Jajanan SD yang Dirindukan dan Kenangan yang Nyaris Terlupakan

Peringatan: Tulisan ini panjang dan bernuansa nostalgia dengan unsur kekunoan dan ke-katrok-an personal.

Di masa itu, SD kami belum kenal dengan bakso kojek, sosis, apalagi nuget. Apa itu? (Mixue? Sampai kini pun belum sempat kenalan😁).

Itu adalah zaman ketika duit Selawe masih dapat ditukar dengan 4 bonbon atau dodol garut. Kalau tak salah ingat uang Selawe masih berlaku hingga aku kelas 3 atau 4. Karena setelah itu inflasi besar-besaran dan pelan-pelan bonbon dan dodol garut pun jadi Limpul satu harganya. Kelas 6 jadi Cepek (baca: ce pada cepat, pek pada kopek) sebuah.

Eh, kenalnya kalian dengan Selawe, Limpul dan Cepek? Uang koin 25 Rupiah bergambar burung, ada juga uang kertasnya. That is Selawe.
Sumber Pinterest 
Limpul dan Cepek bukan lima puluh ribu dan seratus ribu seperti yang biasa kita maksud, melainkan 50 Rupiah dan 100 Rupiah.

Kuingat tiap naik kelas uang jajanku juga naik 100 Rupiah. Kelas 1 Rp100, kelas 2 Rp200, kelas 3 Rp300. Begitu seterusnya. Uang jajan bertambah tiap naik kelas adalah sejenis kesepakatan antara aku dan orangtuaku sebagai bentuk reward berhasil tak tinggal kelas.

Waktu naik kelas 2, bahagia sekali rasanya karena uang saku bertambah. Ingin sekali cepat-cepat naik kelas 5 supaya uang jajan jadi Rp500. Biar berasa kayak anak orang kaya yang uang jajannya banyak dan bisa jajan ini itu. Tanpa perlu senantiasa perhitungan, yang ini untuk keluar main (jam istirahat) pertama, yang ini untuk keluar main kedua.

Manalah paham ya kan. Padahal walau uang saku tiap tahun naik, harga barang pun naik. Di otakku, kalau uang jajan naik berarti paten, berasa naik kasta gitu. Aslinya ya sama saja nilainya. Padahal kena tokoh sama inflasi, tapi malah bahagia pula. Kasihan.

Saat kelas 6 aku lupa, apakah uang jajanku tetap Rp500 atau jadi Rp1000. Yang jelas masuk SMP uang jajanku pasti tak kurang dari Rp1000 karena harga jajanan di SMP mahal-mahal😅.

Di kelas 5 dan 6 biasanya aku bawa bekal. Asal mulanya karena teman sebangkuku sejak kelas 4, Linda namanya, rajin bawa bekal, dan bekalnya enak-enak di hidung dan lidahku. Nasi gorengnya enak, mi instan gorengnya enak, bahkan buah-buahan yang dibawanya juga enak. Apalagi air jeruk kasturinya. Darinya juga kutahu di dunia ini ada jeruk kasturi yang wanginya aduhai.

Belum lagi tempat minum, wadah bekal hingga sendok dan garpunya pun terlihat memukau. Di mataku terlihat berkelas. Warnanya sering berganti walau modelnya sama. Dan yang membuatku makin merasa wah, ada tas khusus bekalnya juga. Warna, desain dan bahan tasnya juga membuatku takjub. Punyaku hanya pakai plastik asoy bekas belanja emakku. Wadah bekalku waktu itu ada 2, yang satu banyak sekatnya, satu lagi tanpa sekat. Mana ada tas-tas cantik macam gitu. Terpikir pun tidak.

Yah, itulah awal pertama berkenalan dengan produk Tupperware. Konon, di Aek Loba, masa itu hanya orang-orang kaya saja yang punya.

Di ingatanku, Tupperware adalah botol minum yang bisa dengan aman diletak dalam tas bersama buku-buku tanpa khawatir tumpah atau merembes. Begitu pula dengan wadah makanan, tanpa dibungkus plastik pun tak perlu khawatir minyak pada sambal akan meleber keluar wadah, menodai buku tulis juga tas.

Pernah ketika botol minumku pecah, sengaja kuikut ketika hendak beli botol minum baru. Bertekad untuk mencari yang serupa milik Linda. Tapi tak kutemukan di toko-toko yg kudatangi. Sekian kali berganti toko, akhirnya kutemukan sebuah botol minum persis salah satu punya Linda, baik model, bentuk dan warnanya. Namun kumerasa tetap saja ada aura yang berbeda. Tak seperti milik Linda. Tapi ku tak tahu apanya.

Esoknya, dengan euforia agak lain dari biasa, kumasukkan botol minum baru itu ke ranselku. Tak lupa juga bekalnya. Sesampainya di sekolah, sehabis memarkir sepeda, kusandang ranselku, menuju ruang kelas. Tiba di bangku, rasanya ada yg tak beres. Baru sadar rok belakangku agak basah. Kubuka ransel. Ternyata air dalam tempat minum baru itu tinggal setengah. Padahal tutupnya masih terpasang. Buku-buku di tasku basah semua.

Tak seperti milik Linda yang tak akan menetes sedikitpun walau tempat minumnya ditunggangbalikkan, bahkan dikocak sekalipun. 

Dalam hati, kuhanya bisa bertanya-tanya. WHY? Kenapa kok punya Linda bisa gitu sedangkan punyaku kayak gini? Kan sama-sama tempat minum, sama warna, sama bentuk, sama ukurannya. Why me?

Hmmm, lalu hanya bisa menerima, bahwa memang serupa tapi tak sama. Sejak saat itu kubutuh plastik asoy ekstra untuk tempat minumku.

Jauh hari kemudian baru kuketahui mengapa botol minumku terasa berbeda dengan milik Linda. Di bagian bawah tempat minum Linda bertuliskan Tupperware, di botol minumku tulisannya Houseware. Agak lama kutatap, beberapa kali kueja supaya tak silap baca. Dan memang tak silap.

Saat itu ku belum tahu signifikansi suatu merek. Kini ya sudah pahamlah ya, kan. That's what you called KW. 🐼

Mungkin sejak saat itu kali ya, tiap ke supermarket atau toko yang punya lapak bagian peralatan makan dan minum, entah kenapa pasti disempatkan mampir dan berlama-lama di rak-rak itu. Walau memang gak niat mau beli, karena memang gak butuh juga. Beda dengan lapak stationery atau ATK yang walau pun tak butuh dan tak niat beli, makin lama di situ, ujung-ujungnya pasti ada saja yang masuk keranjang🦝. Obsesi masa kecil rupanya.

By the way, ini bukan bagian dari iklan ya.

Ingatan yang Terbaurkan


SD Inpres 014654, SD-ku, memiliki halaman yang sangat luas. Entah karena itu gabungan dengan halaman SD sebelah jadi tampak sangat luas.
Sumber Google Maps
Jadi ada 2 SD di lokasi itu. Meski tak ada pagar dan penanda batas yang jelas, tapi siswa masing-masing tahu, mana kawasan milik masing-masing. Terutama siswa kelas 6 SD kami dan SD sebelah yang berada di perbatasan wilayah. Bangunan kelas 6 kami berdampingan dengan bangunan kelas 6 SD sebelah. Dipisahkan lahan kosong sekitar 5x5 meter persegi. Dan lahan kosong itu milik kami. Buktinya kalau piket kebersihan, siswa kelas 6 kamilah yang menyapu lahan itu.

Begitu juga saat upacara bendera. Di halaman ada 2 tiang bendera. Yang satu di depan kantor kepala sekolah kami, yang satu lagi di depan kantor kepala sekolah SD sebelah.

Sejujurnya aku butuh waktu lama untuk mengingat bagian UPB (Upacara Pengibaran Bendera) ini. Ingatanku agak bercampur, antara kami upacara gabungan tiap pekan dengan bergantian sebagai penyelenggara, atau upacara masing-masing dan berbarengan. Karena aku ingat kami pernah sering "berlaga" ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hening Cipta. Siapa yg paling kuat suaranya ketika sama-sama mengibarkan bendera. Juga ketika melafalkan teks pancasila. Tak jarang masing-masing gagal fokus. Barisan upacara kami kami pun punggung ketemu punggung.

Dan setelah mengingat-ingat beberapa lama, memang tak salah ingat rupanya. Kedua praktik tadi memang terjadi. Hanya saja kulupa di kelas berapa sistem upacara masing-masing itu berganti menjadi upacara gabungan.

Kalau giliran SD kami, yang dipakai tiang bendera kami dan barisan menghadap SD kami. Pembina upacara, petugas pengibar bendera dan pemimpin upacara juga dari SD kami. Begitu pula ketika giliran SD sebelah, yang dipakai tiang bendera mereka dan barisan juga menghadap SD sebelah. Pun pembina dan pemimpin upacara serta petugas pengibar benderanya.

Jajanan SD di Kantin Sekolah


Bisa dikatakan SD kami tak punya kantin sekolah saat itu (entah kini). Maksudnya, jika definisi kantin sekolah adalah kantin yang berlokasi di lahan milik sekolah, maka memang sekolah kami tak punya kantin. Begitu pula SD sebelah. Warung jajanan sekolah berada di luar tanah sekolah. Lokasinya dekat, persis di belakang bangunan kelas 6 SD kami dan SD sebelah.

