Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein

Kalau ada yang bilang mendesain itu menyenangkan, kreatif, dan bikin lupa waktu, maka sesungguhnya aku tidak termasuk golongan itu. Karena aku cuma ada di golongan makan waktunya saja. Makan waktu ya, bukan lupa waktu.

Sejak dulu, mendesain justru sering mendatangkan stres buatku. Sekarang pun masih begitu.

Memang, sejak ada Canva, urusan dunia perdesainan terasa jauh lebih mudah. Kalau kata sejuta umat, Canva itu gampang, cepat, dan praktis. Untuk bagian gampang dan mudah, aku setuju. Tapi kalau dibilang cepat? Bagiku belum tentu. 🤭

Masalahnya memang bukan di Canvanya Tapi ya di akunya yang dari sononya memang tidak suka mendesain. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ada tuntutan pekerjaan dan kegiatan yang membuatku mau tidak mau harus berhadapan dengan desain. Salah satunya ketika harus membuat desain konten Instagram untuk FLP Sumut. Jadi meskipun tidak suka, ya tetap digeluti juga.

Yang Cepat Itu Kalau Templatnya Sudah Jadi


Kalau desainnya sudah punya templat tetap, nah, itu baru aku bisa bilang Canva benar-benar terasa cepat dan praktis. Tinggal mengganti nama, dan foto, sunting sedikit informasi, rapikan seperlunya. Sudah. Beres.

Tapi coba kalau harus mendesain dari nol? Dah lah. Bisa seharian😭. Perjuangannya bahkan dimulai sebelum Canva dibuka.

Aku harus mencari inspirasi dulu. Lihat desain orang. Cari referensi. Simpan beberapa contoh. Lihat lagi. Cari yang lain. Simpan lagi. Dan tiba-tiba referensinya sudah menggunung saja. 

Bukannya semakin mudah menentukan pilihan, aku malah semakin bingung. Yang ini bagus. Yang itu juga bagus. Kalau pakai konsep ini bagaimana? Eh, tadi ada yang lebih cocok. Akhirnya bukannya desain yang jadi, malah kepala yang penuh.

Setelah itu baru masuk ke urusan printilan. Font-nya apa? Pasangannya yang mana? Warnanya apa saja? Ukuran judulnya? Fotonya diletakkan di mana? Jarak antar-elemen bagaimana? Pakai ornamen apa tidak? Dan kawan-kawannya.

Hal-hal kecil seperti itu kalau dikumpulkan ternyata bisa menghabiskan waktu dan energi yang lumayan besar.

Jadi kalau kemudian aku bilang bisa seharian menatap HP karena desain Canva, jangan bayangkan aku sedang menikmati kegiatan kreatif yang menyenangkan. Justru aku sedang berjuang menyelesaikan sesuatu yang memang harus selesai. 😂
Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein


Mata Ikut Jadi Korban


Nah, di sinilah hubungannya dengan mata.
Proses desain seperti itu membuatku bisa berkali-kali melihat layar dalam waktu lama.

Mencari inspirasi. Membuka Canva. Memperbesar desain. Memperkecil. Membandingkan warna. Membaca teks. Mengatur posisi. Mengecek ulang. Terutama EYD-nya. 

Bisa juga nanti jadi kembali mencari referensi karena tiba-tiba merasa desainnya kurang bagus. Gawat kali aku kan. 😌

Kalau sedang benar-benar mengejar pekerjaan, aktivitas seperti ini bisa berlangsung dari pagi sampai malam.
Dan ketika mata mulai terasa sepet, lelah, berair, atau area sekitar alis mulai terasa berat, biasanya aku langsung sadar: "Kayaknya mataku sudah cukup kerja keras hari ini."

Masalahnya, kesadaran itu kadang datang ketika desainnya belum selesai. Jadilah dilema lagi. Mau berhenti, tanggung. Mau lanjut, mata sudah protes. Dan di situlah kemudian muncul rasa khawatir.

Aku mulai merasa mungkin mata sudah terlalu lama dipaksa bekerja. Kadang rasa lelah itu juga membuat mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.

Akhirnya pekerjaan desain yang seharusnya tinggal sedikit malah terasa semakin melelahkan.

Jadi, walaupun gejalanya terasa sepele, ternyata pengaruhnya terhadap aktivitas cukup nyata. Yang tadinya fokus memikirkan desain, akhirnya sebagian perhatian justru pindah ke mata. Kok mulai sepet, ya? Kok berair? Apa aku sudah terlalu lama lihat layar? 

Dan bukannya pekerjaan cepat selesai, aku malah jadi harus mengambil jeda. SePeLe, tetapi bikin kerjaan ikut tersendat.

Ternyata Mata Kering Bisa Terasa Seperti Ini


Sebelumnya aku juga sempat berpikir bahwa mata kering itu ya mata yang benar-benar tidak berair. Ternyata tidak sesederhana itu.

National Eye Institute menjelaskan bahwa dry eye atau mata kering dapat terjadi ketika mata tidak menghasilkan air mata yang cukup atau air mata tidak bekerja dengan baik untuk menjaga permukaan mata tetap nyaman. Keluhannya bisa berupa rasa kering atau seperti ada benda asing, sensasi terbakar atau perih, mata merah, sensitif terhadap cahaya, hingga penglihatan yang terasa kabur.

Menariknya, mata kering juga dapat disertai mata berair. Halodoc juga menjelaskan bahwa mata berair dapat menjadi salah satu gejala yang muncul pada kondisi mata kering. Jadi, mata yang tiba-tiba berair tidak otomatis berarti permukaan mata sedang baik-baik saja. Ini yang sekarang membuatku lebih memperhatikan kondisi mata.

Kalau sedang melihat layar lalu tiba-tiba keluar air mata, kini aku tidak langsung berpikir, "Oh, berarti mataku aman karena masih bisa berair mata". Aku malah was-was.

Aku justru melihat apakah ada gejala lain yang menyertai, seperti sepet, perih, lelah, atau sulit fokus.

Kenapa Menatap Layar Lama Bisa Membuat Mata Tidak Nyaman?


Salah satu masalahnya adalah ketika kita terlalu fokus pada suatu aktivitas, frekuensi berkedip bisa berkurang.
Dan aku merasa ini sangat relevan dengan aktivitas desain.

Bayangkan ketika sedang memperhatikan apakah tulisan sudah sejajar. Kita fokus. Apakah warna ini cocok? Fokus lagi. Foto ini terlalu besar atau tidak? Zoom. Font-nya kurang pas? Ganti. Posisinya agak miring? Geser.

Belum lagi kalau sedang membandingkan beberapa referensi desain. Dalam kondisi seperti itu, rasanya mata memang jarang diajak santai ya.

Situs resmi Insto juga menyebut aktivitas yang membuat seseorang jarang berkedip karena terlalu fokus, termasuk membaca dan menggunakan layar, dapat memicu gejala mata kering.

Karena itu, salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda secara berkala dan mengingatkan diri untuk berkedip.

Aku sendiri juga mencoba menerapkan aturan 20-20-20. Maksudnya setelah sekitar 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih 6 meter.

Masalahnya, baru ingatnya itu sering setelah mata sudah protes duluan. Wkwkwk.

Berapa Lama Screen Time yang Aman?


Sebagai orang dewasa, aku sempat penasaran, sebenarnya berapa lama sih batas aman menatap layar?

Ternyata tidak ada satu angka universal yang bisa diberlakukan untuk semua orang dewasa. Apalagi kalau layar memang menjadi bagian dari pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.

Yang lebih penting adalah bagaimana penggunaan layar dikelola: memberikan jeda, tetap aktif bergerak, menjaga tidur, memperhatikan pencahayaan dan posisi, serta tidak mengabaikan keluhan ketika mata mulai terasa tidak nyaman.

National Eye Institute juga menyarankan membatasi waktu menatap layar dan mengambil jeda dari layar sebagai salah satu langkah yang dapat membantu ketika mengalami mata kering.

Untuk anak-anak, pendekatannya berbeda.
American Academy of Pediatrics menganjurkan keluarga membuat Family Media Plan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Penggunaan layar sebaiknya tidak sampai mengambil alih waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, bermain, hobi, maupun interaksi keluarga.
Jadi, untuk anak-anak pun pertanyaannya bukan sekadar,

"Sudah berapa jam main HP?"

tapi juga,

"Apa yang sudah tergantikan karena terlalu lama menggunakan layar?"

Menurutku ini jauh lebih masuk akal daripada sekadar mengejar satu angka tertentu.

Kalau Mata Mulai Lelah, Aku Biasanya Ngapain?


Kalau mata sudah mulai terasa berat, biasanya aku mencoba berhenti sejenak. Ponsel diistirahatkan,
Canva ditutup, pandangan dialihkan. Tak jarang akhirnya desainnya juga ku tinggal dulu jadinya. Karena tidak semua desain harus selesai dalam sekali duduk. Dan kayaknya tak pernah juga sih.

Kadang mata ku pejamkan sebentar. Kadang juga bisa ketiduran kalau kelamaan🤭. 

Aku juga cukup sering melakukan pijat mata dan senam mata yang sebelumnya pernah ku tulis di blog. Buatku pribadi, ini cukup membantu. Area sekitar mata terasa lebih rileks. Rasa berat di sekitar alis dan rasa agak pening juga biasanya berkurang.

Tentu saja ini bukan klaim kalau pijat atau senam mata bisa jadi obat untuk mata kering atau cara memperbaiki ukuran silinder ya.  Ini lebih kepada kebiasaan pribadiku sih. Karena kegiatan ini membuat mataku terasa lebih rileks setelah terlalu lama berkonsentrasi pada layar.


Ternyata Insto Dry Eyes Sudah Lama Ada di Rumah

Insto Dry eyes kemasan baru yang difoto secara estetik
Hasil bongkar-bongkar laci dan menemukanmu🤭


Perjalananku sampai akhirnya mencoba Insto Dry Eyes ternyata tidak dimulai dari beberapa waktu lalu.

Aku sebenarnya sudah punya produk ini sejak 2025. Waktu itu aku membelinya di Indomaret Aek Loba karena ada kebutuhan untuk sebuah proyek pekerjaan. Harganya ku ingat 16 ribu karena lagi ada promo waktu itu. Kalau sekarang dicek lagi harganya sekitar 17.900 sih di sini. 

Nah, saat itu kondisinya lain memang. Waktu itu aku belum merasa mengalami gejala mata kering seperti yang mulai sering kurasakan akhir-akhir ini. Paling hanya mata lelah setelah beraktivitas. Jadi, setelah dibeli, Insto Dry Eyes itu cuma aku anggurin begitu saja. Tak pernah ku uji coba. Segelnya pun belum dibuka. 

Sampai beberapa bulan belakangan ini aku mulai merasa kondisi mataku agak berbeda. Kadang sepet, sering berair, dan cepat lelah. Area sekitar alis juga bisa terasa berat, terutama setelah terlalu lama menatap layar. Tak jarang pun rasanya mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.

Nah, dari sinilah aku akhirnya teringat pada botol Insto Dry Eyes yang selama ini tersimpan di rumah.

"Eh, aku kan punya stok Insto Dry Eyes"

Tapi ya tentu saja tak langsung ku pakai. Namanya juga belinya tahun lalu. Jadi aku cek dulu dulu tanggal kedaluwarsanya. Eh, ternyata 2028. Dan selama ini menyimpannya juga di tempat yang relatif sejuk dan tidak terkena panas atau cahaya matahari langsung. Aman la ya kan. 
Insto dry eyes untuk mata kering kedaluwarsanya 2028
Alhamdulillah, masih aman hingga 2028😁

Barulah akhirnya aku resmi mencoba produk yang sebenarnya sudah lama menjadi penghuni laci mejaku itu.


Pengalaman Pertama Menggunakan Insto Dry Eyes


Pengalaman pertamaku menggunakan Insto Dry Eyes terjadi ketika mataku sedang terasa kurang nyaman setelah cukup lama menatap layar. Waktu itu hari hari kedua stelah seharian berkutat dengan desain caraousel untuk Instagram FLP Sumut yang belum siap-siap juga🥲. 


Aku pakai 2 tetes di masing-masing mata. Sensasi pertama yang paling terasa adalah rasa adem di mata. Bukan dingin seperti mentol yang menusuk. Lebih seperti rasa sejuk yang membuat mata terasa nyaman. Setelah digunakan, mataku terasa lebih enak dan segar.


Aku cukup suka dengan sensasi tersebut karena rasanya tidak berlebihan. Dan mungkin karena sebelumnya produk ini cuma tersimpan di rumah tanpa pernah ku pakai, pengalaman pertama itu jadi bertambah terasa seperti:
"Oh, ternyata ini rasanya memanfaatkan barang yang selama ini cuma nongkrong di laci ya." 😂


#InstoDryEyes digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata dan membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg.


Tentu saja, pengalaman menggunakan produk merupakan pengalaman pribadi dan respons setiap orang sangat bisa jadi berbeda.


Kalau keluhan mata terus terjadi, semakin berat, atau disertai gangguan penglihatan, sebaiknya ya tetap berkonsultasi dengan dokter mata, sih. 


Sekarang Aku Tetap Mendesain, tapi Lebih Sadar Diri


Apakah setelah mengenal Canva aku jadi suka mendesain? Tidak juga. Wkwkwk. Canva memang membuat pekerjaan desain jauh lebih mudah. Tetapi mudah bukan berarti aku otomatis berubah menjadi orang yang senang mendesain.

Mendesain konten Instagram menggunakan Canva lewat HP dalam waktu lama dapat membuat mata terasa lelah dan sepet
Foto ini dimodifikasi pakai Chat GPT ya🙏

Kalau sudah ada template yang tinggal diedit, aku bisa bilang:
"Nah, ini baru mendesain yang kusukai." 😂


Tapi kalau harus mulai dari halaman kosong? Aku masih seperti biasa, pusing duluan hanya karena terlalu banyak pilihan.

Namun setidaknya sekarang aku lebih sadar bahwa bukan cuma desain yang butuh perhatian, mata juga. Karena ketika tuntutan membuat kita harus menatap layar berjam-jam, jangan sampai kita baru peduli pada mata setelah benar-benar terasa tidak nyaman.

Walaupun aku belum bisa mencintai proses desain, tetapi setidaknya aku bisa mulai belajar mencintai mataku yang setiap hari dipaksa menemani proses tersebut. Karena semakin ke sini aku semakin menyadari bahwa,


Hanya karena kita memaksa diri menjadi pemburu deadline, mata sendiri tidak boleh ikut menjadi korbannya.”

Jadi, kalau hari ini kamu juga sedang sibuk menatap layar, entah untuk bekerja, belajar, membaca, menonton, atau mendesain seperti aku, jangan tunggu mata benar-benar menyerah baru beristirahat.


#MataSePeLeJanganSepelein, karena gejala mata yang terasa SePeLe tetap merupakan sinyal yang layak diperhatikan. Semoga kita #BebasMataKering ya.




Referensi
1. National Eye Institute: Informasi mengenai Dry Eye dan gejalanya.
2. Halodoc: Informasi mengenai mata kering dan gejala yang menyertainya.
3. HealthyChildren.org: Family Media Plan dan kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak.
4. Insto: Informasi resmi mengenai Insto Dry Eyes kandungan, fungsi, dan aturan penggunaannya.



Macam-macam Tipe Orang ketika (Bulan) Puasa

Berikut adalah hasil pengamatanku yang sebagiannya kutemukan semenjak balik ke Aek Loba. 
Aneka jenis orang ketika berpuasa

Macam-macam Tipe Orang ketika (Bulan) Puasa


1. Orang yang di puasa pertama sudah nyicil ngecat rumah.

2. Orang yang teguh gak mau membatalkan puasa walau sedang sakit berat. 

3. Orang yang berusaha tetap nyoba puasa walau gak mampu, sehingga setelah 5 jam puasa harus diinfus hingga hari raya.

4. Orang yang sengaja enggak puasa karena katanya bisa diganti dengan bayar fidiah.

5. Orang yang semangat sekali "safar" di bulan puasa supaya bisa enggak puasa.

6. Orang yang tiap malam sengaja bangun jam 1 pagi hanya untuk masak nasi lalu tidur lagi. 

7. Orang yang bangun jam setengah 3 pagi untuk sahur sambil nonton tivi, lalu kemudian ketiduran ditonton tivi

8. Orang yang bangun sahurnya sengaja setengah jam sebelum imsak supaya gak ketiduran pas nunggu salat subuh.

9. Orang yang gak tidur lagi habis sahur, tapi gak salat subuh karena ada agenda jalan pagi bareng rekan satu geng. 

10. Orang yang sengaja gak salat witir sebelum tidur karena rencananya besok paginya mau disambung tahajud lagi. Ee rupanya pas bangun sahur udah kesiangan.

11. Orang yang mazhabnya itu awal puasa ikut yang paling lama mulainya, tapi awal hari raya ikut yang paling duluan. 

12. Orang yang ketika ceramah-ceramah di tivi sudah bahas-bahas lailatulqadar, dianya sibuk lailatulbakar

13. Orang yang rajin patroli berburu menu bukaan padahal enggak puasa. 

14. Orang yang kalau ditanya, "Kamu kenapa kok puasa? jawabnya, "Kalau gak puasa, gak herayalah aku."

15. Orang yang... 
😁

Bangun Rumah Dengan Budget Terbatas? Rumah Tumbuh Adalah Jawabannya!

Punya rumah sendiri itu impian (hampir) semua orang. Tapi seringnya, bayangan soal biaya bangun rumah bikin kepala langsung cenat-cenut. Harga tanah naik terus, bahan bangunan tak pernah turun, sementara saldo tabungan yang sudah dari dulu dikumpul-kumpul masih juga rasanya pas-pasan (sudah gitu kena inflasi lagi, haee...). Rasanya mustahil, ya? Eh, tapi katanya jangan buru-buru menyerah. Karena ternyata ada lho, konsep yang bisa kita terapkan untuk bangun rumah impian tetap jadi kenyataan meski dompet belum tebal-tebal banget, yaitu dengan rumah tumbuh. Wah, cemana itu? Mari kita cari tahu.
Rumah Tumbuh Adalah


Apa Sih Rumah Tumbuh Itu?


Rumah tumbuh adalah rumah yang dirancang agar bisa dikembangkan di masa depan. Jadi gini, sederhananya rumah tumbuh itu adalah rumah yang dibangun bertahap sesuai dengan anggaran dana yang kita miliki saat itu. Kita tak perlu langsung punya rumah dua lantai megah dari awal. Cukup buat bagian penting dulu atau yang kita prioritaskan lah seperti kamar tidur, dapur sederhana, dan kamar mandi. Nanti kalau ada rezeki lebih, kita bisa tambah ruang tamu, ruang keluarga (ruang nonton TV bahasanya kalau di Aek Loba sini), garasi, gudang, bahkan lantai dua. Terserah mau diperluas ke belakang, ke samping atau ke atas. 

Yang penting, strukturnya sudah dirancang dari awal supaya bisa “menampung” pengembangan di masa depan. Jadi rumahnya tetap kokoh, fungsional, dan yang pasti tak kelihatan tambal sulam. Intinya rumah ini “hidup” dan “bertumbuh” bersama pemiliknya.


Konsep Dasar Rumah Tumbuh


Nah, biar lebih kebayang, ini beberapa hal penting dari konsep rumah tumbuh yang perlu kita tahu:

Direncanakan jangka panjang.

Walau mulainya kecil, pondasi dan rangka utama harus siap kalau mau ditambah lantai. Apalagi kalau lahan yang kita miliki memang terbatas ukurannya. 

Fleksibel.

Ruangan bisa ditambah tanpa bikin rumah yang ada jadi berantakan.

Prioritas dulu. 

Bangun yang penting-penting dulu, sisanya bisa menyusul.

Ada ruang cadangan.

Biasanya memang sengaja disisakan lahan belakang atau samping buat ekspansi nanti ketika tabungan sudah gendut lagi. 

Nah, kalau lihat-lihat konsepnya ini, sepertinya kita butuh konsultasi dengan arsitek ya kan supaya rancangan bangunan rumah impian kita ini efektif sesuai rencana dan harapan kita. 


Kenapa Rumah Tumbuh Menarik?


Alasan banyak orang memilih konsep ini cukup masuk akal, karena:

1. Hemat di awal. Nggak perlu keluar dana jumbo sekaligus.

2. Enggak bikin keuangan megap-megap. Bisa disesuaikan sama kondisi tabungan dan prioritas kebutuhan saat itu. 

3. Rumah ikut tumbuh bersama penghuninya. Keluarga tambah besar? Tinggal kembangkan rumahnya. Bisa tumbuh ke atas, kesamping atau ke belakang. 

4. Lebih efisien. Ruang yang kira-kira saat ini belum terpakai tak usah dibangun dulu, biar tak mubazir. (Misal ruang belajar, kamar tamu, garasi, gudang, dll. Kan belum perlu ya kan untuk keluarga baru anak satu, apalagi pengantin baru). 

5. Tetap cantik. Kalau desainnya sudah dirancang dari awal, hasil akhir rumah tetap estetis.


Kenalan dengan Rona Homes, Rumah Tumbuh dari Summarecon Tangerang


Kalau bicara soal rumah tumbuh, jadi teringat dengan proyek menarik dari Summarecon Tangerang: Rona Homes.
Dengan tagline-nya “Growing House for Growing You”, artinya, rumah ini memang didesain supaya bisa berkembang sesuai kebutuhan pemiliknya. Mulai dengan unit standar, lalu kalau kita butuh ruang tambahan, tinggal dikembangkan saja ke belakang atau ke atas. 

Lokasinya strategis banget, cuma sekitar 200 meter dari akses Tol Bitung KM 26, jadi gampang kalau mau ke Jakarta atau sekitarnya. Kawasannya juga modern, dengan konsep “Six Lakes, One Vibrant City” yang punya danau sebagai pusat township. Keren kan?

Yang buat makin menarik, Rona Homes ini ada di dalam cluster eksklusif dengan fasilitas yang hanya bisa diakses penghuni, bukan umum. Ada clubhouse, swimming pool, sampai children playground buat anak-anak main dengan aman. Selain itu kawasannya berteknologi one gate system, keamanan 24 jam, serta kabel bawah tanah yang tertata rapi. Jadi selain jenis rumahnya berdesain arsitektur modern tropis yang bisa berkembang, lingkungannya juga sangat nyaman untuk ditinggali jangka panjang.

Rona Homes
Sumber: summarecontangerang.com

Intinya, ini adalah paket lengkap buat kita, eh kamu yang cari rumah dengan konsep rumah tumbuh, tapi tetap ingin punya kualitas hidup oke.

Jadi, apakah bangun rumah dengan budget terbatas itu mustahil? Jawabannya sama sekali tidak ya. Konsep rumah tumbuh ini buat impian punya rumah jadi lebih realistis, fleksibel, dan ramah di kantong.

Oiya, kalau mau langsung lihat contoh nyatanya, Rona Homes ini bisa banget jadi pilihan ya. Dengan harga mulai Rp 800 jutaan, plus segala fasilitas Summarecon, kamu nggak cuma dapat rumah, tapi juga dapat kenyamanan hidup jangka panjang.

👉Yuk, coba intip lebih jauh tentang Rona Homes di Summarecon Tangerang. Siapa tahu, ini langkah awal rumah impianmu jadi kenyataan ✨

Menata Mimpi Rumah Masa Depan Bersama properti1.com

Beberapa waktu lalu, aku iseng membuka galeri foto lama. Ternyata ada satu folder berisi sketsa rumah impianku yang kubuat bertahun-tahun lalu. Dinding putih, taman mungil penuh lavender, dan ruang baca dengan jendela besar. Dulu rasanya itu sekadar angan-angan yang kubiarkan mengapung begitu saja. Tapi sekarang, setelah banyak belajar tentang kemandirian dan kehidupan yang lebih teratur, keinginan untuk punya “ruang sendiri” itu kembali muncul.

Ajaibnya, setiap kali kita mulai memikirkan sesuatu dengan serius, semesta seperti ikut bergerak. Alogaritma sosmed udah kayak yang paling memahami kita sedunia. Tiba-tiba aku jadi sering sekali menemukan konten tentang hunian, tips memilih lahan, sampai kisah orang yang baru saja membeli rumah pertamanya. Dan di tengah pencarianku itu, aku menemukan satu hal yang cukup membantu: sebuah platform bernama properti1.com.
Menata Mimpi Rumah Masa Depan Bersama properti1.com


Awalnya aku pikir ini hanya situs listing biasa. Tapi setelah ku jelajahi, ternyata fiturnya cukup rapi, informatif, dan yang paling, dia mudah dipahami orang awam sepertiku. Kalau kamu juga tipe yang suka riset dulu sebelum ambil keputusan besar, kamu pasti paham betapa berharganya platform yang nggak buat n kita pusing tujuh keliling.

Di properti1.com, aku bisa lihat berbagai pilihan rumah, lahan, dan properti komersial tanpa harus loncat dari satu situs ke situs lain. Lebih enak lagi, informasi dasarnya lengkap. Harga, lokasi, luas tanah, dan kondisi bangunan, semuanya jelas. Bahkan ada peta juga. Buatku yang suka membayangkan suasana sekitar, fitur itu sangat penting.

Saat mencari referensi untuk lahan yang dekat pusat kota, aku sempat membuka kategori website properti indonesia. Dari situ, aku sadar bahwa perkembangan properti di Indonesia itu tidak main-main. Banyak kawasan berkembang yang dulunya biasa saja, sekarang berubah jadi area strategis. Jadi kalau kamu sedang mempertimbangkan berinvestasi, platform ini bisa bantu kamu memantau harga pasar dan tren lokasi.

Dan kalau kamu kebetulan tinggal di Jakarta atau punya impian membangun rumah kecil di tengah hiruk-pikuk ibu kota (atau ya yang punya ada rencana pindah ke ibu kota misalnya), ada juga kategori jual tanah jakarta yang informasinya cukup lengkap. Kadang kita berpikir tanah di Jakarta pasti sudah habis, eh rupanya masih ada beberapa titik menarik yang cocok untuk hunian mungil maupun investasi jangka panjang.

Yang paling kusuka dari proses ini adalah bagaimana semuanya membuatku kembali mengingat mimpiku yang dulu. Ternyata, membangun rumah itu bukan hanya soal punya uang, tapi juga soal keberanian untuk memulai riset, membuka kemungkinan, dan mencari jalan pelan-pelan. Nggak harus langsung beli esok hari, tapi tahu arah dan langkah kecil apa yang bisa dimulai dari sekarang.

Seperti saat kita menanam tanaman baru di kebun, kita pilih media tanam yang tepat, atur pencahayaan, dan pelan-pelan memperhatikan pertumbuhannya. Begitu juga dengan urusan properti. Kita butuh tempat yang pas, informasi yang jernih, dan waktu untuk menimbang sebelum memutuskan yang terbaik.

Jadi kalau kamu kini sedang berada di fase “ingin punya rumah tapi bingung mulai dari mana”, mungkin saatnya membuka kembali mimpimu. Lihat sketsamu. Bayangkan jendelanya. Rasakan hangatnya ruang favoritmu. Dan setelah itu, coba sempatkan beberapa menit untuk menjelajah properti yang tersedia. Karena kita enggak pernah tahu langkah kecil mana yang akan membuka pintu yang lebih besar nanti.

Siapa tahu, mimpi rumah impianmu sebenarnya sedang menunggumu di sudut internet yang satu ini—dan mungkin, justru dimulai dari properti1.com.

Evakuasi Sarang Tawon Panggil Damkar Bayar 200ribu?

Gimana Rasanya Swasembada Caplak di Masa Harga Cabai Melangit?

Lupa aku entah sejak tanggal berapa tepatnya harga cabai di Aek Loba ini sekilo tembus 100 ribu sekilo, entah Agustus entah September mulainya. Dan sampai tulisan ini di tulis, harga cabai merah seperempat masih 25 ribu di sini. (Jadi teringat pidato Pak Presiden di ajang PBB lalu yang katanya Indonesia swasembada beras dan siap ekspor ke mana-mana. Eh, betul nya itu? Bukannya harga beras sejak naik waktu itu sampai sekarang ya masih saja mahal ya?) 

Untuk lidah warga sini yang kalau makan tanpa sambal rasanya kayak "payah ketelen' nasinya, dihadapkan dengan harga cabai yang tiap hari kian meroket itu kok rasanya kayak dianiaya sama negara ya. Padahal bukan dalam rangka hari besar atau libur nasional, dan cuaca pun juga sudah baik-baik lagi kondisinya untuk tanaman cabai. But, why aren't the price going back to normal? Why? 

Para pedagang kuliner menjerit dompetnya, dan pelanggannya menjerit kantongnya. Harga seporsi ayam penyet di sini pun naik (lagi). Kalau sudah naik, walaupun nanti harga cabai turun (entah iya entah entah enggak, dan entah kapan), harga ayam penyet ya tetap nyaman di situ. (Aku sih gak makan ayam penyet, tapi kalau para ponakan main-main ke rumah neneknya, neneknya bakal pasang mode "gofud" ayam penyet buat mereka😄). 

Kami, yang juga termasuk grup makan wajib ada sambal atau gigit cabai (Terutama mamake, aku sih masih bisa lewat) walau ikut palak dengan harga si cabai, sukurnya tetap bisa merdeka makan cabai sepuasnya. (Lambungku saja yang gak merdeka😌) Pasalnya sejak 3 bulan terakhir, kami swasembada caplak. 

Lihat kebunku, penuh dengan caplak. 
Ada yang putih, dan ada yang merah. 
Setiap hari, kusiram semua. 
Caplak yang putih, langsung jadi merah. 
Wkkk. 


Pernah suatu pagi, pas mamake pulang dari pajak, ngasih aku uang 27k. Heh, uang apa ini? Pikirku. Rupanya caplaknya beliau jual, dapat kurleb setengah kilo. Waktu itu harga cabai merah masih 80 ribu sekilo, rawit sekitar 50 ribuan. Dalam hatiku, lumayan lah untuk beli polibag lagi. Pas pula stok polibag sudah ludes🤣. 


Ada berapa pohon caplak di rumah? 


Walau kesannya seperti ada unsur pamer, tapi bolehlah sebagai bahan referensi. Sebenarnya kita butuh berapa banyak pohon cabai sih di rumah supaya gak perlu beli cabai lagi? Pertanyaan ini sebenarnya ya pertanyaan yang sering muncul di kepalaku ketika sengaja menanam banyak tanaman sejenis, seperti cabai, daun sop, dan daun prei.

Karena kini kurasa sepertinya jumlah pokok caplak yang ku tanam di rumah kebanyakan deh, sampai luber-luber buahnya. Walau kalau kondisi sekarang, 'kebanyakan' malah jadi duit karena harga cabai lagi selangit. Wkkk

Nah, sampai tulisan ini ditulis di kebunku ada 13 pokok caplak yang di tanah, 3 yang di polibag, dan ada tumpukan beberapa pokok caplak dalam 2 pot (jadi enggak tahu totalnya berapa, anggap saja 20 lah ya).
Pohon dan buah Cabai Caplak cabai rawit putih segar dalam bingkai polaroid

Tapi tak semuanya berbuah dengan porsi yang sama. Ada 4 pokok yang buahnya lebat banget, Sisanya bervariasi, ada juga yang malah berbunga pun belum. Karena waktu penanamannya juga tak sama. 3 kali menyemai.

Seingatku, penyemaian yang kedua dibuat setelah generasi pertama mulai berbunga. Penyemaian ketiga adalah cabai merah. Yang bertahan hidup dari serangan bekicot hanya 7 pohon, dan sebahagiannya masih di polibag yang isinya berkelompok. Statusnya beberapa sudah mulai berbunga. 

Oiya, For your information, semenjak cabai merah mahal, bisa dibilang mamake gak pernah beli cabai sih. Jadi sambal kami murni caplak semua. Dan caplak yang kutanam ini rasanya tak sepedas caplak pada umumnya. Heran juga. Oiya satu lagi, walau bibitnya sama, hasilnya beda-beda. Tergantung kesuburan pohonnya, lokasi serta asupan sinar mataharinya. Yang di tanah umumnya lebih banyak buahnya dibanding yang di polibag. Tapi yang di tanah pun walau pohonnya sama-sama besar, buahnya ada yang lebat ada yang jarang, ada yang buahnya gendut-gendut dan ada juga yang buahnya langsing semua satu pohon. 

Nah, jadi kalau ditanya butuh berapa pohon cabai sih supaya gak perlu beli cabai lagi? Ya tergantung kita serakus apa sekali makan cabai, dan sebanyak apa yang buah yang dihasilkan dari satu pokok cabai kita. 

Sekarang ini, hikmahnya "punya pokok cabai kebanyakan" gak ada ruginya sih. Kalau kebanyakan untuk konsumsi sendiri, ya jual aja sono ke pajak. Atau bagi-bagikan ke tetangga.

Tapi kalau mau ngasi tetangga, saranku sih, kita sendiri yang petik. Soalnya lain tuh kalau tetangga yang petik. Berhubung karena tanaman itu bukan miliknya, jadi perlakuannya ke tanaman yang sedang di petik itu tak jarang membuat pemiliknya, kita, malah menyesal sendiri. Maksudnya mau ngumpulin pahala eh, malah jadi makan hati nanti. Hehehe. Hanya para pemilik tanaman yang mengerti. ✌

Jadi ada berapa pohon cabai di rumahmu? Bisa swasembada cabai juga tak? 😁

Supaya Nyaman Berkebun di Musim Banyak Nyamuk

Siapa bilang musim penghujan adalah musim yang paling banyak nyamuknya? Kalau aku bilang musim yang paling banyak nyamuk dan paling ganas serangan nyamuknya justru ada di musim kemarau, percaya gak?

Aku juga baru ngeh dengan fakta ini bulan lalu, Juli, saat kemarau sedang di puncak-puncaknya untuk kawasan Aek Loba dan sekitarnya. Selain penampakan awan hujan yang hampir sebulan gak pernah kelihatan, suhu pun tiap hari makin panas. Malam pun sampai 32 derajat Celcius. Rata-rata penduduk Aek Loba susah tidur di malam hari saking gerahnya ditambah lagi nyamuk yang luar biasa banyaknya. Hingga akhirnya banyak penduduk yang bertumbangan. Jadilah bulan Juni (hingga Agustus) tahun ini selain musim kemarau juga jadi musim nyamuk dan musim sakit di sini. Mentang-mentang di Aek Kuasan sini ada 99 musim ya. 😏


Aku ingat ada turun hujan 2 kali di pagi hari (sejenak) setelah setengah bulan tak hujan. Nah, besoknya kok jadi banyak nyamuk kecil-kecil masuk kamar, dan makin hari makin ngelunjak

Halaman rumah kami kan rumput manis ya kan. Cuma lewat saja aku dari pintu depan ke rumah sebelah yang jaraknya kurleb 10 meter, nyamuk yang mengikutiku ada lebih dari 30 ekor, yang menempel di kulit bejibun. Ih, ngeri lah pokoknya. Padahal kalau soal air menggenang ya mana ada, pot bunga saja pun kering kerontang. Di mana lah nyamuk-nyamuk ini berkembang biaknya kok waw kali jumlahnya. Hujan yang waktu itu pun tak mampu membuat parit riul berair. Sat, kering. 


Sungguh fenomena nyamuk yang merajalela ini sedikit banyaknya jadi menurunkan tingkat kerajinan berkebunku awalnya. (Seh, sok rajin😅).Tapi ya cemana ya kan, cuaca udah lah panas terik plus kering-kerontang begini, kalau tak disiram tanaman-tanaman ini, pindah alam lah mereka🙄. Sehari wajib pagi sore disiram. Kalau tidak, sujud-sujud lah mereka, layu.

Rajin berkebun, sehat raga serta jiwa


Berkebun itu tak cuma petik-petik cabai kangkung dan semangka. Itu mah namanya panen bukan berkebun.

Bagiku berkebun itu... Mandi matahari sambil mencangkul lahan, buat kompos, mengangkut sampah sambil main tanah, memilah bahan bibit lalu dijemur sebelum membibit, buat penangkal hama, mencabuti gulma lalu dikasihkan ke anak lembu untuk cemilannya, menampung air cucian beras untuk dijadikan pupuk cair dan bahan semprotan hama, memindahkan bibit ke wadah yang lebih besar lalu dipindahkan lagi ke tanah kalau sudah besar, nyariin ulat satu-satu yang main petak umpet di daun-daun cabai, berburu bekicot malam-malam, pasang jaring supaya ayam tetangga gak mandi-mandi di bawah pokok cabai, memindahkan pot-pot bunga dan tanaman supaya gak diembat lembu pas mereka difungsikan jadi mesin potong rumput di halaman, mangkas pagar bambu biar rapi dan merapikan tanaman hias yang perlu dipangkas pakai pisau kater (berhubung gunting pagarku udah rusak). Mangkas pokok terung, rimbang, dan daun jeruk purut yang sudah terlalu rimbun supaya bertunas lagi (ya sambil dipanen lah pastinya), membabat daun ubi, daun katu dan daun ubi jakarta yang sudah menyemak tinggi, mencas batang daun pandan untuk stok masak nasi sambil dijadikan bunga meja sejenak, kadang juga sekadar metik bunga melati yang sudah mekar untuk dijadikan pengharum kamar.

Ya bukan berarti semuanya itu dilakukan tiap hari loh ya. Tapi tiap hari (kalau pas rajin) pasti ada kegiatan berkebun yang dibuat, paling gak aktivitas menyiram tanaman. 

Bagiku berkebun itu aktivitas yang kompleks; bukan cuma sekadar kegiatan bersih-bersih pekarangan, tapi juga memungsikan lahan jadi cantik dan menghasilkan, lalu sebagai gerakan ikut merawat bumi lewat mengompos dan menambah pasokan oksigen, tak hanya menyehatkan badan tapi juga jiwa.

Beraktifitas di bawah sinar matahari pagi meningkatkan produksi serotonin dan endorfin. Tak usah pun memanen hasil tanaman sendiri, tiap kali melihat yang kita taman dan rawat tumbuh dengan baik, berbunga apalagi berbuah selalu ada dopamin yang dilepaskan tubuh. 3 dari 4 hormon bahagia meningkat produksinya dengan aktivitas berkebun. Jadi jika sehari tak turun berkebun, rasanya rugi. Walau hanya menyiram tanaman pun jadi. 


Supaya Berkebun Tetap Nyaman dan Aman


Perihal banyak nyamuk ini, bagiku bukan hanya karena khawatir gigitannya menyebabkan penyakit malaria, DBD, cikungunya dan jenis penyakit lainnya yang dibawa nyamuk. Aku lebih khawatir dengan efeknya ke kulitku yang sensitif. Gatal sedikit saja efeknya langsung memicu alergiku. Lengkapnya ada di Cerita Alergi: Obat Absurd Tapi Ampuh.

Makanya kalau soal nyamuk, di rumah alat tempurku minimal ada kelambu, raket nyamuk, dan lotion nyamuk. Aku tak tahan anti nyamuk jenis bakar dan semprot. Dulu pernah pakai anti nyamuk elektrik sih, tapi merasa boros dari segi biaya, kurang ramah bagi organ pernapasanku, serta menghasilkan sampah juga, jadinya aku lebih pilih pakai kelambu dan raket listrik. 

Nah, dalam hal berkebun ku merasa lebih nyaman memakai lotion nyamuk. Dan ketika puncak serangan nyamuk bulan Juli kemarin, ku tambahkan dukungan raket nyamuk. Wkkk

Berikut 8 alat tempur yang wajib aku bawa dan gunakan saat berkebun:

1. Sunscreen alias tabir surya

Tabir surya ini wajib dipakai karena biasanya aku kalau udah keluar pasti banyak panas-panasannya. Apa lagi cuaca di Aek Loba ini kalau panas ya terik banget. Kadang kalau keasikan juga bisa sampai lewat tengah hari masih di luar. Ya walau kadang lupa pakai juga. Makanya sejak balik Aek Loba warna kulitku makin eksotis🙃. 

