My Story of Love Story (Part 1 : Bilal)

11:45 am Pertiwi Soraya 0 Comments



Bismillahirrahmanirrahim.
Aku sering jatuh cinta. Sangat sering malah. Bahkan sangking seringnya, bisa kutebak bagaimana jalan ceritanya, sampai ending-nya pula. Itu karena pola dan rute kisah cintaku sama. Walau tak selalu. Tapi, ya, benar bahwa aku sering jatuh cinta.
            Kali ini aku ingin bercerita padamu, Kawan. Tentang kisah cintaku yang sedikit keluar pola. Love at the first sight.
Cinta pada pandangan pertama, begitu orang mengartikannya. Namun kisahku kali ini bukanlah kasus cinta pada sekali pandang pada tokoh yang satu ini. Sebaliknya, ketika pandangan pertama aku malah ”anti” walau hanya sekedar kejatuhan settitik rasa simpati padanya. Pasalnya, ehm..kulitnya tidaklah putih, penampilannya tidaklah keren, rupanya tidaklah menarik. Pokoknya bukan tipe yang biasanya bisa membuatku jatuh hati. Alasan untuk itu gelap, segelap warna kulitnya. Jauhlah pokoknya.
            Kisahku ini bermula saat aku mengikuti oreintasi di salah satu organisasi Islam di kampusku tercinta. Sebenarnya sudah tiga semester kuobrak-abrik mading di fakultasku untuk mencari info tentang organisasi dakwah yang satu ini. Maklumlah, aku mencari yang satu fikrah denganku. Sekian lama penantian dan pencarianku baru terbayar ketika akhirnya kutemukan info tersebut di mading fakultas lain. Baru kutahu bahwa ia tumbuh subur di situ – lembaga dakwah itu. Oh, andai kau tahu betapa girangnya hatiku, Kawan.
Balik lagi ke jalur ceritaku.
Di acara orientasi itulah pertama kali aku melihatnya, berhubung dialah moderatornya. Seperti yang kukatakan tadi, dia bukan tipe manusia yang membuat hatiku berdesir saat pertama memandang. Tapi memang hatiku berdesir saat itu saat pertama memandang sosok di sebelahnya, sang ketua panitia. See? Benarkan aku sering jatuh cinta?! Tepatnya mudah jatuh cinta. Mereka berdiri berdampingan. Benar-benar bagai langit dan bumi. Pantas saja hatiku semakin berlonjak (dan ingat, bukan melihatnya, tapi melihat yang di sebelahnya). (Sering ku berfikir, sepasang bola mataku dan antek-anteknya ini perlu dirantai selalu, agar tak jelalatan. Tahu saja ada barang bagus dan indah rupanya. Ckckck. Namun sering kulupa di mana rantai itu kuletakkan. Jadilah mereka bebas semaunya).
            Hmm..aku ngelantur lagi sepertinya. Baiklah, mari kita kembali ke jalan yang benar.
            Intinya, setelah orientasi selama dua hari, kami –para peserta– diwajibkan ikut training kaderisasi untuk mendapatkan gelar sebagai kader. Aku yang begitu terbakar semangat tentu saja tak mau ketinggalan. Namun kukatakan, Kawan, semangatku ini tak sedikitpun terkontaminasi dengan bibit-bibit cinta yang mulai tersemai di dada dengan ’kakak’ seniorku itu. Ini murni karena rasa cintaku pada-NYA dan pada organisasi yang telah kurindu sejak dulu.
Seminggu kemudian, jadilah aku dan peserta lainnya khusuk mengikuti pelatihan tersebut. Selama tiga hari dua malam kami digodok dengan materi keislaman yang kental, mulai dari thaharah, shalat, hijab, hablumminallah, hambumminannas, dan tak ketinggalan materi seputar keorganisasian itu sendiri. Bagiku itu adalah pesantren kilatku yang pertama seumur hidupku.
