Anak Alergi: Benarkah Dermatis Atopik Tak Bisa Disembuhkan?

12:25 am Pertiwi Soraya 0 Comments

Masih ingat sama Kim Min Kyu yang punya alergi dengan kontak fisik sama manusia?

Nah, sama kayak si Min Kyu, aku juga punya alergi kalau berinteraksi sama manusia yang punya potensi menghasilkan segala jenis PHP. Bawaannya mau nyakar-nyakar tembok😁

Dulu ketika anak-anak, aku berfikir bahwa alergi adalah sebuah jenis penyakit (kalau pun memang disebut penyakit) yang lebai. Pasalnya aneh aja ketika lihat di sinetron ada yang bersin-bersin karena dekat sama hewan, atau ketika dekat-dekat sama bunga.
Kesannya maksa gitu lah. Masa iya sih, hanya gara-gara termakan suatu makanan yang ada kandungan kacangnya sedikit saja bisa langsung timbul ruam-ruam lalu sesak nafas, bahkan sampai kejang-kejang lalu pingsan, dan bisa meninggal seketika?

Tapi setelah teredukasi di seperempat abad usia, Aku baru ngeh kalau ternyata alergi adalah fenomena yang sangat serius. Saking seriusnya sampai ada WAO alias World Allergy Organization.


dermatis atopik

Sekitar tahun lalu, aku pernah beberapa kali mengikuti seminar mengenai alergi. Dan sedikitnya ada 3 fakta yang cukup mencengangkan buatku.

  • Yang pertama adalah bahwa alergi ternyata diturunkan terutama dari DNA ibu pada anaknya.

  • Yang kedua bahwa alergi yang dialami bayi umumnya dipicu oleh asupan makanannya. Bahkan makanan yang dikonsumsi ibunya ketika si bayi sedang ASI eksklusif.

  • Yang ketiga yaitu jika alergi pada bayi tidak ditangani serius, nantinya setelah ia beranjak remaja bahkan dewasa akan berevolusi menjadi jenis-jenis alergi lain, umumnya berhubungan dengan pernapasan diantaranya seperti Asma, alergi serbuk bunga, alergi debu, alergi bulu hewan, dsb.

Di situ aku baru loading dengan banyaknya fenomena anak kecil yang punya asma.

Dan mungkin ada banyak yang tidak atau pun baru tahu kalau masalah alergi ini adalah hal yang krusial. Maka dari itu Morinaga ikut peduli untuk kembali turut serta dalam program tahunan yang diinisiasi WORLD Allergy Organization (WAO) yaitu kampanye sepekan memperingati bahayanya alergi sedunia atau World Allergy Week.

Tahun ini World Allergy Week diselenggarakan pada 22-28 April 2018 lalu dengan fokus  tema : Dermatitis Atopik atau Eksim.
Kala dengar Dermatis Atopik, aku jadi teringat sama Kirana. Yang follow aknnya ibuk @retnohening pasti kenal sama Kirana. Ia merupakan salah seorangan anak yang sejak bayi memiliki allergi Dermatis Atopik.

Apa itu Dermatis Atopik?

obat alergi

Dermatitis Atopik atau Eksim adalah penyakit radang kulit, tidak menular, namun bisa kambuh secara berkala, bahkan dapat berada dititik kronis.

Umumnya, kejadian dermatitis atopik dialami si kecil sebelum usia 1 tahun dan prevalensi bayi yang memiliki jenis kulit yang rentan ini diperkirakan mencapai 10-20 %, wow tinggi sekali ya, sedangkan hanya 1-3% terjadi pada orang dewasa. Alergi di kulit ini bisa hilang atau bahkan muncul lagi.

Apa sih penyebab Dermatis Atopik atau Eksim ini?


Nah, seperti yang kusebutkan di awal tadi,  alergi yang dialami anak, faktor pencetus utama adalah bawaan dari ibunya, dan sampai sekarang penyebab Dermatitis Atopik yang lainnya belum dapat dipastikan, namun 50% berasal dari faktor eksternal seperti lingkungan yang kering, debu, bulu binatang, tumbuhan, serbuk bunga, iritasi pada produk pembersih misalnya sabun, deterjen, dll.

Faktor 50 % lagi adalah dari makanan, diistilahkan Teh Big 8 yaitu terdiri dari susu, ikan, telur, jenis seafood kayak udang, cumi-cumi, gandum, kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang pohon ( almond, cashew, hazelnut, walnut)

Apa yang terjadi jika Dermatitis Atopik ini diabaikan?


Biasanya kita kalau ada masalah dengan yang namanya gatal-gatal, anggapannya pasti sepele. Alah, Cuma gatal-gatal doang. Tinggal kasi salep aja kali. Gitu ya kan? Tak bisa dipungkiri sih memang.

Perihal dermatis atopik yang merupakan gejala awal alergi, jika diabaikan justru bisa membuatnya semakin reaktif dan berakibat tidak baik.

