Cerita Ramadhan: Tips dan trik Ifthar di Mesjid Aceh Sepakat

7:00 am Pertiwi Soraya 5 Comments


Judulnya serasa mau ikut ujian TOEFL gitu ya. Sebenarnya ini adalah pelajaran yang saya ambil dari pengalaman pertama saya berbuka di mesjid. Yah, pernah sih sebenarnya berbuka di mesjid. Pertama ketika acara kampus, dan kedua acara perusahaan. Di kedua kesempatan itu saya termasuk panitia penyelenggara. Jadi ya beda esensi dan rasanya dengan pengalaman berbuka kali ini. That’s why I called it my first time. Pengalaman kali ini murni memang niatnya mau berburu ifhtar dan merasakan sensasinya.


Jadi, agenda ke Masjid Aceh Sepakat ini sudah kami rencanakan sehari sebelumnya. Puasa ketiga, agenda utama siangnya adalah mendiskusikan program duet kami, saya dan kak Tika (lagi, bukan diet ya. Ada yang salah baca waktu di .... Mungkin efek puasa :D). Jadilah Siangnya kami berdiskusi di salah satu pojok perpustakaan kota. Maksud hati sekalian memanfaatkan Wi Fi gratis. Ah, ternyata mengharapkan yang gratis itu harus siap-siapkan mental untuk resiko yang bernama makan hati. Yang ada jaringannya lelet, udah gitu lompat-lompat lagi. Ah, sudahlah, akhirnya tethering juga.

perpustakaan kota
Abaikan saja foto ini :D.
Kami berdiskusi (lebih banyak gak fokusnya. Lompat sana-sini) hingga masuk waktu Ashar. Lalu kami pun bermigrasi ke Mesjid Aceh Sepakat yang terletak tepat di belakang perpustakaan. Tak banyak jamaah yang sholat Ashar di sana. Paling hanya 1 shaf untuk masing-masing jamaah pria dan wanita. Itu pun tidak penuh. Kami pun beristirahat sejenak di sana.

Kurang lebih pukul 17. 50 WIB, seorang bapak mendatangi kami dan jemaah lain sambil mengajak kami untuk pindah ke sebelah Mesjid untuk mengambil tempat berbuka. “Cepat amat. Setengah jam lagi juga belum saatnya buka?!”, Kami fikir. Kami pun tak mengacuhkan najir mesjid tadi. Sebagian orang mengikuti ajakan si Bapak tadi. Kami pun meneruskan leyeh-leyeh di dalam mesjid. Pukul 18.10 WIB. Kami memutuskan untuk pergi ke tempat berbuka yang dimaksud Bapak tadi.

 Sesampainya di sana, alangkah terkejutnya kami, lautan manusia telah memenuhi area tersebut. Ada sekitar 15 bahkan 20 kali jumlah jamaah yang ikut sholat ashar tadi di tempat itu. Semua meja sudah terhidang  takjil berupa bubur khas aceh, minuman yang berwarna pink, air mineral, teh manis panas, kurma, dan kue, lengkap dengan pemilik jatah takjil di kursinya. Full house. Singkat cerita, kami tak kebagian kursi lagi.
Berbuka, Ifthar, Ramadhan, aceh sepakat
Rameeeeee....
Untungnya, tak hanya kami yang berdiri-diri tak kebagian tempat. Kian lama jumlah manusia yang senasib dengan kami kian bertambah. Akhirnya pihak najir mesjid menginstruksikan dengan TOA-nya agar kami memasuki gedung. Kami pun mengambil kursi masing-masing di dalam gedung. Self-service.

Para panitia bergegas membagikan takjil seadanya dan sedapatnya. Saya salut dengan panitianya. Biar kerepotan serepot-repotnya mereka tetap sabar dan baik hati . Kian dekat waktu berbuka, kian banyak yang memasuki gedung tempat kami berkumpul. Jatah takjil yang didapat mereka pun sekenanya. Bahkan ada yang cuma kebagian air mineral dan kurma saja. Yang jelas, yang berada di dalam ruangan itu, tak seorang pun yang dapat merasakan rasanya bubur aceh itu. Ahaha. Tapi meskipun begitu, takjil yang seadanya ini cukup membuat kenyang untuk orang yang memiliki lambung seperti saya.
Ifthar, Ramadhan, berbuka
Seadanya itu yaa...ini
Selesai berbuka, seluruh jamaah kembali ke mesjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib, ada yang ganjil menurut saya. Di benak saya, berhubung lagi Ramadhan, orang-orang normalnya akan lebih melamakan waktu berdoanya dan akan ada lebih banyak yang melaksanakan rawatib. Namun nyatanya begitu salam, jamaah berbondong-bondong keluar masjid. Paling hanya beberapa yang tetap duduk dan melanjutkan sholat sunnah. Tak hanya jamaah pria, pun juga wanita.

