Kuliner Medan Ala Al Nazwa Cafe yang Instagramable

Anak kampus UMSU pastinya familiar dong ya dengan Al Nazwa Cafe? Tempat nongkrong yang berlokasi hampir tepat di depan kampusnya.


Nah, ini adalah pengalaman pertama saya mengnjungi Al Nazwa. Seusai kegiatan pembekalan calon anggota FLP Medan angkatan VII, kami diserbu rasa lapar yang datang tepat pada waktu makan siang. Oleh Kyo, direkomendasikanlah Al-Nazwa Cafe ini. Kata Kyo makanannya enak-enak dengan harga standar kafe.
Suasana outdoor dengan nuansa hitam putih

Asriiiii....
Maka kami berempat – Imam, Ririn, Iyik, Kyo dan pastinya saya –pun menyambangi tempat ini. Pertama kali menginjakkan kaki, tata dekorasi tempatnya terasa unik. Ada nuansa cafe, taman, vintage, dan modern dipadu-padankan sedemikian rupa hingga terasa seperti di taman halaman rumah yang asri. Begitu kesan pertama saya ketika melewati lokasi outdoornya dengan tenda khas kafe yang bernuansa hitam putih.

Photo booth nya itu looo....
Saya mengikuti Iyik dan Kyo yang langsung menju ke lantai dua. Di antara tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua ada tempat yang sengaja disediakan untuk spot foto  yang bernuansa tanaman hijau menjalar. Berasa ada  di taman belakang rumah.  Banyak spot untuk membingkai kenangan sepertinya di sini, pikir saya.
Say cheeseeeee...
Dan benar saja, di lantai dua juga ada. Sepertinya Cafe ini sengaja menyediakan semacam photo booth dengan aneka tema. Di lantai dua ada photo booth tepat di depan tangga dan juga di dekat toilet. Hmm... Mungkin filosopinya agar tak membuat bosan pengunjung yang sedang mengantri kali ya :D. Mengantri jadi menyenangkan dengan foto-foto :D.
Kamu mau foto di mana? Di mana-mana instagramable kok
Para penggemar foto pasti tak kan melewatkan tiap spot di sini. It seems that every spot is designed for instagramable photo spot.

Kami memilih ruang VIP yang ber-AC (Ngadem sejenak setelah berpanas-panas tadi :D.).  Di ruangan ini ada pilihan  meja dengan kursi atau dengan sofa. Coba tebak kami pilih kursi atau sofa? Tentunya kami pilih yang ada mejanya. Hehe.. dan juga sofanya :D
Smoking area di lantai 2
Tak lama kemudian pramusajinya memberikan kami buku menu. Kami pun mulai menjelajahi aneka pilihan menu. Saya dan Kyo memilih Nasi Cah Jamur Daging, Imam dan Ririn memesan Nasi Ikan Bakar Dabu-dabu Manado, sedangkan Iyik menjatuhkan pilihannya pada Chicken Curry Ramen. Minumanya apa lagi kalau bukan teh manis dingin (Mandi), minuman kebangsaan orang Medan. Oh iya, Imam mencoba Choco Orange Shake.
Agak ditahan dulu hausnya ya, Mam 😁
Kurang lebih lima menit kemudian, pesanan kami akhirnya mendarat di meja. Nah, selapar-laparnya anak instagram zaman sekarang, mengabadikan foto hidangan sebelum di santap hukumnya wajib. Meminjam kata Ririn, “Kalau belum di foto, sepertinya ada rasa yang hilang”.
Nasi Cah Jamur Brokoli Daging Sapi

Nasi Ikan Bakar Dabu-dabu
Selesai sesi memotret, saatnya menimkati sajian. Dan ternyata rasanya Cah jamurnya itu gimana membahasakannya ya, kuahnya gurih, terus ada hati sapinya yang lembut, dan jamurnya itu berasa jamurnya.Kyo juga mengatakan redaksi kata yang sama. Bersamaan dengan itu Ririn dan Imam yang mencicipi Ikan bakar Dabu-dabu juga berkomentar serupa. Enak. Terus saya pun mencomot menu mereka. Daging ikannya empuk dan gurih, asinnya pas, dipadukan dengan acar rasanya jadi mau mencomot lagiπŸ˜„. Lalu bagaimana dengan Iyik beserta Ramennya? Dia sudah duluan tenggelam dalam sensasi rasa karenya ternyata :D
Chicken Curry Ramen
Nah, orang bilang, kesan pertama itu tak terlupakan. Dan kesan pertama di Al Nazwa ini adalah kulinernya enak. Sebuah kenangan yang menyenangkan. Jadi ingin untuk mencoba menu-menu lainnya. I would visit this place again and try another taste.
Ada diskonnya juga weeeeπŸ˜„
Nah, kalau kamu jalan-jalan ke Medan dan berniat untuk wisata kulineran, Al Nazwa Cafe bisa jadi referensi. Apalagi jika suka fotografi. Berlokasi di Jl. Kapt. Muchtar Basri No 1 A. Hotel di Medan atau penginapan di sekitar daerah ini juga banyak kok.  Akses ke lokasi juga cukup mudah, ada angkot 125 dan 74 yang melewati jalur ini. Atau kalau tak mau ribet naik angkot bisa pakai jasa sewa mobil di Medan.

Jadi, kapan kamu main-main ke Medan? :D

Super Affordable Style ala Nuniek Tirta

This might be the second post written in English in my blog, and would be the first time I bring about “style” as a topic to discuss.

Well, honestly I am one type of person who doesn’t really follow the latest trend of fashion. My style of fashion is more like as long as I am comfortable with what I am wearing or try to make myself comfortable with anything available in my closet at that moment (available means ready and neat to wear).

There are many times when I have to wear some clothes I rarely use since those are the only available pieces, while the usual ones have not been ironed yet :D. However, also at such times – believe it or not – there are always friends, colleagues or students who would say “Your outfit looks cool today”.  At first I thought it was sarcasm, but turned out it’s for real. Ahaha. If only they knew the reason behind that outfit choice. LOL. (you could skip this part though).

And as one of those days reoccurred a couple of weeks ago, and that “your outfit looks cool today” thing was pronounced in the morning, I was invited by rudihartoyo.com to attend a meet up session with Nuniek Tirta the next day.

That would be the second time to meet her if I agreed. The first meeting was in Clapham Collective when she became the host for a talk show #NgopiBarengTiket in which Rudi was one of the speaker. And that first impression of her brought back memory to meet her again someday. And there were the opportunity offered. So I agreed. And just when I asked about the topic, tadaa, it’s about super affordable style. A coincidence? I believe that there is no such thing in this world as coincidence. It’s a world conspiracy. :D

pertiwisoraya.com

So, exactly on Sunday morning, February 26th  2017, I arrived at Pilastro Medan located next to Merdeka Walk. That was my first time visiting that cafe. When I asked the waitress about the meet up, she smiled and showed me the way to the second floor where the #NutsMeetup was. The place felt homey with wooden furniture and decoration. Soon, I met another invited bloggers and joined their table. 
Let the show begin ^_^

Not long after that, the occasion was opened by Nuniek Tirta herself. She mostly shared about her experience in her fashion statement. The main point I caught was that everyone can be fashionable without wasting unnecessary money. In other words, to be fashionable doesn’t have to be expensive.
pertiwisoraya.com


“It’s we who buy the goods, not the goods which buy us” Said Nuniek.

From what I observed, in order to look fashionable to the latest trend, we tend to be consumptive at all time, and some people even spend more money than what they can afford. There are many times when we fail to restrain ourselves of what we want and what we need. As I do sometimes and then regret it after buying something that is actually not really needed. Is it only me or the same thing happens to you as well?

If it comes to fashion, these tips from the NutsMeetUp might help you. Well, here I made some notes of how to be fashionable in affordable style ala Nuniek Tirta.

Mindset

If we think that to be fashionable requires a lot of money, we might want to change the perfective. How about economical but fashionable? Just like one viral post in Nuniek Tirta’s instagram account about her outfit of the day. Many people thought that what she’s wearing was expensive; in fact it’s far from expensive.
Why not trying a garage sale?

It doesn’t have to be a classy boutique or a mall for shopping.  Think again, are we buying the goods or the prestige? Well, there are always alternatives. For example traditional market where prices are more rational and negotiable, waiting for midnight sale where discounts go up and prices go down, or considering a second hand goods with good quality. Ah, it reminds me that lately some friends of mine keep asking where and how I got my jackets. :D

Know your body

Find out our strength and weakness. For instance, it is better to avoid the outfit that will show a skinny body become skinnier and vice versa. Avoid the motives or patterns that could make your weakness become more visible. We also could make an attention distraction with accessories such as pin, belt, scarf, bracelet, necklace, etc.

Mix and Match

Be creative in mixing and matching the pieces of clothes, colours, patterns, and accessories. Nuniek stated that she likes to have basic colours such as black and white, because they can result in many combinations of style.

My suggestion in mixing and matching is don’t be too generous to let all the accessories used at once, even though their colour match. If you do so, you’ll become a walking accessory store. :D

Be Proper

The expression “Just be yourself” doesn’t mean that we can act the way we are in any circumstances. There are times when we need to adapt ourselves to the situation and that includes the way we dress.

Let’s say that backpack, jeans, blouse, and hiking sandals are your daily style statement for hanging out with friends, traveling, campus activity, and leisure time. But, would you change your style for a moment to appear more neatly for a job interview? Or would you be in your sweaty jersey style when proposing a woman you’d like to marry to her parents?

The point is that to dress neatly in certain occasions and circumstances show how we respect the others. In this case our fashion style shows our attitude. 
I like that unique projector :D

Beauty Investment

What comes to your mind when you read this sub title? Spa, pedicure, manicure, facial, cosmetic, skincare, or expensive? Those list were actually on my head actually before Nuniek started explaining. It’s all about our definition of what we called expensive.

“People might think that eye laser is expensive, but for me it is an investment, because it lasts for a long-term” She said. “Imagine if I choose using glasses instead, I need to change it every year, right? There it becomes more expensive.” She added.

The same goes for skin care product. Using “expensive” skin care product gives better skin result than using the cheaper one. And no matter how cheap is the make up product, the result is still good, compared to using cheaper skin care product, and expensive make up product. The second one turns out become more expensive when we recalculate.

But still the first one is expensive, right? “That is what is called investment” Nuniek stated. Because looking fresh at all time is an investment.

Well, personally, I don’t do make up and skincare product thing. It seems that these two things just don’t go easy on my skin. So up until now, I prefer a traditional-DIY- home-made skin care, such as making my own tomatoe mask, cucumber mask, etc. But I am afraid it can be called a skin care thing because it is applied infrequently, that is whenever I feel like to do it :D. For this part of example, it is better not to copy this at home :D

But this last tip from Nuniek Tirta actually changed my way of thinking about caring my own body. Since Allah gives it in good condition, it is my own duty to take care of it well, isn’t it? Who else would it be.
Photo from Nunik Tirta

Anyway, Thank you for inviting me to this occasion rudihartoyo.com ^_^. Also, I am really grateful for the sharing, Mbak Nuniek Tirta. Really appreciate it. And I hope this review would be useful for the readers as it is for myself  reminder. And please pardon me for the late review. Better late than never, isn’t it?

Berani Katakan IYA BOLEH untuk Si Kecil Bereksplorasi?

Pertama kali bertemu kakak beradik ini adalah tahun lalu di acara yang diselenggarakan DANCOW di Plaza Medan Fair. Waktu itu mereka berperan sebagai “anak dadakan” kami. Abil sebagai anak dadakan Ririn (biasanya adiknya), dan Bunga sebagai anak dadakan saya, (biasanya? Biasa apanya...Jumpa juga baru hari itu).

Setelah itu bertemu mereka telah menjadi hal yang cukup sering. Nah, Kemarin, Sabtu 4 Maret 2017 adalah kali kedua bertemu mereka kembali di tempat yang sama dalam peluncuran DANCOW Advanced Excelntri+. Deja vu? Bukan. Lebih tepatnya mengulang kenangan.

Nah, setelah mendaftar di meja registrasi, kami mendapatkan tiket masuk wahana dan voucher makan. Belajar dari pengalaman tahun lalu, kami memutuskan untk mengantarkan anak-anak dadakan kami main wahana dahulu dan mencari tempat duduk kemudian. 
pendaftaran
Dokumentasi oleh Ririn
Ketika masih di luar tadi, Bunga dan Abil bilang kalau mereka gak mau ikut mewarnai lagi seperti tahun lalu. Sedangkan Abil sempat bilang kalau dia mau mancing ikan dan main pasir pantai nanti di wahana. Seperti tahun lalu di mana dia berhasil mendapatkan ikan dari hasil pancingannya (nyeser maksudnya :D)). Mereka belum bisa move on sepertinya dari kenangan tahun lalu. Tahun ini wahanya pastinya berbeda dong.  Dan benar saja seperti yang tertera di tiket masuk wahana.

