Distilasi Alkena: Menikmati Manisnya Patah hati

12:37 pm Pertiwi Soraya 2 Comments

Saya tak akan menyebut ini sebagai resensi karena resensi bentuknya tak begini. Sebut saja apa saja yang kamu rasa mewakili. Tapi jika akhirnya kamu tetap memilih kata resensi, sekali lagi saya tak menyebut ini resensi.:D

Kamu pernah patah hati? Saya sering :D. Tenang. Walaupun saya tak sebut ini resensi, ini juga bukan tentang curhatan patah hati saya kok.

Patah hati berjuta rasanya. Tidak setuju? Atau rasanya hanya ada satu? Yaitu pahit, atau sakit sakit? Itu saja sudah dua.
Sumber: Google
Lalu percayakah kamu jika saya katakan patah hati itu juga bisa berasa manis? Apalagi jika rasa manis itu hadir ketika menikmati kisah patah hati orang lain? Ah, jangan-jangan saya punya bakat psikopat.

Well, setidaknya itulah sensasi yang saya rasakan ketika melahap anak pertama dari seorang Wira Nagara. Ia menyajikan kisah patah hatinya untuk dinikmati dengan nuansa manis lewat Distilasi Alkena. Saking manisnya, setelah membaca hampir sepertiga bagian buku ini, saya baru sadar jika sedang dan sudah terjebak dalam kisah patah hati yang parah.

Padahal saya adalah jenis manusia yang paling anti membaca apalagi sampai menikmati sesuatu yang saya ketahui beraroma galau apalagi penuh kegalauan, sampai saya bertemu dengan Distilasi Alkena. Terima kasih telah menjebakku Wira Nagara.

Jika kamu adalah seorang science geek seperti saya, kamu mungkin akan langsung merasakan ketertarikan pada judul buku ini. Lalu kemudian mulai terbawa arus penasaran karena terpikat tag line di bawah judulnya “Denganmu, jatuh cinta adalah patah hati paling sengaja”.

Awalnya saya pikir ini adalah novel biasa, ternyata tidak selepas membaca beberapa halamannya. Bagi saya yang tak pernah bisa tahan berlama-lama dengan bacaan bergenre prosa, melahap habis novel ini adalah sesuatu yang di luar kebiasaan. Baik dari segi genre tulisan maupun tema. That’s why I said that I was trapped.

Prosa-prosa dalam buku ini konon telah ditulis oleh Wira sejak 2012. Ungkapan perasaan yang ditulis atas dasar kecewa, penyesalan, dan juga keikhlasan tentang wanita yang pernah mendiami kamar-kamar di dalam hatinya. Wanita yang memilih lelaki lain dan bukan dirinya, sedang ia tetap mencintainya karena baginya menemukan cinta yang lain adalah hal yang mustahil. Maka mau tak mau patah hati menjadi sumber kehidupan baginya. Patah hati yang ia rawat dengan sepenuh hati. Apa tidak lelah?

Saya penasaran, apakah akhirnya si tokoh akan mati karena terlalu lelah merawat patah hatinya agar tetap patah? Atau apakah bertambah satu lagi daftar orang gila di dunia? Ataukah ia memutuskan untuk move on namun mati sebelum sempat menemukan cinta yang baru? Atau...? Begitu banyak pertanyaan yang mengiringi sel abu-abu ini sembari melahap jalinan aksara berbalut indahnya metafora. Kadang sampai berdenyut kepala mencerna makna dalam bahasanya. (Salah satu alasan kenapa saya lebih tahan bercengkrama lama-lama dengan aljabar, tapi tak bisa terlalu lama akrab dengan prosa)

Keunikan lain bagi saya dari kumpulan prosa patah hati ini adalah bahwa tiap judulnya terdiri dari dua kata antah-berantah (kata mereka yang kurang familiar dengan istilah kimia, biologi dan teman-temannya). Tiap judul merupakan analogi yang mewakili perasaan yang ingin disampaikan Wira dalam tulisannya. Saran saya, jika tidak mengerti salah satu atau kedua kata pada judulnya, baiknya baca terlebih dahulu definisi yang disediakan di tiap bagian akhir tulisan. Dengan begitu, mudah-mudahan rasa yang ingin disampaian akan tersampaiakan dengan sempurna.

Distilasi Alkena sendiri diartikan Wira sebagai sebuah proses memisahkan dua hati yang pada dasarnya tak bisa dipisahkan karena satu ikatan perasaan.

FYI, novel setebal 138 hasil ramuan komika yang mulai dikenal pada Stand Up Comedi Indonesia season 5 (SUCI 5) ini telah lulus sensor EYD. Jadi enak dibaca dan bebas typografi.

Begitulah kisah saya dengan Distilasi Alkena. Tertarik sejak pertama memandang judulnya, lalu tergelitik karena tag line-nya, ilustrasi cover adalah katalis ketiga pemicu endorfin, lalu jalinan aksara di sepanjang halamannya adalah zat adiktif yang membuat saya terus menulusuri tiap diksi tanpa sanggup berpaling. Saat sadar ternyata telah terperangkap dalam labirin metafora, terlalu terlambat untuk kembali dan terlalu sayang untuk diabaikan. Hingga akhirnya tiba pada akhir halaman.

Semoga ketika tiba di akhir halaman buku ini, kita tidak termasuk kategori manusia dengan potensi psikopat karena berhasil menikmati rasa manis dari suatu tragedi bernama patah hati. Maka, selamat membaca dan selamat menikmati manisnya patah hati.
 

You Might Also Like

2 comments:

  1. Patah hati jangan dirasakan, dikubur cari yg baru. *gampang banget ngomong, kayak nggak pernah patah hati aja wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha...mbaknya baper😁😁😁

      Delete

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. πŸ™πŸ˜πŸ˜„