Jika tidak diatasi segera dan tidak tuntas dalam penanganannya, anak yang memiliki riwayat alergi ketika bayi, terutama dermatis atopik, akan sangat mungkin mengalami perkembangan jenis reaksi alergi lainnya seiring bertambah usianya, seperti asma, alergi debu, alergi bulu binatang, alergi polen atau serbuk bunga, dsb.

Nah, ada baiknya jika bayi kita menunjukkan tanda-tanda seperti ruam-ruam di kulit, dan gatal dan terjadi berulang-ulang, kita segera waspada pada gejala tersebut.

Itulah dia alergi, awalnya tampak sepele, namun efek jangka panjangnya... aiueoxyz.

Dari sisi ekonomi, sangat memakan alokasi pengeluaran rumah tangga, berhubung harus bolak-balik ke dokter dan penyediaan obat-obatan rutin.

Dari sisi tumbuh kembang anak, pasti sangat terganggu dalam bermain, belajar, dan stimulasi tumbuh kembangnya.

Ditambah lagi dari sisi psikologis, baik anak maupun orang tua. Anak cenderung untuk minder dan sadar diri dengan kondisinya terhadap teman-temannya. Sedangkan orang tua harus ekstra tenaga untuk kuat lahir batin dalam mengurusi keadaan anaknya yang spesial.

Lalu, Apa Solusi untuk Anak Alergi?

obat alergi


Hingga saat ini, Dermatitis Atopik kabarnya tidak dapat disembuhkan, namun dapat ditanggulangi dengan cara,

1.    Observasi dan catat apa saja faktor pemicu alergi anak
2.    Jika sudah mengetahui faktornya, maka hindari dan jauhkan anak dari faktor tersebut
3.    Konsultasi dengan dokter anak
4.    Memakai produk hipoalergenik yang tidak ada kandungan parfumnya

Nah, untuk makanan yang tidak bisa dikonsumsi anak, namun anak butuh nutrisinya, kita bisa mencari penggantinya sebagai solusi agar nutrisi untuk tumbuh kembangnya tetap terpenuhi. Misalnya protein susu sapi dan olahannya bisa diganti dengan protein susu kedelai beserta olahannya. 

Jadi di sini peran orang tua memang benar-benar dibutuhkan kreativitasnya.

Oh iya, protein kedelai yang bisa dikonsumsi untuk anak dengan alergi susu sapi juga tak sembarangan ya Bunda, harus protein soya yang sudah terhidrolisis , bisa yang parsial bisa yang  terhidrolisis sempurna, tergantung tingkat alergi yang dimiliki sang anak. Untuk lebih jelasnya bisa cek di www.cekalergi.com

Morinaga Allergy Solution

morinaga allergy week
alergi anak dermatis atopik

Kalau untuk bahan makanan ada buanyak penggantinya, namun kalau susu bagi bayi yang alergi protein susu sapi atau tidak mendapatkan ASI Ekskusif, Morinaga punya solusinya.

Dengan program Morinaga Allergy Solution, Morinaga hadir memberikan solusi alergi si Kecil, ada pun sinergi nutrisi yang dikemas adalah hasil pengembangan PT Kalbe Nutritionals bersama Morinaga Research Centre yang berpusat di Jepang.

Keunggulan Morinaga Allergy Solution


Nah ada tiga keunggulan dari program Morinaga Allergy Solution:

1.    Solusi nutrisi untuk mencegah dan mengatasi alergi protein susu sapi
2.    Tersedianya produk nutrisi anak untuk usia 0-12 tahun
3.    Sinergi nutrisinya mencakup Brain care, Body Defense dan Body Growth

chilkid soya

Bahkan menurut hasil survey dari Home Tester, sebuah lembaga jasa penyedia tester produk, 9 dari 10 ibu puas dan merekomendasikan Chilkid Soya sebagai solusi terbaik alergi dengan nutrisi yang kaya dan setara kebaikan susu sapi untuk tumbuh kembang si Kecil. Jadi meskipun si Kecil memiliki alergi tetap berprestasi.

Untuk info lebih lanjut seputar Morinaga, Ayah Bunda dapat akses dan follow semua sosmednya,

Facebook : Morinaga Platinum
Instagram : @morinagaplatinum
Twitter : @MorinagaID
Youtube : MorinagaPlatinum

alergi anak dermatis atopik


Semoga bermanfaat dan tetap semangat mendampingi sang buah hati

Nah, selesai nulis ini aku kembali kepikiran sama si tokoh Kim Min Kyu. Terlepas dari trauma masa kanak-kanaknya yang menyebabkan dia jadi segitu alerginya kalau kontak fisik sama manusia, apa waktu bayinya dia juga punya riwayat alergi sejenis dermatis atopik gitu juga ya? :D




You Might Also Like

0 comments:

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. πŸ™πŸ˜πŸ˜„