Ada 4 warung jualan yang berdampingan rapat-rapat. Masing-masing dimiliki seorang nenek. Nek Bongkok atau Nek Opak, Nek Kurus atau Nek Jinem, Nek Gendut atau Nek Lontong, Dan Nek Cerewet atau Nek Bubur. Sampai kini yang kuketahui nama aslinya hanya nama Nek Kurus yaitu Nek Jinem, karena masih masuk dalam hitungan tetangga. Yang lainnya tidaklah kutahu.

Julukan para nenek cukup mewakili karakteristik figur pemilik warung.

Nek bongkok atau Nek Opak menjual 2 jenis panganan. Opak ubi (yang ukurannya  lebih besar dari piring makan) yang disiram dengan bumbu rujak, dan satu lagi Mi kuah. Mi lidi yang disiram kuah berbumbu micin. Bukan mie gomak. Kini orang Aek Loba sering menyebutnya sebagai Mi Esde ketika ada hantaran mi serupa dari tetangga berhajatan wirit dan sejenisnya.
Sumber Pinterest
Nek Kurus atau Nek Jinem menjual Nasi Lemak, cenil, lupis, keripik pisang, pisang goreng dan bakwan.

Nek Gendut atau Nek Lontong menjual lontong sayur, ongol-ongol, kue lumpang, bakwan, dan tahu isi.

Nek Cerewet atau Nek Bubur menjual bubur kacang hijau, bubur pulut hitam, dan agar-agar yang semuanya disajikan dengan santan mentah. Selain itu juga ada miso, pisang goreng dan bakwan. Dari semua penjual, pisang goreng nenek ini yang paling kusuka. Walau warnanya agak negro, tapi rasa manis dan asamnya pas serta tak seret di tenggorokanku. Kalau bakwannya kurang pas di lidahku karena jenisnya yang kriuk. Di masa itu aku lebih suka bakwan Nek Lontong, yang pulen dan ukurannya gede😁.
Sumber Facebook 
Di kantin Nek Jinem seringnya aku beli cenil dan lupis dicampur. Kenyalnya pas, tak alot tak juga lembek. Lupisnya harum. Perpaduan saus gula merah dan kelapanya itu makyus. Rasanya nagih. Aku jarang beli nasi lemak karena bontotanku lumayan sering nasi juga, nasi goreng. Selain itu harga nasi, lontong dan miso lebih mahal dari pada kue dan gorengan.

Sejak terbiasa menabung, sayang rasanya menghabiskan uang jajan. Di kelas 5 atau 6, ku seperti menemukan solusi berhemat. Bersama Linda, muncullah ketertarikan untuk ikut 'magang' di kantin ketika jam istirahat. Awalnya Linda yang beberapa kali bantu-bantu Nek Lontong mengelap piring lontong yang baru dicuci. Lalu ia pun dikasi sepiring lontong, kadang kue atau gorengan.

Lama-lama aku pun diajaknya. Mulai dari mengelap piring, mencuci piring, menempatkan lontong-lontong dan printilannya ke piring, sampai terkadang ikut bantu menjuali dan menunggui warung Nek Lontong. Kami pun diupah sepiring lontong sayur, dan tak jarang juga dikasi kue atau gorengan oleh Nek Lontong.

Paling sesekali kami absen ketika Kak Leli (kalau tak salah ingat namanya) anak Nek Lontong, ikut membantu menjaga warung, atau ketika SD kami lagi tanding yeye dengan SD sebelah. Berhubung, kami berdua adalah salah dua atlet utamanya😅.

Selain 4 warung jajanan ini, ada lagi lokasi jajanan kami yaitu di halaman sekolah dekat gapura. Secara geografis, lokasi itu milik SD sebelah. Namun di tugunya bertuliskan SD 014654, sekolah kami. Abang-abang Es Tuntung sering ngetem di situ. 

Es tuntung beraroma pandan. Dipotong lalu dicucuk dengan lidi, kemudian dicelup ke dalam cairan coklat. Jadilah es tuntung dengan toping coklat beku. Esnya lembut. Nikmat sekali.

Kadang sering juga abang-abang penjual es serut, es tebu, dan juga ibu-ibu penjual mi pecel mampir di lokasi yang sama di jam istirahat. Tapi aku kurang tertarik. Satu karena aku tak suka es serut. Selain hanya dapat rasa manis sesaat, sisanya tinggal rasa es batu. Rugi kurasa beli es serut🤣. Yang kedua, di rumahku banyak pokok tebu. Hampir tiap siang kuganyangi. Lagi-lagi beli es tebu rugi kali kurasa🤣. Kalau mi pecal, di masa itu aku agak anti makan mi. lebih ke tak terlalu suka rasanya. Kecuali mi goreng bekalnya Linda😁.

Walau pun kusuka dengan es tuntung ini, bukan berarti aku sering beli. Hanya jika beberapa kondisi ini terpenuhi barulah kubeli.

1. Ketika yang antre gak rameeee kali.
2. Ketika tak sedang musim kemarau di mana abu jalanan macam yang tampak di kegiatan pas mobil-mobil off road.
3. Sedang tak musim lalat.
4. Ketika kulihat kain lapnya masih bersih atau paling tidak belum gadel-gadel kali🤣.

Bisa dikatakan emakku cukup berhasil menanamkan makna "jangan jajan sembarangan" di otakku. Kriteria nomor 4 itu aku sendiri yang buat kayaknya.

Tak terlalu ingat kejadiannya gimana, hanya ingat pernah tersaksikanku kain untuk lap mangkoknya Nek Bubur juga dipakai untuk mengelap meja jualannya. Sejak saat itulah kuamati memang kain lapnya disamaratakan. Kan aku jadi berpikir sendiri lalu overthinking dan berakhir menakut-nakuti diri sendiri. Hadeeh.

Sejak saat itu, aku yang awalnya suka banget sama segala bubur dan agar-agar Nek Bubur, juga pisang gorengnya, kemudian hampir tak pernah lagi beli di situ. Trauma.

Padahal, beberapa kali kusempat melakukan sejumlah aksi yang usahanya agak lebih hanya untuk mendapatkan agak-agar kuah santan ini.

Pernah, sengaja ku langsung lari pas lonceng istirahat berbunyi hanya untuk mengejar supaya gak lama mengantre dan gak kehabisan itu agar-agar, berhubung stoknya terbatas.

Pernah juga sengaja datang pagi-pagi ke kantin Nek Bubur sebelum lonceng masuk (karena beberapa hari gak kebagian), eh rupanya hingga lonceng berbunyi, Nek Bubur belum jua datang.

Pernah juga ketika jam praktik olahraga di lapangan usai beberapa menit sebelum lonceng istirahat, ku lekas-lekas ke kantin Nek Bubur. Bahagia sekali rasanya kedapatan agar-agar tanpa harus mengantre dan bebas khawatir mendengar repetan Nek Bubur ketika murid-murid pada berdesakan mau cepat dilayani. Sayang, semenjak kelas 5 itu ku tak pernah lagi merasakan nikmat agar-agar kuah santannya Nek Bubur.

Nah, beberapa hari lalu emakku bercerita, bahwa beberapa pekan lalu ketika aku masih di Medan, ada tetangga wirit dan mengantar agar-agar kuah santan ke rumah. Enak kali katanya. Teringatlah aku pada agar-agar esde Nek Bubur. Dan kepinginlah ya kan. Besoknya terbuatlah dia. Lalu terbuatlah tulisan ini.

Kalau kamu, apa jajanan SD yang paling dirindukan?










Tips Supaya Bougenvile Berbunga Lebat Ala Emakku

Percaya atau tidak, dalam hal berkebun, tak jarang beda tangan beda hasilnya. Begitu kelihatannya memang. Tapi menurutku, ya tak selamanya karena faktor tangan si tukang kebun. 

Banyak faktor lain yang tentu turut bersumbangsih. Seperti media tempat tumbuhnya, cuaca, perawatan dari si tukang kebun, hama (baik kasat maupun tak kasat mata), tangan-tangan tetangga, hingga komunitas ayam dan entok yang sering kepo; numpang mandi lalu 'nengkreng' berjemur menikmati vitamin D alami, atau sekadar 'ngiyup' dari teriknya matahari di siang bolong.

Seperti halnya bunga kertas emakku. Penampakan hasil saat kurawat vs saat emakku yang merawat sangat jauh berbeda. 

Serajin-rajinnya kurawat (kuganti tanahnya, kusiram, kupupuk) hasilnya bunga kertas tumbuh subur, panjang-panjang serta gemuk-gemuk batangnya, hijau serta lebar-lebar daunnya, sepala berbunga jarang-jarang.🤣

Ketika emakku yang merawat (padahal sehari hanya sempat disiram sekali, kadang pun tak sempat) hasilnya pendek-pendek pohonnya, jarang-jarang daunnya, tiap pot isinya bunga semua. Hadeeeh

Bunga kertas bougenvile

Di Aek Loba dan sekitarnya, bougenvile biasa lebih di kenal dengan sebutan bunga kertas. Padahal di daerah lain bunga kertas yang dimaksud adalah Zinnia. 

