuk meminimalkan potensi terkena mata kering:

1. Gunakan screen protection yang memiliki fungsi anti-bluelight atau anti-glare pada layar ponsel pintar, laptop, tab, mau pun TV. 


2. Gunakan kaca mata anti radiasi (Anti Reflective) ketika bekerja dengan layar digital. 


3. Manfaatkan pengaturan mode baca dan mode malam pada ponsel pintar.


4. Gunakan tingkat pencahayaan rendah pada layar

Jangan buat layar terlalu terang agar lebih nyaman di mata. Kalau aku lebih suka menon-aktifkan fitur kecerahan layar otomatis (auto brightness) karena mode itu membuatku malah sakit mata🙄. 

5. Perbesar ukuran font pada layar gawai. 

Dengan demikian jarak mata ke layar akan otomatis menjauh. Awal pakai gawai touch screen, ukuran font yang kugunakan adalah XS alias EXtra Small, 3 tahun lalu naik menjadi S (Small), dan sepekan belakangan kunaikkan lagi menjadi L (Large) karena kurasa jarak layarku makin dekat saja😏. 

6. Batasi screen time

Berapa sih batas screen time orang dewasa? Jawabannya bervariasi. Ditulis di laman kompas.com bahwa menurut laman Instagram Ditjen GTK Kemendikbud Ristek, Rabu (12/7/2023), remaja dan orang dewasa sehari maksimal 4 jam. Sedangkan dari laman alodokter.com, anak usia 5 tahun ke atas, remaja dan dewasa sehari maksimal 2 jam saja. Dari indonesiabaik.id sehari maksimal 4 jam 17 menit. Sedangkan dari laman instagram RSU Hermina Soreang, orang dewasa disarankan tidak lebih dari 2-4 jam perhari di luar pekerjaan. (Jadi kalau pekerjaannya full di depan layar...? 😅 pandai-pandai lah ya). 

7. Gunakan aturan 20-20-20

Untuk setiap 20 menit bekerja, lihat sesuatu yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter), selama 20 detik. Hal ini telah terbukti mengurangi gejala mata kering karena mengalihkan pandangan dari layar mengembalikan kecepatan kedipan normal kita. Begitu info yang kubaca di kompas.id.

8. Terapkan kebiasaan 3D (distance, direction, dan duration)

Distance: pastikan jarak mata ke gawai tidak terlalu dekat atau terlalu jauh.  

Direction: pastikan arah layar gawai lurus dengan pandangan mata, tidak terpantul cahaya matahari, dan hindari penggunaan gawai dengan posisi berbaring. (Duh berbaring ini malah posisi paling PW pula buatku😅).

Duration: pastikan durasi penggunaan gawai tidak lebih dari 2 jam. Beristirahatlah sejenak dengan melihat objek berjarak jauh sebelum kembali menggunakan gawai. Begitu yang disebutkan di klikdokter.com.

Ini maksudnya per hari 2 jam maksimal sepertinya ya. Kalau aku mana mungkin cuma 2 jam sehari😅. FYI, dari laporan State of Mobile 2024 yang dirilis oleh data.ai, warga +62 rata-rata menghabiskan waktu 6,05 jam sehari untuk main gawai. Negara dengan durasi paling lama di dunia lah ceritanya. Curiga aku kalau Indonesia juga peringkat 1 dengan penduduk terbanyak pengidap mata kering di bumi. 😌
Cara menjaga kesehatan mata kering


Fun fact: 
10-30% dari populasi di dunia menderita mata kering, yang dapat menyebabkan mata merah, penglihatan yang buram dan mata gatal. Di Indonesia, jumlah kejadian mata kering sebesar 27,5%. (klinikmatanusantara.com) 


9. Rutin senam mata

Ada banyak gerakan senam mata seperti melirik ke kanan dan kiri, atas bawah, memutar searah dan berlawan arah jarum jam, gerakan menggambar angka 8 imajiner, mengganti fokus pandangan ke objek jauh dan dekat, berkedip normal lalu bergantian sebelah sebelah, dan kombinasi gerakan lainnya. 

