Cara Mendeteksi Berita Hoaks dan Penipuan

11:19 pm Pertiwi Soraya 43 Comments

Hingga akhir Desember 2023, konten hoaks di Indonesia dalam kategori penipuan berada di peringkat kedua.

Cara mendeteksi dan menghindari berita hoaks dan penipuan

Makin lama makin marak saja dunia perhoaksan dan penipuan ini ya. Apalagi usai pemilu. Dengan beraneka modus menjaring mangsa. 

Bagaimana cara mengindari jeratan berita hoaks dan penipuan? 

Berikut 9 tips cara mengidentifikasi berita hoaks dan penipuan yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai sumber. 

1. Biasakan membaca dengan teliti

Mungkin lebih tepatnya budayakan baca sampai habis.

Pernah gak ketika kamu posting suatu informasi agak panjang sedikit saja di grup WA, lalu tak berapa lama ada yang merespon sejenis, "Kak, lokasi acaranya di mana?" atau, "Wah seru. Gimana cara daftarnya, Bang?". Padahal ketika mengetik informasinya, kita sudah buat sejelas-jelasnya. Eallaa...masih juga ditanya lagi.

Tolong janganlah bawa-bawa kebiasaan menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah jelas-jelas dibuat. Kebiasaan demikian saya pikir justru membuat keberadaan hoaks ini makin menjadi-jadi. Baca yang bukan hoaks saja lompat-lompat. Giliran ketemu info hoaks, wassalam

2. Biasakan selalu berpikir kritis ketika membaca

Masih nyambung dengan yang di atas. Jika baca sesuatu saja biasa tidak tuntas, bagaimana mau sampai di tahap berpikir kritis coba?

Selain itu juga selalu ingatkan diri untuk tidak lekas-lekas menekan tombol share sampai yakin informasi tersebut benar adanya. Saring before sharing. Begitu istilah kerennya. 

3. Hati-hati dengan dengan judul yang propokatif apalagi bombastis

Sejatinya, tujuan pembuat hoaks adalah mencari perhatian. Caranya supaya diperhatikan ya itu tadi, buat judul yang 'wow'. Baik dari pilihan kata maupun kelebayan makna yang memancing emosi. Istilahnya clickbait atau umpan klik

Pegiat literasi yang sudah terbiasa dengan berita hoaks biasanya punya semacam radar saringan otomatis. Ketika baca judul berita yang terdengar 'wah' biasanya akan langsung hidup 'sinyal waspada' hoaksnya. Walau tak jarang juga kena hoaks pada berita jenis lainnya. 

Sama halnya dengan info-info yang 'too good to be true' alias terlalu indah untuk  jadi kenyataan. Misalnya informasi sejenis tawaran pekerjaan mudah tanpa modal apapun dengan iming-iming penghasilan lumayan dari nomor tak dikenal. Pas dicek entah nomor dari negara mana-mana. Hallah... Tak ada itu semua. Langsung laporkan saja. Atau kalau gabut ya kerjain aja

4. Tidak mempercayai satu sumber berita saja

Jangan mudah percaya dengan apa yang kita lihat, dengar, dan baca, sekalipun yang mengatakannya adalah seorang profesor, menteri, bahkan presiden. Cek dulu yang ia katakan. Fakta atau opini. Karena kini agaknya sedang tren orang bicara asal keluar saja. 

Fokus pada apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Berapa banyak coba korban hoaksnya Biden dan Nethanyahu? Sekelas pemimpin negara saja menyampaikan hoaks. Apalagi pemujanya. Belum lagi para pendengungnya. 

Jadi teringat wejangan Sir Indra Hartoyo, dosen mata kuliah Translation kami.

"Always check your dictionary. Selalu cek kamusmu. Profesor ahli bahasa Inggris sekalipun bisa salah pelafalannya. Hanya kamuslah yang boleh kalian percayai.'' Begitu pesan beliau.