Bunga Zinnia, Bunga kertas
Bunga Zinnia

Nah, yang dibahas di sini adalah si bunga kertas Bougenvile. Bunga nasional Grenada ini bisa tumbuh sampai 12m. Biasanya berbunga sepanjang tahun, terutama di daerah tropis yang melimpah sinar mataharinya. Ya, walau kata si Mbah Google, ada juga jenis yang berbunga musiman.

Bougenvile termasuk tanaman yang mudah ditanam. Tinggal potong batangnya lalu dicucukkan ke media tanam humus. Letakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung, juga terlindung dari akses ayam-ayam riuh tetangga. Dengan kadar air seperlunya, biasanya stek batang akan bertunas dalam beberapa pekan, dan sudah bisa dipindah ke area yang disukai.

Bougenvile tak suka lingkungan tanah yang lembab. Kalau kebanyakan disiram, daunnya akan lekas menguning. Mereka adalah tipe tanaman yang bahagia disetrap di panas-panasan. Makin dijemur makin berbunga. 

Jadi, kalau bougenvile di rumahmu jarang berbunga atau ya bunganya pelit-pelit, berarti kuburannya sempit, eh, maksudnya bisa jadi cara perawatannya menentang fitrah tumbuhnya si Bougenvile ini. 

Bunga bougenvile
Potnya ditutupi batu-bata supaya gak jadi TPUA (Tempat Pemandian Umum Ayam) 

Nah, berikut beberapa tips supaya Bougenvile berbunga lebat ala emakku.

1. Letakkan di tempat yang penuh sinar matahari. 

Bougenvile adalah tanaman yang suka sekali dijemur. Kalau diletakkan di daerah yang iyup, alias terlindung dari sinar matahari, maka dia akan pelit berbunga, karena tuannya juga pelit memberi dia cahaya sang surya. 

2. Rajin-rajin pruning

Dulu suka heran, kok emakku ini suka kali sikit-sikit dipotongnya lah itu ujung-ujung cabangnya. Padahalkan kalau cabangnya panjang bisa dililit dibentuk-bentuk ya kan. Eh rupanya maksudnya supanya bertunas lagi, dan tunasnya tak pala sampai panjang-panjang kali akan berbunga lagi, bertumpuk di situ-situ juga. Jadi makin lama satu pot itu jadi kayak bunga semuanya.

3. Beri Ajinomoto

Ilmu ini udah sejak lama diterapkan emakku. Kalau di kamus perbungakertasanku, ini adalah ilmu yang paling pertama dan paling tua yang pernah kurekam. Kayaknya ku sudah tahu sejak sebelum bisa naik sepeda pun (kalau tak salah, sebelum 5 tahun, ku sudah bisa naik sepeda kakak-kakak). 

Bisa diganti dengan merek lain tak? 

Bisa-bisa saja sih ya. Emakku pernah juga pakai micin kiloan. Sisa yang tak habis terjual waktu itu. Kalau Masako dan Royco belum pernah iseng sih. Dan lebih mahal juga🤣. 

Kalau rang-orang beli micin kiloan untuk jualan, pesta atau wirit, emakku beli Ajinomoto kemasan 90gr untuk pupuk bunga kertas. Bisa dikatakan emakku hampir gak pernah pakai pupuk tanaman untuk bunga kertas, selain micin dan Ajinomoto. 

Berapa kali sepekan? 

Kapan teringat saja. Lebih tepatnya, kalau dilihatnya bunganya sudah tak ramai lagi, pas mau menyiram teringat, dicampurkanlah si Ajinomoto ke air siramannya. Tak ada jadwal tertentu. 

Takarannya?

Suka-suka hati. Paling sesendok untuk sekali siram semua pot bunga kertas di rumah.

4. Potong akar secara berkala. 

Padahal sudah diletak di panas-panasan, sudah diberi Ajinomoto, rajin pruning, sudah diberi kasih sayang... Kok tetap saja pelit berbunga ya? 

Coba cek akar dalam potnya, bisa jadi seluruh pot sudah dipadati akar, sehingga tanah untuk menyimpan haranya minim. Maka ketika disiram, nutrisinya lari semua bersama air. Dan tanaman pun jadi lebih lekas layu. Kita bisa kurangi sebagian akarnya, sehingga tanah di dalam pot tetap kondusif. 

5. Jangan buang bekas air cucian dari mesin cuci

Kalau rang-orang sering menampung air cucian beras, emakku rajin menampung air cucian mesin cuci. Untuk apa? Untuk menyiram tanaman di rumah. Apalagi di masa air sumur kerontang kayak gini.

Dan memang jika dibandingkan dengan bunga kertas tetangga, bunga kertas emakku bisa dikatakan jauh lebih wow tingkat keberbungaannya dan lebih rajin berbunga, tak henti-henti. Apalagi di musim menyala-menyalanya matahari sekarang ini.

Heran juga, padahalkan itu air cucian mengandung deterjen ya kan. Kok gak mati, malah berbunga-bunga. Mungkin efek larutan dakinya kali ya.🤣

Bunga kertas bougenvile
Kalau gak salah foto ini diambil bukan dekat-dekat musim orang jiarah 😁

Jadi begitulah beberapa tips ala emakku yang bisa dicoba supaya Bougenvile di rumahmu berbunga lebat. 

Kalau kamu punya resep tradisional versi nenek moyang juga, boleh bagi-bagi dong. 😁🙏







Shapewear for Activities: Will We See Specialized Options for Workouts or Daily?

Shapewear has always been considered a transformative garment, that offers instant sculpting and smoothing effects for the different body types. It has been traditionally associated with being just a garment that was worn during special occasions and formal events.

But now, shapewear and wholesale waist trainers are expanding domain to be included with workout attire and even everyday wear. There’s a growing demand for more functional and versatile, but it also brings the following question: Will we be able to see more specialized shapewear options that have been designed specifically for daily activities or workouts?

The evolution

Shapewear, historically, served primarily aesthetic purposes. This aims to create a slimmer silhouette, as it smooths out bulges and bumps. But thanks to the advancements in fabric technology and design shapewear has been transformed into more than just a figure-enhancing undergarment. 

Modern shapewear now offers us targeted compression, has moisture-wicking properties, and also will provide posture support, as all of the options now cater to diverse needs and lifestyles. 

Shapewear for workouts

Integrating shapewear into workout attire, like a wholesale yoga legging, represents a big trend in the fitness industry. Manufacturers have started to develop more specialized options that have been tailored to the demands of many different activities. These activities can include Pilates, yoga, high-intensity interval training, and also weightlifting. 

These workout-specific garments often feature compression panels that have been strategically placed, that support different muscle groups, enhance circulation, and also promote better alignment during the workouts. Most of them also are made with moisture-wicking fabrics, that will keep you cool and dry, and have a seamless construction to minimize discomfort and chafing. 

Benefits of workout shapewear

They provide enhanced performance, as compression garments can improve muscle efficiency and also reduce fatigue, as they promote blood flow and reduce muscle vibration during workouts, potentially enhancing endurance and performance. 

It also improves posture. Some types of shapewear can incorporate supportive panels and inserts that have been designed to encourage proper posture and alignment, reducing the risk of injuries and enhancing the effectiveness of workouts. 

Shapewear can also boost the confidence. Wearing shapewear during your workouts can provide a sense of security and support. This boosts confidence and generates motivation to push to any challenging workouts. 

Shapewear for daily activities

Not only there isn’t a growing interest in workout-specific options, but also in shapewear that has been designed for everyday wear. These garments provide a subtle shaping and support without sacrificing breathability and comfort. They include briefs, leggings, camisoles, and body suits. Everyday shapewear offers a discreet solution to enhance confidence and comfort during daily activities. 

The future

As there are technological advancements and consumer preferences, are shaping the fashion industry, which means that the future of shapewear holds exciting possibilities. We might see more innovations in construction techniques and materials, which will lead to even more functional and versatile options. 

We can see more customizable compression levels to even smart fabrics that can adapt to individual body movements. There’s a huge potential for specialized shapewear to enhance performance, comfort, and confidence.

Plus Minus Mudik dengan Motor

Sejak 4 tahun terakhir, kami tak ada yang mudik ketika lebaran. Sebelum-sebelumnya minimal aku yang mudik, Medan - Aek Loba ya kan. Sejak balik kampung di 2019, tradisi mudik kembali hanya ke rumah para Uwak saja. Kalau tidak ke Batubara, ya ke Perdagangan. Bergantian titik kumpul silaturahmi tiap tahun.

Sejak Uwak yang di Perdagangan meninggal, berkurang pula lah jatah gantian titik kumpulnya. Jadi tinggal ke Batubara atau Aek Loba saja.

Makin bertambah usia, makin beragam juga situasi dan kondisi kehidupan yang sering tak bisa diprediksi, apalagi ketika momen lebaran. Yang direncanankan jauh-jauh hari bisa tak jadi, yang tak direncanakan bisa tiba-tiba tereksekusi. 

Seperti lebaran 2 tahun lalu, yang seharusnya kumpul di Batu Bara, namun situasi kaminya yang kurang memungkinkan sehingga rencana mudik ditiadakan. Eh, pagi setelah salat Ied, Uwak yang di Batubara mengabarkan bahwa rombongan mereka sedang otw ke Aek Loba. Lengkap dengan seperangkat dandang juga rantang beserta isinya. (Baca: hidangan soto lebaran di rumah Uwak diangkut sak dandang-dandangnya😅). 

Jadilah lebaran 2 tahun berturut-turut rumah kami yang jadi tempat berkumpulnya. 

