Seharian Desain Canva lewat HP? Gejala Mata Kering Jangan Disepelein
Kalau ada yang bilang mendesain itu menyenangkan, kreatif, dan bikin lupa waktu, maka sesungguhnya aku tidak termasuk golongan itu. Karena aku cuma ada di golongan makan waktunya saja. Makan waktu ya, bukan lupa waktu.
Sejak dulu, mendesain justru sering mendatangkan stres buatku. Sekarang pun masih begitu.
Memang, sejak ada Canva, urusan dunia perdesainan terasa jauh lebih mudah. Kalau kata sejuta umat, Canva itu gampang, cepat, dan praktis. Untuk bagian gampang dan mudah, aku setuju. Tapi kalau dibilang cepat? Bagiku belum tentu. 🤭
Masalahnya memang bukan di Canvanya Tapi ya di akunya yang dari sononya memang tidak suka mendesain. Tapi ya mau bagaimana lagi? Ada tuntutan pekerjaan dan kegiatan yang membuatku mau tidak mau harus berhadapan dengan desain. Salah satunya ketika harus membuat desain konten Instagram untuk FLP Sumut. Jadi meskipun tidak suka, ya tetap digeluti juga.
Yang Cepat Itu Kalau Templatnya Sudah Jadi
Kalau desainnya sudah punya templat tetap, nah, itu baru aku bisa bilang Canva benar-benar terasa cepat dan praktis. Tinggal mengganti nama, dan foto, sunting sedikit informasi, rapikan seperlunya. Sudah. Beres.
Tapi coba kalau harus mendesain dari nol? Dah lah. Bisa seharian😭. Perjuangannya bahkan dimulai sebelum Canva dibuka.
Aku harus mencari inspirasi dulu. Lihat desain orang. Cari referensi. Simpan beberapa contoh. Lihat lagi. Cari yang lain. Simpan lagi. Dan tiba-tiba referensinya sudah menggunung saja.
Bukannya semakin mudah menentukan pilihan, aku malah semakin bingung. Yang ini bagus. Yang itu juga bagus. Kalau pakai konsep ini bagaimana? Eh, tadi ada yang lebih cocok. Akhirnya bukannya desain yang jadi, malah kepala yang penuh.
Setelah itu baru masuk ke urusan printilan. Font-nya apa? Pasangannya yang mana? Warnanya apa saja? Ukuran judulnya? Fotonya diletakkan di mana? Jarak antar-elemen bagaimana? Pakai ornamen apa tidak? Dan kawan-kawannya.
Hal-hal kecil seperti itu kalau dikumpulkan ternyata bisa menghabiskan waktu dan energi yang lumayan besar.
Jadi kalau kemudian aku bilang bisa seharian menatap HP karena desain Canva, jangan bayangkan aku sedang menikmati kegiatan kreatif yang menyenangkan. Justru aku sedang berjuang menyelesaikan sesuatu yang memang harus selesai. 😂
Mata Ikut Jadi Korban
Proses desain seperti itu membuatku bisa berkali-kali melihat layar dalam waktu lama.
Mencari inspirasi. Membuka Canva. Memperbesar desain. Memperkecil. Membandingkan warna. Membaca teks. Mengatur posisi. Mengecek ulang. Terutama EYD-nya.
Bisa juga nanti jadi kembali mencari referensi karena tiba-tiba merasa desainnya kurang bagus. Gawat kali aku kan. 😌
Kalau sedang benar-benar mengejar pekerjaan, aktivitas seperti ini bisa berlangsung dari pagi sampai malam.
Dan ketika mata mulai terasa sepet, lelah, berair, atau area sekitar alis mulai terasa berat, biasanya aku langsung sadar: "Kayaknya mataku sudah cukup kerja keras hari ini."
Masalahnya, kesadaran itu kadang datang ketika desainnya belum selesai. Jadilah dilema lagi. Mau berhenti, tanggung. Mau lanjut, mata sudah protes. Dan di situlah kemudian muncul rasa khawatir.
Aku mulai merasa mungkin mata sudah terlalu lama dipaksa bekerja. Kadang rasa lelah itu juga membuat mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.
Akhirnya pekerjaan desain yang seharusnya tinggal sedikit malah terasa semakin melelahkan.
Jadi, walaupun gejalanya terasa sepele, ternyata pengaruhnya terhadap aktivitas cukup nyata. Yang tadinya fokus memikirkan desain, akhirnya sebagian perhatian justru pindah ke mata. Kok mulai sepet, ya? Kok berair? Apa aku sudah terlalu lama lihat layar?
Dan bukannya pekerjaan cepat selesai, aku malah jadi harus mengambil jeda. SePeLe, tetapi bikin kerjaan ikut tersendat.
Ternyata Mata Kering Bisa Terasa Seperti Ini
Sebelumnya aku juga sempat berpikir bahwa mata kering itu ya mata yang benar-benar tidak berair. Ternyata tidak sesederhana itu.
National Eye Institute menjelaskan bahwa dry eye atau mata kering dapat terjadi ketika mata tidak menghasilkan air mata yang cukup atau air mata tidak bekerja dengan baik untuk menjaga permukaan mata tetap nyaman. Keluhannya bisa berupa rasa kering atau seperti ada benda asing, sensasi terbakar atau perih, mata merah, sensitif terhadap cahaya, hingga penglihatan yang terasa kabur.
Menariknya, mata kering juga dapat disertai mata berair. Halodoc juga menjelaskan bahwa mata berair dapat menjadi salah satu gejala yang muncul pada kondisi mata kering. Jadi, mata yang tiba-tiba berair tidak otomatis berarti permukaan mata sedang baik-baik saja. Ini yang sekarang membuatku lebih memperhatikan kondisi mata.
Kalau sedang melihat layar lalu tiba-tiba keluar air mata, kini aku tidak langsung berpikir, "Oh, berarti mataku aman karena masih bisa berair mata". Aku malah was-was.
Aku justru melihat apakah ada gejala lain yang menyertai, seperti sepet, perih, lelah, atau sulit fokus.
Kenapa Menatap Layar Lama Bisa Membuat Mata Tidak Nyaman?
Salah satu masalahnya adalah ketika kita terlalu fokus pada suatu aktivitas, frekuensi berkedip bisa berkurang.
Dan aku merasa ini sangat relevan dengan aktivitas desain.
Bayangkan ketika sedang memperhatikan apakah tulisan sudah sejajar. Kita fokus. Apakah warna ini cocok? Fokus lagi. Foto ini terlalu besar atau tidak? Zoom. Font-nya kurang pas? Ganti. Posisinya agak miring? Geser.
Belum lagi kalau sedang membandingkan beberapa referensi desain. Dalam kondisi seperti itu, rasanya mata memang jarang diajak santai ya.
Situs resmi Insto juga menyebut aktivitas yang membuat seseorang jarang berkedip karena terlalu fokus, termasuk membaca dan menggunakan layar, dapat memicu gejala mata kering.
Karena itu, salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memberikan jeda secara berkala dan mengingatkan diri untuk berkedip.
Aku sendiri juga mencoba menerapkan aturan 20-20-20. Maksudnya setelah sekitar 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau kurang lebih 6 meter.
Masalahnya, baru ingatnya itu sering setelah mata sudah protes duluan. Wkwkwk.
Berapa Lama Screen Time yang Aman?
Sebagai orang dewasa, aku sempat penasaran, sebenarnya berapa lama sih batas aman menatap layar?
Ternyata tidak ada satu angka universal yang bisa diberlakukan untuk semua orang dewasa. Apalagi kalau layar memang menjadi bagian dari pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
Yang lebih penting adalah bagaimana penggunaan layar dikelola: memberikan jeda, tetap aktif bergerak, menjaga tidur, memperhatikan pencahayaan dan posisi, serta tidak mengabaikan keluhan ketika mata mulai terasa tidak nyaman.
National Eye Institute juga menyarankan membatasi waktu menatap layar dan mengambil jeda dari layar sebagai salah satu langkah yang dapat membantu ketika mengalami mata kering.
Untuk anak-anak, pendekatannya berbeda.
American Academy of Pediatrics menganjurkan keluarga membuat Family Media Plan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Penggunaan layar sebaiknya tidak sampai mengambil alih waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, bermain, hobi, maupun interaksi keluarga.
Jadi, untuk anak-anak pun pertanyaannya bukan sekadar,
"Sudah berapa jam main HP?"
tapi juga,
"Apa yang sudah tergantikan karena terlalu lama menggunakan layar?"
Menurutku ini jauh lebih masuk akal daripada sekadar mengejar satu angka tertentu.
Kalau Mata Mulai Lelah, Aku Biasanya Ngapain?
Kadang mata ku pejamkan sebentar. Kadang juga bisa ketiduran kalau kelamaan🤭.
Aku juga cukup sering melakukan pijat mata dan senam mata yang sebelumnya pernah ku tulis di blog. Buatku pribadi, ini cukup membantu. Area sekitar mata terasa lebih rileks. Rasa berat di sekitar alis dan rasa agak pening juga biasanya berkurang.
Tentu saja ini bukan klaim kalau pijat atau senam mata bisa jadi obat untuk mata kering atau cara memperbaiki ukuran silinder ya. Ini lebih kepada kebiasaan pribadiku sih. Karena kegiatan ini membuat mataku terasa lebih rileks setelah terlalu lama berkonsentrasi pada layar.
Ternyata Insto Dry Eyes Sudah Lama Ada di Rumah
![]() |
| Hasil bongkar-bongkar laci dan menemukanmu🤭 |
Perjalananku sampai akhirnya mencoba Insto Dry Eyes ternyata tidak dimulai dari beberapa waktu lalu.
Aku sebenarnya sudah punya produk ini sejak 2025. Waktu itu aku membelinya di Indomaret Aek Loba karena ada kebutuhan untuk sebuah proyek pekerjaan. Harganya ku ingat 16 ribu karena lagi ada promo waktu itu. Kalau sekarang dicek lagi harganya sekitar 17.900 sih di sini.
Nah, saat itu kondisinya lain memang. Waktu itu aku belum merasa mengalami gejala mata kering seperti yang mulai sering kurasakan akhir-akhir ini. Paling hanya mata lelah setelah beraktivitas. Jadi, setelah dibeli, Insto Dry Eyes itu cuma aku anggurin begitu saja. Tak pernah ku uji coba. Segelnya pun belum dibuka.
Sampai beberapa bulan belakangan ini aku mulai merasa kondisi mataku agak berbeda. Kadang sepet, sering berair, dan cepat lelah. Area sekitar alis juga bisa terasa berat, terutama setelah terlalu lama menatap layar. Tak jarang pun rasanya mata seperti kehilangan tenaga untuk mempertahankan fokus pada satu titik.
Nah, dari sinilah aku akhirnya teringat pada botol Insto Dry Eyes yang selama ini tersimpan di rumah.
"Eh, aku kan punya stok Insto Dry Eyes"
Tapi ya tentu saja tak langsung ku pakai. Namanya juga belinya tahun lalu. Jadi aku cek dulu dulu tanggal kedaluwarsanya. Eh, ternyata 2028. Dan selama ini menyimpannya juga di tempat yang relatif sejuk dan tidak terkena panas atau cahaya matahari langsung. Aman la ya kan.
![]() |
| Alhamdulillah, masih aman hingga 2028😁 |
Barulah akhirnya aku resmi mencoba produk yang sebenarnya sudah lama menjadi penghuni laci mejaku itu.
Pengalaman Pertama Menggunakan Insto Dry Eyes
Pengalaman pertamaku menggunakan Insto Dry Eyes terjadi ketika mataku sedang terasa kurang nyaman setelah cukup lama menatap layar. Waktu itu hari hari kedua stelah seharian berkutat dengan desain caraousel untuk Instagram FLP Sumut yang belum siap-siap juga🥲.
Aku pakai 2 tetes di masing-masing mata. Sensasi pertama yang paling terasa adalah rasa adem di mata. Bukan dingin seperti mentol yang menusuk. Lebih seperti rasa sejuk yang membuat mata terasa nyaman. Setelah digunakan, mataku terasa lebih enak dan segar.
Aku cukup suka dengan sensasi tersebut karena rasanya tidak berlebihan. Dan mungkin karena sebelumnya produk ini cuma tersimpan di rumah tanpa pernah ku pakai, pengalaman pertama itu jadi bertambah terasa seperti:
"Oh, ternyata ini rasanya memanfaatkan barang yang selama ini cuma nongkrong di laci ya." 😂
#InstoDryEyes digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata dan membantu mengatasi gejala kekeringan pada mata. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose 3,0 mg dan Benzalkonium Chloride 0,1 mg.
Tentu saja, pengalaman menggunakan produk merupakan pengalaman pribadi dan respons setiap orang sangat bisa jadi berbeda.
Kalau keluhan mata terus terjadi, semakin berat, atau disertai gangguan penglihatan, sebaiknya ya tetap berkonsultasi dengan dokter mata, sih.
Sekarang Aku Tetap Mendesain, tapi Lebih Sadar Diri
Apakah setelah mengenal Canva aku jadi suka mendesain? Tidak juga. Wkwkwk. Canva memang membuat pekerjaan desain jauh lebih mudah. Tetapi mudah bukan berarti aku otomatis berubah menjadi orang yang senang mendesain.
![]() |
| Foto ini dimodifikasi pakai Chat GPT ya🙏 |
Kalau sudah ada template yang tinggal diedit, aku bisa bilang:
"Nah, ini baru mendesain yang kusukai." 😂








0 comments:
Thank you for visiting. Feel free to leave your response. 🙏😁😄