2. Topi

Paling suka pakai topi petani yang lebar gitu, jadi mau seterik apapun matahari, wajah dan kepala tetap adem rasanya. 

3. Kaos kaki

Bagiku kaos kaki ini wajib karena aku gak suka pakai booth karet, lebih suka pakai sandal jepit ketika berkebun. Kaos kaki ini manfaatnya banyak banget buatku; mencegah belang pada kaki, tak buat pasir dan tanah masuk di celah-celah kuku, dan tak membuat tumit kaki pecah-pecah (atau kalau pun sudah terlanjur tidak akan membuat tumit menjadi hitam retakannya), selain itu meminimalisasi kena gigitan semut dan serangga lainnya. 

4. Sarung tangan

Baik main tanah atau pun enggak, sarung tangan ini tak boleh absen, apalagi ketika job desk hari ini bagian memangkas ranting daun jeruk purut, bunga mawar, bunga kertas dan mengambil serai. Selain bisa meminimalisasi tertusuk dan terbeset duri, juga bisa menghindari gatal dan pastinya tangan tetap bersih dari tanah. 

5. Pisau kater

Meski sepele tapi ini termasuk yang kadang lupa ku bawa. Ketika butuh digunakan barulah teringat. Aku sih kalau sudah keluar paling malas masuk rumah lagi, dan paling anti menyuruh-nyuruh yang di dalam rumah untuk mengambilkan sesuatu. Makanya butuh atau enggak, kater, pisau dan parang selalu kubawa sebelum keluar rumah. 

5. Pisau

Udah bawa kater kenapa bawa pisau lagi? Pisau ini bagiku gunanya bukan untuk memotong sih. Lebih untuk membuat lubang bibit ketika dipindahkan ke polibag yang lebih besar. Dan untuk mencungkil bibit yang akan dipindahkan. 

6. Parang

Sama halnya dengan pisau, parang ini pun fungsinya sama, hanya saja lubangnya lebih besar dan lebih dalam. Biasanya untuk memindahkan tanaman dari polibag ke tanah. Kalau untuk memotong ranting dan batang besar, aku lebih suka pakai perpaduan cutter, parang dan gergaji. 

7. Lotion nyamuk

Sejak 2 tahun terakhir aku selalu pakai lotion nyamuk dulu baru keluar rumah untuk aktivitas berkebun. Pasalnya area perbatasan dengan tanah tetangga, yaitu area di dekat pohon rambutan pagar bambu dan pohon kelapa bagian ujung, entah kenapa selalu ada nyamuknya besar-besar. Padahal dulu enggak ada. Mungkin karena lumayan teduh ya dan di bawahnya juga rumput dan sebelahnya tanah tetangga juga rumput. Makanya sejak itu ya sekalian saja pakai lotion anti nyamuk. 

Nah, biasanya aku hanya pakai lotion saja ya kan, tapi semenjak Juli kemarin yang nyamuknya ngelunjak, aku tak hanya pakai di kulit saja, tapi juga ku usapkan ke jilbab, dan seluruh pakaian hingga kaos kaki. Lalu tube-nya ikut ku bawa ke luar rumah. Biasanya cukup sekali pakai saja, tapi nyamuk bulan Juli kemarin sungguh kurang ajar. Sekali pakai hanya tahan 1-2 jam saja, kadang harus pakai ulang beberapa kali.
Dee-dee mosquito repellent lotion orange yuri indonesia

Sengaja pilih lotion penolak nyamuk dee-dee dari Yuri Indonesia ini dengan pertimbangan lotion-nya aman untuk kulit anak-anak, jadi ya seharusnya aman untuk kulit sensitif ku ya kan. Lotion anti nyamuk ini cepat meresap di kulit dan ada sensasi lembab gitu di kulit dan telapak tangan. Gak ada rasa panas di kulitku dan gak terasa lengket. Ketika dioleskan ada wangi jeruknya gitu, segar macam pengharum ruangan. Wanginya bertahan kurang lebih semenit. Setelah itu hilang. Oiya, kuingat pernah cuci tangan setelah sejam pemakaian, dan saat cuci tangan pertama terasa lotion-nya tercuci gitu, berarti lotion-nya menempel tapi gak terasa lengket ketika kering ya kan. Dan yang tak kalah penting produk-produk dari Yuri ini tidak terafiliasi dan mendukung Si Rewel ya kan. 

8. Raket nyamuk

Sebelumnya raket nyamuk tak pernah kubawa. Gara-gara nyamuk bulan Juli ini lah raket nyamuk ini menambah daftar alat tempur berkebunku. Fungsinya? Ya tentu menyetrum nyamuk. Jadi pagi sebelum memulai aktifitas berkebun, aku mencari korban dulu... Wkkk... Mencari nyamuk maksudnya. Sampai baterai habis. Lalu dicas lagi dan sorenya ku mencari mangsa lagi. Di kegiatan inilah ku menemukan kalau di tanah-tanah juga banyak nyamuk besar-besar. Heran sih. Aktivitas ini ku lakukan tiap hari selama sepekan. Dan hasilnya... Jumlah nyamuk berkurang drastis. Alhamdulillah. Kini raket nyamuk ini sudah bisa tidak ikut berkebun😁. 


Nah, demikianlah sekilas pengalaman berkebunku di musim kemarau Juli lalu, musim yang nyamuknya ganas luar binasa. Semoga bermanfaat bagi kamu yang juga suka berkebun ya. Kalau kamu, biasanya supaya aktivitas berkebun tetap nyaman dan aman saat musim banyak nyamuk gimana, nih