Jenis tamu pun beragam, ada yang jenisnya kalau hendak berkunjung akan berkabar jauh-jauh hari, ada pula yang jenisnya tiba-tiba berkabar akan datang namun bawa logistik sendiri, ada pula jenisnya serombongan yang ujuk-ujuk sudah sampai di pintu rumah saja. 

Jenis kendaraan mudiknya pun beragam, ada yang datang bermobil-mobil, ada yang tiba serombongan dengan bus Sartika carteran, ada pula yang mengendarai becak khas Batubara, pun ada juga yang naik motor karena mabuk perjalanan jika naik mobil. 

Aku sering salut dengan para pemudik yang mengendarai motor. Tahan ya badannya? 

Kalau aku paling anti mudik dengan motor. Lebih ke gak tahan fisik dan juga lebih banyak jantungannya di jalan🙃. 

Sedangkan trip Aek Loba - Aek Kanopan yang jaraknya sekitar 20 menitan dengan motor saja pun cukup buat lelah. Padahal hanya tinggal duduk manis diboncengan saja.

Pernah ada kawan yang ngajakin mudik Medan - Aek Loba via motor ketika jaman-jaman masih ngajar di Briton, (yang mana saat itu sudah terbiasa dengan suasana perjalanan menggunakan jasa kereta api), digaji sejuta pun awak ogah lah. (Mungkin akan lain jika jadi 100 juta🤣) 

Makanya aku salut sekali dengan orang yang 'tawakal' mudik lebaran dengan motor, bukan cuma antar kota, tak jarang yang mudik antar provinsi. 

Sumber cnnindonesia.com

Walau pun mudik dengan motor tak disarankan pemerintah, tapi ya tetap saja pemudik dengan motor makin banyak tiap tahun. 

Kalau tahun lalu ada 123 juta lebih masyarakat Indonesia yang melakukan mudik di Idulftri, tahun 2024 ini diperkirakan naik 6 persen menjadi sekitar 136,7 juta pemudik. Begitu ujar Kakorlantas Polri Irjen Aan Suhanan. 

Tiap moda transportasi pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing ya kan. Sering heran juga, kenapa kok orang banyak yang suka mudik dengan motor. 

Ternyata begini plus dan minusnya mudik dengan motor. 

Kelebihan Mudik dengan Motor

1. Lebih ekonomis

Jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, mudik dengan motor ternyata biayanya jauh lebih murah. Lagi pula setelah sampai di kampung halaman, kita juga bisa jalan ke mana-mana pakai sepeda motor kita. 

2. Bebas Mengatur Perjalanan

Karena membawa kendaraan sendiri, kita bebas mengatur waktu perjalanan kita. Gak perlu repot-repot pesan tiket beberapa hari sebelumnya, atau bahkan berminggu-minggu sebelumnya. Dan juga bebas dari rasa khawatir ketinggalan jadwal berangkat seperti kalau naik pesawat, KA, dan bus. Bisa lebih santai lah ceritanya. 

3. Tidak Perlu Berdesak-desakan atau Antri

Namanya juga mudik lebaran, pasti ramai di jalanan. Dengan motor tentunya lebih bisa menyalip-nyalip dibanding mobil dan bus ketika jalanan padat merayap bahkan macet. 

Walau yang buat jalanan macet tak jarang juga akibat ulah para pengendara motor ini ya kan🙃. 


Kekurangan Mudik dengan Motor

Ada kekurangan pasti ada kelebihan. 

1. Aspek Keselamatan

Ada harga ada mutu. Slogan ini sepertinya juga berlalu untuk jenis transportasi dengan motor saat mudik. 

Mudik dengan motor memang lebih hemat biaya, tapi lebih rawan dari segi kesehatan dan keselamatan di jalan. 

2. Kapasitas Bawaan Terbatas

Mudik naik motor, otomatis jumlah barang bawaan yang bisa dibawa juga lebih minimalis. Gak bisa bawa banyak-banyak. Jadi ya harus pandai-pandai packing dan pilah-pilah. 

Mudik dengan motor
Meskipun berkemas adalah sebuah seni, tetap utamakan keselamatan berkendara
3. Menguras Fisik dan Energi 

Walaupun kita bisa istirahat suka-suka di perjalanan, tetap saja mudik pakai motor menguras lebih banyak energi dan fisik. 

Mudik menggunakan sepeda motor dapat menyebabkan sakit pinggang dan punggung diakibatkan duduk berjam-jam di atas motor.

Selain itu tubuh juga lebih terekspos sehingga rawan masuk angin. Apalagi jika bawa anak-anak. Pastinya lebih berisiko bagi kondisi kesehatan sang buah hati.

4. Macet

Kondisi jalanan yang macet ketika mudik adalah sangat wajar, dan solusi agar tidak macet adalah menggunakan transportasi umum yang dapat mengangkut banyak orang. Selain itu apabila kita terjebak macet ketika berkendara jauh dengan motor sudah pasti sangat menguras tenaga kita bukan? 

5. Rawan Kecelakaan

Faktanya tingkat kecelakaan dengan motor paling tinggi dari semua jenis moda transportasi. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari kondisi fisik yang capek selama perjalanan, keadaan emosional yang tidak stabil dan kondisi jalanan yang macet, juga bisa dari faktor kekurangnyamanan motor yang dikendarai sehingga dapat membuat pengendara kurang konsentrasi hingga menyebabkan kecelakaan.

Jadi jika mudik dengan motor, baiknya kita mengutamakan safety riding saat berkendara. Serta wajib memastikan kondisi motor dalam keadaan baik sehingga memberikan kita rasa nyaman saat mengendarainya. 

Seperti kenyamanan pada Yamaha NMax yang bisa dijadikan pilihan untuk mendukung mobilitas mudik lebaran di 2024 ini. 

Yamaha Nmax 155 series
Berikut beberapa keunggulan cerita Nmax 155 yang bisa dijadikan bahan pertimbangan. 

Nyaman Saat Berkendaraan

Desainnya yang RELAX RIDING POSITION memungkinkan pengendara untuk memilih posisi berkendara yang nyaman. Ruang kaki lebih luas, membuat posisi berkendara lebih rileks untuk jarak dekat atau pun jarak jauh. 

SUB-TANK SUSPENSION mendukung performa berkendara jadi lebih nyaman dan stabil di berbagai kondisi jalan. Mau jalanannya mulus atau berbatu, tidak akan jadi masalah buat pengendara. Apalagi kalau udah masuk jalan kampung yang istilahnya kalau di Aek Loba kira-kira 'kalau orang hamil lewat jalan itu, langsung brojol' (baca: melahirkan sebelum waktunya). 

Lalu ada MAXI SEAT DESIGN pada jok dengan kontur gandanya ini diharapkan bisa meminimalisir sakit pinggang gitu la ya kan ketika berjam-jam duduk di motor. 

Bagasi Luas

Yamaha Nmax terbaru memiliki MULTIFUNCTION BIG LUGGAGE a.k.a bagasi luas dengan akses yang mudah serta fungsional.

Kita bisa menyimpan helm full face ukuran XL di dalamnya. Jadi bukan hanya lebar tapi juga cukup dalam. Bisa jadi salah satu solusi menyiasati terbatasnya barang bawaan ketika mudik ya kan. 

Penerangan Optimal

Salah satu hal paling menonjol dari  Yamaha Nmax adalah lampunya yang terang serta hemat energi. LED HEAD & TAIL LIGHT adalah desain lampu depan dan belakang yang mewarisi MAX Series DNA dan sudah menggunakan LED.

Jadi, selain cahayanya lebih terang dan lebih hemat energi, juga lebih tahan lama. Ditambah dengan HAZARD LAMP yang dapat memberi tanda dalam situasi darurat (sesuai UU no 22 tahun 2009 peraturan berlalulintas pasal 121 ayat 1). Kita jadi dapat berkendara dengan nyaman dan aman.

Motor Praktis 
Electric power socket yamaha Nmax
Gak perlu bawa-bawa power bank lagi ya kan

Teknologi  yang satu ini, ELECTRIC POWER SOCKET, di NMax memang keren menurutku.  Teknologi ini memungkinkan kita untuk bisa ngecas ponsel saat berkendara. Jadi gak kawatir kehabisan batre hape saat di perjalanan mudik. 

Selain itu juga dilengkapi dengan FULL DIGITAL SPEEDOMETER yang modern dan informatif dilengkapi dengan indikator Y-Connect (Yamaha Motorcycle Connect) Apps, Pesan & Telepon, TCS, VVA dan Temperatur Mesin. Dengan ini kita bisa tetap ngecek ponsel pintar kita tanpa perlu ribet-ribet pegang HP saat berkendara. (Kan bahaya ya kan). 

Fitur lainnya yaitu HANDLEBAR SWITCH CONTROL. Kita bisa memilih tampilan informasi dan pengaturan pada speedometer. Tombol pengatur di handle kiri yang sangat fungsional.

Irit Bahan Bakar dengan BLUE CORE & VVA

Salah satu pertimbangan utama memilih motor tentunya yang irit BBM ya kan. 

Nah, Nmax  memiliki teknologi Blue Core & VVA yang dapat menjaga mesin 155 cc tetap efisien bahan bakar. Motor ini diklaim mampu menempuh jarak kurang lebih 40km dengan 1 liter bahan bakar minyak. 