Tahun ini DANCOW Explore Your World dilengkapi dengan empat area utama, yaitu Art Center dengan aktivitas hand painting dan storytelling, Central Park yang dilengkapi degan teknologi augmented reality, Smart City di mana si kecil bisa membangun kota dengan versinya sendiri dengan menggnakan sejenis lego, Dan yang terakhir Play Park dengan aktvitas wall climbing dan Monkey Bar. Keseluruhan aktifitas ini dimaksudkan untuk mengasah kemampuan berbahasa, memperhatikan, mengingat, menyelesaikan masalah hingga motorik anak.


Dan semua wahana padat antriannya. Raameeee. Alhasil kami memutuskan untuk mencari tempat duduk dan ke wahanya nanti. :D. Nah, ternyata semua kursi sudah penuh. Huhuhu. Tinggal kursi barisan paling depan saja yang beberapa terlihat kosong. Berdampingan dengan  tempat duduk pemateri  talkshow. Akhirnya kami nekat duduk paling depan :D

Beruntung Abil dan Bunga tak jadi masuk wahana. Soalnya begitu kami duduk acara pun dimulai. Dibuka dengan mini drama musikal dengan jalan cerita dan efek pendukung yang keren. Seru deh. Ada hikmahnya juga duduk paling depan. Jadi leluasa nontonnya, bebas halangan pandangan deh. Rejeki bawa anak :D (pelajaran hari ini, duduklah paling depan, apalagi jika memiliki masalah penglihatan :D)

Pas adegan mandi hujan, suara hujannya jelas banget. Efeknya saya jadi seperti menunggu kalau bakal ada tetesan air beneran. Seperti efek nonton dengan teknologi 4D gitu. Hehe. Tapi herannya, setelah adegan hujan berhenti, suara hujannya kok malah makin kuat. Sampai tiba-tiba Abil menunjuk ke atas, “Apa itu?”. Ternyata ada drone. Jadi ternyata itu tadi bukan suara hujan melainkan suara drone. Hahaha.

Mini dramanya bercerita tentang si x dan x yang selalu didukung oleh orang tuanya untuk bereksplorasi sebebas-bebasnya di linkungannya.

“Ma, boleh mandi ujan gak?”

“Iya Boleh”

“Ma, boleh pegang kupu-kupnya gak?”

Iya, boleh.

Trus saya penasaran kalau judul dramanya adalah “IYA BOLEH” :D
Sebagian foto oleh Ririn
Dramanya seru. Jangan bagi anak-anak, saya saja ingin tahu kelanjutan setiap jalan ceritanya. Pantas saja di depan panggung yang tadinya sepi, berangsur-angsur dipadati anak-anak yang penasaran dengan pertunjukan tersebut. Lagi-lagi bersyukur dapat tempat duduk paling depan :D

Selanjutnya talkshow dipandu oleh Mbak Shahnaz Haque, artis yang paling sering jumpa dengan saya, eh, maksudnya yang paling sering saya lihat langsng tanpa perantara layar kaca dan dari jarak yang dekat pula. Setahun bisa 2 atau 3 kali berada di acara yang sama.


Begitu pula pembicaranya. Ada Mbak Ratih Ibrahim. Senang sekali melihat psikolog satu ini sekaligs sebel, karena selalu bisa buat iri untuk jadi ibu :D curhaaat. Skip.
Dokumentasi oleh Ririn
Mbak Ratih menyampaikan bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang dititipkan pada mereka yang mampu dititipkan. Maka bersykurlah mereka yang diberi kepercayaan untuk menjaga titipan-NYA.

Sementara dr. Bennie Endyarni Medise, SpA (K), dokter spesialis tumbuh kembang anak,  menegaskan 3 hal utama dari pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu nutrisi, kasih sayang dan stimulasi. Gizi yang seimbang untuk pertumbhan anak sangat penting. Karena kekurangan akan mengganggu tumbuh dan kembang anak. Begitu juga jika kelebihan nutrisi, seperti dapat mengakibatkan obesitas misalnya.

Anak yang mendapatkan cukup kasih sayang biasanya akan terlihat dari perkembangannya. Kasih sayang dalam memberikan stimulasi pada anak berdampak pada perkembangan otaknya. Salah satunya adalah memperbolehkan si Kecil bereksplorasi dengan bebas.

Dr. Bernie menuturkan bahwa berdasarkan hasil pennelitian, 80%  daya tahan tubuh terdapat di pencernaan. Dan saya adalah orang yang termasuk setuju dengan  hasil penelitian ini. Saya percaya, jika pencernaan sehat, insya Allah daya tahan tubuh juga baik sehingga tidak gampang sakit.

Pada anak, Lactobasilus rhamnosus adalah bakteri baik yang dapat menjaga saluran pernafasan dan saluran cernanya. Agar bakteri ini tetap tumbuh, bakteri ini juga perlu diberi makan, yaitu Inulin, yang kesemuanya terdapat dalam DANCOW Advanced Excelnutri+.

Jadinya, orang tua punya cukup ilmu dan alasan untuk berani mengatakan “IYA BOLEH” pada anaknya untuk berksplorasi di dunianya.

Saya sendiri sih sebenarnya termasuk tipe yang risih mendengar kata “JANGAN” atau “TIDAK BOLEH” disebutkan orang tua pada anaknya. Kata “JANGAN” selain bermakna negatif,  juga hanya akan membuat anak untuk lebih ingin tahu dan mencoba hal yang dilarangkan dengan kata “jangan” tersebut.

Ada banyak pengganti untuk kata “JANGAN” atau “TIDAK BOLEH” yang bermakna positif ataupun  sedikit saja mengandung makna negatif (less negative). Misalnya “SEBAIKNYA”, “LEBIH BAIK”, “BAGAIMANA KALAU...(berikan pilihan)”, dll.

Misalnya, “Jangan lari-lari, nanti jatuh” diganti menjadi “Hati-hati, lebih baik berjalan saja”. :D Sepele memang, namun efeknya pada perkembangan otak, cara berpikir, dan perilaku sangat luar biasa.

Jadi ayo mulai kurangi dan hindari menggunakan kata “JANGAN” dan “TIDAK BOLEH” dan beranikan diri untuk mengatakan “IYA BOLEH” pada si Kecil untuk berksplorasi:D

Seperti pada akhir talkshow, seluruh hadirin diminta berdiri untuk mengikrarkan janji untuk mengatakan “IYA BOLEH” :D

Setelah acara talkshow selesai, para blogger dan media diajak berkeliling wahana. Kami yang udah keliling duluan memilih untuk mencari wahana yang mungkin bisa dimasuki Bunga dan Abil. Kami melewati area pemerahan susu sapi sembari melihat saja. Abil dan Bunga juga memilih untuk melihat saja. Antriannya puanjaang soalnya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk masuk Smart City. Dan entah bagaimana Abil dan Bunga tak perlu mengantri lama. Aha...lagi-lagi rejeki bawa anak :D
Dokumentasi oleh Ririn
Puas bermain di Smart City, Abil dan Bunga minta es krim, sedangkan Ririn dan saya sama-sama lapar. Jadilah kami keluar arena dan memutuskan untuk mencari makanan ke lantai 3 naik lift. Ahaa...ternyata itu adalah pengalaman pertama Abil dan Bunga menggunaan lift. Seru...karena komentar mereka yang unik-unik.

“Eh, kok nggak jatuh?”

Celutuk abil saat liftnya turun satu lantai. :D Terus pas udah kelar dari lift Bunga bilang

“Kok masih goyang-goyang ya?” Ahaha.

“Nanti pulangnya naik lift lagi ya?” Kata mereka setelah makan.

“IYA BOLEH” Kata kami. Sihiyy...langsung praktek :D

Pulangnya ketika melewati arena acara lagi, disempatkan mengambil foto mereka berdua, Hasilnya malah jadi begini. Ketika sudah siap-siap pencet tombol kamera dan mereka pun sudah pasang gaya keren-keren, Bunga tiba-tiba bilang ingin buang air kecil, dan entah kenapa si Abil sontak terkekeh. Lucu sekali dirasanya. Hingga jadi beginilah ekspresi mereka yang ngeblur ditangkap kamera.
Dokumentasi oleh Ririn
Tahun depan masih bisa gandeng mereka ke acara ini lagi tak ya? Atau tangan yang digandeng pas ke sini sudah beda? :D

Jalan Jalan ke Az Zakiyah di Hari Gizi Nasional

Kapan sih hari Gizi Nasional? Ternyata Hari Gizi Nasional jatuh pada tanggal 25 Januari tiap tahunnya. Saya juga baru tahu gara-gara ikutan talkshow di peringatan Hari Gizi yang digelar oleh Az-Zakiyah Islamic School bekerja sama dengan PG/TK Balita Schooling pada Selasa, 28 Februari 2017 lalu.

Jadi ceritanya, Selasa lalu saya jadi double agent, paginya jadi bagian Az Zakiyah, menjelang siang jadi bagian Blogger Medan menggantikan Kak Rizky Nasution yang sedang ada tugas negara :D. Jadi paginya masuk dari gerbang belakang, menjelang siang masuk lagi dari gerbang depan :D. 

 
Untuk ukuran hari Selasa yang merupakan hari kerja, orang tua yang hadir cukup banyak  ternyata. Tak hanya para bunda, para ayah juga banyak yang hadir.

Ketika sampai di gerbang depan ketemu Nesia yang sering menang lomba foto, Ririn Wandes yang sering menang lomba live tweet, dan Mueza yang saya kurang tahu dia spesialisasinya apa (Gomeeen. Jarang jumpa soalnya. Dia bawa kamera digital, jadi jago foto sepertinya :D ) yang sedang antri.

Sembari menunggu antrian di meja registrasi, mmpung stand foto booth lagi sepi, disempatkan berpose untuk stok lomba foto on the spot yang berlangsung sampai jam 12 siang. Belum lagi masih ada Susan (yang lagi nyasar) yang juga spesialisasinya di bagian fotografi. Dan saya yakin pemenang lomba fotonya pasti bakal disabotase oleh anak-anak BlogM. Wkkk

Acara dimulai dengan rangkaian senam ceria. Konon semua senam ini hanya ada di Az Zakiyah saja lho. Yang bener?

Iya. Jadi ada 4 senam yang dilakukan bersama, yaitu senam dengan musik berlagu India (saya lupa nama senamnya), senam Kiyomi (kalau saya bilang) dengan musik berlagu korea, senam Kun Anta dengan versi bahasa Indonesia, dan terakhir Senam Bambam Bole yang merupakan salah satu soundtrack film 3 Idiot. Senam yang terakhir ini lebih mirip tarian dari pada senam. Seruuu.

Melihat para siswa, orang tua, guru dan undangan melakukan senam dengan bahagia, jadi ingin ikutan juga. Semoga ketika di sekolah sedang senam BamBam Bole lagi, saya juga sedang di sana dengan jadwal kosong. Aamiin :D

Nah, setelah senam, para siswa dan undangan dipersilahkan untuk minum susu MILO yang tersedia di stand MILO. Asik ya melihat balita sekecil ini mengantri. Mereka saja terbiasa mengantri dengan tertib, orang dewasa tak boleh kalah dong sama mereka. Maluuu.

Ternyata MILO-nya dingiinn...Tau aja kalau cuaca bakal cerah hari itu. Lihat ramalan caca ya paginya. Kan jadi segeeer minumnya :D

Rangkaian acara selanjutnya adalah talkshow dengan tema Aku Cinta Tubuhku. Sembari menunggu talkshow, saya main-main ke stand-stand yang ada di bawah pohon rindang. Ada stand untk donor darah dari PMI, ada stand untuk cek kesehatan dari Akbid Widya Husada, ada stand herbal HPAI, juga ada stand wirausaha anak kelas IV yang menjual aneka makanan dan minuman.

Anak-anak ini memang sudah terbiasa untuk jualan sehari-hari di sekolah. Ada-ada saja deh yang dijajakan mereka. Guru-gru di Az Zakiyah tiap hari pasti wisata kuliner di sekolah :D

Nah, pada acara talkshow, dihadirkan tiga pembicara. Pembicara pertama adalah dr. Fachri Widyanto, S.pa, M.Ked, spesialis anak yang ternyata juga adalah Kepala Yayasan dan juga merupakan orang tua salah seorang murid. (Triple agent ternyata bapak ini :D).

Dr. Fachri menegaskan pentingnya gizi seimbang pada anak. Di Indonesia kini banyak anak yang kurang gizi namun banyak pula yang kelebihan gizi, seperti makin banyaknya ditemukan kasus obesitas pada anak. Begitu ungkap dr. Fachri. Salah satu penjelasan yang sangat lekat diingatan saya karena saya tak bisa begitu sedangkan orang-orang di sekitar saya banyak yang begitu :D. “Orang golongan darah O sangat cepat sekali menyerap makanan, makanya kalau makan akan cepat berdampak pada berat badan. Cepat naiknya tapi menurunkannya setengah mati.” Begitu kata beliau.

Pemateri kedua ada Agustini, S.Si, Apt., seorang praktisi herbal. Beliau juga double agent seperti saya, bedanya beliau merangkap sebangai pemateri dan orang tua siswa :D   “Jadikanlah makanan seperti obat dan obat seperti makanan”, begitu tag line yang beliau sampaikan. Madu misalnya. Madu merupakan obat. Menjadikannya makanan sehari-hari tentunya banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh.

Pembicara terakhir adalah Fitri Ardhiani, SKM, MPH, ahli gizi. Hanya beliau nampaknya yang single agent :D. Beliau juga berbicara tentang gizi seimbang pada makan yang kita konsumsi tiap hari. Menganalogikan gizi seimbang dengan mengangkat filosopi tumpeng. Di paling dasar ada daun pisang yang melambangkan kebersihan dan kehigienisan. “Cuci tangan pakai sabun sebelum makan nampaknya sepele namun dampaknya luar biasa” Kata Bu Fitri. Di tempat teratas tumpeng merupakan bagian yang paling kecil, jika pada makanan merupakan  bagian yang di tempati oleh garam, gula dan minyak. Jadi per harinya, tubuh manusia hanya membutuhkan kurang lebih 2 sendok makan minyak, 2 sendok gula dan 2 sendok teh garam. Whaattt?

Kalau gula dan garam okelah, kalau minyak? Makan gorengan kan gak cukup satu :’). Gorengan oh gorengan.

Oiya, sembari talkshow, ternyata juga sedang berlangsung lomba masak yang diikuti oleh bunda para siswa dengan bahan dasar tahu dan tempe. Jadi beberapa saat setelah talkshow selesai, acara lomba masak juga selesai. Nah, ini saat yang paling enak, karena juri masaknya adalah ketiga pembicara, para  blogger Medan dan media, para orang tua siswa, para siswa dan semua undangan alias semua yang hadir adalah juri :D.


Dari bahan utama tahu dan tempe, para bunda ini menghasilkan steak tempe, burger tempe, gado-gado, bola-bola mie, sate tahu tempe, dan dimsum tahu. 


Kreasi para bunda ini enak-enak. Kalau saya sih jatuh cinta sama dimsum tahunya. Enaaak. Padahal biasanya tak terlalu suka.

Acara terakhir adalah pengumuman pemenang, baik doorprise, lomba foto maupun lomba masak. Dan benar intuisi saya bahwa pemenang lomba foto didominasi oleh para blogger Medan :D

Az Zakiyah Islamic Leadership School kerap kali mengadakan acara yang melibatkan siswa dan para orang tua sebagai bentuk lain dari kegiatan pembelajaran. “Tiap bulan pasti ada,” kata Siti Zubaidah S.Pdi., Kepala Divisi Pembelajaran, yang akrab disapa Bunda Zu. “Bukan kami namanya kalau belum capek.” Tambahnya lagi.  Hanya saja baru kali ini kegiatan serupa dibuka untuk umum.

Mengusung moto Sekolah yang Ramah anak Ramah Otak, Az Zakiyah menerapkan sistem pendidikan berbasis Islam dengan pendekatan Multiple Intelligent (MI). Yang saya sukai dari sistem MI adalah bahwa sekolah sadar betul bahwa tiap anak punya karakteristik yang berbeda, hingga perlakuan ke tiap anak juga berbeda. Angka tidak menjadi tolak ukur untuk ketuntasan pembelajaran karena ada banyak hal yang tak bisa diukur dengan angka. Indikator keberhasilan tak melulu soal angka bukan?

Nah, untk lebih jelasnya tentang Multiple Intelligent (MI) itu apa bisa googling deh, atau langsung saja mengunjungi Az Zakiyah di Jl. Metrologi IV Ujung, Pancing-Medan. You are Welcome there. 

Jalan-Jalan ke Pesantren Robbani Lewat Negeri Para Bintang

Tahukah kamu kalau di Medan ada pondok pesantren yang bernama Robbani? Atau hanya saya yang terlalu kudet hingga baru tahu keberadaannya setelah baca novel Negeri Para Bintang ini? Konon, dari Amplas ke lokasi bisa diakses dengan angkot 97. Begitu keterangan yang saya dapatkan di novel ini. :D

Jujur, banyak sekali hal-hal yang baru saya ketahui karena baca novel setebal 195 halaman ini. Salah tiga diantaranya adalah keberadaan ponpes Robbani, angkot 97 (sebagai angkoters yang telah malang melintang di dunia perangkotan kota Medan, setahu saya adanya M 97 :D), dan preman Amplas yang menjunjung tinggi solidaritas kampung halaman ketika memalak korbannya. Mengenai kisah preman amplas ini bisa ditemukan mulai dari halaman 166.
Form Lingkar Pena
Negeri Para Bintang
 Mengangkat lokalitas kehidupan pesantren dipadukan dengan esensi alam dan kehidupan masyarakat Siantar, Penulis, Abdillah Putra Siregar, mencoba untuk mendekatkan pembaca dengan kehidupan Rumi, putra kelahiran Siantar yang “dipaksa” menjalani kehidupan pesantren oleh ayahnya begitu lulus SMP.

Saya sangat sebal dengan karakter Rumi yang selalu mengambinghitamkan otaknya yang selalu sakit kala belajar lama-lama, hingga ia lebih mewajarkan untuk tidak belajar saja. Selalu saja cari alasan yang mengatasnamakan ketidakmampuannya atau keterbatasan otaknya untuk melegalisasikan kemalasannya. Belum lagi tabiat pasrah dan suka menunda-nundanya. Benar-benar kesal menyaksikan kelakuannya ini. Mungkin karena saya sangat mengenal perilaku-perilaku ini dalam dalam diri saya. Seperti lihat diri sendiri jadinya. Jadi rasanya sebal bukan main. OK curcolnya di skip. :`D

Bagi saya yang belum pernah  mengecap ilmu di pondok pesantren (siapa tahu di masa depan ya kan, jadi pengajarnya atau istri pengajarnya atau menantu pengajarnya atau malah jadi pendirinya. Aamiin :D) dan pengetahuan bahasa Arab yang sangat luar biasa terbatas, hanya bisa menebak-nebak kira-kira – seperti juga halnya Rumi – apa yang para ustadz itu tanyakan dan katakan ketika mewanwancarai Rumi pada saat ujian, atau yang dikatakan Ustadz Fahri saat Rumi terlambat mengikuti kelas gara-gara ia tidur setelah sholat subuh. Soalnya pakai bahasa Arab.

Hal yang unik menurut saya adalah titik balik seorang Maulana Jalaluddin Rumi yang memutuskan untuk berubah dengan mencari tahu siapakah sebenarnya orang yang namanya diadopsi bulat-bulat oleh orang tuanya hingga kini menjadi namanya. Banyak orang yang tahu makna namanya sejak ia kecil, namun banyak pula mereka yang baru tahu makna namanya ketika jatah hidupnya telah lama ia hirup. Betapa benar sebuah nama adalah doa, hingga ia bisa merubah kehidupan pemiliknya. Jika mereka katakan apalah arti sebuah nama, saya pastinya tak termasuk dalam perserikatan mereka :D 

Oh iya, saya tidak tahu dengan kamu. Tetapi pada lembar awal novel ini, saya sering harus membaca paling tidak dua kali ketika bertemu dengan frasa “calon santri”. Pasalnya selalu terbaca “calon istri”. Mungkin karena saat itu saya membaca novel ini sambil dalam perjalanan ke walimatul ursy teman saya. Jadi eagak-agak terpengaruh kosa kata alam bawah sadar sepertinya. Padahal hingga akhir novel tak ada satupun kata “calon istri”. :D

Nah kalau kamu? Ataukah kamu malah terperangkap membaca “calon santri” menjadi “calon istri” setelah membaca tulisan review ini? :D 

Nah, terlepas dari pertanyaan itu, yang iyanya, setelah baca novel ini, saya jadi ingin jalan-jalan ke Ponpes Robbani ini. Kira-kira kalau dari Aksara, angkot berapa yang sampai ke sana ya? :D

Gara-gara #MedanBlogFest : Kuliner Medan ini (Ternyata) Terkenal

Kok Bisa? Emang #MedanBlogFest itu apaan, Kak? Kayak Medan Fashion Week Gitu ya?

Ahai, bukan bukan. #MedanBlogFest itu sejenis festival buat para blogger di Medan. Kegiatan ini merupakan gawean Blogger Medan sebagai rangkaian acara anniversary Bloger Medan yang ke 2. Mengusung Judul “BLOG FEST 2 YOU” pada Medan Blog Fest ini, Blogger Medan atau akrabnya disapa BLOG-M berupaya untuk mengenalkan  Medan ke seluruh penjuru dunia.

Wew...Dunia deng. Emang kegiatannya ngapain aja Kak?

Nah, kegiatannya buanyak. Rangakaian acaranya dimulai sejak Desember 2016 hingga puncaknya Februari 2017. Di bulan Desember Blogger Medan Jalan-jajan. Jalan-jalan sambil menyambangi kuliner Medan (yang ternyata) antik, dan juga Jalan-jalan sambil belajar di wisata Mangrove.

Sedangkan di bulan Januari, Blogger Medan featuring beberapa komunitas akan mengunjungi beberapa sekolah di Medan untuk edukaasi seputar internet, menulis, doodling dan juga blog. Nah, kamu kemarin katanya mau belajar doodling ya kan?        

Waaa....Ke sekolah aku juga dong Kaaaak. Plis Plis Pliiis.

Kamu kan 4 tahun lalu udah tamat Dek Manis. --_--

Aiiyaa Kakak, Kan jadi ketauan range umur Awak. Yaudah la, Awak mengalihkan pembicaraan aja. Jadi gimana tadi ceritanya kok bisa gara-gara Medan Blog Fest ini, ada kuliner Medan yang jadi terkenal?

Well, sebenarnya sebelum ada Medan Blog Fest, kuliner yang akan kita bahas ini emang udah terkenal sih. Tapi ya gara-gara ada Medan Blog Fest, pasti menyebabkan mereka tambah terkenal, secara yang ikutan acaranya bakal nulis di blog atau di sosial media. Ya Kan?

Tapi bedanya buat saya adalah, that I don’t even know that they are this famous. Sama sekali tak tahu kalau para makanan ini ternyata seterkenal ini. Jadi gara-gara ikutan Medan Blog Fest inilah baru tahu. (A..Ha..Ha..) Satu lagi bukti nyata benarnya  artikel saya sebelumnya bahwa Blogger Medan Membunuhmu Pelan-Pelan.

Waa... ternyata Kakak katrok juga ya (Kok Awak merasa agak-agak bahagia ya.)

Ehem... Mau gelar “Dek Manis” nya di pensiunkan dini ya?

Waa...ampun Kak. Hehe. Tapi Awak jadi penasaran, Jangan-jangan kuliner yang yang bagi Awak nge-hits banget sejak dulu ini, Kakak juga belum pernah coba, or worse, belum pernah dengar.  OMG.

Apaan Emang?

Maidanii Pancake Durian


Aha, Maidanii rupanya. Yang di samping Bandrek Sahib kan? Kalau ini mah, udah sering dengar, udah beberapa kalai nongkrong di kafenya malah, lewat depan kafenya pun bisa dibilang hampir tiap hari. Secara angkot Kakak pasti lewat. Kan kosan Kakak berada di jalan yang sama, Jl. HM Yamin. Dekat Pula. Jalan kaki juga nyampek ^_^.

Hmm, Jadi bagi Dek Manis Maidanii Pancake Durian ini ngehits ya?

Iya Kak. Pertama kali ke Kafenya bahkan ketika masih di Jl. Perjuangan. Waktu itu Ramadhan, dan kami bareng temen kantor bela-belain jam 5 reservasi tempat, takut gak dapat tempat. Nah di situlah pertama kali nyobain pancake duriannya.

Sebelumnya Awak gak suka pancake durian Kak, karena pernah nyobain ntah di mana (lupa) dan rasanya aneh menurut Awak. Tapi waktu nyobain pancake duriannya Maidanii, barulah Awak ngerti kenapa tag linenya “Lumer di Mulut Pecah di Lidah”, karena pas dimakan emang begitulah sensasi rasanya.        

Photo by Maidanii Pancake Durian
Sejak itu, Maidanii Pancake Durian jadi makanan kesukaan Awak no 2 setelah makanan kesukaan Awak no 1 yaitu durian.  Hehe. Rasanya juga ada yang coklat, strawberry, dan  pandan. Tapi Awak lebih suka yang original. Lebih terasa duriannya.

Menurut Awak sih, di Medan ini yang ngaku penyuka durian, kayaknya gak ada yang belum pernah dengar Maidanii Pancake sih Kak. Kalau pun aksenya jauh, kayak temen Awak di Martubung sana, Ia pakai jasa layanan Go Food waktu semua orang di timelinenya pada ngomongin tentang Sop Durian Maidanii. Mungkin gara-gara tulisan Kakak tentang Sop Durian Muliner Khas Medan ini. 

Iya terakhir kali Kakak ke sana, emang bener banyak abang-abang Gojek yang bolak balik ngantri. Kebetulan waktu itu duduk dekat bagian kasir, jadi terdengar juga yang dipesan para abang Gojek itu. Selain menu durian banyak juga yang pesan nasi goreng, ayam penyet dan ifu mie. Karena di Maidani Pancake Durian gak hanya jual yang ada duriannya.

Nah, Kalau Maidanii Pancake Durian kan udah terkenal, Awak udah kenal lama dan Kakak juga udah lama kenal. Lalu gimana cerita si para kuliner yang gara-gara Kakak ikut Medan Blog Fest, Kakak baru tau kalau mereka ternyata terkenal? Makanan apa sih mereka itu? Jangan-jangan emang cuma Kakak aja yang gak tahu? (evil)

Ahai...bisa jadi :D. Bisa jadi kamu juga gak tahu kalau mereka-mereka ini terkenal. Baiklah siap-siapin pop corn atau camilan ya. Pintu teater 4 telah dibuka. :D

Jadi begini, Minggu Sore, 4 Desember 2016, tepat jam 2, Kakak menginjakkan kaki di samping Masjid Raya. Berdasarkan pengummannya sih titik Kumpulnya di sana jam 2. But I saw no sign of Blogger Medan there. Tak ada tanda-tanda adanya wajah anak Blog M. Jadi Kakak pun jalan-jalan lah dulu. Tak lama ada sosok yang penampakannya seperti Wina berkelebat dengan motonya. Aih, ternyata memang Wina. Singkat cerita, Kakak pun diangkut ke TPA (Titik Perkumplan Awal) sebenarnya. Ternyata beberapa personil udah ngetem di dekat tempat yang entah apa disebutnya ini. Dekat tempat orang-orang berjualan di samping Masjid Raya.

“Rujaknya di mana?”

Pertanyaan yang pertama kali Kakak tanya ketika tiba. Karena sore itu agendanya adalah menyambangi Rujak Kolam dan Bika Padang. Nah, ini dia 2 kuliner legendaris yang Kakak baru tahu kalau mereka ternyata terkenal.

Satu-persatu peserta tiba di lokasi, makin lama makin ramai, seramai gumpalan awan kelabu di atas kepala kami, makin lama makin hitam memberat. Mendung menggantung dan angin mulai membawa aroma hujan.

Setelah daftar hadir terisi, name tag telah terdistribusi, dan tiba saat untuk pergi beraksi, saat itu pula rinai hujan memilih untuk memeluk bumi, hingga kami pun mengungsi ke tenda-tenda yang telah tersedia bukan untuk kami.

“Kami numpang teduh ya, Pak”

Allahumma Soyyaban Naafi’an

Bika Padang (Tek Bika)


Mungkin sekitar sepluh menit berlalu dan hujan telah reda. Konvoi pun dimulai. Tujuan pertama adalah Bika Padang.

Loh Kok konvoi kak? Kakak kan tadi naik angkot?

Iya, dibonceng Kak Ririn. Sukurnya sore itu Ia tak naik angkot juga berhubung SIM-nya sedang diurus.

Baiklah, kembali lagi ke Bika Padang. Sesampainya di lokasi yang dimaksud, kembali hujan menyapa kami di sana. Kami pun berteduh kembali sambil bercengkrama dan kemudian secara tak sengaja mewawancarai yang patut diwawancarai.

Allahumma Soyyaban Naafi’an
Lokasi Tek Bika

Dan saya baru sadar ternyata tempat Bika Padang ini sering dilewati, bahkan baru saja di lewati, berhubung angkot 41 yang membawaku dari Aksara ke Masjid Raja memang lewat jalur ini. Jl. Amaliun. Letaknya disebelah Gg. Damai. Dan Kakak ingat pernah beli kue di sini sekitar setahun lalu bersama rekan kerja ketika kami lewat. Ya ampuunn... ternyata udah pernah makan, tapi tak tahu yang di makan itu adalah sesuatu yang antik :D

Maksudnya antik  Kak?  

Antik karena makanan ini aslinya bukanlah dari Medan, tapi Padang. Antik Karena makanan ini sudah ada sejak puluhan tahun, kurang lebih 25 tahun di Medan. Antik karena resepnya turun-temurun. Antik karena cara pembuatannya benar-benar antik, masih menggunakan cara memasak secara tradisional. Antik karena alat masaknya juga antik. Alat masaknya pasti tak ada di jual dipasaran, melainkan dimodifikasi sendiri.
Atas bawah pakai sabut kelapa euy 

Selain itu bahan bakarnya juga antic. Tak banyak yang memakai sabut kelapa sebagai bahan bakar. Bahkan untuk yang dikatakan cara memasak tradisional pun, orang lebih sering memakai arang dan kayu bakar. Tapi sabut kelapa, benar-benar mengingatkanku pada acara masak-masak jaman dulu.

Waa...pantesan dikatakan antik. Be Te We Kak, namanya memang Bika Padang?
Bu Normalis (yang kanan pastinya ^_^)

Kalau kata Buk Normalis (pemilik usaha Kue Bika) di Padang, tepatnya di Kutabaru, Bika ini disebut Bika Mariana. Kalua di Medan Namanya Bika Normalis, sesuai nama penjualnya, tapi orang lebih mengenalnya dengan Tek Bika.

Ooo... Terus bahan dan cara pembuatan Bika Padang gimana Kak?
Penampakan Bika Padang

Bika Padang baik wujud maupun rasanya sangat berbeda dengan bika yang biasa kita kenal, Bika Ambon. Bika Padang ini terbuat dari tepung beras, kelapa, gula, air, vanili, sedikit pengembang dan garam. Perbandingannya untuk 1 kg tepung adalah 1 kg gula, dan 3 kg kelapa (Oiya, kelapanya harus bebas dari yang hitam-hitam kulit kelapanya ya). Bisa untuk 80 porsi.

Cara memasaknya juga sangat mudah. Buk Normalis bilang, campurkan saja semua bahan lalu aduk hingga rata. Setelah itu bagi-bagi adonan ke wadah yang dialasi daun pisang yang telah dibentuk mangkok. Panggang selama 15 menit. Panas api dari atas dan bawah belanga harus sama kuat agar tak ada yang gosong atau kurang masak.
Cara Makannya disarankan seperti Kakak ini ya... Sambil duduk dan pakai tangan kanan :D

Aseek...Ntar lagi kan Kakak pulang kampung. Buat yok Kak?

Ayok...Bahannya lengkap di rumah. Soal rasanya dijamin lah. Dijamin beda dengan aslinya. Hehe. Secara yang buat beda tangannya :D

Nah, kalau ingin rasa aslinya langsung aja ke tempatnya Tek Bika di Jl. Amaliun di samping Gg. Damai. Harga per porsinya Rp. 2000,- saja. Buka mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Kalau mau pesan juga bisa dengan Bang Ilham (085358959042).

Hmmm...Awak ngerasa aslinya dulu atau ngerasa buatan Kakak dulu ya? :D Baiklah...sudah diputuskan. Awak akan dengerin cerita lanjutan Kakak dulu aja tentang kuliner yang satu lagi. Rujak Kolam ya kan?

Gitu pun boleh.

Rujak Kolam Takano Juo


Setelah pamit dengan Buk Normalis, Bang Ilham dan para bapak yang duduk bareng tadi, Kami Lajut ke TKP selanjutnya, Rujak Kolam Takano Juo, setelah sebelumnya menitipkan motor di garasinya Amel lalu Jalan kaki Ke Masjid Raya buat menunaikan sholat Ashar. Jadi ceritanya Lokasi Rujak Takano Juo ini di antara Masjid Raya dan Rumah Amel dan di belakang kolam yang dulunya merupakan tempat mandi para keluraga kerajaan Deli.

Di deretan jalan itu ada beberapa penjual rujak. Rujak Takano Juo ini berada di paling pinggir persimpangan, yang pertama kali ketemu kalau dari persimpangan Masjid raya.
Buahnya buanyaak

Takano Juo itu bahasa padang ya kan Kak? Kalau diartikan satu-satu jadinya terkenang juga.Hehe.

Yups, benar, emang ini rujaknya yang punya orang Padang. Kalau kata ibu pemiliknya, Takano Juo itu kalau dibahasa-Medan-kan jadinya “Teringat Aja” alias gak lupa-lupa a.k.a tak terlupakan.

Entah kenapa sore itu ungkapan Inggris ini terasa banget. Pick up the rain. Yang kalau dibahasa-Indonesiakan jadi panjang kali lebar artinya. Pas pergi cuaca aman-aman walaupun udah mau hujan, dan pas udah sampai tempat tujuan barulah hujannya turun sederas-deranya. Kira-kira begitu artinya. Pas balik dari Masjid Raya aman, pas udah nyampek di Rujak Takano Juo barulah hujan kembali melepas rindnya pada kami. Deras.

Allahumma Soyyaban Naafi’an
Hujan tetap setia menemani yang setia mengantri kok

Makin hujan malah makin ramai

Namun derasnya hujan tak menyurutkan ramainya antrian untuk mendapatkan rujak legendaris ini.

Kok segitunya ya ngantri rujak Kak. Enak kali apa sih?

Hmm...Kakak pun penasaran. Apakah sebanding perjuangan mendapatkannya dengan rasa yang didapatkan? Dan jawabannya I, Ye, A. IYA. It’s worth it. Sepadan. Kalau Kakak sih ya, suka sama bumbunya. Enak. Baru kali ini mau mengganyang bumbunya doang. Biasanya kalau makan rujak pasti request ke penjualnya agar bumbunya dikiiiit aja, atau gak usah pakai bumbu sekalian.

Kalau gak pakai bumbu rujak namanya ya bukan rujak kali Ka’e...
Bumbunya khas bentuk dan rasanya

Bumbu rujak ini dibuat dari cabai, bawang, terasi, kacang tanah, gula aren, garam dan pisang batu, yang digiling dengan batu gilingan. kuahnya kental, terus kacangnya ada yang digiling halus ada yang agak kasar dan ada yang tak digiling sama sekali. 
Ini Enak. Udah Itu aja :D
Buahnya apa aja Kak?

Buahnya macam-macam. Ada jambu kelutuk, jambu air, kedondong, mangga, timun, nenas, bengkoang, belimbing dan papaya. Rasa buah yang paling disukai saat itu rasa jambu air dan nenasnya. Manis. Mood waktu itu lagi tertarik dengan yang berair dan manis. Dan ketika Mood bertemu dengan kesempatan yang berbalut ranumnya cuaca, inginnya jadi berlama-lama. Maka, ketika teman-teman yang lain udah pada selesai makan dan mulai ikutan games buat mendapatkan stempel, Kakak masih asik melicinkan daun pisangnya dari bumbu rujaknya.

Games-nya ngapain Kak?
Lupa nanya nama Ibu penjualnya siapa. Gomen.

Para peserta tur harus mengambil satu gulungan kertas yang berisi pertanyaan seputar Rujak Takano Juo. Peserta dipersilahkan menanyakan jawabannya pada Ibu pemilik usaha rujak Takano Juo. Pertanyaannya beda-beda. Dan pertanyaan yang Kakak dapat adalah “Buah apa yang paling diminati pelanggan?” Coba tebak apa.

Apa ya, Kalau  Awak liat fotonya yang paling banyak jambu air dan nenas. Hehe.

Sihiy...Dek Manis cerdas ^_^. Yap benar. Ibu penjualnya juga bilang begitu.

Siapa dulu Kakaknya :D. Oiya Kak, harga seporsinya berapaan?

Untuk 1 porsi dibandrol Rp. 18.000,- dan itu porsinya banyak kalau untuk 1 orang. Kalau mau ke sana baiknya selain hari Jum’at, tutup. Buka mulai jam 10 pagi sampai jam 11 malam.
2 saja ikhlas :D

Teringatnya kok Kakak dapat 2 stempel? Kan gamesnya 1 kali?

Jadi harusnya diakhir acara dapat 3 stempel kalau mengikuti selurh rangkaian kegiatan. Dapat 1 stempel karena ikut ke Tek Bika, dapat 1 stempel lagi kalau jawaban gamesnya benar, dan dapat 1 stempel lagi kalau upload foto (selfie) di lokasi yang ditentukan panitia di akun instagram. Dan Kakak ikhlas dua saja cukup, berhubung sedang fakir kuota saat itu. Lagian kalau pun dapat zakat wifi, pasti bukan foto selfi diriku yang terupload. Never.
Everyone looked happy

Jadi acara Blogger Medan Jalan-jajan hari itu ditutup dengan foto bareng menjelang magrib.
Perjuangan dapat scene ini puanjang. Akhirnya... :D

Dan kakak-Kakak ini berhasil menemukan kesenangannya di penghujung senja.

Ke Mangrove Kakak ikut?

Inginya turut. Tapi udah keburu dicarter buat jadi Tim Amin FLP ke binjai  di waktu yang sama. Semoga lain kali bisa ikutan wisata bareng Medan Wisata :D

Berarti selanjutnya rangkaian acara Medan Blog Fest 2 You adalah Blogger Medan Road to School. Akankah kita bertemu di sekolah Kamu? :D

Catatan: Dek Manis di cerita ini tidak sama dengan Dek Manis nya FLP Medan ya :D