5. Budayakan cek silang fakta ke sumber yang autentik

Seorang profesor sekalipun, kalau ia berbicara tanpa sumber yg jelas, ya jangan langsung ditelan bulat-bulat. Apalagi jika seseorang tersebut bukan ahli di bidang yang dia bicarakan. Bisa saja lidahnya keseleo. Apa lagi jika dia tak merasa keseleo lidah. Apa jadinya jika semua yang dikatakannya kita telan bulat-bulat? Mau jadi apa para ibu hamil jika diberi vitamin berupa asam sulfat? 

6. Cermati alamat situs

Di balik sebuah kejahatan terselubung, biasanya ada otak-otak pandai. Pandai-pandai meramu supaya elok nampaknya. 

Nama serta alamat situs hoaks dan penipuan biasanya dibuat mirip-mirip dengan situs resminya, sehingga targetnya terkecoh dan percaya. Situs-situs berita banyak sekali yang begini. 

Berhati-hatilah jika asal informasi dan berita dari situs berdomain .COM, apalagi dari domain gratisan. 

Situs resmi kepemerintahan biasanya menggunakan .GO.ID. Jadi misalnya ada info pendaftaran bansos dari Kementerian Sosial tapi pakai domain .COM, bisa dipastikan 1000% kamu sedang dimodusi penipu. 

7. Ikut serta grup diskusi anti hoaks

Mengutip dari laman Kominfo, di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoaks. Misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di forum ini saya gak ada ikut sih. Sejauh ini tergabung di grup WA Keluarga Besar FLP SU bisa dikatakan sangat 'radikal' dalam penyaringan terhadap berita dan informasi hoaks. Alhamdulillah. 

8.Cek keaslian foto dan video

Kalau dulu zamannya photoshop, kini eranya AI. Memanipulasi foto dan video sungguh gampang sekali.

Suara kita pun bisa kita dengar ngomong entah hapa-hapa padahal kita tak pernah bicara demikian.

Seperti yang dialami Ust. Zaidul Akbar. Beredar video beliau yang disunting menggunakan AI. Jadilah sebuah video yang gerak bibirnya diselaraskan dengan suara yang dihasilkan AI (serupa suara aslinya), sementara beliau tak pernah meyampaikan informasi tersebut. 

Lagi-lagi mengutip dari Kominfo, untuk mengecek keaslian foto, kita bisa memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan. Kalau video, belum tahu saya. Bolehlah kiranya para literat teknologi yang nyasar ke tulisan ini berbagi informasi di kolom komentar yak๐Ÿ˜๐Ÿ™. 

Jadi kitalah yang harus jeli. Jangan sampai terkecoh. Cari lebih banyak informasi terkait. 

Cek silang ke akun resminya. Berdayakan energi kreatif yang kita miliki. 

9. Cek situs hoaks dan laporkan

Ternyata kita juga bisa cek apakah tautan suatu situs web merupakan hoaks atau tidak. Walau tidak semua bisa dicek. Biasanya akan terdeteksi ketika sudah ada yang melaporkan tautan atau situs  tersebut. Seperti di laman ini.

https://transparencyreport.google.com/safe-browsing/search

Sedangkan berita-berita hoaks bisa diakses di bawah ini. Ada juga fitur untuk melaporkan seperti di turnbackhoax.

https://trustpositif.kominfo.go.id/

https://kominfo.go.id/content/all/laporan_isu_hoaks

https://turnbackhoax.id/

Nah, ada satu lagi, nih hasil temuan saya. Semoga benar. Karena saya baru coba dengan akun saya saja. Jadi sejauh ini masih kesimpulan saya sendiri bahwa kita bisa cek suatu tautan itu hoaks atau tidak melalui twitter.