Selain irit bahan bakar, motor ini dilengkapi fitur STOP & START SYSTEM. Jadi, motor dapat mengurangi konsumsi bahan bakar saat tak butuh bahan bakar, seperti ketika motor sedang berhenti.

Tampil Gaya

Nah, setelah semua keunggulan di atas, nilai plus dari NMax ditambah lagi dengan MAXI STYLE DESIGN nya yang khas skutik Eropa. 

MAXI SIGNATURE COLOR memberikan pilihan warna motor yang elegan serta mewah. Cocok la sekalian untuk begaya pas lebaran biar gak apa kali.
Mudik dengan motor yamaha nmax
Sumber Instagram @renaldimax_id

Nah, itu dia beberapa plus dan minus mudik dengan motor yang bisa jadi bahan pertimbangan saat mudik lebaran 2024 nanti. 

Kalau kamu, gimana persiapan mudik lebaran kali ini, aman? 





Cara Mendeteksi Berita Hoaks dan Penipuan

Hingga akhir Desember 2023, konten hoaks di Indonesia dalam kategori penipuan berada di peringkat kedua.

Cara mendeteksi dan menghindari berita hoaks dan penipuan

Makin lama makin marak saja dunia perhoaksan dan penipuan ini ya. Apalagi usai pemilu. Dengan beraneka modus menjaring mangsa. 

Bagaimana cara mengindari jeratan berita hoaks dan penipuan? 

Berikut 9 tips cara mengidentifikasi berita hoaks dan penipuan yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai sumber. 

1. Biasakan membaca dengan teliti

Mungkin lebih tepatnya budayakan baca sampai habis.

Pernah gak ketika kamu posting suatu informasi agak panjang sedikit saja di grup WA, lalu tak berapa lama ada yang merespon sejenis, "Kak, lokasi acaranya di mana?" atau, "Wah seru. Gimana cara daftarnya, Bang?". Padahal ketika mengetik informasinya, kita sudah buat sejelas-jelasnya. Eallaa...masih juga ditanya lagi.

Tolong janganlah bawa-bawa kebiasaan menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah jelas-jelas dibuat. Kebiasaan demikian saya pikir justru membuat keberadaan hoaks ini makin menjadi-jadi. Baca yang bukan hoaks saja lompat-lompat. Giliran ketemu info hoaks, wassalam

2. Biasakan selalu berpikir kritis ketika membaca

Masih nyambung dengan yang di atas. Jika baca sesuatu saja biasa tidak tuntas, bagaimana mau sampai di tahap berpikir kritis coba?

Selain itu juga selalu ingatkan diri untuk tidak lekas-lekas menekan tombol share sampai yakin informasi tersebut benar adanya. Saring before sharing. Begitu istilah kerennya. 

3. Hati-hati dengan dengan judul yang propokatif apalagi bombastis

Sejatinya, tujuan pembuat hoaks adalah mencari perhatian. Caranya supaya diperhatikan ya itu tadi, buat judul yang 'wow'. Baik dari pilihan kata maupun kelebayan makna yang memancing emosi. Istilahnya clickbait atau umpan klik

Pegiat literasi yang sudah terbiasa dengan berita hoaks biasanya punya semacam radar saringan otomatis. Ketika baca judul berita yang terdengar 'wah' biasanya akan langsung hidup 'sinyal waspada' hoaksnya. Walau tak jarang juga kena hoaks pada berita jenis lainnya. 

Sama halnya dengan info-info yang 'too good to be true' alias terlalu indah untuk  jadi kenyataan. Misalnya informasi sejenis tawaran pekerjaan mudah tanpa modal apapun dengan iming-iming penghasilan lumayan dari nomor tak dikenal. Pas dicek entah nomor dari negara mana-mana. Hallah... Tak ada itu semua. Langsung laporkan saja. Atau kalau gabut ya kerjain aja

4. Tidak mempercayai satu sumber berita saja

Jangan mudah percaya dengan apa yang kita lihat, dengar, dan baca, sekalipun yang mengatakannya adalah seorang profesor, menteri, bahkan presiden. Cek dulu yang ia katakan. Fakta atau opini. Karena kini agaknya sedang tren orang bicara asal keluar saja. 

Fokus pada apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Berapa banyak coba korban hoaksnya Biden dan Nethanyahu? Sekelas pemimpin negara saja menyampaikan hoaks. Apalagi pemujanya. Belum lagi para pendengungnya. 

Jadi teringat wejangan Sir Indra Hartoyo, dosen mata kuliah Translation kami.

"Always check your dictionary. Selalu cek kamusmu. Profesor ahli bahasa Inggris sekalipun bisa salah pelafalannya. Hanya kamuslah yang boleh kalian percayai.'' Begitu pesan beliau.

5. Budayakan cek silang fakta ke sumber yang autentik

Seorang profesor sekalipun, kalau ia berbicara tanpa sumber yg jelas, ya jangan langsung ditelan bulat-bulat. Apalagi jika seseorang tersebut bukan ahli di bidang yang dia bicarakan. Bisa saja lidahnya keseleo. Apa lagi jika dia tak merasa keseleo lidah. Apa jadinya jika semua yang dikatakannya kita telan bulat-bulat? Mau jadi apa para ibu hamil jika diberi vitamin berupa asam sulfat? 

6. Cermati alamat situs

Di balik sebuah kejahatan terselubung, biasanya ada otak-otak pandai. Pandai-pandai meramu supaya elok nampaknya. 

Nama serta alamat situs hoaks dan penipuan biasanya dibuat mirip-mirip dengan situs resminya, sehingga targetnya terkecoh dan percaya. Situs-situs berita banyak sekali yang begini. 

Berhati-hatilah jika asal informasi dan berita dari situs berdomain .COM, apalagi dari domain gratisan. 

Situs resmi kepemerintahan biasanya menggunakan .GO.ID. Jadi misalnya ada info pendaftaran bansos dari Kementerian Sosial tapi pakai domain .COM, bisa dipastikan 1000% kamu sedang dimodusi penipu. 

7. Ikut serta grup diskusi anti hoaks

Mengutip dari laman Kominfo, di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoaks. Misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di forum ini saya gak ada ikut sih. Sejauh ini tergabung di grup WA Keluarga Besar FLP SU bisa dikatakan sangat 'radikal' dalam penyaringan terhadap berita dan informasi hoaks. Alhamdulillah. 

8.Cek keaslian foto dan video

Kalau dulu zamannya photoshop, kini eranya AI. Memanipulasi foto dan video sungguh gampang sekali.

Suara kita pun bisa kita dengar ngomong entah hapa-hapa padahal kita tak pernah bicara demikian.

Seperti yang dialami Ust. Zaidul Akbar. Beredar video beliau yang disunting menggunakan AI. Jadilah sebuah video yang gerak bibirnya diselaraskan dengan suara yang dihasilkan AI (serupa suara aslinya), sementara beliau tak pernah meyampaikan informasi tersebut. 

Lagi-lagi mengutip dari Kominfo, untuk mengecek keaslian foto, kita bisa memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan. Kalau video, belum tahu saya. Bolehlah kiranya para literat teknologi yang nyasar ke tulisan ini berbagi informasi di kolom komentar yak😁🙏. 

Jadi kitalah yang harus jeli. Jangan sampai terkecoh. Cari lebih banyak informasi terkait. 

Cek silang ke akun resminya. Berdayakan energi kreatif yang kita miliki. 

9. Cek situs hoaks dan laporkan

Ternyata kita juga bisa cek apakah tautan suatu situs web merupakan hoaks atau tidak. Walau tidak semua bisa dicek. Biasanya akan terdeteksi ketika sudah ada yang melaporkan tautan atau situs  tersebut. Seperti di laman ini.

https://transparencyreport.google.com/safe-browsing/search

Sedangkan berita-berita hoaks bisa diakses di bawah ini. Ada juga fitur untuk melaporkan seperti di turnbackhoax.

https://trustpositif.kominfo.go.id/

https://kominfo.go.id/content/all/laporan_isu_hoaks

https://turnbackhoax.id/

Nah, ada satu lagi, nih hasil temuan saya. Semoga benar. Karena saya baru coba dengan akun saya saja. Jadi sejauh ini masih kesimpulan saya sendiri bahwa kita bisa cek suatu tautan itu hoaks atau tidak melalui twitter.

Saya pernah beberapa kali coba pos twit berisi tautan hoaks (lebih tepatnya penipuan sih ini), yang baru dibuat Februari 2024, tapi tidak bisa muncul. Entah ke mana perginya. (Cerita lengkapnya bisa dibaca di pos selanjutnya.) 
Cara mendeteksi berita hoaks dan penipuan

Nah, kamu silakan coba juga. Berhasil gak?😁

Demikian 9 tips cara mendeteksi berita hoaks dan penipuan yang bisa dipraktikkan. Semoga berfaedah. 

Efek Digitalisasi BRI pada Masyarakat Aek Loba

Entah sejak kapan tepatnya aku memulai kehidupan digital perbankanku. Yang jelas di 2019, gaya hidup dengan digital perbankan sudah sangat melekat padaku. Apa-apa tinggal transfer. Isi pulsa sudah tak pernah lagi lewat kaunter pulsa. Bayar listrik, PDAM, belanja online, beli tiket KA, hingga bayar utang dan tagihan piutang patungan di Ngapain Kita* pun diselesaikan via m-banking saja. Singkatnya, m-banking sudah jadi kebutuhan primerku selama merantau di kota Medan. 

(*Ngapain Kita adalah sebuah grup WA yang berisi 4 demisioner pengurus FLP Medan; Ririn, Kyo, Iyik dan Tiwi, yang kala itu kerap nongkrong, diskusi, jalan-jalan, curhat, experimen dan sejumlah aktivitas kehidupan tak penting lainnya, yang terjebak dalam satu frekuensi dengan keseringan 50:50, hingga kini)

Menjelang akhir 2019, keputusan untuk naik gunung alias balik kampung cukup buat ketar-ketir. Berdamai untuk mengucapkan selamat tinggal pada tatap muka dan peluk erat para sahabat, serta pada segala kemudahan akses kehidupan yang sudah biasa dikecap, demi sebuah pilihan bernama 'bakti pada ibu bapak'. (Seeehh)

Pulang kampunglah ke Aek Loba, sebuah desa di kecamatan Aek Kuasan, kabupaten Asahan, Sumatera Utara, yang tentu saja belum tersentuh fasilitas ojek online.

Salah satu dari beberapa hal pertama yang kulakukan setelah balik kampung adalah mengurusi perihal pensiunan si Bapak. Sebuah diantaranya adalah perihal perbankan.

Aku ingat waktu itu ikut menemani beliau ke KCP BRI Aek Loba untuk mengambil kartu ATM yang baru diterbitkan. Saat itu tujuan utamaku adalah untuk memastikan rekening pensiunan si Bapak terdaftar m-bankingnya. Wkkk.

Berhubung di masa itu memang akan ada banyak transaksi transfer sana-sini. Selain itu pertimbangan bahwa lokasi mesin ATM BRI hanya ada di Aek Loba Pekan saja. Jaraknya sekitar 2-3 km dari rumah. Dan yang jelas tidak akan ada angkot yang lewat dari sekitaran apalagi dari depan rumah. Ini Aek Loba, Bung. Bukan Medan.

Akses kendaraan tentu ya hanya sepeda motor. Dan aku adalah pengendara sepeda motor yang hanya berkualifikasi duduk di boncengan saja. (Baca: tak bisa bawa motor). Jadi untuk ke mana-mana sangat tidak bisa mandiri seperti ketika di Medan. Butuh sopir pribadi.

Sayangnya aku tipe yang paling anti menyuruh-nyuruh apalagi disuruh-suruh. Kalau tak urgen, tak akan minta tolong. Lain cerita kalau diajak. Intinya m-banking wajib ada untukku yang memulai mode hidup "langka mobilisasi" ini.

"Kak, tolong sekalian aktifkan mobile banking-nya, ya." Kataku ketika sang CS menyerahkan kartu ATM ke Bapak.

"Sudah aktif otomatis, kok. Akan ada notifikasi ketika ada uang masuk dan penarikan." Kata sang CS.

"Gak perlu daftar akun dan aktivasi untuk aplikasinya lagi berarti, ya?" Sambungku agak bingung. Sebelumnya di rumah, aku sudah duluan unduh aplikasinya biar tinggal gampang ketika di BRI.

"Tanpa aplikasi." Jawabnya.

"Loh, jadi kalau mau transfer dan cek saldo gimana caranya, Kak?" Tanyaku heran.

Dan kesimpulan yang kudapatkan dari penjelasan sang CS, ternyata m-banking yang dimaksud hanya bisa seputar mendapatkan pemberitahan ke ponsel tentang transaksi penarikan dan saldo yang masuk ke rekening saja. Sedangkan untuk fasilitas cek saldo dan transfer, aku diarahkan untuk menggunakan BRI Internet Banking oleh sang CS karena dianggap lebih praktis dan gampang digunakan.

Fasilitas BRI Internet Banking bisa diakses melalui laman website ib.bri.co.id/ib-bri. Nah ini yang butuh daftar dan verifikasi. Untuk menggunakan layanan ini ternyata kita tak perlu beli perangkat token tambahan seperti layanan di bank lain saat itu, karena BRI menyediakan mToken yang didapatkan melalui sms ke nomor ponsel yang terdaftar ketika verifikasi akun nomor

Internet Banking BRI

Aku sempat menggunakan layanan ini kurang lebih 2 bulan. Dan selama penggunaan kumendapati beberapa kekurangan pada fasilitas Internet Banking ini. Mungkin demi alasan keamanan, tiap kali transaksi kita wajib log in; memasukkan ID pengguna dan kata sandi. Setelah selesai satu transaksi, jika mau cek saldo atau melakukan transaksi lainnya, wajib mengulang log in kembali. Begitu seterusnya. 

Bahkan tak jarang websitenya seperti eror. Begitu tombol log in dipencet setelah memasukkan ID pengguna dan kata sandi, yang muncul adalah halaman semula. Dengan kata lain upaya log in sebelumnya tidak berhasil. Diulangi tetap saja begitu. Sangat melelahkan, dan lama-lama menyebalkan. Transaksi pun tak jadi dilakukan. 

Dan naas, pada transaksi yang ke sekian, dengan masalah log in serupa aku sempat salah tiga kali memasukkan kata sandi (saking palaknya), dan terblokirlah sudah.

Untuk memperbaikinya harus ke BRI nya langsung. Tak bisa via telpon.

Dan bisa ditebak lah ya. Jenis manusia sepertiku yang enggan mengantre lama-lama dan lagi anti pergi jauh-jauh ke BRI sana, akhirnya kurelakan fasilitaas Internet banking itu terblokir begitu saja.

Jadinya mau tak mau segala transaksi harus dilakukan manual via mesin ATM. Terpaksa harus keluar rumah juga.

Baru di awal 2023 ini aku tanpa sengaja melihat iklan BRImo dan segala kemudahan yang ditawarkannya. Haha. Aku kemana saja selama ini. Terlambat tahu.

Kini dengan BRImo, memang segala transaksi jauh lebih gampang. Tak perlu capek-capek lagi mengunjungi mesin ATM. Cara pengoperasian aplikasinya juga terbilang gampang dan sangat ramah pengguna. Selain itu di BRImo kini banyak sekali promo bertaburan.

Super app BRImo, Digitalisasi BRI

Dari sekian layanan digitalisasi BRI untuk masyarakat, BRImo ini lah yang paling kufavoritkan. Sangat sesuai dengan kebutuhanku yang malas ribet, suka yang hemat, serta enggan mobilisasi ke mana-mana.

FYI, aplikasi BRImo ini sudah dipakai oleh 27.8 juta pengguna.

Selain super app BRImo, layanan digitalisasi BRI untuk Indonesia lainnya adalah AgenBRILink yang merupakan contoh sistem hybrid bank (kombinasi layanan digital dan manual) yang diterapkan oleh BRI.

Layanan ini cukup memudahkan aktivitas kehidpan masyarakat melaliu fitur-fiturnya, seperti untuk bayar tagihan listrik, PDAM, BPJS, cicilan, isi pulsa, Top up BRIZZI, buka rekning tabungan BSA, pinjaman, dll.

Saat ini BRI telah memiliki 666 ribu AgenBRILink yang tersebar di 59 ribu desa di Indonesia. 

Di Aek Loba (Kebun Sayur) sendiri, ada 2 AgenBRILink. Lokasi keduanya lebih dekat dari rumah dibandingkan lokasi mesin ATM. Masyarakat di sini sebagian besar memanfaatkan AgenBRILink untuk tarik tunai gaji, transfer, bayar listrik dan bayar cicilan. 

Dan agaknya para pemilik usaha UMKM lah yang paling sering mengunakan AgenBRILink ini untuk aktivitas transfer. Seperti para pemilik Pangkalan gas yang sepekan ada yang sekali ada yang 2 kali masuk. Ada juga beberapa pengusaha pisang sale, pengusaha keripik pisang dan keripik singkong, pengusaha gipang dan para pedagang online yang kini mulai menjamur.

Tak dapat dipungkiri memang peran BRI di Aek Loba ini. Terutama dalam hal pertumbuhan UMKM. Baik dalam keikutsertaan perihal pendanaan UMKM, maupun dalam membangun tren literasi pada digitalisasi perbankan bagi kehidupan masyarakat Aek Loba.

Beberapa tahun sebelumnya dominasi masyarakat Aek Loba kalau bayar listrik pasti langsung ke kantor perwakilan PLN, kini sudah jarang sekali ada yang bayar tagihan listrik ke situ. Rata-rata perginya ke AgenBRILink.

Dan contoh nyatanya lagi adalah si Iqbal, adikku. Tahun lalu kupernah kehabisan saldo di rekening. Adanya uang tunai. Saat itu sudah malam dan sedang butuh untuk transfer ke rekening kawan. Maksud hati tak mau merepotkan si adik buat antar si kakak ini nabung ke bank via setoran tunai. Jadi mau pinjam jasa m-banking-nya si adik lalu dibayar tunai. Karena setahuku dia termasuk yang agak sering belanja online. Eh rupanya dia tak pakai m-banking

Nah, bulan lalu, aku kehabisan saldo e-wallet. Saldo di rekening tinggal beberapa ribu dan adanya uang tunai. Jadilah pagi-pagi kirim pesan WA ke Iqbal, minta tolong nanti ketika luang top up saldo e-wallet via alfamart. Tak berapa lama dia kirim bukti transaksi top up via BRImo. Oh, sudah teredukasi agaknya dia.

Top Up e-wallet via Aplikasi BRImo

Jadi tak berlebihan agaknya jika dikatakan digitalisasi BRI membawa dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat Aek Loba. Baik dari aspek edukasi literasi digital perbankan maupun pertumbuhan ekonomi, terutama sektor UMKM.

Kisah Pendiri 12 PAUD di Pesisir Serdang Bedagai

"Masa Kecil yang Tak Sejahtera, Biarlah Hanya Saya yang Mengalami Kesulitan Itu"

Berawal dari keprihatinannya akan rendahnya tingkat pendidikan di desa-desa pesisir di Kecamatan Teluk Mengkudu membuatnya tergerak untuk memberdayakan masyarakat daerah tersebut sejak 1998. Walau tinggal di kecamatan berbeda; Pegajahan, Rusmawati sejatinya adalah warga Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 

Sumber: kumparan.com

Sekitar tahun 1998, Sebagai Staff Lapangan Yayasan Harapan Desa Sukasari (Hapsari), sebuah LSM yang fokus pada pemberdayaan perempuan di Kabupaten Deli serdang, Rusmawati kerap berkeliling ke kawasan pesisir di Desa Pekan Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu.

Selama beberapa kali kunjungannya di Teluk Mengkudu, Ia mendapati pemandangan yang sangat memprihatinkan. Masyarakat di kawasan pesisir Teluk Mengkudu ini hidup dalam kebiasaan ala kadarnya. Jika sudah bisa makan dua atau tiga kali sehari dan bisa membelikan jajanan untuk anak-anak mereka, maka mayoritas warga yang merupakan nelayan ini sudah merasa cukup dengan kehidupannya.

Mereka tidak menganggap perlu untuk memfasilitasi anak-anak apalagi balita-balita mereka dengan pendidikan yang layak. Padahal anak-anaknya sudah masuk usia sekolah.

Kemudian Rusmawati mengajak sejumlah perempuan di Desa Pekan Sialang Buah untuk berdiskusi. Dari mereka, Ia justru mendapatkan fakta-fakta yang malah makin memprihatinkan.

Nyatanya banyak perempuan yang sudah berkeluarga tapi tidak tamat SD apalagi SMP. Lalu pekerjaan suaminya serta aktivitas melaut lainnya tidak memberikan kenyamanan karena mereka harus berhadapan dengan pukat harimau. Sementara tak ada perlindungan dan pembelaan dari pemerintah. Ada lagi para perempuan yang suaminya tewas di laut.

Kesemua itu telah menjadi beban tersendiri bagi perempuan di desa-desa pesisir ini. Mereka tak lagi memikirkan pendidikan anak-anak mereka. Apalagi para janda, fokusnya hanya untuk mencari nafkah sehari-hari yang jumlahnya jauh dari kata layak.

Akhirnya, anak-anak mereka terabaikan, apalagi pendidikannya. Anak-anak tidak paham memilih jajanan sehat. Bermain di area kumuh. Bahkan ketika makanannya jatuh ke tanah, mereka dengan santai masih mengutip lalu memankannya.

Ada pula para ibu yang juga terlibat dalam menambah penghasilan keluarga. sambil membawa serta anaknya mencari kerang di tepi laut sehingga anak tersebut kehilangan masa kanak-kanaknya tanpa bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya.

Rusmawati memutar otak, mencari cara untuk memajukan pendidikan masyarakat di Desa Pekan Sialang Buah, khususnya bagi anak-anak. Ia bertekad bahwa anak-anak Desa Pekan Sialang Buah yang sudah berada di usia sekolah harus masuk sekolah. Mereka harus belajar, bermain, dan bergembira dengan anak-anak seusia mereka.

Rusmawati ingat masa kecilnya yang sangat membekas. Karena kondisi ekonomi keluarganya yang juga tak sejahtera, sejak kecil ia harus membantu orangtuanya mencari sayur dan ikan di sawah.

“Saya berpikir, biarlah hanya saya yang mengalami kesulitan itu. Anak-anak zaman sekarang harus terfasilitasi dengan baik kebutuhan belajar dan bermainnya. Jangan seperti saya saat masih kecil dulu,” ujar perempuan kelahiran Desa Bingkat, 2 Februari 1976 itu.


Aksi Pun Dimulai


Di Desa Pekan Sialang Buah, Rusmawati mengajak tujuh perempuan desa yang sepemahaman dengannya; bahwa anak-anak usia dini Desa Pekan Sialang Buah harus difasilitasi pendidikannya.

Dia pun mengajak ketujuh perempuan itu untuk meyakinkan perempuan lainnya di desa tersebut untuk peduli terhadap pendidikan anak-anaknya. Namun sangatlah banyak yang menolak dengan alasan, "Sudah susah, janganlah dibuat susah lagi".

Banyaknya penolakan akhirnya membuat 4 dari 7 perempuan teman diskusinya tadi mundur. Tinggallah Rusmawati dan 3 teman diskusinya yang masih berkomitmen.

"Saya tidak membuat susah. Yakinlah, suatu saat nanti, kalian akan mencari saya”. Tegas Rusmawati kepada mereka yang menolak kala itu.

Namun, sesampainya di rumah Ia menangis. Perasaannya hancur ketika niat baik dan tulusnya tidak mendapat sambutan baik. Namun begitu tak menyurutkan niatnya. Malah tertantang untuk segera mendirikan Sanggar Belajar Anak.

Tahun 2002, Rusmawati dan ketiga rekannya yang tergabung dalam Serikat Petani Pesisir dan Nelayan (SPPN) Serdang Bedagai ini mendirikan Sanggar Belajar Anak yang namanya disepakati menjadi SBA Melati. Mereka tidak menggunakan nama TK karena terkesan sekolah mahal dan tak mungkin mereka bangun. Saat itu mereka hanya berpikir ada tempat bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan bernyanyi.


Muncul Kendala Berikutnya; Gedung Tempat Belajar


Rusmawati meyakinkan 3 rekannya untuk mengadospi semangat Ki Hajar Dewantara; “Setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru”. Dengan berprinsip tak perlu bangun gedung, akhirnya atas izin pengelola musala, digunakanlah teras musala sebagai tempat untuk belajar dan bermain.

Ketika pemberitahuan disampaikan ke warga, ternyata disambut cukup baik. Perkiraan hanya 10, ternyata sampai 25 anak yang hadir.

Rusmawati merasa tak sanggup mengajar 25 anak sendirian. Ia pun mengajak Ema Salmah (43), salah seorang dari 3 rekannya. Awalnya Ema menolak karena tak mampu dan tak lulus SD. Namun setelah terus diyakinkan oleh Rusmawati dan memintanya untuk mengobservasi caranya mengajar, Ema akhirnya menyanggupi. Lama-kelamaan, Ema pun berani tampil tanpa perlu didampingi lagi.

Dalam setahun jumlah siswa semakin banyak, dan tempat di teras musala tak lagi kondusif. Rusmawati kembali memutar otak. Posisinya sebagai Pengurus Badan Amil Zakat memberikannya ide baru. Ia mengajak warga Desa Pekan Sialang Buah yang peduli dengan keberadaan SBA Melati agar mau bersedekah dan berzakat untuk membangun gedung belajar SBA Melati.

Usahanya mendapat sambutan cukup baik. Terkumpullah sekitar 2.9 juta saat itu. Lalu dimusyawarahkan dengan para ibu murid SBA Melati. Ternyata untuk membangun gedung sederhana butuh setidaknya 5 jutaan. Kekurangan dana ini akhirnya tertutupi oleh sumbangan barang dari warga.

Akhirnya gedung SBA Melati dibangun di atas tanah milik seorang warga Desa Pekan Sialang Buah, Murni namanya. Persis di samping rumahnya. Gedung belajar dibangun sederhana. Lantai semen, atap rumbia, dinding bagian bawah beton dan sisanya tepas. Gedung beruangan tunggal itu berukuran 4x6 meter persegi.

Pembangunan gedung berlangsung sepekan. Masyarakat bergotong royong mendirikan gedung. Semua biaya dan barang merupakan sumbangan warga Desa Pekan Sialang Buah. Rusmawati terharu dengan sambutan baik masyarakat yang tak disangkanya itu.

Hingga kini gedung SBA Melati masih berada di lokasi sama. Beberapa kali dirombak, terutama dinding tepasnya karena rusak terkena hujan dan panas. Tanah yang semula statusnya pinjaman kini telah berganti menjadi sewa. Uang sewanya digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari Bu Murni yang kesehatannya kurang baik beberapa tahun setelah pembangunan.

Dan sampai saat ini, Rusmawati dan rekan-rekannya tetap rutin menggalang donasi dari masyarakat untuk biaya sewa dan kebutuhan SBA Melati.


Dari Satu SBA Menjadi Tunas-tunas SBA


Cerita sukses Rusmawati membangun dan menjalankan SBA Melati di Desa Pekan Sialang Buah ini pun sampai ke desa-desa pesisir lain di Kecamatan Teluk Mengkudu.

Memanfaatkan momen, Rusmawati pun mendirikan 6 SBA di empat desa lainnya (yang juga tingkat pendidikannya masih rendah) sepanjang tahun 2004-2011. Adalah SBA As-Syakirin di Desa Sialang Buah, SBA Ar-Rahim dan SBA As-Syiddiq di Desa Pematang Kuala, SBA Pasir Putih dan SBA Al-Fahmi di Desa Bogak Besar dan SBA Ar-Rahman di Desa Sentang.

Tak hanya di Kecamatan Teluk Mengkudu, Rusmawati pun merambah ke kecamatan-kecamatan lain. Sepanjang tahun 2006 hingga 2012, Rusmawati membuka 5 SBA di empat desa lain di tiga kecamatan.

3 SBA di Kecamatan Pegajahan yakni 2 SBA di Desa Karang Anyar yakni SBA As-Syiddiq dan SBA Abah dan 1 SBA di Desa Petuaran Hilir yakni SBA Melati.

1 SBA di Kecamatan Tanjung Beringin yakni SBA Ar-Rahman di Desa Pekan Tanjung Beringin.

Dan 1 SBA di Kecamatan Pantai Cermin yakni SBA Mekar Hidayah di Desa Kotapari.

Konsep yang digunakan Rusmawati di delapan desa ini sama dengan di Desa Pekan Sialang Buah. Mengajak perempuan-perempuan desa berdiskusi dan mencari solusi masalah pendidikan. Mengajak para perempuan menjadi guru SBA. Mengajak warga dan wali murid berdiskusi perihal lahan dan pembangunan gedung SBA. Intinya adalah menggerakkan masyarakat untuk berdiskusi, bergotong-royong, serta memberikan sumbangan dan zakat untuk pembangunan dan keberlangsungan hidup SBA di desa mereka.

Sedangkan untuk membayar gaji guru SBA dananya berasal dari iuran bulan siswa. Besarnya bervariasi sesuai kemampuan orangtuanya dan hasil diskusi bersama wali murid. Ada yang 20 ribu, ada yang 15 ribu, ada pula yang membayar dengan pisang hasil panen.


Dianggap Lembaga Pendidikan Ilegal


Tantangan baru yang dihadapi Rusmawati dalam membuka 12 SBA di 4 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai adalah ketika perangkat pemerintahan di dusun-dusun tidak mengakui SBA-SBA bentukan Rusmawati sebagai lembaga pendidikan yang sah alias ilegal.

Disebut ilegal karena tidak memiliki izin dan tidak sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang disahkan oleh DPR.

UU ini salah satunya mengatur sistem dan izin pendirian lembaga pendidikan untuk anak-anak usia dini seperti Kelompok Bermain (KB), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Taman Kanak-kanak (TK).

Rusmawati mengakui jika SBA yang ia dirikan tidak memiliki izin. Namun ia tak menerima disalahkan. Karena ketika ia mendirikan SBA, belum ada UU yang mengatur saat itu.
Lagi pula di akhir 2003, beberapa bulan setelah UU Sisdiknas disahkan, 8 Juli 2003, Rusmawati telah mengunjungi Dinas Pendidikan Serdang Berdagai untuk berkoordinasi mengenai perlu adanya kebijakan tentang SBA yang ia telah ia bangun.

Namun penjelasannya tidak cukup meyakinkan pejabat yang bersangkutan. Tetap saja apa yang ia kerjakan dianggap ilegal. Karena tidak ada solusi, ia pun pulang.

Kampanye bahwa SBA yang didirikan Rusmawati adalah tindakan ilegal bahkan sampai membuat ada guru yang tak mau mengajar, sehingga program SBA jadi terganggu.

Namun Rusmawati tak patah semangat. Temannya menyarankan untuk menemui pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Serdang Bedagai lainnya yakni Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Berharap ada kebijakan dari sang pejabat.

Di tahun 2004, ketika menggelar pertemuan akbar siswa, orangtua dan masyarakat yang terlibat dalam program-program SBA, Rusmawati mengundang sang Kepala Bidang serta para Kepala Dusun yang selama ini menyebut SBA ilegal.

Di kesempatan itu sang kepala bidang juga langsung mendengarkan bahwa masyarakat tidak ingin SBA-SBA yang sudah ada ini dibubarkan. Akhirnya solusi dari mereka adalah mereka meminta agar program-program SBA tetap dijalankan karena pihak Dinas sudah mengetahuinya.

Sejak tahun 2007, agar program berjalan dengan baik dan warga SBA juga dapat belajar dan mengajar dengan nyaman, Rusmawati pun mengurus izin SBA-SBA yang sudah berdiri. Ia mencatat, hingga tahun 2007 ada delapan SBA yang berdiri.

Karena UU Sisdiknas tidak mengatur keberadaan SBA untuk pendidikan anak usia dini dan hanya mengatur nama PAUD dan KB, maka mau tidak mau, Rusmawati pun mengganti nama delapan SBA yang telah berdiri dari SBA menjadi Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Kelompok Bermain (PAUD KB).

Sumber: Tribun-Medan

Setelah keberadaan UU Sisdiknas semakin diketahui publik, maka mulailah bermunculan PAUD-PAUD di desa-desa pesisir di Kabupaten Serdang Bedagai. Rusmawati mengingat, tahun 2009 menjadi awal berdirinya banyak PAUD.


PAUD KB, Pintu Masuk Pemberdayaan Masyarakat


Pendirian PAUD KB diakui Rusmawati sebagai pintu masuk untuk menebar jaring pemberdayaan lebih besar kepada warga pesisir. Setiap dibukanya 1 PAUD KB, otomatis terbentuk 1 kelompok yang berisi ibu-ibu murid yang bersekolah di PAUD KB.

Rusmawati rutin tiap bulan melakukan pertemuan dengan kelompok perempuan ini. Materi-materi di pertemuan beragam dan kaya manfaat. Berisi diskusi-diskusi seputar perempuan dan rumah tangga, sosial dan budaya, dan penguatan ekonomi keluarga dan kewirausahaan.

Selain materi-materi di atas, pada pertemuan rutin, Rusmawati juga mendorong warga untuk merehabilitasi lingkungan tempat tinggal mereka seperti yang ia lakukan di Desa Bogak Besar. Rusmawati melihat bahwa rumah warga di Desa Bogak Besar rentan ambruk terkena angin besar dan ombak laut. Rusmawati pun mengajak warga Bogak Besar untuk menanam pohon mangromangrove. Di 2014, sekitar 10 ribu pohon mangrove ditanam.

Di lain sisi, terbuka lagi pintu pemberdayaan masyarakat melalui PAUD KB, yaitu puluhan warga pesisir yang menjadi guru PAUD KB.

Karena syarat untuk mengajar PAUD KB minimal tamat SMA sederajat (saat itu 2012), sedangkan banyak guru PAUD KB yang hanya tamatan SD, Rusmawati mendorong dan memfasilitasi para guru PAUD KB untuk mengambil kejar paket B (setara SMP) dan kejar paket C (setara SMA).

Hasilnya semua guru di 12 PAUD KB telah meyelesaikan kejar paket B dan C. Bahkan sejak 2012 hingga Desember 2020, ada 7 guru yang melanjut ke Universitas Terbuka jurusan Guru PAUD. 3 diantaranya telah menyelesaikan sarjananya. Sementara Rusmawati sendiri akhirnya mewujudkan mimpi menamatkan perkuliahannya di 2013 dari Perguruan Tinggi Agama Islam.

Yang makin membuat Rusmawati bangga adalah Ema Salmah. Perempuan dari Desa Pekan Sialang Buah yang sejak tahun 1998 ikut membantunya membuka PAUD KB Melati diangkat menjadi Kepala Urusan (Kaur) Umum Desa Pekan Sialang Buah ketika sudah tamat Kejar Paket C.


Meraih Penghargaan SATU Indonesia Award


Di tahun 2011, usaha pemberdayaan yang dilakukan Rusmawati sejak 1998 berbuah manis. Astra melalui program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards memberikan penghargaan kepada Rusmawati pada kategori Pendidikan. Program SBA (PAUD KB) yang ia dirikan di empat kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai ini menghantarkan Rusmawati pada penghargaan tersebut.

Dari penghargaan ini dia mendapat uang tunai Rp 50 juta yang diantaranya ia manfaatkan untuk memfasilitasi kejar paket B dan C bagi para guru PAUD KB yang saat itu belum lulus SMP dan SMA.

"Jujur. Motivasi saya mendirikan PAUD KB bukanlah untuk mendapatkan penghargaan. Tetapi ketika saya mendapatkan penghargaan ini, maka saya menjadikannya sebagai motivasi untuk berkarya lebih baik lagi dalam memberdayakan masyarakat di desa-desa pesisir di kabupaten Serdang Bedagai" Ujarnya.


Semooga semangat yang ditebarkan Rusmawati ini memberikan pencerahan pada anak-anak bangsa untuk kemudian mulai peka dengan sekelilingnya. Dimulai dari hal kecil. Let's start now


Sebuah rasa peduli yang diwujudkan dengan aksi. Dieksekusi dengan hati dan empati. Meski dicerca dan tak dipeduli, namun perjuangan tiada henti. Memupuk harapan, membangun mimpi. Suatu saat pasti berarti. Terima kasih telah menginspirasi, wahai Rusmawati. 


Tulisan ini diikutsertakan pada Anugerah Pewarta Astra 2023


Sumber: 

Tribun Medan

Kumparan.com

Kompasiana