Manfaat Menggambar dan Mewarnai Bagi Anak dan Orang Dewasa

Kapan terakhir kali kamu menghitamkan bola mata model yang tercetak di koran? Atau menambahkan gigi-gigi pada pas foto yang kau dapatkan di meja temanmu? Atau sekedar membuat coretan-coretan abstrak pada kertas yang disediakan hotel saat mengikuti seminar?

Menggambar, baik berbentuk maupun abstrak, itulah yang ternyata kebanyakan dilakukan orang ketika merasa bosan. Saat suara dosen mulai tak bersahabat dengan telinga, saat ocehan MC mulai bercabang kemana-mana, atau saat sumber suara wajib didengar seksama namun kita tak bisa mentup telinga.
 
Asik kali kayaknya ya ^_^

Apakah aktifitas menggambar memang hanya berfungi sebagai penghilang kebosanan bagi orang dewasa?


Karena penasaran, aku mencoba berselancar di internet tentang manfaat menggambar dan mewarnai bagi orang dewasa. Ternyata hasilnya tak beda jauh dengan manfaat kegiatan menggambar dan mewarnai pada anak-anak.
 
Berikut hasil yang kusimpulkan. Sedikitnya ada 5 kesamaan manfaat menggambar dan mewarnai pada anak-anak dan orang dewasa:
 

1. Sebagai Media berekspresi.


Secara psikologi, melalui gambar dan warna, kita bisa mengetahui emosi yang sedang anak rasakan. 
Aku jadi teringat sebuah sesi diskusi dengan Kak Rizky Nasution. "Dari gambar yang dia buat, kita bisa tahu kepribadiannya seperti apa, kita juga bisa mendeteksi apakah anak ini "memiliki masalah" yang perlu diperhatikan secara serius". Begitu kira-kira yang di sampaikan oleh Kak Ky.
 
Tak jauh beda dengan orang dewasa, gambar yang dihasilkan merupakan bentuk penyaluran ekspresi dan emosi atau bahkan cerminan kepribadian. Nah, makanya ada banyak tes psikologi dimana salah satu instrksinya adalah menggambarkan sesuatu. Yang pernah ikut psikotest pasti paham :).
 
Marah, sedih, bahagia, takut, gelisah, galau, dan segala macam emosi lainnya bisa disalurkan dalam bentuk visual melalui aktifitas menggambar dan mewarnai ini. Tak heran setelah melakukan kegiatan ini, kita merasa jadi lebih lega dan lebih santai.
 
Bersyukurlah mereka yang mampu dan bebas mengekspresikan dirinya dalam bentuk gambar. Karena banyak mansia yang tak memiliki kemampuan untuk itu. Aku salah satunya. Kalau mau baca Curhat lengkapnya ada di sini, kalau gak mau juga gak perlu bayar kok :D
 

2. Melatih kemampuan motorik


Pada anak, kegiatan menggambar dan mewarnai tentunya meningkatkan kinerja otot tangan dan akan mengembangkan kemampuan moptoriknya. Hal ini nantinya akan sangat penting dalam tumbuh kembangnya, seperti kemampuan mengetik, mengangkat benda, dan kegiatan yang menggunakan tangan dan otot tangan nantinya.
 
Bagi orang dewasa, ternyata kegiatan menggambar dan mewarnai juga dapat mengasah kemampuan motorik. Untuk apa? Kan memang sudah bisa mengetik dan angkat-angkat barang?
 
Nah, ternyata mengasah motorik agar selalu aktif bermanfaat untuk memperlambat penurunan fungsi motorik akibat penuaan. Semacam olahraga otot tangan gitu deh ya. Olahraga kan memang terbukti memperlambat penuaan. Jadi mewarnai bisa dijadikan salah satu alternatif bagi yang ingin terlihat awet muda, selain pakai treatment skin care dari Korea sana :D
 

3. Meningkatkan Konsentrasi


Kegiatan mewarnai dapat membantu anak untuk menjadi lebih fokus pada aktivitasnya. Hal ini yang akan jadi cikal bakal kefokusannya ketika mengerjakan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang baik,misalnya ketika mengerjakan soal matematika atau hal lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi .
 
Bagi orang dewasa, kegiatan menggambar dan mewarnai akan melatih ketekunan dan ketelatenan. 
Misalnya ketika mewarnani pola-pola yang banyak berulang dan detail-detail yang tak ingin dilewatkan. Kita jadi merasa melakukan suatu yang ribet namun rasanya malah menyenangkan. Dan hal-hal yang menyenangkan cenderung membuat ketagihan. Cobalah kalau gak percaya. :D
 

4. Membangkitkan energi positif.


Tak dapat disangkal bahwa menggambar dan mewarnai adalah memang dunia yang disenangi dan tak dapat dipisahkan dari anak-anak. Melakukan aktifitasnya saja sudah membahagiakan untuk mereka.
 
Pada orang dewasa, aktifitas menggambar dan mewarnai sendiri mampu memberikan kebahagiaan karena mengingatkan pada masa-masa kecil yang bahagia. (Buan berarti masa dewasanya kurang bahagia, tapi ya, begitulah. Pemirsa pasti paham maksud saya :D). Sedangkan secara psikologis, beberapa warna mampu membangkitkan semangat dan energi positif tertentu. Misalnya warna merah, kuning dan jingga bisa membangkitkan rasa semangat, optimisme dan keceriaan, hijau dan biru mampu menenangkan dan menyejukkan.
 
Mari berhitung, benarkah jumlahnya ada 20?

Nah, orang dewasa di sekitarku, cenderung fokus pada beberapa warna saja biasanya, bagaimana dengan orang dewasa di sekitarmu? Atau kamu?
 

5. Meredakan kecemasan


Aku beberapa kali mempraktikkannya pada anak muridku ketika akan memberinya tes wawancara bahasa Inggris. Umumnya anak-anak ketika tahu bahwa ia akan mengikuti tes, ia akan menjadi sadar diri dan tegang. Beberapa anak akan tidak menjadi dirinya yang biasanya. Mereka cenderung demam panggung. Untuk anak-anak yang seperti ini biasanya aku akan memintanya mengeluarkana crayonnya dan akan memulai pendekatan dengan memberikan instruksi menggambar hewan atau makanan kesukaannya. Baru selanjutnya tanpa sadar ia kugiring pada daftar pertanyaan tes wawancara :D
 
Efek dari mewarnai pada orang dewasa disebut-sebut bisa meredakan stres dan kecemasan. Hal ini dibuktikan oleh para ahli psikologi dengan merekam dan mengukur gelombang otak dan ritme jantung pada beberapa orang saat sedang mewarnai. Dan hasilnya, para ahli mengungkapkan adanya perubahan detak jantung dan gelombang otak yang menunjukkan bahwa subjek menjadi lebih tenang.
 