Spontan terlintas di fikiran saya, “pasti ada apa-apanya ini”. Dan ternyata benar. Hmm.. mungkin bawaan tipe orang Fe kali ya.

Seorang ibu yang kami jumpai saat sholat ashar tadi dan bertemu lagi saat nyari-nyari kursi, dan ketemu lagi setelah sholat magrib menyapa. “Ayok dek, segera ke sebelah, ntar gak kebagian tempat”. Lah? Ada sesi selanjutnya tho. Pantesaaaan.

Dan benar saja, saat kami kembali ke temat sebelah, tempat itu kembali sudah penuh, bahkan ada yang piringnya sudah bersih alias sudah selesai makan. Kami pun dipersilahkan masuk ke gedung oleh panitianya. Dan jatah kami yang di dalam gedung ini lagi-lagi spesial. spesial karena pakai piring. Spesial karena menunya adalah nasi dan Kari Aceh. Yang di luar gedung alias yang kebagian duluan, menu mereka disajikan tidak pakai piring seperti milik kami. Melainkan piring berbentuk segi empat, khas piring rumah sakit. Isinya lengkap ada nasi, kari, sayur, buah, dan ikan asinnya kalau tak salah.
Berbuka, Ramadhan, Ifthar
Piring kami berbeda...
Awalnya saya sudah tak berminat untuk makan nasi lagi. Berhubung masih cukup kenyang dengan takjil sebelumnya. Lagi pula kasihan juga dengan panitianya yang kerepotan bukan main melayani para jamaah. Namun karena sudah masuk, kami pun akhirnya memutuskan untuk kongsi saja. Sepiring berdua ni ceritanya.

Nah, begitu suapan pertama mendarat di mulut, kami berdua lihat-lihatan. Walau tak bersamaan, tapi komentar yang terucap sama, “Enaaaaakk”. Rasanya suwwer enak. Dagingnya lembut. Sempat saya kira isi piring kami itu adalah nasi dan kari ayam pada awalnya. Ternyata bukan ayam, melainkan daging. Mungkin daging sapi. Sampai suapan terakhir, tetap enak. Dan piring kami pun bersih mengkilap tanpa sebutir nasi pun tertinggal. Enaaak. Jadi ceritanya menyesal ni bagi dua. Ahaha.
Berbuka, ifthar, aceh sepakat, ramadhan
Gak ingat untuk foto sebelumnya atau ketika makan, karena terlalu terlena dengan kelezatannya :D.
Pokoknya wajib kembali lagi ke Mesjid Aceh Sepakat ini untuk menikmati takjil khasnya, Bubur Aceh, yang belum sempat tercicipi dan porsi lengkap makan malamnya. (Catat: 1 porsi untuk 1 orang). :'D.

Nah, jadi pesan moral dari pengalaman ini adalah “Cepat dan jangan Ngeyel”. Kalau tujuannya adalah berburu takjil dan makan malam gratis, maka kamu harus bersegera agar kebagian tempat, takjil, dan makan malam sesuai dengan yang kamu inginkan. Namun, biar pun harus “bersegera”, usahakan sholatnya fokus ya. Ntar pas sholat terbayang-bayang Kari Aceh pula. Kan asem.

Karena menu ifthar dan rasanya yang unik dan enak, tak heran jika Mesjd Aceh Sepakat ini selalu ramai dikunjungi saat waktu berbuka.

Nah, Sobat. Selain gratis, Ifthar di mesjid itu seru lho. Jadi, Ayo berbuka di masjid. Selanjutnya, ke Mesjid mana kita? ^_^

You Might Also Like

5 comments:

  1. Apa maksudnya abaikan foto itu ๐Ÿ˜’

    ReplyDelete
  2. oh namanya masjid Aceh sepakat, kupikir sepakatnya itu kata kerja :D

    ReplyDelete
  3. Iya mak Amanda... Aceh Sepakat memang nama mesjidnya๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  4. Yang di foto itu kok tidak nampak lagi di Bumi Asri ya

    ReplyDelete

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜„