Puas Jelajah Pantai Bali Tanpa Khawatir Pakai TRAC

Jakarta, pertiwisoraya.com - Mengatur transportasi seringkali menjadi tantangan menjelang liburan keluarga, terutama saat membawa anak-anak. Kenyamanan, keamanan, dan fleksibilitas waktu perjalanan adalah faktor utama yang harus dipertimbangkan. Salah satu solusi terbaik untuk memastikan perjalanan tetap lancar adalah layanan rental mobil yang memberikan kemudahan serta kenyamanan bagi keluarga selama berlibur.

Rencana berwisata ke Bali kini menjadi lebih mudah dengan adanya layanan rental mobil Bali. Keluarga dapat menikmati perjalanan tanpa khawatir tentang keterbatasan transportasi umum atau jadwal yang ketat. Dengan armada yang selalu terawat dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, layanan ini menjadi pilihan ideal bagi keluarga yang ingin menjelajahi keindahan Pulau Dewata dengan santai dan menyenangkan.

Berikut beberapa alasan mengapa rental mobil di Bali menjadi pilihan cerdas untuk liburan keluarga yang bebas repot.

4 Alasan Memilih Rental Mobil untuk Liburan Keluarga di Bali


Aplikasi TRACK
TRAC (dokumentasi Pribadi)

1. Fleksibilitas Penuh dengan Layanan Lepas Kunci

Keleluasaan dalam mengatur waktu dan rencana perjalanan menjadi keunggulan utama layanan lepas kunci. Keluarga bisa menentukan jadwal perjalanan sendiri tanpa perlu menyesuaikan diri dengan jadwal transportasi umum. Dengan rental mobil, setiap destinasi wisata dapat dikunjungi dengan bebas dan santai sesuai keinginan tanpa terburu-buru.

2. Kendaraan Terawat Menjamin Kenyamanan dan Keamanan

Kenyamanan saat bepergian bersama keluarga merupakan hal yang sangat penting. Layanan rental profesional memastikan bahwa seluruh kendaraan berusia di bawah lima tahun dan selalu mendapatkan perawatan berkala. Kondisi mobil yang prima menjamin keamanan serta kenyamanan di sepanjang perjalanan, membuat setiap anggota keluarga dapat menikmati liburan tanpa rasa khawatir.

3. Proses Pemesanan yang Cepat dan Praktis Digital

Melalui website resmi atau aplikasi mobile, proses pemesanan mobil menjadi lebih mudah. Keluarga dapat melakukan pemesanan kapan saja dan di mana saja sesuai dengan jadwal liburan. Fitur fleksibel dalam aplikasi juga memungkinkan perubahan waktu rental jika terjadi penyesuaian rencana mendadak, memberikan keleluasaan penuh selama perjalanan.

4. Jaringan Luas dan Dukungan Pelanggan 24 Jam

Ketersediaan layanan di banyak kota besar, termasuk Bali, memudahkan keluarga yang bepergian antar kota. Selain itu, Customer Assistance Center siap membantu selama 24 jam, memberikan ketenangan ekstra apabila terjadi situasi darurat selama perjalanan. Dukungan profesional ini, yang disediakan oleh penyedia seperti TRAC, sangat vital untuk perjalanan yang aman.

Liburan Bebas Hambatan di Pulau Dewata
Dengan layanan rental mobil Bali, liburan bersama keluarga menjadi lebih nyaman, fleksibel, dan bebas hambatan. Penyedia layanan ini seperti TRAC, memenuhi semua kebutuhan transportasi sehingga momen kebersamaan dapat dinikmati sepenuhnya.

Saat ini, tersedia penawaran khusus yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan layanan transportasi berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Kunjungi saluran resmi untuk mengetahui syarat dan ketentuan promosi yang berlaku.
TRAC, Teman di Setiap Kilometer.

Cara Membuka Kafe dari Nol: Ketika Kafe Bukan Sekadar Tempat Ngopi

Belakangan ini aku kayaknya lagi terikut arus mabuk Jing Boran. Padahal dulu dia adalah salah satu aktor yang kalau di drama/film ada dianya, aku bakal gak jadi nonton. Gara-gara ill feel sama karakter Xiao Nai versi film yang dia perankan di One Smile is very Alluring. Secara aku nonton versi dramanya duluan yang diperankan Yang Yang. Nah, pas lihat versi filmnya, waktu itu kurasa jadi banting kali. 

Barulah pas nonton The Psychologist tahun 2021
, cara pandangku tentang Jing Boran agak-agak terperbaiki. Padahal karakternya si Qian Kai Yi di situ bukan jenis yang idol drama gitu. Tapi kualitas aktingnya cocok kurasa.

Waktu itu nonton drama ini karena tokoh utamanya diperankan oleh Yang Zi. Maju mundur juga pas mau nontonnya gara-gara pemeran utama prianya adalah Jing Boran. Tapi akhirnya karena penasaran dengan ceritanya, jadilah nonton sampai tamat sesi ke-2. Dan jadi ketagihan menunggu sesi ke-3 gara-gara ending-nya yang kayak bersambung gitu. Tapi kayaknya gak akan ada sesi ke-3. Dan agaknya bukan itu saja sih, yang buat drama ini cukup melekat di otakku. 

Ada satu hal di drama ini yang membuat pikiranku melayang ke mana-mana, yaitu konsep kafe yang terhubung dengan penyiaran radio yang ada di drama The Psychologist ini. Studio rekamannya ada di tengah-tengah kafe, dengan kaca tembus pandang. 

Aku jadi membayangkan, kalau suatu hari punya kafe sendiri, aku juga mau ada konsep siaran radionya. Bagaimana kalau tempatnya bukan sekadar tempat makan dan ngopi?

Bagaimana kalau ada ruang baca, kegiatan literasi, mungkin aktivitas untuk anak dan keluarga, lalu ada semacam studio kecil untuk membuat konten atau siaran tentang buku, membaca nyaring, dongeng, baca puisi, dan sejenisnya? Kayaknya keren. 

Sampai aku sadar sendiri, “Ini mau buka kafe atau bikin kompleks pendidikan?” Wkwk.

Lalu aku coba menyortir-nyortir, menyederhanakannya. Kalau benar-benar ingin mewujudkannya, aku ingin punya satu konsep utama yaitu literasi. 

Kafenya menjadi wadah sekaligus sumber pendapatan. Kegiatan penyiarannya (broadcasting) menjadi media pendukung untuk menggaungkan aktivitas literasi ke luar. Anak-anak, keluarga, komunitas, bahkan sekolah bisa menjadi bagian dari ekosistemnya nanti.

Jadi, aku bukan ingin membuat kafe yang kebetulan punya rak buku, tapi aku maunya membuat ruang literasi yang punya kafe. 

Dari situ, kalau suatu hari nanti benar-benar menjalankan ide tersebut, kira-kira beginilah cara membuka kafe dari nol yang akan aku lakukan. 

11 langkah membuka kafe dari nol
Ilustrasi dibuatkan oleh akal imitasi

1. Tentukan Konsep Kafe Sebelum Memikirkan Dekorasi



Kalau membayangkan kafe, hal pertama yang sering muncul justru penampakannya, dekorasinya. Ya, namanya juga mata ya kan. Pasti awalnya gitu. 

Mau minimalis? Industrial? Klasik? Banyak tanaman? Atau penuh ornamen lucu untuk foto?

Padahal, menurutku, sebelum memilih warna dinding dan model kursi, ada pertanyaan yang jauh lebih penting kurasa; kafe ini sebenarnya mau jadi apa?

Kalau konsep utamanya literasi, maka buku tidak boleh sekadar menjadi pajangan.

Harus ada alasan kenapa orang datang dan merasa bahwa tempat ini memang berbeda. Bisa karena ada ruang baca, diskusi buku, kegiatan membaca nyaring, dongeng, kegiatan menulis, menggambar dan mewarnai, majalah dinding, peluncuran buku, atau acara kecil lainnya.

Sementara itu, makanan dan minuman tetap menjadi bagian penting karena kafe harus berjalan sebagai bisnis.

Untuk penyiaran (broadcasting), aku rasa tidak perlu langsung membangun studio radio yang besar. Ruang kecil untuk membuat siniar (podcast), merekam rekomendasi buku, wawancara penulis, atau sesi membaca nyaring dan bercerita rasanya sudah cukup untuk tahap awal. Dan diusahakan ruang siarannya ini kedap suara sih ya, kan. Jangan pula nanti suara blender dan suara numis bawang lebih kedengaran dari pada suara penyiarnya🤣. 


2. Tentukan Siapa yang Ingin Datang


Setelah konsep ditentukan, aku juga perlu membayangkan siapa yang bakal datang.

Kalau konsepnya literasi, tentu orang yang suka membaca, menulis, belajar, berdiskusi, atau melakukan kegiatan kreatif bisa menjadi bagian dari target pengunjung.

Keluarga juga bisa masuk di dalamnya. Anak-anak misalnya, bisa datang untuk membaca buku, mendengarkan cerita, menulis cerita sederhana, menggambar, mewarnai, atau mengikuti kegiatan literasi tertentu. Orang tua bisa menikmati makanan dan minuman sambil menemani.

Aku tentunya tidak harus menyediakan semuanya sejak hari pertama. Bisa bertahap, atau ya buat tema tertentu untuk hari tertentu, biar tak ribet. 

Aku pikir lebih baik memulai dengan kegiatan yang paling sederhana, kemudian melihat respon pengunjung.

Kalau nanti mulai berkembang, barulah terbuka kemungkinan bekerja sama dengan komunitas atau sekolah untuk membuat kegiatan literasi yang lebih rutin. Aku juga mikirnya, eh harapannya, bagian penyiaran radionya ini nantinya juga bisa diolah secara profesional. 😇


3. Cari Lokasi yang Mendukung Konsep


Lokasi tentu menjadi salah satu hal penting dalam cara membuka kafe.

Yang perlu ku pertimbangkan ketika mencari tempat bukan hanya ramainya saja, tetapi juga perlu memikirkan apakah lingkungannya sesuai dengan konsep.

Apakah cukup nyaman untuk membaca? Apakah aksesnya mudah? Apakah ada ruang untuk rak buku dan kegiatan kecil? Bagaimana tingkat kebisingannya? Apakah internet dan listriknya memadai?

Lokasi dekat sekolah, kampus, kawasan keluarga, atau komunitas mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Tapi aku juga tidak ingin menyewa tempat yang terlalu besar hanya karena kelihatannya keren.

Sebab makin besar tempatnya, tentu makin besar pula biaya yang harus ditanggung. Bukan begitu? Apalagi kalau eksekusinya di kota besar. 

Lebih baik memulai dari ruang yang realistis dan mengembangkannya ketika bisnis memang sudah membutuhkan ruang tambahan.


4. Buat Menu yang Sederhana tetapi Punya Karakter


Ya, namanya juga kafe, makanan dan minuman tentunya jadi sumber utama pendapatan ya, kan. 

Kalau aku sih mikirnya justru tidak ingin menyediakan terlalu banyak menu. Semakin banyak menu, semakin banyak bahan yang harus dibeli, disimpan, dan diawasi. Dan pastinya ribetnya semakin banyak saja. 

Mungkin cukup ada kopi, minuman non-kopi, kudapan, beberapa makanan berat yang bisa masuk semua kalangan, serta satu-dua menu yang menjadi ciri khas.

Kalau ingin sedikit bermain dengan konsep literasi, nama beberapa menu bisa dibuat terinspirasi dari buku atau cerita.

Tidak perlu sampai membuat pelanggan bingung menerjemahkan nama menunya, sih. Kayak baby fish and peanut with chilli sauce, rupanya sartika (sambal teri kacang). Wekawekaweka.

Oiya, aku juga maunya bahasa utama yang dipakai pada setiap penulisan informasi adalah bahasa Indonesia yang penulisannya sesuai kaidah EYD, kalau ada versi bahasa Inggrisnya, maka penulisannya juga mengikuti kaidah EYD; dimiringkan dan ditulis kecil di bawah versi bahasa Indonesianya. 😁

Yang tidak kalah penting, setiap menu harus diketahui biaya produksinya. Sebab makanan yang paling laris belum tentu menjadi makanan yang memberikan keuntungan paling besar.

Dan ini nantinya akan berkaitan dengan satu hal yang menurutku sangat penting, yaitu jangan cuma tahu berapa banyak uang yang masuk, tetapi tahu juga ke mana uang itu pergi.


5. Hitung Modal, Bukan Cuma Biaya Membuat Kafe Cantik


Kalau sudah mulai mencari inspirasi kafe di Pinterest atau media sosial, biasanya masalahnya adalah semua terlihat bagus.
Rasanya ingin punya semuanya.

Meja kayu cantik, sofa nyaman, rak buku besar, lampu estetik, mesin kopi bagus, tanaman di setiap sudut... 

Masalahnya, Pinterest tidak ikut membayar tagihan. Ha..ha..ha.

Jadi, sebelum membuka kafe, aku perlu menghitung modal dengan realistis. Mulai dari sewa tempat, renovasi, meja dan kursi, peralatan dapur, mesin kopi jika diperlukan, rak buku, koleksi buku, perangkat kasir, perangkat penyiaran, penjenamaan (branding), sampai perlengkapan untuk kegiatan literasi.

Setelah buka pun masih ada biaya bahan baku, listrik, internet, gaji pegawai, sewa, perawatan, dan promosi.

Artinya, modal bukan sekadar uang untuk membuat kafe terlihat cantik saat grand opening.

Aku juga perlu memikirkan bagaimana bisnis tersebut bisa tetap hidup setelah euforia pembukaan selesai.

Lain halnya kalau ada sponsor yang menawarkan, ada bujet 10 miliar nih, buat kafe kita, yuk! The problem is, gak ada yang ngajak🤭. So, let's be realistic, girl! 


6. Belajar “Melek Angka” Sebelum Kafe Ramai


Ada satu hal yang belakangan cukup sering kupikirkan ketika melihat usaha kecil milik teman, kenalan, atau keluarga, yaitu pembukuan.

Bukan berarti mereka tidak serius menjalankan usaha. Justru banyak yang sangat serius bekerja setiap hari. Hanya saja, pencatatan keuangan kadang menjadi pekerjaan yang paling dianggap tidak penting. 

Ketika ditanya, “Sehari omzetnya berapa?” mungkin masih bisa menjawab. Tapi ketika ditanya, “Kalau semua biaya dihitung, hari ini sebenarnya untung berapa?” Jawabannya kadang mulai, “Hmm... kayaknya...”, atau yang lebih sering malah, “Ah, entahlah. Capek ngitung-ngitungnya. “😅

Aku pun jadi teringat dracin berlatar zaman dulu. Entah kenapa, dalam cerita-cerita itu, buku catatan transaksi seolah menjadi benda wajib di meja pemilik toko.

Ketika blusukan, pemilik toko tinggal minta buku besar ke manajer toko, lalu jari-jari kanannya memainkan sempoa sembari jemari kiri menelusuri tiap transaksi di buku besar (ledger). Tik tik tik tik. Tak lama pun sang pemilik toko bisa langsung tahu keadaan tokonya. Misal, ini tokonya untung berapa, ada dana yang diselewengkan apa cemana. Ya, walau pun tak semua pemilik toko paham akuntansi, sih. Tapi adalah hal yang wajar di sana tiap toko punya catatan pembukuan. Aneh bin ajaib saja kalau ada toko yang tak punya buku besar. 

Nah, sedangkan di masyarakat kita, eh masyarakat sirkelku sih, dari dulu pembukuan adalah hal yang dirasa sangat elit dan jauh dari jangkauan. Entah dirasa ribet, entah dianggap tak penting, entah pun dianggap kurang kerjaan. 

Okelah dulu, nah sekarang, di zaman yang sudah serba akal imitasi ini pun, kayaknya pembukuan masih dirasa ribet juga. 

Kalau menurutku pembukuan itu sangat penting, selain bisa melihat kondisi bisnis kita saat ini, juga bisa sebagai proyeksi ke depan, karena kita punya data yang bisa diukur, bukan hanya sekadar pengalaman dan ingatan saja. Dan lebih mudah juga ketika kita mau merambah kerjasama dengan pihak lain. Kali aja ada yang mau menanam saham ya, kan perhitungannya juga lebih mudah, karena kita tahu angka pasti dari keuntungan atau kerugian di saat tertentu. 

Hmm, jadi nanti kalau suatu hari aku punya kafe, ketika ditanya, “Hari ini untung berapa?” aku bisa menjawab berdasarkan angka, bukan berdasarkan ingatan sambil menerka-nerka. 

Karena itu, aku juga akan mempertimbangkan penggunaan sistem manajemen restoran sejak awal. Kalau ada cara yang lebih praktis untuk membantu pencatatan transaksi sekaligus mengatur operasional, rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan.

Buatku, ini bukan sekadar urusan administrasi. Ini juga bagian dari literasi bisnis. Katanya mau membuat ruang literasi, masa pemiliknya sendiri tidak mau belajar membaca angka-angka bisnisnya? Bukan begitu? 


7. Bagaimana Kalau Pelanggan Bisa Pesan Sendiri dari Meja?


Selain urusan pembukuan, aku juga sudah membayangkan bagaimana pelanggan akan memesan makanan.

Aku termasuk kalangan yang merasa kalau sistem pesan dari meja itu menarik. Daripada pelanggan duduk lalu menunggu pramusaji datang membawa buku menu dan mencatat satu per satu pesanannya, aku ingin setiap meja memiliki akses ke menu digital.

Pelanggan bisa melihat menu dari meja, memilih makanan dan minuman yang diinginkan, lalu langsung melakukan pemesanan.

Kalau memungkinkan, pembayaran juga dilakukan langsung setelah pesanan dibuat. Dan juga kalau bisa ada fitur durasi menunggu ketika pesanan disiapkan yang bisa dipantau oleh pelanggan. Jadi pelanggan tidak merasa, "Kok pesananku gak datang-datang ya?"

Jadi, alurnya kira-kira:
Pilih menu → pesan → bayar → pesanan masuk → makanan disiapkan (menunggu) → pramusaji mengantarkan ke meja.

Dengan alur seperti ini, pramusaji tidak perlu mondar-mandir hanya untuk mencatat pesanan atau mengurus pembayaran. Mereka bisa lebih fokus pada hal yang memang membutuhkan kehadiran manusia, seperti mengantarkan makanan, membantu pelanggan yang membutuhkan, atau memastikan area kafe tetap nyaman.

Konsep pemesanan melalui QR sendiri memang sudah digunakan dalam solusi restoran digital, termasuk untuk membantu pelanggan memesan dari menu digital dan membuat pesanan masuk ke sistem pengelolaan pesanan. Tapi kalau konsep ini diterapkan di Aek Loba 1-2 tahun ini kayaknya belum bisa sih, 3 tahun ke depan kayaknya baru cocok😁. Kalau di kota Medan ya aman-aman saja. 

Aku membayangkan pengalaman pelanggan yang sederhana: duduk, membaca menu, memilih, membayar, lalu tinggal menunggu makanan datang. Tidak perlu melambaikan tangan berkali-kali hanya karena ingin pesan minuman tambahan. 😊


8. Stok Menu Juga Harus “Bicara”


Nah, bagian ini menurutku tidak kalah penting. Bayangkan, pelanggan sudah duduk nyaman, membaca menu, lalu memilih makanan yang kelihatannya paling menarik. Tak lama setelah dipesan, pramusaji datang dan memberitahu bahwa menu tersebut habis. Kan, kecewa ya, kan? 

Karena itu, aku ingin sistem pemesanan dan stok bisa saling terhubung. Misalnya bahan atau menu tertentu sudah tidak tersedia, informasi tersebut bisa diperbarui sehingga pelanggan tidak terus memilih menu yang sedang habis. Di sisi internal, bagian dapur juga perlu mengetahui pesanan yang masuk dan kondisi persediaan.

Menurutku, semakin sedikit informasi yang harus disampaikan berulang-ulang secara manual, semakin kecil pula kemungkinan terjadi salah komunikasi.

Apalagi kalau suatu hari kafenya ramai, seperti ketika momen buka puasa ramadan. 

Bayangkan ada puluhan meja, banyak pesanan masuk hampir bersamaan, lalu waiter harus mengingat semuanya satu per satu. Aku saja sudah pusing membayangkannya. 😅

Ada lagi jenis pelanggan yang datang per grup (komunitas misalnya), memesan satu ruangan tapi dengan sistem bayar pesanan masing-masing (perorang). Ketua grupnya nih biasanya yang lumayan pening ketika sesi pembayaran. Seh, yang sudah pengalaman pasti paham🤭. 

Jadi, kalaulah ada sistem yang bisa membantu menghubungkan pesanan, transaksi, dan informasi operasional, pekerjaan manusia tentunya bisa lebih diarahkan pada pelayanan dan kualitas makanan.

Beberapa solusi pengelolaan restoran saat ini memang sudah mengintegrasikan pemesanan, stok, transaksi, dan laporan dalam satu sistem. 
Teknologi pesan makanan langsung dari meja sendiri
Ilustrasi dibuat dengan akal imitasi

Kalau kupikir, sih, teknologi seperti ini bukan untuk menggantikan manusia. Justru supaya manusia jadi tak terlalu sibuk mengerjakan hal-hal berulang yang sebenarnya bisa dibantu sistem. Kalau ada sistem yang tak ribet, kenapa tidak dimanfaatkan ya, kan? (Eh, kalimat terakhir itu tidak untuk membenarkan pada sistem sogok-menyogok loh, ya! ) 


9. Hari Pertama Buka: Kenapa Harus Ada Promo?


Nah, ini satu lagi yang sering membuatku penasaran setiap kali nonton dracin.

Hari pertama sebuah toko buka, pemiliknya sering memberikan promo. Ada diskon, bonus, harga khusus, bahkan kadang potongannya kelihatan besar sekali.

Aku sering mikir, “Lho, kalau diskon sampai 50 persen, memang masih bisa untung? Yakin gak jadi buntung?”

Ternyata, konsepnya tidak sesederhana “diskon = rugi”. Promo pembukaan bisa menjadi cara untuk menarik orang yang sebelumnya belum mengenal bisnis kita. Orang datang karena tertarik dengan harga, lalu mencoba produk. Kalau mereka suka, ada kemungkinan mereka kembali lagi meskipun harga sudah kembali normal.

Jadi, manfaat promo tidak selalu harus dilihat dari keuntungan satu transaksi yang sedang didiskon.

Ada hal lain yang ingin didapat; pengunjung pertama, kesempatan mencoba produk, pengenalan menu, promosi dari mulut ke mulut, dan kemungkinan pelanggan kembali.

Tapi ya memang bukan berarti semakin besar diskonnya semakin bagus. Kalau aku benar-benar akan membuka kafe, aku justru ingin menghitungnya dulu.

Berapa harga normalnya? Berapa biaya produksinya? Berapa batas diskon yang masih masuk akal? Menu mana yang bisa dipromosikan? Apakah promo berlaku untuk semua menu atau hanya produk tertentu?

Menurutku, daripada memberikan potongan besar untuk seluruh menu, bisa saja dibuat promo pembukaan yang lebih terukur. Misalnya, menu tertentu dengan harga khusus, promo pada jam tertentu, bonus minuman, atau voucer untuk kunjungan berikutnya.

Dengan begitu, promo bukan sekadar cara membuat kafe terlihat ramai pada hari pertama. Ada tujuan bisnis di baliknya. Bisa juga seperti menganggap harga potongan tersebut sebagai biaya promosi. 

Tapi ya, lagi-lagi angka memang sangat membantu menentukan apakah sebuah promo memang menarik atau justru membuat dompet pemilik kafe menangis diam-diam. Tetap realistis sih kalau aku. 


10. Lakukan Uji Coba sebelum Grand Opening


Sebelum benar-benar membuka pintu untuk umum, aku juga ingin melakukan soft opening.

Tujuannya bukan cuma memastikan makanan enak. Aku ingin melihat apakah alur pemesanan sudah nyaman, berapa lama makanan keluar, apakah pegawai memahami tugasnya, apakah sistem pembayaran berjalan lancar, dan apakah area membaca ternyata terlalu berisik, apakah siarannya mengudara dengan lancar? 

Kalau ada kegiatan literasi, aku juga bisa mencoba satu kegiatan sederhana. Misalnya bercerita, membaca nyaring, diskusi buku kecil, atau rekaman perdana Studio Literasi.

Dari sini, masalah-masalah kecil yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa ditemukan. Lebih baik ketahuan ketika pengunjung masih terbatas daripada saat grand opening sudah penuh.


11. Setelah Hari Pertama, Jangan Cuma Hitung Uang Masuk



Setelah pintu ditutup pada hari pertama, tentu aku ingin tahu berapa banyak uang yang masuk. Tapi aku tidak ingin hanya berhenti sampai situ.

Aku juga mau melihat menu mana yang paling banyak dipesan, jam berapa pengunjung paling ramai, berapa banyak bahan yang terpakai, apakah ada pesanan yang terlambat, apakah pelanggan bingung dengan sistem pemesanan, dan bagaimana respons mereka terhadap konsep literasi.
Termasuk promo pembukaan tadi.

Apakah promo berhasil menarik pengunjung baru? Apakah ada pelanggan yang datang kembali setelah mendapatkan voucer? Menu apa yang paling menarik perhatian?

Semua itu bisa menjadi bahan evaluasi. Karena menurutku, hari pertama bukan ujian apakah kafe langsung sukses atau tidak.

Hari pertama adalah kesempatan pertama untuk mendapatkan data nyata tentang bagaimana bisnis tersebut berjalan.


Ketika Kafe Bukan Sekadar Tempat Ngopi

Kafe Literasi di Medan
Ilustrasi dibuat pakai akal imitasi


Kafe boleh dimulai dari secangkir kopi. Tapi kalau ingin bertahan lama, aku rasa rasa harus ada sesuatu yang lebih dari sekadar kopi.

Seperti yang ku sebutkan di awal tadi, aku bukan ingin membuat kafe yang kebetulan punya rak buku, tapi aku ingin membuat ruang literasi yang punya kafe, dengan siaran radio sebagai medianya. 

Aku ingin membuat tempat yang memungkinkan orang makan, minum, membaca, berbincang, belajar, berbagi, dan mungkin suatu hari menghasilkan karya.

Kalau penyiarannya berkembang, ia bisa menjadi media untuk membawa cerita-cerita dari ruang kafe ke luar mengudara. Kalau ada kesempatan bekerja sama dengan sekolah atau komunitas, kegiatan literasinya bisa diperluas.

Tapi tetap kafenya tetap harus dikelola sebagai bisnis yang sehat.

Jadi, kalau suatu hari nanti benar-benar membuka kafe, aku tidak ingin sekadar membuat tempat yang Instagrammable, tapi juga wadah yang bisa menebar manfaat. 

Dan jika nanti kafe idamanku ini berwujud di kota Medan, kayaknya bakal jadi sekretariat dan Rumcaynya FLP Sumatra Utara. 😁

Kita angan-angankan saja lah dulu ya. Barangkali sosok yang menyodorkan 10 miliar itu muncul tiba-tiba😄. 

Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein

Kalau ada yang bilang mendesain itu menyenangkan, kreatif, dan bikin lupa waktu, maka sesungguhnya aku tidak termasuk golongan itu. Karena aku cuma ada di golongan makan waktunya saja. Makan waktu ya, bukan lupa waktu.

Sejak dulu, mendesain justru sering mendatangkan stres buatku. Sekarang pun masih begitu.

Memang, sejak ada Canva, urusan dunia perdesainan terasa jauh lebih mudah. Kalau kata sejuta umat, Canva itu gampang, cepat, dan praktis. Untuk bagian gampang dan mudah, aku setuju. Tapi kalau dibilang cepat? Bagiku belum tentu. 🤭

Masalahnya memang bukan di Canvanya Tapi ya di akunya yang dari sononya memang tidak suka mendesain. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ada tuntutan pekerjaan dan kegiatan yang membuatku mau tidak mau harus berhadapan dengan desain. Salah satunya ketika harus membuat desain konten Instagram untuk FLP Sumut. Jadi meskipun tidak suka, ya tetap digeluti juga.

Yang Cepat Itu Kalau Templatnya Sudah Jadi


Kalau desainnya sudah punya templat tetap, nah, itu baru aku bisa bilang Canva benar-benar terasa cepat dan praktis. Tinggal mengganti nama, dan foto, sunting sedikit informasi, rapikan seperlunya. Sudah. Beres.

Tapi coba kalau harus mendesain dari nol? Dah lah. Bisa seharian😭. Perjuangannya bahkan dimulai sebelum Canva dibuka.

Aku harus mencari inspirasi dulu. Lihat desain orang. Cari referensi. Simpan beberapa contoh. Lihat lagi. Cari yang lain. Simpan lagi. Dan tiba-tiba referensinya sudah menggunung saja. 

Bukannya semakin mudah menentukan pilihan, aku malah semakin bingung. Yang ini bagus. Yang itu juga bagus. Kalau pakai konsep ini bagaimana? Eh, tadi ada yang lebih cocok. Akhirnya bukannya desain yang jadi, malah kepala yang penuh.

Setelah itu baru masuk ke urusan printilan. Font-nya apa? Pasangannya yang mana? Warnanya apa saja? Ukuran judulnya? Fotonya diletakkan di mana? Jarak antar-elemen bagaimana? Pakai ornamen apa tidak? Dan kawan-kawannya.

Hal-hal kecil seperti itu kalau dikumpulkan ternyata bisa menghabiskan waktu dan energi yang lumayan besar.

Jadi kalau kemudian aku bilang bisa seharian menatap HP karena desain Canva, jangan bayangkan aku sedang menikmati kegiatan kreatif yang menyenangkan. Justru aku sedang berjuang menyelesaikan sesuatu yang memang harus selesai. 😂
Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein


Mata Ikut Jadi Korban


Nah, di sinilah hubungannya dengan mata.
Proses desain seperti itu membuatku bisa berkali-kali melihat layar dalam waktu lama.

Mencari inspirasi. Membuka Canva. Memperbesar desain. Memperkecil. Membandingkan warna. Membaca teks. Mengatur posisi. Mengecek ulang. Terutama EYD-nya. 

Bisa juga nanti jadi kembali mencari referensi karena tiba-tiba merasa desainnya kurang bagus. Gawat kali aku kan. 😌

Kalau sedang benar-benar mengejar pekerjaan, aktivitas seperti ini bisa berlangsung dari pagi sampai malam.
Dan ketika mata mulai terasa sepet, lelah, berair, atau area sekitar alis mulai terasa berat, biasanya aku langsung sadar: "Kayaknya mataku sudah cukup kerja keras hari ini."

Masalahnya, kesadaran itu kadang datang ketika desainnya belum selesai. Jadilah dilema lagi. Mau berhenti, tanggung. Mau lanjut, mata sudah protes. Dan di situlah kemudian muncul rasa khawatir.

Aku mulai merasa mungkin mata sudah terlalu lama dipaksa bekerja. Kadang rasa lelah itu juga membuat mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.

Akhirnya pekerjaan desain yang seharusnya tinggal sedikit malah terasa semakin melelahkan.

Jadi, walaupun gejalanya terasa sepele, ternyata pengaruhnya terhadap aktivitas cukup nyata. Yang tadinya fokus memikirkan desain, akhirnya sebagian perhatian justru pindah ke mata. Kok mulai sepet, ya? Kok berair? Apa aku sudah terlalu lama lihat layar? 

Dan bukannya pekerjaan cepat selesai, aku malah jadi harus mengambil jeda. SePeLe, tetapi bikin kerjaan ikut tersendat.

Ternyata Mata Kering Bisa Terasa Seperti Ini


Sebelumnya aku juga sempat berpikir bahwa mata kering itu ya mata yang benar-benar tidak berair. Ternyata tidak sesederhana itu.

National Eye Institute menjelaskan bahwa dry eye atau mata kering dapat terjadi ketika mata tidak menghasilkan air mata yang cukup atau air mata tidak bekerja dengan baik untuk menjaga permukaan mata tetap nyaman. Keluhannya bisa berupa rasa kering atau seperti ada benda asing, sensasi terbakar atau perih, mata merah, sensitif terhadap cahaya, hingga penglihatan yang terasa kabur.

Menariknya, mata kering juga dapat disertai mata berair. Halodoc juga menjelaskan bahwa mata berair dapat menjadi salah satu gejala yang muncul pada kondisi mata kering. Jadi, mata yang tiba-tiba berair tidak otomatis berarti permukaan mata sedang baik-baik saja. Ini yang sekarang membuatku lebih memperhatikan kondisi mata.

Kalau sedang melihat layar lalu tiba-tiba keluar air mata, kini aku tidak langsung berpikir, "Oh, berarti mataku aman karena masih bisa berair mata". Aku malah was-was.

Aku justru melihat apakah ada gejala lain yang menyertai, seperti sepet, perih, lelah, atau sulit fokus.

Kenapa Menatap Layar Lama Bisa Membuat Mata Tidak Nyaman?


Salah satu masalahnya adalah ketika kita terlalu fokus pada suatu aktivitas, frekuensi berkedip bisa berkurang.
Dan aku merasa ini sangat relevan dengan aktivitas desain.

Bayangkan ketika sedang memperhatikan apakah tulisan sudah sejajar. Kita fokus. Apakah warna ini cocok? Fokus lagi. Foto ini terlalu besar atau tidak? Zoom. Font-nya kurang pas? Ganti. Posisinya agak miring? Geser.

Belum lagi kalau sedang membandingkan beberapa referensi desain. Dalam kondisi seperti itu, rasanya mata memang jarang diajak santai ya.

Situs resmi Insto juga menyebut aktivitas yang membuat seseorang jarang berkedip karena terlalu fokus, termasuk membaca dan menggunakan layar, dapat memicu gejala mata kering.

Karena itu, salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda secara berkala dan mengingatkan diri untuk berkedip.

Aku sendiri juga mencoba menerapkan aturan 20-20-20. Maksudnya setelah sekitar 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih 6 meter.

Masalahnya, baru ingatnya itu sering setelah mata sudah protes duluan. Wkwkwk.

Berapa Lama Screen Time yang Aman?


Sebagai orang dewasa, aku sempat penasaran, sebenarnya berapa lama sih batas aman menatap layar?

Ternyata tidak ada satu angka universal yang bisa diberlakukan untuk semua orang dewasa. Apalagi kalau layar memang menjadi bagian dari pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.

Yang lebih penting adalah bagaimana penggunaan layar dikelola: memberikan jeda, tetap aktif bergerak, menjaga tidur, memperhatikan pencahayaan dan posisi, serta tidak mengabaikan keluhan ketika mata mulai terasa tidak nyaman.

National Eye Institute juga menyarankan membatasi waktu menatap layar dan mengambil jeda dari layar sebagai salah satu langkah yang dapat membantu ketika mengalami mata kering.

Untuk anak-anak, pendekatannya berbeda.
American Academy of Pediatrics menganjurkan keluarga membuat Family Media Plan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Penggunaan layar sebaiknya tidak sampai mengambil alih waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, bermain, hobi, maupun interaksi keluarga.
Jadi, untuk anak-anak pun pertanyaannya bukan sekadar,

"Sudah berapa jam main HP?"

tapi juga,

"Apa yang sudah tergantikan karena terlalu lama menggunakan layar?"

Menurutku ini jauh lebih masuk akal daripada sekadar mengejar satu angka tertentu.

Kalau Mata Mulai Lelah, Aku Biasanya Ngapain?


Kalau mata sudah mulai terasa berat, biasanya aku mencoba berhenti sejenak. Ponsel diistirahatkan,
Canva ditutup, pandangan dialihkan. Tak jarang akhirnya desainnya juga ku tinggal dulu jadinya. Karena tidak semua desain harus selesai dalam sekali duduk. Dan kayaknya tak pernah juga sih.

Kadang mata ku pejamkan sebentar. Kadang juga bisa ketiduran kalau kelamaan🤭. 

Aku juga cukup sering melakukan pijat mata dan senam mata yang sebelumnya pernah ku tulis di blog. Buatku pribadi, ini cukup membantu. Area sekitar mata terasa lebih rileks. Rasa berat di sekitar alis dan rasa agak pening juga biasanya berkurang.

Tentu saja ini bukan klaim kalau pijat atau senam mata bisa jadi obat untuk mata kering atau cara memperbaiki ukuran silinder ya.  Ini lebih kepada kebiasaan pribadiku sih. Karena kegiatan ini membuat mataku terasa lebih rileks setelah terlalu lama berkonsentrasi pada layar.


Ternyata Insto Dry Eyes Sudah Lama Ada di Rumah

Insto Dry eyes kemasan baru yang difoto secara estetik
Hasil bongkar-bongkar laci dan menemukanmu🤭


Perjalananku sampai akhirnya mencoba Insto Dry Eyes ternyata tidak dimulai dari beberapa waktu lalu.

Aku sebenarnya sudah punya produk ini sejak 2025. Waktu itu aku membelinya di Indomaret Aek Loba karena ada kebutuhan untuk sebuah proyek pekerjaan. Harganya ku ingat 16 ribu karena lagi ada promo waktu itu. Kalau sekarang dicek lagi harganya sekitar 17.900 sih di sini. 

Nah, saat itu kondisinya lain memang. Waktu itu aku belum merasa mengalami gejala mata kering seperti yang mulai sering kurasakan akhir-akhir ini. Paling hanya mata lelah setelah beraktivitas. Jadi, setelah dibeli, Insto Dry Eyes itu cuma aku anggurin begitu saja. Tak pernah ku uji coba. Segelnya pun belum dibuka. 

Sampai beberapa bulan belakangan ini aku mulai merasa kondisi mataku agak berbeda. Kadang sepet, sering berair, dan cepat lelah. Area sekitar alis juga bisa terasa berat, terutama setelah terlalu lama menatap layar. Tak jarang pun rasanya mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.

Nah, dari sinilah aku akhirnya teringat pada botol Insto Dry Eyes yang selama ini tersimpan di rumah.

"Eh, aku kan punya stok Insto Dry Eyes"

Tapi ya tentu saja tak langsung ku pakai. Namanya juga belinya tahun lalu. Jadi aku cek dulu dulu tanggal kedaluwarsanya. Eh, ternyata 2028. Dan selama ini menyimpannya juga di tempat yang relatif sejuk dan tidak terkena panas atau cahaya matahari langsung. Aman la ya kan. 
Insto dry eyes untuk mata kering kedaluwarsanya 2028
Alhamdulillah, masih aman hingga 2028😁

Barulah akhirnya aku resmi mencoba produk yang sebenarnya sudah lama menjadi penghuni laci mejaku itu.


Pengalaman Pertama Menggunakan Insto Dry Eyes


Pengalaman pertamaku menggunakan Insto Dry Eyes terjadi ketika mataku sedang terasa kurang nyaman setelah cukup lama menatap layar. Waktu itu hari hari kedua stelah seharian berkutat dengan desain caraousel untuk Instagram FLP Sumut yang belum siap-siap juga🥲. 


Aku pakai 2 tetes di masing-masing mata. Sensasi pertama yang paling terasa adalah rasa adem di mata. Bukan dingin seperti mentol yang menusuk. Lebih seperti rasa sejuk yang membuat mata terasa nyaman. Setelah digunakan, mataku terasa lebih enak dan segar.


Aku cukup suka dengan sensasi tersebut karena rasanya tidak berlebihan. Dan mungkin karena sebelumnya produk ini cuma tersimpan di rumah tanpa pernah ku pakai, pengalaman pertama itu jadi bertambah terasa seperti:
"Oh, ternyata ini rasanya memanfaatkan barang yang selama ini cuma nongkrong di laci ya." 😂


#InstoDryEyes digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata dan membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg.


Tentu saja, pengalaman menggunakan produk merupakan pengalaman pribadi dan respons setiap orang sangat bisa jadi berbeda.


Kalau keluhan mata terus terjadi, semakin berat, atau disertai gangguan penglihatan, sebaiknya ya tetap berkonsultasi dengan dokter mata, sih. 


Sekarang Aku Tetap Mendesain, tapi Lebih Sadar Diri


Apakah setelah mengenal Canva aku jadi suka mendesain? Tidak juga. Wkwkwk. Canva memang membuat pekerjaan desain jauh lebih mudah. Tetapi mudah bukan berarti aku otomatis berubah menjadi orang yang senang mendesain.

Mendesain konten Instagram menggunakan Canva lewat HP dalam waktu lama dapat membuat mata terasa lelah dan sepet
Foto ini dimodifikasi pakai Chat GPT ya🙏

Kalau sudah ada template yang tinggal diedit, aku bisa bilang:
"Nah, ini baru mendesain yang kusukai." 😂


Tapi kalau harus mulai dari halaman kosong? Aku masih seperti biasa, pusing duluan hanya karena terlalu banyak pilihan.

Namun setidaknya sekarang aku lebih sadar bahwa bukan cuma desain yang butuh perhatian, mata juga. Karena ketika tuntutan membuat kita harus menatap layar berjam-jam, jangan sampai kita baru peduli pada mata setelah benar-benar terasa tidak nyaman.

Walaupun aku belum bisa mencintai proses desain, tetapi setidaknya aku bisa mulai belajar mencintai mataku yang setiap hari dipaksa menemani proses tersebut. Karena semakin ke sini aku semakin menyadari bahwa,


“Hanya karena kita memaksa diri menjadi pemburu deadline, mata sendiri tidak boleh ikut menjadi korbannya.”

Jadi, kalau hari ini kamu juga sedang sibuk menatap layar, entah untuk bekerja, belajar, membaca, menonton, atau mendesain seperti aku, jangan tunggu mata benar-benar menyerah baru beristirahat.


#MataSePeLeJanganSepelein, karena gejala mata yang terasa SePeLe tetap merupakan sinyal yang layak diperhatikan. Semoga kita #BebasMataKering ya.




Referensi
1. National Eye Institute: Informasi mengenai Dry Eye dan gejalanya.
2. Halodoc: Informasi mengenai mata kering dan gejala yang menyertainya.
3. HealthyChildren.org: Family Media Plan dan kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak.
4. Insto: Informasi resmi mengenai Insto Dry Eyes kandungan, fungsi, dan aturan penggunaannya.



Cara Bilang Aku Mencintaimu Pakai Kata Babi Versi Pursuit of Jade

Ternyata Menyatakan Cinta Bisa Pakai Kata Babi


Kata 𝘣𝘢𝘣𝘪 yang biasanya digunakan untuk menemani kalimat makian, cacian, ejekan, cemoohan dan kawan-kawannya, ternyata juga bisa digunakan untuk menyatakan dedikasi cinta dengan manis. 
Pertiwi Soraya: Cara Bilang Aku Mencintaimu pakai kata babi versi Drama Pursuit of Jade



Wǒ shā zhū, yǎng nǐ 

Sejak pertengahan kuartal 1 tahun 2026, para penggemar drama Cina (dracin) atau kini drama Tiongkok (seharusnya jadi drationg), agaknya tak asing dengan kalimat "Wǒ shā zhū, yǎng nǐ", kalimat dialog yang diucapkan Fan Changyu kepada Yan Zheng/Xie Zheng dalam beberapa adegan drama Pursuit of Jade (Zhu Yu). 

Wǒ shā zhū yǎng nǐ
Aku bunuh/potong babi untuk memeliharamu. 

Secara literal begitulah terjemahannya. Agak menjijikkan bahkan cenderung seram, ya. Seperti ada unsur psikopatinya. Namun secara kontekstual, para pendengarnya malah merasa si pengucap kata-kata ini benar-benar tulus dan polos, sehingga menjadi sebuah kalimat yang manis. Mari kita lihat konteksnya. 

Fan Changyu, seorang gadis anak dari tukang potong babi, baru saja kehilangan kedua orangtuanya. Mau tak mau, Ia harus menjadi tukang potong babi juga, demi menghidupi dirinya, adik perempuan-usia-lima-tahunnya yang menderita asma (Fan Changning), dan juga seorang lelaki hampir mati yang ia temukan di jalan (Yang Zheng).

Di saat bersamaan, tunangan masa kecilnya tiba-tiba memutuskan pertunangannya, ditambah dengan kerabat yang mengincar warisannya. Belum lagi ada serangkai peristiwa serangan sekelompok pembunuh bayaran ke rumahnya. Singkat cerita cobaan hidupnya datang tak hanya bertubi-tubi, tapi juga dalam paketan. 

Setelah segala pertimbangan, demi melindungi adiknya, Fan Changyu memutuskan untuk mengambil langkah sangat berani, yaitu menikah dengan sistem 𝘻𝘩𝘢𝘰𝘻𝘶𝘪 atau matrilokal.

𝘡𝘩𝘢𝘰𝘻𝘩𝘶𝘪 (招贅) adalah praktik tradisional dalam budaya Tionghoa di mana keluarga kaya yang tidak memiliki ahli waris laki-laki merekrut atau mengadopsi seorang menantu laki-laki untuk tinggal bersama keluarga istri. Dalam sistem ini, menantu tersebut akan melanjutkan garis keturunan keluarga istrinya, bukan keluarga aslinya. Marga si laki-laki juga berubah menjadi marga yang sama dengan si perempuan. Jadi nama anaknya kelak akan ikut marga Ibunya, bukan ayahnya.

Dalam sistem ini yang menjadi kepala keluarga adalah perempuan, dan yang wajib mencari nafkah juga si perempuan. Nah, bedanya, Fan Changyu bukan orang kaya. Melarat malah. 

Jadi pada kalimat dialog:
"Wǒ shā zhū yǎng nǐ"

terjemahan literalnya: 
"Aku bunuh babi untuk memeliharamu"

terjemahan kontekstualnya:
"Ku rela banting tulang sebagai tukang potong babi demi menghidupimu"

Sebuah deklarasi tulus Fan Changyu kepada anggota keluarganya, Yan Zheng. 


Orang Sumut juga pakai kata babi untuk bilang sayang? 


Selain di drama Pursuit of Jade, aku juga beberapa kali dengar kata 𝘣𝘢𝘣𝘪 dipakai untuk ungkapan cintanya si Kyo kepada kucing-kucingnya.

"Anak babiku belum kukasi makan",

"Halo, anak babi-babiku!", katanya. 

Dan aku baru sadar belum pernah tanya, yang dia maksud itu babi (𝘱𝘪𝘨) atau babi (𝘣𝘢𝘣𝘺). 😆

Kalau anak Medan, banyak juga yang kudengar sering pakai kata anjing, monyet, babi, hantu, 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘦, dan kata-kata vulgar lainnya ketika menyapa 𝘣𝘦𝘴𝘵𝘪𝘦-nya sebagai bentuk keakraban dan rasa sayang (katanya). Penasaran, ketika disapa dengan kata-kata itu, apakah menurut yang menyapa yang disapa memiliki karakteristik keimutan seperti kata sapaannya?

Nah, kalau kamu? Pernah pernah dengar kata babi digunakan untuk mengungkapkan cinta juga, 𝘨𝘢𝘬?