10. Pijat wajah dan kelopak mata

Ini bisa kita lakukan sendiri tanpa perlu pergi ke spa. Teringat salah satu adegan di dracin Guardians of The Dafeng, lupa di episode berapa, ada adegan cara melakukan senam mata dengan cara pijat di sekitar area mata. Dengan ujung jari perlahan pijat dahi dan sepanjang kedua alis. Setelah itu gantian di area bawah matanya. Pijat relaksasi wajah ini langsung terasa enaknya meringankan tekanan di otot wajah dan mata.

11. Konsumsi makanan kaya kaya omega 3, antioksidan, dan vitamin (A,C,D dan E)

Seperti wortel, bayam, brokoli,telur, daging, salmon, sarden, makarel, alpukat, beri, minyak zaitun, sayuran hijau, biji-bijian dan kacang-kacangan seperti kacang merah, biji rami, dan biji bunga matahari. 

12. Penuhi kebutuhan cairan harian

Jangan malas minum air putih, setidaknya 8 gelas atau kurang lebih 2 liter sehari. Kalau alasannya lupa minum, ada banyak aplikasi pengingat minum yang bisa diunduh di playstore ya kan. 

13. Jaga kelembaban ruangan. 

Walaupun negeri +62 kita ini termasuk negara dengan tingkat kelembaban udara tinggi, tak ada salahnya menggunakan air-humidifier saat diperlukan, terutama di ruangan ber-AC. 

14. Gunakan kacamata matahari saat intensitas cahaya ekstrim. 

Jangan lupa pakai kaca mata hitam bila dirasa perlu saat beraktivitas seharian di bawah terik matahari dan di area yang berintensitas cahaya ekstrim, seperti pantai, gurun pasir, dan daratan bersalju.
 

15. Jangan Bergadang

Apapun ceritanya, tubuh butuh tidur, mata butuh istirahat. Jangan zalim sama badan sendiri. 


Pertolongan Pertama Pada Mata Kering


Lalu kalau sudah terlanjur kena mata kering gimana?  Selain menerapkan 15 tips di atas tadi, berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meringankan sindrom mata kering tanpa perlu ke dokter:

1. Sering-sering Istirahatkan mata

Mau tak mau ya tinggalkan lah layar itu sejenak. Kalau dirasa cukup parah, coba puasa lihat layar beberapa hari. 

2. Hindari mengucek mata

Ketika terasa gatal, plis tahan diri untuk tidak langsung mengucek mata. Kedipkan-kedipkan beberapa kali. Ingat, kalau mau makin parah ya udah, kuceklah sepuasnya. 

3. Kompres hangat. 

Gunakan handuk hangat, kapas yang sudah diperas setelah direndam air hangat, atau eye mask yang bisa dihangatkan. Kompres mata selama 5 menit atau sesuai instruksi penggunaan eye mask.

4. Gunakan obat tetes mata khusus mata kering

Insto Dry Eyes Obat gejala mata kering

Pilih obat tetes mata dengan kandungan hydroxypropyl methylcellulose yang dapat mengatasi gejala mata kering akibat berkurangnya produksi air mata. Insto Dry Eyes misalnya. Tiap ml larutan isotonik steril #InstoDryEyes mengandung Hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg. FYI, pekan lalu beli Insto Dry Eyes 7.5 ml di Indomaret Aek Loba, aku dapat harga promo. Dibanderol 17.900 Rupiah dan dapat promo potongan 4 ribu, jadi tinggal bayar 13.900 Rupiah. Lumayan ya kan. 


Jika setelah melakukan cara-cara di atas tidak mengalami perbaikan, atau malah bertambah parah, segeralah konsultasikan ke dokter. Jangan dilama-lamakan ya. 


Cintai Matamu


Mata adalah jendela dunia. Mata adalah jendela jiwa. Mata adalah jendela hati. Katanya, dari mata turun ke hati. Sejak ia berfungsi, mata kita tak pernah putus mencintai. Walau sering kita siksa dan dipaksa lembur tanpa diberi penghargaan, tetap saja ia menuruti keegoisan kita. Hmm ... Sudahlah kita mencintai mata kita? 


Pertolongan Pertama Pada Asam Lambung

Selain gaya hidup dan faktor U, gejala penyakit rupanya juga berevolusi ya, ada yang turun dan ada yang naik levelnya. Di aku, naik setingkat gejalanya. Dulu sempat merasa aneh ketika asam lambung ibuku kumat. Selama kurang lebih sepekan, kenapa tiap pas kisaran tengah malam, mulailah gejalanya melunjak parah, muntah-muntah. Padahal sebelumnya masih bisa tidur, dan sejak sore sudah tak muntah lagi. Kenapa harus pas tengah malam?