            Dihari pertama, ternyata yang bertugas sebagai moderator adalah kakak seniorku itu. Terpuaskan rindu sepasang bola mataku, disuguhi pemandangan nan menawan. Tahukah kau, Kawan, bagaimana rasanya jika orang yang ingin kau lihat selalu ada di depan mata. Hatiku melompat girang sepanjang hari itu.
            Kau pasti berfikir kalau ceritaku keluar jalur lagi bukan? Jangan khawatir, Kawanku. Aku tidak sedang lari dari ceritaku. Nanti Kau akan tahu dimana penyalahan pola yang kumaksud.
            Nah, sampai di mana ceritaku tadi. Oh, ya. Kamipun mengalami kelelahan luar biasa karena segudang aktifitas hari itu. Sekitar jam satu malam, barulah kami diperbolehkan mengistirahatkan anggota tubuh. Tidur, berjejer bak ikan asin dijemur. Rasanya baru saja aku terlelap setelah berperang habis-habisan dengan sepasukan drakula malam bersayap – walau akhirnya kedua belah pihak seri, aku kehilangan berpuluh-puluh sel hemoglobin, sementara pihak lawan kehilangan berpuluh-puluh pasukannya karena tewas saat berbaku-hantam dengan telapak tanganku, hingga akhirnya kami sepakat untuk mengadakan genjatan senjata. Wah, teramat lebai kedengarannya, tapi tak apalah.
            Nah, saat aku baru saja akan berangkat ke alam mimpi itulah, kurasakan seseorang mengguncang-guncangkan tubuhku.
Dek, bangun Dek. Ayo tahajud.
Suara seorang kakak panitia membubarkan mimpi yang baru saja akan kumulai. Antara sadar dan tidak, aku dan yang lainnya merayap sampai ke kamar mandi. Setidaknya, dinginnya air PAM menyentak kulitku agar tetap tersadar. Setengah sadar kulakukan takbiratul ikhram. Kelopak mataku semakin berat. Sampai tiba-tiba aku tersentak. Daun telingaku bagai terkena cipratan bunga api. Nyetrum sesaat. Pun mataku mendadak hilang malasnya. Semua indera tubuhku terkesiap mendengar alunan ayat Al-Fatihah dibacakan. Suara itu begitu syahdu, memasuki relung-relung lekuk telingaku. Bisa kurasakan hawa sejuk merambat masuk lewat pori-pori tubuhku, lalu mengalir tenang dalam aliran darahku. Seluruh bulu kudukku remang, merinding mendengar ayat-ayat Illahi itu dilantunkan dengan fasihnya lewat suara itu.
Inilah shalatku yang pertama, dimana surah setelah Al-Fatihah-nya adalah surah yang belum pernah kudengar dibacakan sebelumnya. Aku tak ingat bahkan tak tahu surah apa itu. Yang kuingat hanya satu dan tak mungkin kulupa seumur hidupku, bahwa itu surah terpanjang yang pernah dibacakan seorang imam ketika kumenjadi makmumnya. Kakiku bahkan sampai kebas menunggu ayat terakhirnya. Namun, tak pula bosan kumendengar suaranya. Suara yang merdu, syahdu, sampai mampu membuatku tersedu walau ku tak tahu artinya. Tak jemu kumendengarnya dalam duabelas rakaat yang panjang. Siapakah gerangan imam ini?
***
            Dihari kedua, sang kakak pujaanku tak muncul. Lelah kedua mataku mencari ke sana ke mari namun nihil. Ia bagai ditelan bumi, raib. Selidik punya selidik, ternyata ia dan sebagian besar panitia ikut bagian dalam kongres pemilihan pengurus cabang. Jadi ia absen hari itu. Tajam juga telingaku ini.
***
            Seperti malam sebelumnya, tubuh kami gempor oleh segudang aktifitas. Lagi-lagi hanya bisa tidur selama tiga jam karena jadwal tahajud masih berlanjut. Namun, kali ini aku cepat bergerak. Ingin mendengar lagi lantunan suara itu. Sayang, tahajud malam itu berganti imam. Aku tak mendengar suara syahdu itu melantunkan kalimat-kalimat Rabb-ku. Ada sedikit rasa kecewa melintas.
            Dihari ketiga, hari terakhir, pagi itu masih tak kulihat kakak berparas rupawan itu. Ah, sudahlah. Batinku.
            Pukul sepuluh pagi acara penutupan dimulai. Tiba-tiba sosok rupawan itu menampakkan dirinya, bersama rekannya yang lain. Rupanya ia termasuk salah satu evaluator. Acara mulai hidup ketika  seorang mewakili peserta menyampaikan pendapatnya tentang keseluruhan kegiatan training dan sedikit kritikan pada panitia akan padatnya jadwal pelatihan dan minimnya waktu istirahat. Awalnya kegiatan beri pendapat, kritik dan tanggapan itu berjalan hangat. Namun entah bagaimana jalan ceritanya, akupun tidak terlalu mengerti, tiba-tiba saja acara evaluasi sebelum penutupan itu mengalir menjadi suatu ajang perdebatan. Semakin lama  semakin terasa aura menegangkan, semakin panas, dan akhirnya meledak. Perdebatan itu lalu berubah statusnya menjadi pertentangan dan perkelahian adu mulut antara perwakilan peserta dan perwakilan panitia. Pihak panitia, yang notabenenya diwakili oleh kakak seniorku tadi dan dua orang rekannya, terseret dalam atmosfer panas tersebut. Dalam hitungan menit, kedua belah pihak yang terlibat adu mulut kini sama-sama panas. Balpoin, kertas, spanduk, kursi, bahkan meja, satu-persatu mulai berterbangan di udara disambung suara-suara sindiran, bentakan, dan gedebam benda-benda keras jatuh. Namun belum ada yang berani saling serang. Beberapa panitia dan peserta yang tak terlibat adu mulut berusaha menengahi, namun yang terjadi malah mereka pun jadi ikut terseret arus panas itu. Keadaan mulai kritis. Beberapa temanku mulai menangis karena tegang dan takut. Yang lain bahkan histeris, gugup, sesenggukan, tak tega melihat kader senior dan calon kader akan memulai pertumpahan darah.
            Terlihat jelas masing-masing pihak yang berselimut emosi kemarahan sama-sama berusaha teramat sangat sabar menahan amarahnya agar tak hilang kendali sampai menghantam lawannya. Urat-urat leher dan tangan mereka tegang bermunculan. Wajah mereaka merah padam menahan luapan amarah. Kami Cuma bisa berdoa dalam hati, menyiapkan mental, dan pasrah jika pada akhirnya perang kesabaran itu pecah. Benar-benar momen yang mencekan dan menegangkan syaraf. Tangis mulai terdengar di mana-mana. Mau tak mau, aku pun terbawa suasana. Tumpah jua lah air mata yang sedari tadi kubendung sekuat tenaga. Takut, gugup, tegang, sedih, dan semua rasa frustrasi campur aduk dalam dadaku. Sesak. Aku tesedu, terisak di depan para lelaki dan perempuan yang tak sedikit jumlahnya. Oh, ya Allah, malu tak terperi.
            Di tengah ke-chaosan itu, sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Quran, semakin lama semakin jelas terdengar. Suara itu kadang bergoyah. Semakin bergoyah, semakin sendu, semakin tersedu, namun tetap berusaha tegar untuk melanjutkan ayat selanjutnya, berusaha mendinginkan suasana, berusaha mengingatkan mereka yang bersitegang untuk menyebut nama Allah dan berlindung pada-NYA. Suara itu bergetar, menahan pilu hati pemiliknya. Hatiku kian pilu mendengarnya. Itu suara yang sama yang kudengar pada malam sebelumnya. Suara yang menggetarkan jiwa. Dadaku semakin sesak. Isakkanku benar-benar tak bisa kutahan.
            Lambat laun suasana mereda, hingga akhirnya hening. Hanya suara tangis dan isakan pilu saja yang tertinggal. Alunan kalamullah itu kini kian nyaring terdengar. Terus terdengar kian syahdu. Kulihat di samping pilar itu, ia duduk menghadapi Quran kecil di tangannya. Khusuk membaca sampai ayat terakhirnya.
Fabiayyiaalaairobbikumaatukadzzibaan
            Ia tutup bacaanya dengan hamdallah. Wajahnya sendu bersahaja. Kedua pipinya basah. Ia cium kitab di tanggannya. Matanya terpejam. Ia adalak sosok yang kusebut jika disandingkan dengan sang pujaanku bagai langit dan bumi. Ia adalah orang yang tak masuk tipe yang mampu membuatku kepincut sekali pandang. Ia yang tidak rupawan, tidak keren dan tidak menarik. Namun ialah pemilik suara itu. Suara yang ketika membacakan kata-kata Sang Pencipta sampai menggetarkan hati, suara yang jika melantunkan firman-firman Sang Pengasih Yang Maha Agung sampai membuatku tersedu dalam sujudku. Oh, sunggung malu aku pada diriku.
***
Resmi sudah aku menjadi kader dakwah dalam organisasi kebanggaanku itu. Oh, ya, waktu itu aku baru tahu, ternyata peristiwa di acara penutupan waktu itu memamg telah direncakan dalam skenario. Sengaja untuk nge-mop kader baru. Kesal juga sih dikerjai, tapi disitulah kesannya. Sang kakak rupawan itu tak pernah kulihat lagi. Kabarnya, ia sudah wisuda dan pulang kampung. Ya, kisah cintaku dengannya sama seperti pola kebanyakan. Tak pernah bersua lagi, hingga akhirnya rasa itu hilang, lenyap dengan sendirinya. Semakin kukenal, semakin hilang rasa penasaranku padanya.
Nah, Kawan, pola ini terbalik pada si pemilik suara merdu. Semakin kumengenal sosoknya, justru semakin bertambah rasa simpatiku padanya. Suatu pola yang menyimpang dari biasanya. Biasanya semakin kumengenal seperti apa pribadi seseorang, justru membuatku semakin hilang rasa kagum, bahkan ill feel. Namun, sosok yang satu ini, pribadinya luhur, budi pekertinya halus, pengetahuannya luas, bahasanya santun, warna suaranya merdu tentu saja, ahklaknya sholeh, dan rupanya yang jika diperhatikan sungguh-sungguh, ternyata amatlah rupawan. Oh, kemana saja aku selama ini, hanya tertipu dengan rupa-rupa yang indah.
***
            Mungkin polanya memang menyimpang, tapi tidak seluruhnya. Sepertinya pola ending belum berencana mengubah dirinya dalam kisah cintaku. Kudengar ia – sang pemilik suara Bilal – akan segera menikah. Entah akhwat mana yang beruntung disuntingnya. Memang benar, setelah wisuda, aku tak pernah lagi melihatnya. Meski demikian, kabar beritanya masih sering terdengar via facebook. Yah, ia tengah menunggu momen pelantikan wisudanya, seperti teman-teman seangkatanku yang lain.
            Kawanku yang budiman, sejauh ini kisah cintaku ber-ending senada. Namun, apa daya, aku tak pernah tahu kapan virus itu datang secara pasti. Yang kutahu pasti ketika ia telah singgah dengan cara yang unik. Dan aku sadar bahwa aku rentan dengan serangan virus ini. Sehingga aku sering jatuh cinta, pada-NYA maupun ciptaan-NYA, yang sering datang dan pergi. Kisah kali ini adalah satu dari sekian banyak judul kisahku. Masing-masing punya ceritanya sendiri. Insallah akan kuceritakan segera padamu, Kawan. ^_^ Wassalam.

You Might Also Like

0 comments:

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. 🙏😁😄