Ternyata, ketika mewarnai gambar, bagian logika pada otak menjadi aktif sehingga menciptakan pola pikir yang lebih kreatif. Bagian otak yang merespon rasa takut bisa beristirahat sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenang. Saat mewarnai, orang dewasa akan merasa seperti kembali menjadi anak-anak lagi, sehingga mereka bisa merasakan sensasi kehidupan yang bebas dan tekanan selama beberapa waktu. Begitu penjelasan Dr. Ben Michaelis, seorang ahli di bidang psikologi.
 
Nah, terus aku jadi penasaran dan ingin coba, (belum pernah dicoba sih) kira-kira apa yang akan terjadi padaku jika aku merasa gelisah karena berada pada situasi buntu ide nulis di saat dikejar-kejar deadline, lalu aku bukannya menyelesaikan tulisan, malah mewarnai? Kira-kira bakal seperti apa efeknya ya? :D

 
Nah, itu dia 5 poin kesaaman manfaat yang didapatkan anak-anak dan orang dewasa ketika melakukan aktifitas menggambar dan mewarnai.
 
Kesimpulannya, menggambar dan mewarnai bukan hanya untuk anak-anak saja, orang dewasa juga "butuh". Apalagi kalau aktifitasnya dilakukan bersama-sama, orangtua bersama anaknya misalnya, atau Om dan keponakan. Pasti seru. Selain mengasah kreatifitas juga bisa sekalian menguatkan ikatan antara orangtua dan anak, om dan (calon) keponakan. :D
 
Ini dia unit Colour to Life

Seperti halnya inovasi Colour to Life yang diinisisasi oleh Faber Castle. Selain mengasah kreatifitas anak, program dan teknologi yang ditawarkan Colour to Life juga memasilitasi orangtua dan anak untuk lebih dekat.
 
Hmm...maksudnya?
 
Jadi, Colour to Life merupakan merupakan produk terbaru dari Faber Fastle. Di dalamnya terdiri dari 15 lembar buku mewarnai dan 20 pensil warna. Nah, uniknya Colour to Life ini dilengkapi dengan teknologi AR alias Augmented Reality. Pernah dengar lah ya. Sejenis teknologi 3D tapi lebih nyata.  

Nah, Jadi gini. Setelah kita selesai mewarnai karakter atau gambar yang ada di buku mewarnai tadi, nantinya akan kelar dari buku gambar dan mncul dalam bentuk 3D. Hehe. Seperti sulap kan? :D Dan yang lebih seru lagi, karakter itu bisa bisa kita mainkan. Keren kan. oiya, kita juga bisa berswafoto sama karakternya. :D
 
Caranya, pertama kita harus unduh lebih dahulu aplikasi Colour to Life di Play Store. Lalu pindai gambar yang sudah diwarnai tadi.
 
3,2,1...Tadaa... Dan pesawatnya keluar dari buku ^_^

Dan tadaa...keluarlah karakter yang kita warnai tadi dalam bentuk 3D. Dan karakter siap untuk diajak swafoto dan siap dimainkan dalam pilihan games yang ada di aplikasi Colour to Life. Main games-nya tak memerlukan jaringan internet kok, alias bebas kuota. :D
 
Oiya, ada 5 jenis karakter dan games yang bisa dimainkan di Colour to Life. Kita tinggal pilih dan ikuti instruksinya.
 
Nah, yang terakhir, pasti sudah bisa mengerti lah ya kenapa Colour to Life ini mendekatkan orangtua dengan anak.
 
Yups, tepat sekali. Untuk bisa mengakses teknologi AR tadi, alias bisa merasakan pengalaman main games-nya, Si anak kan butuh gawai. Nah, di sini terutama peran orangtua mendampingi anak dalam menggunakan gawai.
 

Kalau dari sudut  pandangku, ada 2 poin yang menjadikan produk Colour to Life seharga 119K ini layak dimiliki:


1. Faber Castle ingin menanamkan ke anak, bahwa mereka tak hanya bisa bisa memainkan games saja lho, tapi mereka juga bisa ikut serta dalam membuat games-nya. Semoga kelak kian banyak generasi Indonesia yang berkontribusi di dunia digital kreatif.
 
2. Faber castle melalui Colour to Life ini secara tak langsung juga turut mengedukasi kesadaran orang tua agar tetap mengawasi anak dalam penggunaan gawai. Semoga kian banyak orang tua dan calon orang tua yang berliterasi gawai dan menerapkannya.
 
 Emak Blogger Medan ternyata ada 10 orang ya waktu itu ^_^

Akhir cerita, aku bahagia bisa berkesempatan berkenalan dan memiliki Colour to Life ini. Thank You for the invitation Faber Castle. I really appreciated it. Karena bagiku, selain bisa merasakan manfaat aktifitas mewarnai, secara personal, fasilitas mewarnai merupakan terapi suatu fase masa kecil yang harus kutuntaskan. Curhat lebih lengkapnya ada di sini :D

May Day, Mayday

Hari ini tepat dua tahun telah berlalu menurut kalender Masehi. Aku ingat ketika itu aku pikir angkot yang kunaiki akan terjebak dalam antrian panjang di jalanan kota. Mengingat hari itu adalah hari "besar" para pekerja yang sebagian besar merayakannya dengan turun ke jalan, untuk menyuarakan keadilan.
Anehnya, aku sadar kalau hari itu adalah hari libur nasional, namun aku baru sadar bahwa jalur angkot yang kunaiki akan melalui titik-titik "perayaan" beberapa saat setelah menjalani statusku sebagai penumpang. Ah, lagi-lagi pasokan oksigen ke otakku butuh dipacu dengan olahraga yang kian enggan kulakukan.
Ternyata perkiraanku meleset. Angkot yang kutumpangi mengalami rekayasa lalu lintas. Ia mengikuti perubahan jalur seperti instruksi pak polisi, hingga sama sekali tak terjebak euforia perayaan tersebut. 

Hanya kecepatannya yang melambat. Bahkan waktu  tempuh untuk melewati Jalan Adam Malik ke bundaran SIB hingga Plaza Medan Fair hari itu lebih cepat dari biasanya. Tanpa macet lampu merah yang berarti.
Sebuah awal hari yang mengesankan sebagai pemulai awal-mulamu.
Akhirnya tiba juga kami yang memiliki waktu luang dan yang meluangkan waktu. Lalu mengumpulkan diri di ruang tamu kediaman saudari kami di Jalan Sewindu.
Setelah menikmati empuknya sofa, akhirnya kami merasakan bahwa lantai lebih menggoda. Ditemani papan tulis kecil dan seperangkat alat coret-coretnya, es pentol warna warni dan bayi-bayi kucing manja yang hendak beranjak remaja. Kompilasi yang sempurna untuk merancang penampilan dan gaya berpakaianmu bukan?
Pertama-tama kami mendesain pakaianmu. Perpaduan klasik dan mode masa kini namun tetap sesuai tuntunan syariat. Begitulah kesepakatan kami. Kemudian kami memilih jenis kain yang enak untuk kau gunakan, warna yang akan kau sukai dan menunjukkan kepribadianmu, serta beberapa aksesori yang pantas untuk pakaianmu.
Selanjutnya kami menyeleksi penjahit-penjahit terbaik yang kami miliki. Mereka harus paham dengan selera yang kami inginkan dan yang paling penting bersedia dan berkomitmen untuk menyelesaikan pesanan. Menjahit pakaianmu sampai tuntas. Karena pakaian-pakaian itu yang akan kau gunakan selama 2 tahun.
Terakhir, kami memilihkan binatu terbaik untuk pakaian-pakaianmu nanti. Setelah semuanya setuju, kami menyerahkan bagian masing-masing kepada penjahit dan binatu.
Seiring berjalannya waktu, satu-persatu unit pakainmu selesai dijahit. Di bulan pertama, pesanan kami tiba tepat waktu. Lalu di bulan-bulan setelahnya ada beberapa pakaianmu yang di antar ke kediaman kami. Namun ternyata ada sebagian kancingnya yang belum terpasang. Mungkin penjahit kami melewatkannya.
Bulan selanjutnya, bagian lehernya tidak dijahit pinggir sehingga benangnya menjuntai keluar. 
Sepertinya beberapa penjahit kami sedang banyak pesanan hingga mereka cukup sibuk dan melupakan bagian tersebut.
Dan bulan-bulan selanjutnya kian banyak bagian yang tak selesai dijahit. Hingga akhirnya sebagian penjahit kami tak lagi datang mengantarkan pakaianmu. Sedangkan beberapa penjahit lain ada yang menyelesaikan beberapa pakaian yang tidak sesuai dengan gayamu, bahkan sangat jauh dari kepribadianmu, sehingga kau tak sanggup untuk memakai pakaian tersebut. Begitu pula halnya yang terjadi pada bagian binatu.
Beberapa penjahit dan binatu kami menyarankan solusi untuk mencari penjahit dan binatu yang lain. 
Kami pikir itu adalah sebuah jalan keluar yang masuk akal. namun, pencarian kami tak membuahkan hasil memuaskan, sampai akhirnya kami yang tersisa memutuskan untuk mengerjakannya sendiri. 

Beberapa dari kami memang pernah ikut kursus menjahit, sedangkan binatu, kami terbiasa mencuci sendiri. Ada yang menggunakan mesin ada juga yang manual. Menyetrika, Insya Allah kami cukup terlatih.
Dan akhirnya kami yang tersisa menangani penampilan dan gaya berpakaianmu, hingga kini. Sering ketika musim hujan tiba, kau harus bersabar menunggu sepatumu kering, atau ketika listrik sedang dipadamkan bergilir dan kami lupa menyetrika pakaianmu, kami akhirnya memilihkan pakaian yang tingkat kusutnya minimalis. Ya, beberapa bahan pakaianmu anti kusut. Hingga teman dan kenalanmu tak ada yang tahu kalau pakaianmu tidak disetrika.
Memang tak bisa dipngkiri bahwa banyak pihak yang juga ingin ambil alih melayanimu karena mereka juga adalah bagian dari keluargamu dan mereka juga memilikimu. Tak jarang yang berfikir kenapa mereka tidak dilibatkan dalam melayanimu atau mengapa mereka hanya diajak untuk sekedar menemanimu dan berbincang-bincang denganmu saja.
Yang sesungguhnya, dari lubuk hati yang paling dalam, kami selalu mengajak kalian untuk turut serta berbakti padanya. Namun sadarkah kalian kalau kalian sering mengabaikan undangan-undangan yang tak pernah alfa kami berikan sejak awal mula bahkan hingga kini? Mulai dari jenis pengabaian dengan tidak berkabar sama sekali, berkabar tiba-tiba tidak bisa membersamai, hingga yang kerap berjanji meluangkan waktu namun selalu mengingkari.
Kami, ah tidak, lebih tepatnya aku. Aku sadar dan paham bahwa tiap-tiap kita pasti memiliki prioritas dalam hidup. Mereka punya prioritas, begitu pula aku. Pun kami dan kamu.
Ketika kami memprioritaskan meraka namun ternyata kami bukanlah prioritas mereka, bukankah kami melakkan hal yang sia-sia? Sementara ada mereka-meraka lain yang ternyata memprioritaskan kami. Artinya kami telah melakukan hal yang sia-sia dengan menyia-nyiakan mereka-mereka yang lain ini. Bukankah menurtmu juga begitu?
Maka, ketika menemui masa senang, wajar jika yang kami ingat adalah mereka-meraka yang sama berjuang di masa sulit bukan?
Masa senangmu, mungkin begitu mereka menyebutnya.
Percayakah kamu, bahwa jika kita fokus mengabdikan diri pada sesuatu, baik itu hobi, kesenangan, pekerjaan, atau apapun bentuknya, akan ada saat-saat ketika kita mendapatkan sesuatu  yang bentuknya akan kita anggap sebagai bonus?
Orang lain akan melihatnya sebagai sesatu yang mewah atau luar biasa, sedangkan kita akan menganggapnya sebagai bonus. Dan ketika kita menggunakan bonus itu atas namamu, saat itulah mereka akan berkata bahwa mereka tidak diajak turut serta atau redaksi serupa hanya untuk kalangan tertentu saja atau yang itu-itu saja.
Coba pikir, apakah wajar ketika sebuah bonus ekslusif mewakili namamu diberikan kepada mereka yang memiliki catatan cacat pada penepatan janjinya? Atau pada mereka yang hanya terlihat di saat-saat kita bahagia?
Apakah kalimat-kalimatk cukup jahat sebagai manusia?
Aku hanya berusaha berpikir logis, realistis dan humanis di saat yang bersamaan. Aku yakin jika mereka berada di posisiku, sebagai manusia yang punya hati, mereka kurang lebih akan melakukan hal yang sama. Dan aku bisa mengerti cara pandang mereka karena aku juga pernah berada di posisi mereka. Maka, maukah kalian mengambil posisiku agar kalian tahu bagaimana rasanya?
Karena mau tidak mau, kami harus beregenerasi. Dengan begitu, barulah kau dikatakan hidup. Dan dua tahun adalah masa ideal untuk berganti penerus. Kami akan terus berada bersamamu, namun giliran anggota keluargamu yang lain yang akan mendesainkan gaya dan penampilanmu untuk 2 tahun kedepan.
Maka, kuralat kembali petanyaanku di atas. Maukah kalian mengambil posisi kami untuk meneruskan perjuangan dakwah Ia yang kita cinta?
May Day. Mayday.

1 Mei 2018. Dua tahun FLP Medan.


Aku dan FLP
2 Tahun FLP Medan:Apakah kepala dan kaki kita masih sehat(i)?

Blogger Medan, MPR-RI dan 4 Pilar: Bicara Baik-baik

"Kak, Tanggal 20 ada agenda?"


Berawal dari undangan via Line dari Bambang di sebuah sore di bulan April. Dan berakhir dengan kesediaanku menghadiri undangan tersebut setelah mengonfirmasi beberapa hal yang menurutku krusial. Seperti topik yang akan dibahas, karena yang mengundang adalah MPR-RI, agenda acara, dan yang juga tak kalah penting adalah lokasinya, berhubung acaranya berlangsng pada malam hari. Alhamdulillah, lokasinya di pusat kota. Artinya tak terlalu jauh dan mengkhawatirkanku yang pasti akan pulang larut.

Oh iya, Bambang, begitu aku dan beberapa teman menyapanya sejak hari pelantikan jabatannya, tak lain dan tak bukan adalah Arif, Ketua Blogger Medan periode 2018-2019.

Hari H pun tiba. Disebutkan bahwa registrasi acara dibuka sejak pukul 18.00 WIB. Aku berangkat sekitar pukul 16.40 dari rumah. Estimasi jarak dari rumah ke lokasi acara sekitar 15 menit dengan motor dan 40 menit dengan angkutan kota, sudah termasuk durasi kemacetannya jika tidak sedang hujan.

Sengaja ku berangkat lebih cepat karena memang bermaksud tiba lebih awal, berhubung seorang temanku bermaksud mengantarkan paket yang kupesan beberapa waktu lalu ke lokasi acara. Selain itu jalanan pasti akan tersendat di jam tersebut. Alasan lainnya adalah untuk mengantisipasi hujan yang  mungkin turun (tepat ketika aku akan berangkat) jika aku memilih untuk tiba tepat waktu. Yah, beberapa hari terakhir, hujan deras kerap turun setiap sore dan malam hari.

Dan apakah aku berhasil tiba seperti yang kuperkirakan? Ternyata tidak. Manusia berusaha sebaik-baiknya, Tuhan yang menentukan yang terbaik. Perjalananku cukup bergenre drama sore itu. Butuh beberapa lama bagiku untuk menanti angkutan kota yang menuju lokasi. Akhirnya yang ditunggu tiba. Begitu naik, aku disambut dengan asap rokok dari dua orang penumpang dan sang supir. Aku baru sadar kalau aku lupa membawa masker di jaketku, sedangkan masker cadangan berada di ransel yang satu lagi.

Drama berlanjut. Tiba di pertamina Yos Sudasro, Pak supir mengomandokan agar semua penumpangnya menyambung angkutan yang lain, karena ia akan berbalik arah. Padahal perjalanan belum sampai seperempatnya. Jadi aku menunggu selama itu hanya untuk diturunkan dan menunggu lagi?

Hujan mulai turun dan angkutan yang ditunggu tak kunjung tiba. Memesan Gojek pun tidak efektif karena derasnya hujan. Waktu terus berlalu. Hujan mulai reda namun masih belum kondusif untuk memesan gojek, hingga akhirnya angkutan yang langka itu muncul. Sebelumnya ku pastikan pada pak supirnya jika ia benar-benar akan menyelesaikan rutenya.

Baru tiga menit berada kembali di dalam angkutan umum, sang angkutan pun terjebak kemacetan sampai tingkat yang menjemukan. Jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Hujan telah reda, dan aku telah membuang banyak waktu dengan hasil terjebak di kemacetan. Oke, aku membuka Google map, mencari posisiku dan mengira-ngira titik pemberhentian terdekat ke lokasi. Dan aku memesan Gojek.

Aku turun dari angkutan, dan mendapati satu menit kemudian jalanan lancar, sangat lancar malah. Hingga ketika sang pengendara Gojek tiba dan sepanjang perjalanan ke Hotel Grand SwissBell, aku hanya tersenyum-senyum sendiri mengingat hal-hal yang telah kulalui. Kira-kira apakah hikmah dibalik semua drama sore ini?

Pintu lift lantai dua terbuka. Aku disambut  oleh beberapa teman Blogger Medan yang hendak turun ke lantai area parkir untuk sholat maghrib. Aku menuju meja registrasi. Sepertinya banyak yang terjebak hujan sore itu sehingga para peserta juga baru tiba. Apa mungkin cerita mereka sore itu juga bergenre drama?

Baiklah mari kita akhiri pembukaan panjang bergenre curhat ini.

Apa yang dibahas MPR RI dan Blogger Medan sebenarnya?

 

Blogger Medan Mpr-ri
Sang pewara (tebak namanya), Ibu Siti Fauziah (Kepala Biro Humas MPR-RI), dan Pak Andrianto Majid (Kepala Pengolahan Data dan Sistem Informasi, Setjen MPR-RI)

Pertanyaan ini telah mondar-mandir sejak aku mengiyakan undangan waktu itu. Informasi yang ku dapat adalah topik yang dibahas seputar media. Apakah akan membahas tentang etika bermedia sosial? Atau MPR sedang menyosialisaikan program kerjanya dan mereka butuh menggandeng blogger sebagai pendukung progjanya?

Ternyata prediksi keduaku tepat. MPR-RI menyelenggarakan kegiatan Ngobrol Bareng  Warganet memang merupakan salah satu bentuk pengaplikasian program kerjanya dalam menyosialisasikan penerapan 4 Pilar. Kegiatan ini rencananya akan dilakukan di kota-kota besar seluruh Indonesia, dan Medan adalah kota pertama.

4 Pilar? Apa itu?


Bukan kamu saja yang mulai mengerutkan wajah, aku juga. Sama sekali tak punya bayangan apa itu 4 Pilar ketika Ibu Siti Fauziah, Kepala Biro Humas MPR-RI menyebutkannya pertama kali. Ah, atau jangan-jangan hanya aku saja yang tak punya gambaran sama sekali?

Lebih lanjut dipaparkan bahwa 4 Pilar terdiri dari : Pancasila, UUD '45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Sampai di sini, aku masih mencoba menerka-nerka arah pembahasan. Sepertinya akan jadi pembahasan yang cukup serius dengan slide-slide yang membosankan. pikirku.

Tapi ternyata dugaanku meleset. Diskusi berlangsung santai dan menyenangkan. Malah sama sekali tidak ada slide-slide menjemukan seperti yang ku prediksi. Layar slide hanya berisi tampilan unggahan Instagram para peserta diskusi malam itu.

Pembahasan lebih menyangkut bagaimana selayaknya dan sebaiknya etika berinteraksi dalam menjalankan kehidupan di dunia siber. Mengingat belakangan ada banyak pihak berkepentingan yang sengaja menyebar berita-berita hoaks, sedangkan pengguna media sosial dengan mudah terpapar dan dibuat bingung dengan isu-isu yang ada.

Maka warganet dihimbau untuk cerdas dan bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan mudah percaya pada suatu berita atau langsung terhasut pada suatu isu. Teliti juga sumber lainnya. Karena jika berita yang sama dari satu sumber berbeda dengan dari sumber lainnya, maka bisa dipastikan ada yang tidak benar dengan berita tersebut. Semakin banyak referensi maka semakin baik. Begitu kira-kira inti yang disampaikan Bu Siti Fauziah.

4 Pilar
Ciee...ada yang yang terkena candid murni

Nah, mengenai bahasan 4 Pilar tadi, aku baru ngeh dan mendapatkan benang merahnya tentang apa itu sebenarnya ketika Pak Andrianto Majid, yang merupakan Kepala Bagian Pusat Data dan Informasi Setjen MPR-RI, menyinggung kata P4.

Tadinya aku berpikir kalau Istilah dan bahasan 4 Pilar ini dibuat karena kekisruhan politik yang belakangan ini kian memanas. Ternyata bukan. Pokok bahasan 4 pilar ini sudah ada sejak dahulu yang kita (kalau kamu memang seangkatan denganku), ayah ibu, dan juga kakek nenek kita, mengenalnya dengan istilah P4 yaitu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

Kalau kamu juga tidak familiar dengan P4, mungkin kamu adalah generasi yang mengenalnya dengan PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau PKN (Pendidikan Kewarganegaraan). Nah, bukankah itu merupakan mata pelajaran di sekolah?

Dengan kata lain 4 Pilar bukanlah hal yang asing bagi kita bangsa Indonesia. Nilai-nilainya pun sebenarnya telah tertanam dalam darah daging kita. Namun tak dapat dipungkiri bahwa sesuatu yang mendarah daging sekali pun, jika tak dibiasakan untuk diingat secara sadar, dan ditanamkan dalam pola pikir dan laku juga secara sadar, hal tersebut akan tertimbun oleh kebiasaan dan pengaruh lingkungan dari pemilik darah dan daging itu sendiri. Analoginya seperti tokoh Blu dalam film Rio, burung yang lupa caranya terbang karena ia terbiasa menggunakan kakinya.

Lebih jauh, Pak Andrianto Majid juga menekankan bahwa sebagai penduduk siber, kita sebaiknya berlaku bijak dalam membagikan informasi pribadi di media sosial, mengingat semakin bervariasinya bentuk kejahatan siber.

  

Blogger Medan Mpr-ri FLP Medan
Agen Ganda (FLP Medan dan Blogger Medan ) bersama Ibu Siti Fauziah

4 Fakta keren dari acara MPR-RI ngobrol bareng Blogger Medan

 

Sedikitnya ada 4 hal yang menurutku keren dari acara ini. Ini dia.

  1. Antusias peserta yang terdiri dari Blogger Medan, pegiat komunitas dan media ini luar biasa. Kalau Sang pewaranya tak pintar-pintar memotong dan mengondisikan diskusi, bisa-bisa diskusi tetap berlanjut sampai dini hari.
     
  2. Waktu tanya jawab jauh lebih panjang dari pada waktu untuk dua narasumber menyampaikan materi. Jujur, aku selalu angkat topi ketika ada acara yang berhasil memberikan waktu diskusi lebih banyak dari pada waktu penyampaian materi. Apalagi kalau nama acaranya diskusi.
     
  3. Narasumber menrutku berhasil menjawab dan menaggapi pertanyaan dan tanggapan para peserta diskusi dengan sangat baik. Meminjam redaksi bahasanya Bibeh, "Jawabannya nyambung, Kak". begitu kira-kira. Pasalnya berdasarkan pengalaman mengikuti banyak acara seminar dan diskusi, jawaban pemateri cenderung lari dari pertanyaan sebenarnya. Entah karena efek berada di depan umum, atau karena terlalu asik berbicara, atau salah menangkap maksud si penanya. Terlepas sang pematerinya menyadarinya atau tidak.
     
  4. Kesadaran dan proses meralat bahasa yang kerap dilakukan oleh Pak Andrianto Majid itu menurutku keren. Beliau mulai dan berusaha mengoreksi bahasanya secara sadar selepas seorang peserta meralat redaksi bahasa pada latar belakang panggung. Peserta itu tak lain dan tak bukan adalah Bang Anugrah Roby, ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Utara. Bang Roby menyinggung perihal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai salah satu wujud nyata dari penerapan nilai 4 Pilar. "Utamakan bahasa nasional, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing", begitu kutipnya.

Beberapa penggunaan bahasa yang beliau ralat misalnya kata online (dalam jaringan), offline (luar jaringan), netizen (warganet), dan mainstream (arus utama). Dan aku senyum-senyum sendiri ketika beliau sesekali mengoreksi dan hati-hati menggunakan pilihan kata tersebut dalam tutur katanya.

Begini sepertinya cara Allah menegurku, dengan dipertemukan pada sosok seorang Pak Andrianto Majid malam itu. Bahwa ketika diingatkan dan merasa satu kritikan dan masukan itu benar dan baik, maka adalah bijak pula untuk tak menunda-nunda memperbaikinya, apalagi sampai mengabaikannya.

Semoga saja tiap-tiap wakil rakyat kita memiliki jiwa dan laku yang seperti itu.

Tak bisa dipungkiri bahwa untuk memulai sesuatu memang tidak mudah. Namun percayalah bahwa untuk tetap konsisten itu jauh lebih sulit.


FLP Medan MPR RI 4 Pilar
FLP Medan dan Pak Andrianto Majid. Si Kyo dan Andre masih sibuk jadi juru foto di ruang sebelah

Saat ini kita menjadi penduduk di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Cerdaslah dalam bermedia, bijaklah dalam berbudaya. Jika terbentur jangan langsung bertempur. Karena kita bukan hakim. Peran kita menyeru bukan memburu, merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek. Bicara baik-baik dan baik-baik berbicara.

"Bangga sebagai bangsa yang mampu berbicara baik-baik serta baik-baik dalam berbicara, adalah Indonesia". (Randiaputra)

Tak lupa, terima kasih untuk Bambang yang telah repot-repot mengundangku. Sesungguhnya diringankan langkah menghadiri undangan ini adalah berkah untukku. Semoga menjadi amal jariyah buatmu.

Blogger Medan Mpr-ri 4 pilar
Foto bersama usai acara. Ada banyak kamera. Yang mana ka(mera)mu?

BMW Sport Akhirnya Dibawa Pulang

Kalau kamu dihadapkan pada dua situasi berikut ini,  mana yang lebih membahagiakanmu,  memenangkan lomba yang hadiahnya mobil,  atau tiba-tiba memenangkan lucky draw yang hadiahnya mobil?


Lalu,  dengan dua situasi yang sama,  manakah yang lebih membuatmu bersyukur?

Saya punya teori tersendiri mengenai orang-orang yang memenangkan sebuah lucky draw.  Sesuai dengan namanya,  lucky draw,  berfokus pada keberuntungan seseorang.

Jujur,  sepanjang hidup,  saya sendiri belum pernah memenangkan yag namanya lucky draw.  Tapi hidup saya malah selalu dikelilingi oleh orang-orang yang kerap kali mendapatkannya.  Dan dari itulah,  saya membuat teori sendiri mengenai orang-orang yg memenangkan lycky draw tsb.

Jadi guys,  menurut kesimpulan pengamatanku,  orang-orang yang memenangkan lucky draw adalah mereka-mereka yang biasanya memberikan banyak manfaat bagi manusia lainnya,  setidaknya manusia lain akan merasa begitu. Nah,  intinya,  kalau mau dapat door prise,  pastikan sobat udah ngumpulin daftar manfaat yg udah sobat berikan ke orang lain.  Hehe.

Makanya tiap kali ada orang yg dapat door prise,  saya selalu penasaran,  jenis orang yang bagaimanakah  beliau itu.  Sama penasarannya dengan seorang warga Tanjung Sari Medan bernama Hj Siti Muslimah.  Beliau beruntung sekali mendapatkan doorprise pada saat puncak acara Wiraland Family Carnival, 28 Januari 2018.  Hadiah yang dibawa pulang gak main-main, langsung dapat hadiah utamanya yaitu BMW Sport 320i.

Postingan tentang acara Wiraland ini sudah pernah saya pos di SINI.

Dan ternyata di acara puncak waktu itu, yang jadi MC adalah Alvin ‘Mamak Gardam’. Info lengkap dan acara-acara selanjutnya, bisa di cek di Wiraland.com

5 Tempat Wisata Romantis di Jogja yang Wajib Dikunjugi Saat Honeymoon

Tak terasa sebentar lagi musim liburan. Kalau sekarang? Sekarang masih musim nikah dan walimahan. Berarti gak jauh-jauh dari musim honeymoon-an. Kayak si Akak yang 3 pekan lalu baru sah punya gandengan halal. Sepekan kemudian dah terbang aja jalan-jalan di tanah Jawa. Entah kalau Jogja juga salah satu destinasinya.

Karena katanya di Yogyakarta itu banyak destinasi wisata dan tempat-tempat yang romantis. Buktinya ada banyak lagu atau puisi, bahkan novel yang diilhami oleh keromantisan kota Yogyakarta. Yang sering nonton FTV pasti setuju. Pas lah untuk yang lagi honeymoon.

Nah ini dia 5 tempat-tempat romantis yang ada di Yogyakarta. Bener gak sih Kak Ky?

Taman Pelangi


Tempat wisata Jogja
sumber:foto.metrotvnews.com
Lokasinya tak jauh dari Monumen Jogja Kembali. Di sini yang khasnya ada beraneka bentuk lampion cantik warna-warni. Ketika malam datang, suasananya pasti beda sensasinya.

Nah, Kalau malam, biasanya ada live music juga. Sambil duduk-duduk pacaran di tepi kolam menikmati pemandangan, bisa juga sambil menikmati minuman hangat. Atau kalau lagi ingin nyanyi buat sang istri atau sekedar baca puisi, bisa juga ternyata menyewa panggung yang memang udah disiapkan. Pasti seru banget itu ya kan.

Bukit Bintang


wisata romatis yogyakarta
sumber:jogjaempatroda.com
Kalau suka menikmati pemandangan dari ketinggian, di Jogja ada Bukit Bintang. Letaknya di Wonosari. Tempat ini cukup populer dikalangan anak muda karena untuk ke sini, biayanya gak mahal alias terjangkau.

Selain itu di Bukit Bintang ini juga banyak pedagang yang menawarkan makanan atau jajanan, seperti bakso, jagung bakar, mie kuah, dan masih banyak lagi. Sambil jalan-jalan malam, sambil kulineran.

Alun-Alun Kidul


tempat wisata romantis jogja
sumber:tempat.co.id
Alun-Alun Kidul, atau yang biasa disingkat jadi Alkid ini, bisa dikunjungi pada pagi dan malam hari. Menurut informasi dari laman Traveloka Aktivitas & Rekreasi, ada banyak kegiatan dan juga hiburan yang tersedia di tempat ini.

Pada pagi hari biasanya ada banyak orang yang berolah raga atau sekedar jalan-jalan santai di sini. Kalau di Medan kayak di Lapangan Merdeka kali ya. Bedanya, kalau malam, di sini ada odong-odong dan kereta lampu hias yang bisa dinaiki.

Pantai Goa Cemara


pantai romantis di jogja
sumber:sewamobildijogja.net
Nama pantai ini diambil dari pohon cemara yang memang banyak tumbuh di kawasan pantai yang saking rimbunnya hingga membentuk menyerupai goa. Meskipun terbilang tempat wisata baru, namun keindahan Pantai Goa Cemara ini sudah tersebar hingga luar Jogja juga ternyata.

Keistimewaan lain dari pantai ini adalah adanya mercusuar dengan tinggi kurang lebih 40 meter. Mercusuar ini juga dibuka untuk umum, namun dibatasi hanya dua orang saja yang boleh masuk. Yang udah halal kemana-mana berdua, langsung eksekusi lah sono.

Secret Garden Coffee and Chocolate


kafe romantis di jogja instagramable
sumber:travelingyuk.com
Setelah puas berkeliling ke tempat-tempat wisata yang memanjakan mata, maunya lanjut ke tempat yang juga memanjakan perut juga. Ada gak sih tempat kuliner tapi nuansanya tetap romantis? Ada. Coba kunjungi Secret Garden Coffee and Chocolate. Kalau dari sumber yang awak baca, tempat ini memenuhi 2 syarat tadi, tempat kuliner Jogja dan nuansanya wajib romantis.

Seperti namanya, “Secret”, tempat ini memang sedikit sulit untuk ditemukan. Berlokasi di dalam gang area Wirobrajan, Secret Garden Coffe and Chocolate menawarkan nuansa Jawa klasik dengan kombinasi bangunan gaya modern ditambah dengan adanya sebuah taman indah nan asri, menjadikan kesan romantis begitu kental.

Untuk hidangan, Secret Garden Coffe and Chocolate menawarkan beberapa macam menu andalan seperti Secret Coffe, Chocolate Secret Original, Secret Purple, Secret Nutella Roll, dan masih banyak lagi.

Selain menu andalan, ada satu menu yang menjadi primadona para pengunjung, yakni Nasi Goreng Keju.

And what about the price? No need to worry. Everything is affordable.
Soal harga tak perlu khawatir, semua menu terjangkau.

Itulah beberapa tempat wisata di Jogja yang bernuansa romantis yang cocok untuk honeymoon.

Nah, teruntuk Kakak awak yang baru balik honeymoon, dua kawan awak yang esok mau melangsungkan akad nikah, seorang kawan awak yang bakal melepas masa lajang di bulan Maret, dan sepasang kawan awak lagi yang didoakan segera sah sebelum lebaran tahun ini, bisa lah nanti mengunjungi 5 tempat romantis ini nanti kalau ke Jogya ya :D

Wiraland Family Carnival: Food Bazar Zaman Now

Akhir pekan ini kemana? Liburan? Kondangan Walimahan? Atau kulineran? Nah, yang belum ada agenda atau gak tahu mau kemana, nih ada acara di Wiraland Family Carnival. Mana tahu pulang-pulang bisa bawa BMW Sport.

 

Acara apaankah itu?


Acara ini gratis alias tidak dipungut biaya apapun, a.k.a FREE. Jadi gak ada ruginya juga sih buat dikunjungi. Selain memberikan kesempatan untuk membawa pulang hadiah BMW Sport 320i sebagai hadiah utama, Wiraland Property Group juga menyiapkan ratusan hadiah hiburan lainnya mulai dari mesin cuci, kompor gas, dispenser, rice cooker, blender, kipas angin, dan berbagai hadiah menarik lainnya.  Karena banjir hadiah, maka kesempatan pengunjung untuk bisa memenangkan berbagai hadiah tersebut tentu cukup besar.

Adapun BMW Sport 320i ini merupakan program tahunan yang sudah dipersiapkan matang oleh developer. Selama kurang lebih setahun 2017 silam, Tiap pengunjung yang berkunjung ke setiap proyek Wiraland, mulai dari Givency One (Gaperta Ujung), River Valley Residence (Sejohor Baru), Halton Place (Menteng VII), Wira Logistics Centre (Tg Morawa), Mayfair (Ngumban Surbakti), serta beberapa proyek lainnya, akan mendapatkan kupon undian mobil BMW ini. Tak pelak sebagai apresiasi pengembang terhadap kepercayaan masyarakat Kota Medan, maka pengundian BMW ini dilakukan secara akbar lewat carnival yang diadakan selama dua hari berturut-turut. 

food carnival

Wiraland Family Carnival ini sendiri nanti akan dibuka mulai tanggal 27 - 28 Januari 2018. Berturut-turut selama dua hari, event terbesar awal tahun 2018 ini akan menjadi magnet bagi masyarakat Kota Medan. Area Carnival ini sendiri dibagi dalam tiga (3) zona, yakni, Food Bazaar, Kidzone, serta Stage Area. 

 
Mengusung tema kecil “Food Bazar Zaman Now”, Carnival ini akan menghadirkan puluhan kuliner ternama Kota Medan yang siap memanjankan pengunjung yang ingin hunting dan posting di lini masa sebagai eksistensi kekinian yang sedang menjamur di berbagai media sosial. Adapun beberapa tenant yang bisa dijadikan bahan untuk hunting antara lain adalah Taipei Express, Queen Mango, Chatime, Dream Smoothie, Pedas Amsiong, Sir Thai Tea, Creeps, Soklat Banget, Kako Thai Tea, Umami, Tahu Bacok, dan masih banyak lagi food tenant yang siap memanjakan weekend Anda menjadi lebih berkualitas bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Selain bebas ber-hunting-ria aneka makanan kekinian, karena kerangka besar acara ini bertemakan Family Carnival, para pengunjung yang hadir bersama anak tak perlu khawatir, karena Area Kidzone yang sudah disiapkan akan menyuguhkan beragam permainan yang membuat anak betah berlama-lama di dalam. Sebut saja seperti Bouncy Castle. Kehadiran arena permainan ini akan membuat para mahkluk mungil ini lebih aktif dan kreatif ketika bermain. Para anak bebas untuk memilih perosotan sampai kolam bola dengan berbagai warna menarik sehingga mereka betah berlama-lama di arena.

Beralih pada stage area, sembari menikmati kudapan favorit dan menemani buah hati bermain-main bersama anak-anak lain seusianya, stage area ini akan memanjakan pengunjung dengan berbagai hiburan berkualitas yang disajikan apik dan menarik. Mulai dari Live Band Music Tribute, Magician, sampai School Performance dari berbagai sekolah dan lembaga musik ternama di Kota Medan seperti Era Musika, Medan Musik, Erna Ballet School, Batari, IPAC (Chandra Kumala), Avia Cantata, Flow Music, serta Sampoerna Academy siap memberikan warna-warni istimewa di atas panggung lewat performa istimewa talenta anak-anak mereka.

Sementara itu, Live Band Music Tribute-nya sendiri akan dimeriahkan tembang-tembang musisi papan atas seperti Koes Plus, Dewa, Chrisye, Elvis Presley, The Beatles, Bee Gees, bahkan Bon Jovi yang dibawakan apik oleh local musician band sehingga memberikan nuansa nostalgia bagi pengunjung.

Ingat dan catat tanggalnya ya, 27-28 Januari 2018, dan pastikan untuk berkunjung. Siapa tahu berjodoh dengan berbagai hadiah yang telah dipersiapkan Wiraland di sana. Info lebih lanjut, silahkan kunjungi website resminya www.wiraland.com/familycarnival (061 – 80025888)

Hamka Di Mata Sang Anak Kelima

“Ada 3 syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong. Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk berbohong. Kedua, tidak pelupa akan kebohongannya. Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran bohongnya yang pertama.”

Kutipan dari hal. 11 di atas adalah nasihat bagi pembohong, salah satu dari 3 Nasihat Buya Hamka yang di pilih Irfan Hamka untuk membuka kisah-kisahnya dengan sang Ayah, Buya Hamka.

Irfan Hamka, anak kelima Buya Hamka, di usianya yang ke 70 tahun bermaksud menerbitkan kembali sebuah buku yang sebelumnya diterbitkan oleh UHAMKA PRESS dengan judul “Kisah-kisah Abadi Bersama Ayahku”. Beliau kemudian menyampaikan niatnya ke penerbit Republika.

Gayung bersambut. Dengan beberapa penyesuaian, seperti gaya bahasa, pendalaman, dan fokus, novel ini akhirnya di beri judul “Ayah...” dengan desain wajah Buya Hamka dipilih sebagai cover buku.

Dalam buku ini, Irfan menyuguhkan para pembaca sisi lain dari Buya Hamka yang mungkin hanya diketahui oleh anggota keluarga saja. Pembaca akan diajak untuk mengenal lebih dekat sosok pribadi Buya Hamka melalui sudut pandang anaknya.

Irfan Hamka membuka ceritanya dengan mengajak pembaca bernostalgia dengan sosok Buya Hamka melaluli 3 nasihat Buya Hamka; nasihat bagi rumah tangga, nasihat bagi tetanga, dan nasihat untuk pembohong. Nasihat-nasihat ini beliau pilih karena dianggap sejak dulu hingga kini pun masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan.

Cerita dimulai dengan masa kecilnya bersama Buya, Ummi, dan saudara-saudara kandungnya. Rentetan pengalaman masa kecil Irfan, seperti kisah ayahnya yang seorang pejuang, hingga ada masa-masa di mana mereka sekeluarga harus mengungsi dengan berjalan kaki keluar-masuk hutan, pengalamannya dan adiknya, Aliyah, yang terbawa kereta api dari Bukit Tinggi hingga ke Koto Baru yang membuat panik Ummi dan amarah abang-abangnya, Dibawa pindah ke Jakarta dan tinggal di lingkungan yang berpenduduk majemuk, hingga pindah ke rumah yang sekarang di Kebayoran Baru.

Diceritakan pula bagaimana Buya Hamka mengajari anak-anaknya mengaji, menghidupkan masjid Agung (yang saat itu belum selesai dibagun) di depan rumah bersama anak-anaknya tiap Magrib, Isya dan Subuh. Lalu ada juga bagian Buya menurunkan ilmu silat Maninjaunya pada Irfan yang di kemudian hari baru terbukti keampuhannya saat Irfan menjadi Mahasiswa di masa keruntuhan Orde Lama.

Cerita berlanjut tentang dokumentasi kisah Buya Hamka berdamai dengan Inyyiak Batungkek atau Kakek Bertongkat, sebutan yang disematkan Irfan dan keluarganya untuk menyebut jin yang mendiami rumah mereka, yang tak pernah main-main.

Di bagian selanjutnya dikisahkan perjalanan naik haji Irfan bersama Buya dan Ummi dengan kapal laut Mae Alberto ditahun 1968, yang disusul dengan pengalaman perjalanan memenuhi undangan Duta Besar Indonesia dari negara-negara sekitar Jazirah Arab, yang kemudian menjadi perjalanan yang sangat mendebarkan, menguras energi sekaligus ujian terhadap kedekatan mereka dengan Sang Khalik.

Kisah perjalanan maut ini lalu diceritakan di bagian tersendiri, seperti perjalanan darat Bagdad-Mekkah (untuk mengejar kapal Mae Alberto pulang ke Indonesia) dengan mobil sepanjang 6000 km, saat-saat  melawan gulungan topan di padang pasir yang tiada habisnya, dilanjutkan perjalanan menuju Basra dengan sopir yang tertidur, hingga dikejar air bah di perjalanan menuju Mekkah.

Di bagian tujuh, Irfan menuturkan tentang sosok Ummi yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan Buya Hamka, sebagai pendamping hidup Buya, sebagai ibu bagi anak-anaknya, sebagai bagian masyarakat yang sangat cinta silaturahim, dan prinsip hidup Ummi ketika Buya ditahan.

Ada pula bagian yang menceritakan kisah si Kuning, kucing kesayangan Buya Hamka yang sangat setia hingga akhir hayatnya.

Buku biografi Buya Hamka yang sarat inspirasi ini bersih dari cacat Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Dilengkapi dengan silsilah dua keluarga besar Buya Hamka, foto kenangan, dan juga pengantar dari Dr. Taufiq Ismail.

Akhir kata, selamat membaca, selamat berkenalan dengan Buya Hamka melalui mata anak kelimanya, dan selamat meneguk makna.
Cover Buku AYah
Cover Buku "Ayah..."

Judul               : Ayah...
Penulis            : Irfan Hamka
Penerbit           : Republika Penerbit
Cetakan           : XIII, Februari 2017 
Tebal               : 323 hal. + xxviii

Resensi ini merpakan bentuk respon dari postingan Mbak Puji Widyati  dengan judul Penyihir-Penyihir di Mataku pada #KEBloggingCollab untuk kelompok Liliana Natsir .