Saya pernah beberapa kali coba pos twit berisi tautan hoaks (lebih tepatnya penipuan sih ini), yang baru dibuat Februari 2024, tapi tidak bisa muncul. Entah ke mana perginya. (Cerita lengkapnya bisa dibaca di pos selanjutnya.) 
Cara mendeteksi berita hoaks dan penipuan

Nah, kamu silakan coba juga. Berhasil gak?๐Ÿ˜

Demikian 9 tips cara mendeteksi berita hoaks dan penipuan yang bisa dipraktikkan. Semoga berfaedah. 

You Might Also Like

43 comments:

  1. Betul kali lah kak, tingkat literasi kita masih amat sangat amat kurang. Bisa-bisanya setiap share info di grup pasti selaluuuu ada aja yang nanya, eh nanti lokasi ngumpulnya dimana ya? Jam berapa? Apa tadi nama acaranya? Padahal udah jelasssss sekali ditulis bahkan diketik dengan huruf tebal.. T,T
    Dan untuk berita seputar kesehatan itu memanglah sangat memusingkan karena kadang entah hapa-hapa. Yang parahnya kadang informasi tertulis itu dibuat ke bentuk video Reels, sudah lah, makin luas jangkauan penerimanya. Awak paling sering dikirim reels sm Emak di IG. Yang dishare infonya meledak ledak lah namanya hoax .wkwkwk XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kan, Kina. Kadang bingung juga mau ngasitaukannya bolak balik๐Ÿ˜…

      Delete
  2. indonesia adalah negara dengan tingkat literasi terbawah, ini benar sekali. dewasa ini kita mmg harus sering2 check cross check berita apapun, gak gampang panik dan gak gampang repost berita. keren kak blog nya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Kak. Di 2022 Indonesia ada di peringkat 11 terbawah dari 81 negara. Semoga pelan-pelan kita berbenah ya kan.

      Delete
  3. Backpackerlens : Thank you banget , aku dari kemarin nyari beberapa berita apa hoax atau nggk . crosscheck nya nggk tau kemana . Thank you ini ngebantu banget bagi kita untuk double check setiap informasi sebelum dipercaya atau bahkan dishare ke orang banyak .

    ReplyDelete
    Replies
    1. You're welcome. Semoga bermanfaat ya, Bang. Awak pun ngumpul-ngumpulakan referensi juganya ini ๐Ÿ˜

      Delete
  4. Betul mending langsung report ketimbang komen jelasin ke netizen lainnya. Malah bikin naik akun dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dah gitu yang dijelasin ngeyel pulak itu. Jadi naik darah kita๐Ÿ˜…

      Delete
  5. Literasi digital jadi penting sekali kalau sudah begini utk semua kalangan, bukan hanya utk orang-orang yg mengenyam pendidikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas kali, Kak. Gak hanya untuk orang berpendidikan. Lebih ke semua orang yang pegang smartphone ๐Ÿ˜

      Delete
  6. Yang paling bahaya itu kalo boomers udah kenal dunia digital. Apalagi masa pemilu gini, grup wa keluarga jadi ajang share hoaks oleh para boomers. ๐Ÿ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkk... pengalaman dan fakta di lapangan ya kan, Bang.

      Entahhapa pun. Sikit-sikit share. Padahal yang share pun bukannya pala dibacanya

      Delete
  7. Memang penting banget utk validasi fakta ato hoax, gk lucu ya kan udh posting kemana-mana eh rupanya hoax. Gak banget itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebayang, Kak. Pas bagiin info di grup ya, kan... Trus gak berapa lama dibalas bang Roby, 'Hoaks'.... rasanya tetiba kepala ngembang kek ikan buntal๐Ÿ˜ถ

      Delete
  8. Yang tips terakhir itu belum pernah coba kak. Mungkin dianggap spam, hoaks kali ya makanya tidak muncul. Memang kita harus biasakan diri untuk baca informasi lengkap dari berbagai sumber apalagi yang lagi viralnya. Biasa yang terjadi lihat judul aneh dikit pasti langsung berkomentar tanpa harus membaca isi dari berita/informasi tersebut.
    Memang banyak yang dilakukan untuk cari tahu informasi tersebut valid atau gak. Harus memberikan dari berbagai sumber yang resmi. Verifikasi sebelum share

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin gitu ya, Susan. Waktu itu nyoba dengan beberapa link berita hoaks yg berbeda, dan memang gak satu pun terbit. Smoga aja akunnya gak kena 'banned' sama alogaritmanya๐Ÿ˜…

      Delete
  9. Bener kak. Kadang banyak dari kita apalagi masyarakat umum yang menelan mentah² berita bahkan dari judulnya aja. Setelah itu beritanya dijadiin pengetahuan biar dia kelihatan tau trus disebarin ke orang-orang. Miris banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, malah banyak banget yang ngejadikan broadcast WA sebagai bahan kuliah online, tanpa dicek dulu itu asalnya dari mana n bener gak infonya. Kan asem jadinya

      Delete
  10. Informasi yang sangat membantu. Walaupun, sebenarnya aku juga tidak pernah langsung percaya sama berita² di media sosial. Menurutku, lebih baik melihat beritanya langsung dari siaran TV. Semakin canggih teknologi, maka pembodohan pun semakin marak, ya, Kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Kak. Cuma kayaknya mayoritas korban dan penyebar hoaks justru yg jarang nonton berita TV ya kan, wkkk...rata-rata ya yg akses internet dan pegang smartphone

      Delete
  11. Dulu iyah juga gereget banget dengan orang-orang yang gak ngerti kroscek dan mencari asal-usul berita dulu seblum sibuk men ngesher-ngesher dan komen-komen. tpi setelah baca buku "matinya kepakaran" ya cara melawan iyah cuma sampe blok-blokkin aja akun rese itu. dah capek lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkkk... Jadinya lebih ke bersih-bersih lingkungan pertemanan n beranda sosmed kita dari 'polutan'๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ

      Delete
  12. Ish emang jaman sekarang banyak kali berita-berita gak jelas sumbernya ya kak. Paling sering itu tersebar di WA grup, emang kita harus lebih hati-hati biar gak ikutan nyebar berita palsu. Makasih tipsnya kak, harus di ikutin nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum. Wajib pande-pande bersosmed kita ya kan, Kak.

      Masama, Kak Li... Semoga bermanfaat

      Delete
  13. Hoaks emang susah kali dimusnagkan. Soalnya netizen Indo sikit-sikit fomo. Tenkyuu buat infonya, Kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Kak. Semoga berfaedah.

      Hoaks kayaknya gak akan pernah musnah, Kak. ๐Ÿ˜

      Delete
  14. Aku pernah meluruskan berita hoaks di grup WA trus dibalas "Yang penting kan niatnya baik dan bisa diambil hikmahnya". Ih capek kali lah padahal grup berisi rekan rekan sebaya yg notabene bisa kali buat crosscheck sebelum share.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hadeuh... ๐Ÿ˜Œ

      Kalau gini-gini, jadi salut sama grup Ngapain Kita ya, padahal tempat 'ngerumpi', tapi kok ya rasanya bebas dari was-aas kena hoaks๐Ÿคฃ. Sombong.

      Delete
  15. Menghilangkan berita2 hoaks agar tidak tersebar memang jadi pr penting di jaman serba digital ini. Mungkin bisa dengan perlahan mengedukasi masyarakat, karena kendalanya ya itu, masih byk justru yg menyukai konten2 profokatif yg ga tau itu beneran atau kagak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget, Kak. Usaha kita paling ya blok dan melaporkan. Intinya ya jangan sampai jadi kaki tangan penyebaran hoaks. Sungguh PR besar.

      Delete
  16. Wah baru tahu kalo di X juga cukup canggih bisa ngefilter langsung link/post hoax ya. Semoga Meta bisa ikutan juga ya, karena baik di FB maupun IG lebih rentan akan hoax.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ya. Itu pun baru kesimpulan sendiri sih, Nikmal. Karena pas gak sengaja nyoba, eh kok bisa. Semoga aja memang beneran

      Delete
  17. Tipsnya oke banget meski kusadari, aku termasuk orang yang gampang kena rayuan judul bombastis padahal isi beritanya ga lengkap dan jelas. Oh ya aku salfok deh dengan dosen translation kakak. Salam 1 almamater FBS Unimed yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah... Iya nya... Wkkk... Salam sesama alumni FBS Unimed juga, "yang masuknya susah, keluarnya jauh lebih susah, karena kalau bisa dipersulit, ngapain dipermudah? "๐Ÿ˜„

      Delete
  18. AI ini yang paling serem ya, kak. Bukan cuma muka yang disadap, gerakan tubuh pun bisa.
    Aku sampe pernah nyoba muka sendirim ya sangat amat mirip sekali.
    Tapi untuk muka sendiri lama2 kok ketagihan, wkkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkkk... Awak termasuk yg belum pernah nyobain teknologi AI ke wajah sendiri sih. Gitu ternyata efeknya ya, ketagihan. Semoga enggak sampai sakau ya, Kak๐Ÿ˜

      Delete
  19. Seperti halnya orang tua ku yang gampang banget percaya semua yang ada di yutup padahal bisa aja informasinya hoax atau pun videonya diedit, terkadanga aku juga mikir gimana jika suatu hari nanti kita jadi mudah percaya apa yang kita lihat di socmed. Karena sering kali kitanya sendiri kurang kritis dalam menerima informasi yang kita dapat di socmed.

    Makasih kak atas info-nya. Aku jadi tau caranya cari tau suatu info hoax atau gak.

    ReplyDelete
  20. Jaman sekarang memang harus sedikit repot untuk memvalidasi sebuah berita kalau gak mau ketipu sama hoax.

    ReplyDelete
  21. Tulisan yang informatif sekali Tiwi. Memang sebagai orang yang aktif sama informasi, berita, dan media sosial, cobaan utama itu ya gimana biar ga ketipu sama yang namanya hoax ya.
    Kuncinya di literasi, mau digital mau yang konvensional, ya harus tetep rajin baca dan ga males untuk crosscheck informasi. Plus ga melulu ngeshare semua informasi yang didapet, filter is a must.
    Teruuusss, yang paling penting adalah, bersabar menghadapi orang-orang yang doyannya hoax tapi paling ngerasa victim kalau kita koreksi. Ya kali yang salah dibiarin salah terus pengaruhin ke orang lain.
    Anyway, thank you for sharing, Ya.

    ReplyDelete
  22. Negara kita ini memang benar-benar darurat membaca ya. Begitu liat headline, langsung percaya. Yang bikin makin kacau itu, kecepatan jempolnya ngalah-ngalahin kecepatan cahaya nge-share kemana-mana. Kacau kan?

    ReplyDelete
  23. Ngeri2 sedap emang era informasi sekarang, apalagi semakin banyak ai tools dan bot yang dibuat untuk tujuan tertentu. Kunci utamanya memang saring sebelum sharing.

    Memang tantangan kedepannya itu gimana ningkatin literasi digital, semoga kita bisa mulai diri sendiri dan lingkungan terdekat. Tx u sharingnya ya kak

    ReplyDelete
  24. Suka miris lihat zaman sekarang anak-anak muda pada darurat membaca, darurat literasi. Bahkan berdasarkan pengalaman saya waktu mengajar dan menyuruh anak SMA untuk membaca soal, cara bacanya membuat saya agak terkejut karena terbata-bata. Padahal udah SMA.

    ReplyDelete
  25. Emang banyak orang kemakan berita hoak karena gak teliti membaca, trus percaya gitu aja. Yang hebatnya lagi langsung share ke orang-orang. Berkepanjangan dah jadinya berita hoak itu.

    ReplyDelete

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜„