Kisah Pendiri 12 PAUD di Pesisir Serdang Bedagai

6:01 pm Pertiwi Soraya 0 Comments

"Masa Kecil yang Tak Sejahtera, Biarlah Hanya Saya yang Mengalami Kesulitan Itu"

Berawal dari keprihatinannya akan rendahnya tingkat pendidikan di desa-desa pesisir di Kecamatan Teluk Mengkudu membuatnya tergerak untuk memberdayakan masyarakat daerah tersebut sejak 1998. Walau tinggal di kecamatan berbeda; Pegajahan, Rusmawati sejatinya adalah warga Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 

Sumber: kumparan.com

Sekitar tahun 1998, Sebagai Staff Lapangan Yayasan Harapan Desa Sukasari (Hapsari), sebuah LSM yang fokus pada pemberdayaan perempuan di Kabupaten Deli serdang, Rusmawati kerap berkeliling ke kawasan pesisir di Desa Pekan Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu.

Selama beberapa kali kunjungannya di Teluk Mengkudu, Ia mendapati pemandangan yang sangat memprihatinkan. Masyarakat di kawasan pesisir Teluk Mengkudu ini hidup dalam kebiasaan ala kadarnya. Jika sudah bisa makan dua atau tiga kali sehari dan bisa membelikan jajanan untuk anak-anak mereka, maka mayoritas warga yang merupakan nelayan ini sudah merasa cukup dengan kehidupannya.

Mereka tidak menganggap perlu untuk memfasilitasi anak-anak apalagi balita-balita mereka dengan pendidikan yang layak. Padahal anak-anaknya sudah masuk usia sekolah.

Kemudian Rusmawati mengajak sejumlah perempuan di Desa Pekan Sialang Buah untuk berdiskusi. Dari mereka, Ia justru mendapatkan fakta-fakta yang malah makin memprihatinkan.

Nyatanya banyak perempuan yang sudah berkeluarga tapi tidak tamat SD apalagi SMP. Lalu pekerjaan suaminya serta aktivitas melaut lainnya tidak memberikan kenyamanan karena mereka harus berhadapan dengan pukat harimau. Sementara tak ada perlindungan dan pembelaan dari pemerintah. Ada lagi para perempuan yang suaminya tewas di laut.

Kesemua itu telah menjadi beban tersendiri bagi perempuan di desa-desa pesisir ini. Mereka tak lagi memikirkan pendidikan anak-anak mereka. Apalagi para janda, fokusnya hanya untuk mencari nafkah sehari-hari yang jumlahnya jauh dari kata layak.

Akhirnya, anak-anak mereka terabaikan, apalagi pendidikannya. Anak-anak tidak paham memilih jajanan sehat. Bermain di area kumuh. Bahkan ketika makanannya jatuh ke tanah, mereka dengan santai masih mengutip lalu memankannya.

Ada pula para ibu yang juga terlibat dalam menambah penghasilan keluarga. sambil membawa serta anaknya mencari kerang di tepi laut sehingga anak tersebut kehilangan masa kanak-kanaknya tanpa bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya.

Rusmawati memutar otak, mencari cara untuk memajukan pendidikan masyarakat di Desa Pekan Sialang Buah, khususnya bagi anak-anak. Ia bertekad bahwa anak-anak Desa Pekan Sialang Buah yang sudah berada di usia sekolah harus masuk sekolah. Mereka harus belajar, bermain, dan bergembira dengan anak-anak seusia mereka.

Rusmawati ingat masa kecilnya yang sangat membekas. Karena kondisi ekonomi keluarganya yang juga tak sejahtera, sejak kecil ia harus membantu orangtuanya mencari sayur dan ikan di sawah.

“Saya berpikir, biarlah hanya saya yang mengalami kesulitan itu. Anak-anak zaman sekarang harus terfasilitasi dengan baik kebutuhan belajar dan bermainnya. Jangan seperti saya saat masih kecil dulu,” ujar perempuan kelahiran Desa Bingkat, 2 Februari 1976 itu.


Aksi Pun Dimulai


Di Desa Pekan Sialang Buah, Rusmawati mengajak tujuh perempuan desa yang sepemahaman dengannya; bahwa anak-anak usia dini Desa Pekan Sialang Buah harus difasilitasi pendidikannya.

Dia pun mengajak ketujuh perempuan itu untuk meyakinkan perempuan lainnya di desa tersebut untuk peduli terhadap pendidikan anak-anaknya. Namun sangatlah banyak yang menolak dengan alasan, "Sudah susah, janganlah dibuat susah lagi".

Banyaknya penolakan akhirnya membuat 4 dari 7 perempuan teman diskusinya tadi mundur. Tinggallah Rusmawati dan 3 teman diskusinya yang masih berkomitmen.

"Saya tidak membuat susah. Yakinlah, suatu saat nanti, kalian akan mencari saya”. Tegas Rusmawati kepada mereka yang menolak kala itu.

Namun, sesampainya di rumah Ia menangis. Perasaannya hancur ketika niat baik dan tulusnya tidak mendapat sambutan baik. Namun begitu tak menyurutkan niatnya. Malah tertantang untuk segera mendirikan Sanggar Belajar Anak.

Tahun 2002, Rusmawati dan ketiga rekannya yang tergabung dalam Serikat Petani Pesisir dan Nelayan (SPPN) Serdang Bedagai ini mendirikan Sanggar Belajar Anak yang namanya disepakati menjadi SBA Melati. Mereka tidak menggunakan nama TK karena terkesan sekolah mahal dan tak mungkin mereka bangun. Saat itu mereka hanya berpikir ada tempat bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan bernyanyi.


Muncul Kendala Berikutnya; Gedung Tempat Belajar


Rusmawati meyakinkan 3 rekannya untuk mengadospi semangat Ki Hajar Dewantara; “Setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru”. Dengan berprinsip tak perlu bangun gedung, akhirnya atas izin pengelola musala, digunakanlah teras musala sebagai tempat untuk belajar dan bermain.

Ketika pemberitahuan disampaikan ke warga, ternyata disambut cukup baik. Perkiraan hanya 10, ternyata sampai 25 anak yang hadir.

Rusmawati merasa tak sanggup mengajar 25 anak sendirian. Ia pun mengajak Ema Salmah (43), salah seorang dari 3 rekannya. Awalnya Ema menolak karena tak mampu dan tak lulus SD. Namun setelah terus diyakinkan oleh Rusmawati dan memintanya untuk mengobservasi caranya mengajar, Ema akhirnya menyanggupi. Lama-kelamaan, Ema pun berani tampil tanpa perlu didampingi lagi.

Dalam setahun jumlah siswa semakin banyak, dan tempat di teras musala tak lagi kondusif. Rusmawati kembali memutar otak. Posisinya sebagai Pengurus Badan Amil Zakat memberikannya ide baru. Ia mengajak warga Desa Pekan Sialang Buah yang peduli dengan keberadaan SBA Melati agar mau bersedekah dan berzakat untuk membangun gedung belajar SBA Melati.

Usahanya mendapat sambutan cukup baik. Terkumpullah sekitar 2.9 juta saat itu. Lalu dimusyawarahkan dengan para ibu murid SBA Melati. Ternyata untuk membangun gedung sederhana butuh setidaknya 5 jutaan. Kekurangan dana ini akhirnya tertutupi oleh sumbangan barang dari warga.

Akhirnya gedung SBA Melati dibangun di atas tanah milik seorang warga Desa Pekan Sialang Buah, Murni namanya. Persis di samping rumahnya. Gedung belajar dibangun sederhana. Lantai semen, atap rumbia, dinding bagian bawah beton dan sisanya tepas. Gedung beruangan tunggal itu berukuran 4x6 meter persegi.

Pembangunan gedung berlangsung sepekan. Masyarakat bergotong royong mendirikan gedung. Semua biaya dan barang merupakan sumbangan warga Desa Pekan Sialang Buah. Rusmawati terharu dengan sambutan baik masyarakat yang tak disangkanya itu.

Hingga kini gedung SBA Melati masih berada di lokasi sama. Beberapa kali dirombak, terutama dinding tepasnya karena rusak terkena hujan dan panas. Tanah yang semula statusnya pinjaman kini telah berganti menjadi sewa. Uang sewanya digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari Bu Murni yang kesehatannya kurang baik beberapa tahun setelah pembangunan.

Dan sampai saat ini, Rusmawati dan rekan-rekannya tetap rutin menggalang donasi dari masyarakat untuk biaya sewa dan kebutuhan SBA Melati.


Dari Satu SBA Menjadi Tunas-tunas SBA


Cerita sukses Rusmawati membangun dan menjalankan SBA Melati di Desa Pekan Sialang Buah ini pun sampai ke desa-desa pesisir lain di Kecamatan Teluk Mengkudu.

Memanfaatkan momen, Rusmawati pun mendirikan 6 SBA di empat desa lainnya (yang juga tingkat pendidikannya masih rendah) sepanjang tahun 2004-2011. Adalah SBA As-Syakirin di Desa Sialang Buah, SBA Ar-Rahim dan SBA As-Syiddiq di Desa Pematang Kuala, SBA Pasir Putih dan SBA Al-Fahmi di Desa Bogak Besar dan SBA Ar-Rahman di Desa Sentang.

Tak hanya di Kecamatan Teluk Mengkudu, Rusmawati pun merambah ke kecamatan-kecamatan lain. Sepanjang tahun 2006 hingga 2012, Rusmawati membuka 5 SBA di empat desa lain di tiga kecamatan.

3 SBA di Kecamatan Pegajahan yakni 2 SBA di Desa Karang Anyar yakni SBA As-Syiddiq dan SBA Abah dan 1 SBA di Desa Petuaran Hilir yakni SBA Melati.

1 SBA di Kecamatan Tanjung Beringin yakni SBA Ar-Rahman di Desa Pekan Tanjung Beringin.

Dan 1 SBA di Kecamatan Pantai Cermin yakni SBA Mekar Hidayah di Desa Kotapari.

Konsep yang digunakan Rusmawati di delapan desa ini sama dengan di Desa Pekan Sialang Buah. Mengajak perempuan-perempuan desa berdiskusi dan mencari solusi masalah pendidikan. Mengajak para perempuan menjadi guru SBA. Mengajak warga dan wali murid berdiskusi perihal lahan dan pembangunan gedung SBA. Intinya adalah menggerakkan masyarakat untuk berdiskusi, bergotong-royong, serta memberikan sumbangan dan zakat untuk pembangunan dan keberlangsungan hidup SBA di desa mereka.

Sedangkan untuk membayar gaji guru SBA dananya berasal dari iuran bulan siswa. Besarnya bervariasi sesuai kemampuan orangtuanya dan hasil diskusi bersama wali murid. Ada yang 20 ribu, ada yang 15 ribu, ada pula yang membayar dengan pisang hasil panen.


Dianggap Lembaga Pendidikan Ilegal


Tantangan baru yang dihadapi Rusmawati dalam membuka 12 SBA di 4 kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai adalah ketika perangkat pemerintahan di dusun-dusun tidak mengakui SBA-SBA bentukan Rusmawati sebagai lembaga pendidikan yang sah alias ilegal.

Disebut ilegal karena tidak memiliki izin dan tidak sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang disahkan oleh DPR.

UU ini salah satunya mengatur sistem dan izin pendirian lembaga pendidikan untuk anak-anak usia dini seperti Kelompok Bermain (KB), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Taman Kanak-kanak (TK).

Rusmawati mengakui jika SBA yang ia dirikan tidak memiliki izin. Namun ia tak menerima disalahkan. Karena ketika ia mendirikan SBA, belum ada UU yang mengatur saat itu.
Lagi pula di akhir 2003, beberapa bulan setelah UU Sisdiknas disahkan, 8 Juli 2003, Rusmawati telah mengunjungi Dinas Pendidikan Serdang Berdagai untuk berkoordinasi mengenai perlu adanya kebijakan tentang SBA yang ia telah ia bangun.

Namun penjelasannya tidak cukup meyakinkan pejabat yang bersangkutan. Tetap saja apa yang ia kerjakan dianggap ilegal. Karena tidak ada solusi, ia pun pulang.

Kampanye bahwa SBA yang didirikan Rusmawati adalah tindakan ilegal bahkan sampai membuat ada guru yang tak mau mengajar, sehingga program SBA jadi terganggu.

Namun Rusmawati tak patah semangat. Temannya menyarankan untuk menemui pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Serdang Bedagai lainnya yakni Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Berharap ada kebijakan dari sang pejabat.

Di tahun 2004, ketika menggelar pertemuan akbar siswa, orangtua dan masyarakat yang terlibat dalam program-program SBA, Rusmawati mengundang sang Kepala Bidang serta para Kepala Dusun yang selama ini menyebut SBA ilegal.

Di kesempatan itu sang kepala bidang juga langsung mendengarkan bahwa masyarakat tidak ingin SBA-SBA yang sudah ada ini dibubarkan. Akhirnya solusi dari mereka adalah mereka meminta agar program-program SBA tetap dijalankan karena pihak Dinas sudah mengetahuinya.

Sejak tahun 2007, agar program berjalan dengan baik dan warga SBA juga dapat belajar dan mengajar dengan nyaman, Rusmawati pun mengurus izin SBA-SBA yang sudah berdiri. Ia mencatat, hingga tahun 2007 ada delapan SBA yang berdiri.

Karena UU Sisdiknas tidak mengatur keberadaan SBA untuk pendidikan anak usia dini dan hanya mengatur nama PAUD dan KB, maka mau tidak mau, Rusmawati pun mengganti nama delapan SBA yang telah berdiri dari SBA menjadi Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Kelompok Bermain (PAUD KB).

Sumber: Tribun-Medan

Setelah keberadaan UU Sisdiknas semakin diketahui publik, maka mulailah bermunculan PAUD-PAUD di desa-desa pesisir di Kabupaten Serdang Bedagai. Rusmawati mengingat, tahun 2009 menjadi awal berdirinya banyak PAUD.


PAUD KB, Pintu Masuk Pemberdayaan Masyarakat


Pendirian PAUD KB diakui Rusmawati sebagai pintu masuk untuk menebar jaring pemberdayaan lebih besar kepada warga pesisir. Setiap dibukanya 1 PAUD KB, otomatis terbentuk 1 kelompok yang berisi ibu-ibu murid yang bersekolah di PAUD KB.

Rusmawati rutin tiap bulan melakukan pertemuan dengan kelompok perempuan ini. Materi-materi di pertemuan beragam dan kaya manfaat. Berisi diskusi-diskusi seputar perempuan dan rumah tangga, sosial dan budaya, dan penguatan ekonomi keluarga dan kewirausahaan.

Selain materi-materi di atas, pada pertemuan rutin, Rusmawati juga mendorong warga untuk merehabilitasi lingkungan tempat tinggal mereka seperti yang ia lakukan di Desa Bogak Besar. Rusmawati melihat bahwa rumah warga di Desa Bogak Besar rentan ambruk terkena angin besar dan ombak laut. Rusmawati pun mengajak warga Bogak Besar untuk menanam pohon mangromangrove. Di 2014, sekitar 10 ribu pohon mangrove ditanam.

Di lain sisi, terbuka lagi pintu pemberdayaan masyarakat melalui PAUD KB, yaitu puluhan warga pesisir yang menjadi guru PAUD KB.

Karena syarat untuk mengajar PAUD KB minimal tamat SMA sederajat (saat itu 2012), sedangkan banyak guru PAUD KB yang hanya tamatan SD, Rusmawati mendorong dan memfasilitasi para guru PAUD KB untuk mengambil kejar paket B (setara SMP) dan kejar paket C (setara SMA).

Hasilnya semua guru di 12 PAUD KB telah meyelesaikan kejar paket B dan C. Bahkan sejak 2012 hingga Desember 2020, ada 7 guru yang melanjut ke Universitas Terbuka jurusan Guru PAUD. 3 diantaranya telah menyelesaikan sarjananya. Sementara Rusmawati sendiri akhirnya mewujudkan mimpi menamatkan perkuliahannya di 2013 dari Perguruan Tinggi Agama Islam.

Yang makin membuat Rusmawati bangga adalah Ema Salmah. Perempuan dari Desa Pekan Sialang Buah yang sejak tahun 1998 ikut membantunya membuka PAUD KB Melati diangkat menjadi Kepala Urusan (Kaur) Umum Desa Pekan Sialang Buah ketika sudah tamat Kejar Paket C.


Meraih Penghargaan SATU Indonesia Award


Di tahun 2011, usaha pemberdayaan yang dilakukan Rusmawati sejak 1998 berbuah manis. Astra melalui program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards memberikan penghargaan kepada Rusmawati pada kategori Pendidikan. Program SBA (PAUD KB) yang ia dirikan di empat kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai ini menghantarkan Rusmawati pada penghargaan tersebut.

Dari penghargaan ini dia mendapat uang tunai Rp 50 juta yang diantaranya ia manfaatkan untuk memfasilitasi kejar paket B dan C bagi para guru PAUD KB yang saat itu belum lulus SMP dan SMA.

"Jujur. Motivasi saya mendirikan PAUD KB bukanlah untuk mendapatkan penghargaan. Tetapi ketika saya mendapatkan penghargaan ini, maka saya menjadikannya sebagai motivasi untuk berkarya lebih baik lagi dalam memberdayakan masyarakat di desa-desa pesisir di kabupaten Serdang Bedagai" Ujarnya.


Semooga semangat yang ditebarkan Rusmawati ini memberikan pencerahan pada anak-anak bangsa untuk kemudian mulai peka dengan sekelilingnya. Dimulai dari hal kecil. Let's start now


Sebuah rasa peduli yang diwujudkan dengan aksi. Dieksekusi dengan hati dan empati. Meski dicerca dan tak dipeduli, namun perjuangan tiada henti. Memupuk harapan, membangun mimpi. Suatu saat pasti berarti. Terima kasih telah menginspirasi, wahai Rusmawati. 


Tulisan ini diikutsertakan pada Anugerah Pewarta Astra 2023


Sumber: 

Tribun Medan

Kumparan.com

Kompasiana


You Might Also Like

0 comments:

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. 🙏😁😄