Me and Cats

6:54 pm Pertiwi Soraya 2 Comments

Jika dikatakan sebagai cat lover alias pecinta kucing, saya tak berhak menyebut diri atau menyandang gelar itu.


Saya suka kucing, lebih tepatnya mengagumi kucing. Pecinta kucing? Apalagi ditambah kata sejati...saya tidak sampai pada tingkat demikian. Memelihara seekor anak kucing terlantar, mungkin masih akan saya lakukan. Namun anak-anak kucing terlantar, saya akan pikir beberapa kali dengan hasilnya kemudian adalah tidak.

Ada banyak pertimbangan untuk tidak. Yang paling dasar adalah karena saya tidak tinggal di rumah sendiri dan tidak sendirian, alias nge-kos. Kedua kalau pun tinggal di rumah sendiri (rumah orang tua maksudnya), terakhir kali saya cek di rumah sudah ada 3 ekor kucing :D. Ketiga, seumur-umur belum pernah merawat anak kucing yang tak ada ibunya.

Sejauh ini kalau induk kucing di rumah melahirkan, ibunya bertanggung jawab pada anak-anaknya. Menyusui bayi-bayinya, merawat dan menjaga mereka. Jadi ya bisa dikatakan saya tak pernah merawat anak kucing. Karena lebih tepatnya saya adalah pengamat induk kucing yang merawat anaknya. :D.
Induk dan anak kucing
Emaknya lagi natar si anak supaya murah senyum ^_^
Pernah sih kata Ibu, di rumah induk kucing yang lain melahirkan. Lalu si induknya menelantarkan anaknya begitu saja. Tak mau menyusui bayi-bayinya bahkan. Akhirnya nasib para bayi kucing itu tak diketahui rimbanya. Dan pada saat kejadian itu, saya lagi merantau di negeri orang :’(.

Nah, balik lagi pada status saya sebagai pengagum kucing. Bagi saya, kucing bisa memberikan efek yang sama seperti ketika orang makan cokelat atau es krim. (Bukan berarti kucingnya dimakan ya). Maksud saya, kucing memiliki efek sebagai mood booster. Penghilang stress seketika. Hal yang sama seperti ketika melihat bayi. :D. Huaaa...Bawaannya senyum-senyum sendiri. Mau dikatai gila juga bodo amat. Namanya juga kena dopamine. Efeknya ya bahagia :D.

Meskipun begitu, tak semua kucing mampu memberikan efek bahagia yang sama. Misalnya saja, ketika saya sedang berjalan kaki. Lalu terlihat ada seekor kucing. Ada karakteristik yang dimiliki atau tak dimiliki kucing tersebut yang akan membuat saya tertarik mengamatinya berlama-lama. Bahkan mungkin menghampirinya. Sesuatu yang masih belum bisa saya jelaskan seperti apa karakteristik yang menarik tersebut.
anak kucing
Ini termasuk kategori yang menarik perhatian
Mungkin lebih kepada bentuk dan proporsi wajahnya. Ada sebagian bentuk mata dan pola warna bola mata yang jika saya memandangnya tidak akan menghasilkan dopamine. Malah cenderung sebaliknya. Memandangnya malah merasa dan mendapatkan aura tak suka, defensive, garang, pengganggu, jahat, bahkan sombong. Intinya mereka jadi tidak terlihat menggemaskan sama sekali.

Kebanyakan saya menemui tipe kucing yang tak membawa efek bahagia ini pada kucing dewasa. Khusunya kucing jantan dewasa. Berjumpa dengan mereka rasanya benar-benar menyebalkan. Sombongnya minta ampun. Apalagi dengan gaya berjalannya yang khas. Gaya berjalan mereka seperti merasa merekalah yang paling hebat, merasa seolah-olah tubuh mereka seperti singa. Angkuh. Arrghhh...sungguh menyebalkan.

Selain gaya jalannya yang memuakkan itu, satu lagi hal yang tak saya sukai dari  mereka adalah perilakunya yang tak senonoh, yaitu suka pipis sembarangan. Memang sih itu adalah cara memreka menandai daerahnya. Tapi kok ya bisa-bisanya ketika salah satu dari mereka kepergok sedang berjalan-jalan mengunjungi lorong kos-an dan saya mengusirnya, dengan mengejutkannya, sempat-sempatnya ia meninggalkan tandanya padahal saya sedang mengejarnya. Grrhhh.

Jaraaang sekali bisa menjumpai kucing jantan dewasa yang down to earth. Ketika dipanggil akan memperhatikan. Dan punya sopan santun yang baik. (Kucing yang tinggal di  Kraton Jogja apa sopan santunnya baik juga kah?) Bisa dikatakan seribu satu. Dan dari seribu itu, satunya akhirnya pernah saya jumpai. Kucing jantannya Kyo. Sakti namanya. Awalnya saya pikir Sakti adalah betina karena gaya berjalannya tak sombong. Namun setelah diperhatikan seksama ia memang memiliki karisma berjalan ala kucing jantan. Baru kali itu kucing jantan yang saya panggil merespon dengan sopan. Biasanya perlu digertak agar mau merespon. Itu pun responnya ampun dah :D

Selain kucing jantan, jenis kucing yang tak saya sukai adalah kucing yang tak kelihatan bulunya. Seperti pada kucing khas Mesir atau dikenal dengan Sphinx. Ia terlihat seperti hanya memiliki kulit saya dengan telinga runcing. Aiii...seram rasanya.
Sphinx cat
(catloversblogs.blogspot.com) Seram kan...

Nah, dari semua jenis-jenis kucing, baik yang berbulu lebat panjang seperti kucing-kucing Persia dan Anggora, maupun yang seperti basa kita lihat (kalau kata orang kucing kampung), saya paling suka dengan anak kucingnya..ahaha. (kecuali yang tipe kucing Mesir tadi ya).  Kalau yang namanya anak kucing, melihatnya itu aaa...melayang-layang rasanya. Apalagi kalau bertemu yang tipenya benar-benar menggemaskan. Mulut mereka yang imut-imut, matanya yang tak terkatakan, bulu-bulunya yang awut-awutan seperti baru bangun tidur, dan kepalanya yang akan bergerak mengikuti gerakan jari tangan. Huaaa...Meleleh rasanya. :D
Kucing mengantuk
Habis makan kue dia pun terkantuk :D
Tapi ternyata memang benar, kittens atau anak kucing merupakan salah satu dari kata kunci yang paling banyak dicari di google. Dan saya juga pernah membaca disalah satu (lupa) entah novel atau internet, yang intinya adalah orang-orang lebih banyak menghabiskan waktunya tanpa disadari untuk membuka-buka hal yang tak penting di internet, dan salah satunya adalah melihat foto kucing-kucing lucu. Hmm...kalau buat wanita mungkin benar, tapi kalau buat pria???

You Might Also Like

2 comments:

  1. horor aku ngliat kucing yang mirip sphinx itu mba, kayak kucing nggak dikasih makan sebulan, kurus banget, tapi kan emang gtu ya bentuknya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya...rmang gitu bentuk n wujudnya...tapi justru harganya mahal banget loh mbakšŸ˜…

      Delete

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. šŸ™šŸ˜šŸ˜„