Kalau aku sebelum-sebelumnya, tak pernah gejala baru terasa pada jamnya kereta Cinderela berubah jadi labu. Eh, 2 tahun belakangan ini justru tepat tengah malam lah, sedang tidur tiba-tiba terasa nyeri yang makin lama makin pedih di lambung. Terakhir pada 12 April 2025 lalu, keempat kalinya sejak hidup, asam lambungku kumat tepat jam 12 malam dini hari. Bedanya, ini untuk untuk pertama kalinya aku merasa lambung tak nyeri, tapi terasa panas bak terbakar hingga ke kerongkongan. Sepertinya ini yang disebut dengan gejala heart-burn.

Sungguh after-effect dari heart-burn ini terasa berhari-hari. Jadi kalau makan dan minum, ketika air tadi melewati kerongkongan hingga ke lambung, akan terasa pedih bak luka atau lecet disepanjang jalur yang terkena heart-burn malam itu. Dibandingkan sebelum-sebelumnya, paling ketika makanan dan minuman sampai di lambung baru terasa perih ya kan. Ini masih lewat saja sudah pedih. Hmm ...

Apa yang menyebabkan asam lambung naik?


Ketika asam lambung kumat, aku otomatis bertanya-tanya, Kok bisa naik ya? Ada salah makan hari ini?  Perasaan beberapa hari ini gak ada telat makan, gak rakus-rakus makan cabai, gak ada makan asam-asam, gak ada makan mi-mi-an, timun dk. Gorengan? Paling makan kacang bali segenggam dan kacang bawang plus beberapa bawang putih gorengnya. Yang lain dari biasanya adalah makan lalapan selada pas sarapan pagi. Dari segi aktivitas, sangat tidak kecapekan. Dari segi pikiran, Alhamdulillah sepekan belakangan beban pikiran dalam garis waras. So, kok bisa tiba-tiba kumat?

Dan berselancarlah aku. Berikut hal-hal yang dapat menyebabkan naiknya asam lambung.

1. Faktor makanan:

Makanan berlemak, pedas, asam, kafein, alkohol, cokelat, bawang, minuman berkarbonasi,  makanan cepat saji. 

2. Gaya hidup:

Stres, merokok, konsumsi alkohol, tidur setelah makan, makan terburu-buru, telat makan, kelelahan

3. Kondisi medis: 

Obesitas, hernia hiatal, penyakit jaringan ikat. 

4. Obat-obatan tertentu:

Pereda nyeri, obat asma, obat tekanan darah tinggi. 

5. Infeksi virus dan bakteri: 

Helicobacter pylori (H.pylori), Campylobacter, E.coli, dan Salmonella. Virus atau bakteri pada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh biasanya dapat dibasmi oleh asam lambung. Namun, asam lambung terkadang tidak bisa membunuh kuman tersebut sepenuhnya, seperti H.pylori yang tahan terhadap asam lambung, sehingga bakteri ini berkembang biak dan menginfeksi lambung. Sedangkan asam lambung terus diproduksi untuk melawan bakteri ini.


Dan dari beberapa poin di atas, yang paling mungkin penyebabnya adalah bawang putih goreng dan selada yang kumakan pagi itu. Seladanya sih gak buat asam lambung naik, tapi bisa jadi selada yang dibeli di pajak pagi itu terkontaminasi bakteri dan aku kurang bersih saat mencucinya. Sungguh sesuatu ya.

Padahal sudah beberapa tahun gak pernah mau lagi makan selada gara-gara pernah baca berita mengenai pupuk yang digunakan untuk menyiram selada. Pagi itu akhirnya makan anyang selada karena maksud awalnya mau coba tanam selada dari akarnya. Jadi sengaja beli selada memang bukan untuk dimakan tapi untuk percobaan ditanam. Eh, ternyata percobaan berkebun malah berujung asam lambung. Haee ...


Apa yang harus dilakukan ketika asam lambung kumat?

1. Muntahkan yang perlu dimuntahkan. 

Sayang? Udah muntahkan saja. Tak usah ditahan-tahan. Habis muntah akan terasa lebih lapang dan ringan perasaan. 

2. Kerok lidah dengan sendok.

Teknik ini gak pernah absen kulakukan ketika lambung mengulah. Karena memang sangat terasa cukup cepat efeknya. Beruntung sekali dapat ilmu efektif ini dari Pak Haji Nandar. Ketika lidah dikerok, akan ada lendir berwarna putih (kadang kekuningan). Nah, kerok lidah hingga putih-putih itu hilang. Oiya, ketika mengerok lidah, efeknya kita akan merasa hendak muntah, tapi biasanya gak sampai muntah sih. Kalau pun muntah ya berarti memang perlu dimuntahkan.

Lakukan beberapa kali sehari, terutama ketika bangun tidur dan saat perut begah.

Oiya, kalau menurut pengamatanku, di hari biasa, ketika merasa mual, atau lambung terasa kurang enak, jika saat itu kita coba kerok lidah kita, pasti akan banyak putih-putihnya. Tapi saat perut normal, dan kita coba kerok lidah kita, kotoran lidah biasanya lebih jernih.

3. Minum teh (pahit) hangat

Kalau aku biasanya sih Teh Mahkota Dewa. Komposisi dalamnya itu mahkota dewa, teh hijau dan benalu teh. Rasanya... sudah pasti pahit .😌

4. Usap + urut dengan minyak kayu putih.

Teknik ini dikasi tahu sama terapis emakku. Dan di aku cukup berpengaruh. Caranya, angkat lengan kanan lurus ke atas, lalu siram atau oleskan agak banyak minyak kayu putih dari ketiak hingga ke pinggang. Setelah itu dengan ujung 4 jari kiri, usap kuat/ urut dengan gerakan dari ketiak ke pinggang selama 3-5 menit atau hingga terasa gejala berkurang. Lakukan juga pada bagian tubuh sebelah kiri.

5. Gunakan kompres hangat ke bagian perut yang sakit.

Aku biasa pakai botol minum silikon atau botol bekas air mineral, atau botol apa yang dapat saat itulah. Pernah pas botol-botolan entah pada ke mana, akhirnya pakai wadah gelas, diisi air panas. Dah tempelkan ke perut. (Dah kek setrika ya panasnya). Nah, so far, kompres hangat ini yang sangat membantu menyamarkan dan mengurangi pedih dan segala rasa enggak enak di perut, hingga akhirnya bisa tidur lagi.

6. Konsumsi obat magh, asam lambung, atau GERD yang biasa kita konsumsi.

Kalau aku entah sejak kapan stok obat untuk aslam ini  gak pernah nyetok obat generik lagi sih.  Setelah beberapa kali gonta-ganti obat yang dulunya mempan lalu lama-lama jadi gak mempan. Ganti lagi mempan, lalu lama-lama gak mempan, ganti lagi. Gitu aja terus. Terakhir pernah tak sengaja ketika asam lambung kumat, aku minum teh Mahkota Dewa (yang waktu itu udah ku seduh kian karena memang jadwal bulanan minum teh itu) sejak dulu aku stok. Eh, habis minum itu kok perut jadi enakan. Sejak itu kalau aslam naik, minum teh ini memang langsung terasa ngaruh di lambungku. Padahal di bungkusnya tak ada dicantumkan manfaatnya untuk mengurangi gejala asam lambung sih.

Kemasan Teh Mahkota Dewa Salama Nusa dalam bingkai polaroidntara

Kalau kamu biasanya konsumsi habbatussauda dan mempan, ya lanjutkan.
 Aku dulu pernah cocok cukup langgeng dengan habbatussauda baik yang bubuk maupun yang minyak. Tapi kini sudah tidak cocok di badanku. Apalagi kalau dikonsumsi ketika perut sudah terasa mual, makin muntahlah dia.

Saranku, ketika kamu memang tak berniat untuk muntah, ketika sudah mual, sebaiknya habbatussauda dilewatkan dulu. Kecuali kalau memang tujuannya mau mengeluarkan isi perut, lanjutkanlah!

6. Manfaatkan bahan dapur dan tanaman di pekarangan rumah.

Bahan dapur dan tanaman di pekarangan rumah ini ternyata bisa dijadikan obat alternatif untuk meringankan gejala asam lambung. Sejauh ini di badanku sangat cukup manjur.

1. Jahe
Bisa dibuat wedang dengan diseduh air panas, atau direbus.

2. Kunyit
Biasanya orang sini kunyit ini diparut lalu diseduh air panas. Kalau aku biasanya ku campur sekalian dengan jahe, dibuat wedang.

3. Daun pepaya
Pohon pepaya berbuah sangat lebat dalam bingkai foto polaroid

Daun pepaya bisa direbus lalu diminum airnya, bisa juga dijadikan lalapan. Aku sih dua-duanya pernah coba, dan memang berpengaruh. Perut jadi berkurang rasa pedih dan begahnya.

4. Daun Mint
Tanaman Daun mint segar dalam frame polaroid

Daun mint bisa dijadikan teh dengan diseduh air panas, bisa dengan cara direbus juga. Satu lagi dengan dijadikan infused-water atau air infus, yaitu dengan cara merendam daun mint dengan air selama 6-8 jam. Aku sih buat dua-duanya. Yang satu langsung bisa diminum, yang satu lagi buat stok. Apalagi kalau daun mintnya lagi banyak yang bisa dipanen.

5. Daun Basil/ kemangi
Awalnya gak tahu kalau daun basil bisa meredakan gejala GERD. Waktu itu jam makan siang, dan menu sayurnya gori, termasuk sayur yang enggak bisa ku makan. Berhubung aku malas masak lagi, jadi berinisiatif keluar rumah, niatnya mau petik daun pepaya untuk dijadikan lalapan. Rupanya terlihat daun basil yang udah gemuk-gemuk 2 pot,  belum pernah dipanen dan belum pernah ngerasa juga. Daun basil ini hasil salah tanam ceritanya. Yang mau ditanam kemangi, yang tumbuh basil. Lengkapnya bisa dibaca di Perbedaan Kemangi dan Basil:  Serupa Tapi Tak Sama.

Tanaman Daun basil yang difoto dalam bingkai polaroid

Nah, jadilah daun basil ini sayur lalapku untuk makan siang. Dimakan dengan telur rebus dan 3 sendok nasi. Udah gitu aja. Tak berapa lama setelah makan siang kurasa perutku makin lama makin nyaman rasanya. Pedih dan begahnya kian berkurang. Penasaran, aku pun browsing. Dan ternyata memang daun basil dan kemangi punya efek baik untuk mengurangi gejala asam lambung.

Eh, ini rupanya berkah salah tanam itu ya. Alhamdulillah.

Oiya, selain dilalap daun basil dan kemangi juga bisa dijadikan teh dengan diseduh atau direbus. Solusi bagi yang gak tahan mengunyah mentah.

6. Air kelapa muda
Sebuah Kelapa kuning muda di pohonnya difoto dalam frame polaroid

Satu lagi obat rumahan alami yang manjur untuk meredakan GERD adalah air kelapa muda. Kalau aku biasanya minum yang asli, maksudnya yang memang dari kelapa bulat. Kalau minum yang versi Hidrococo kurang cocok sama badanku, karena efeknya langsung terasa seret di leher. Nah, tapi kalau di badan kamu enggak ada masalah, ya monggo.

7. Istirahat

Asam lambung juga bisa jadi rangkaian dari sekumpulan sinyal tubuh yang sudah lama diabaikan. Mungkin kita sudah terlalu zalim sama badan sendiri. Abstrak ya... Tapi ya betul.

8. Don't overthink

Jika sumber utama naiknya asam lambung adalah karena pikiran, walau pun obatnya dikasi yang paling manjur, tapi kalau pikirannya tetap dibawa semrawut, yaaa... asam lambung tetap akan melambung. Namanya juga hidup, gak mungkin gak ada yang dipikirkan ya kan. Tapi ya paling gak  kita punya prioritas, mau sehat dulu sekarang atau mau lanjut dipikirkan biar gak sehat-sehat.

9. Tahan selera beberapa saat.

Pantang udah sehat 2 hari, buka sosmed dan terlihat ramen, lalu makan mi bangladesh, atau pingin makan seblak lalu buat sendiri seblak kuah caplak. Ya udah, memang gak bisa dibilangi. Makan lah itu. 🙃


Semoga yang sakit segara pulih kembali, yang sehat semoga tobat berobat dan yang berniat khilaf makan caplak pakai seblak segera insaf sebelum berbuat. Aamiin.

Nah, sekian P3 Asam Lambung versiku. Apakah kamu warga +62 penyintas asam lambung juga? Biasanya ngapain aja ketika asam lambung naik?