Dekonstruksi

10:45 pm Pertiwi Soraya 16 Comments

Dekonstruksi. Kata ini sedang naik daun di kisaran anggota FLP-Sumut. Pasalnya beberapa waktu lalu, kata tersebut diperkenalkan pada kami sebagai materi diskusi oleh salah seorang anggota angkatan IV yang sedang menghabiskan libur akademisnya dari UGM. Jarang bahkan belum pernah mendengar kata ini, kami pun beragumen ini itu atas penjelasan sang narasumber. Menyertakan contoh teks, kasus, bahkan hal-hal kecil yang biasa dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Sejauh yang saya pahami, dekonstruksi
sendiri berkaitan dengan bahasa pragmatis. Yaitu penalaran akan maksud si penulis atau pembicara oleh pembaca atau pendengar. Karena bahasa yang dituliskan atau yang diucapkan belum tentu itulah maksud sebenarnya. Selain itu, dekonstruksi juga berhubungan dengan kemampuan si pendengar atau pembaca menganalisis suatu informasi dan situasi. Memunculkan pertanyaan berantai “kenapa” pada setiap opini, dengan tujuan mencari maksud tersembunyi atau yang ditutupi oleh informasi tersebut.
Ditambahkan juga, bahwa untuk mendekonstruksikan sesuatu kita dituntut untuk dapat membalikkan suatu sudut pandang. Maka, persepsi yang dimaknai pembaca awam biasanya malah berbanding terbalik dengan hasil dekonstruksi. Seperti halnya keramah-tamahan seseorang bisa diartikan sebagai pencitraan belaka.
Sampai di sini salah seorang peserta diskusi bercelutuk “Berarti dekonstruksi itu mengharuskan kita untuk selalu su’uzon la ya?” ^_^ masuk akal juga pendapat ini.
Ya, hasil dari dekonstruksi tidak selalu negatif kok. Kata kuncinya adalah pembalikan. Jadi jika secara umum informasi itu dimaknai secara positif, pendekonstruksiannya biasanya menjadi hal negatif, dan sebaliknya.
Nah, singkat cerita, diskusi tentang dekonstruksi ini pun harus berbatas waktu. Meninggalkan sejumlah pendapat, pertanyaan dan kesimpulan menggantung pada masing-masing peserta. Setidaknya pada saya. Misalnya, bagaimana jika kita salah mengartikan suatu situasi, atau bagaimana jika kita salah menangkap maksud si pembicara. Apalagi dalam bahasa lisan, seperti perbedaan bahasa wanita dan pria, dimana wanita cenderung berfikir kompleks sedangkan pria cenderung praktis. Dan banyak lagi.
Keesokan harinya, ada sebuah kesempatan lagi untuk melanjutkan kembali topik ini. Kali ini dalam situasi yang lebih santai. Sejumlah angota FLP-Sumut yang berkesempatan hadir, berkumpul kembali di Ulee Kareng di jl.Sei Serayu.
Benar saja, selang beberapa menit bersapa ria, kata dekonstruksi ini kembali melayang-layang di udara. Dan diskusi pun terbuka diselingi topik-topik random.
Nah, kini saatnya saya menyampaikan dekonstruksi saya tentang meet up tersebut. Semoga tidak ada yang tersinggung dengan “prasangka” ini. Semoga ini adalah prasangka yang baik. Here we go.
Pertemuan itu bisa jadi adalah sebagai wadah yang dimaksudkan untuk berdiskusi lebih lanjut, atau hanya sebagai penyambung silaturahim, atau bisa juga sebagai alat untuk menyampaikan maksud tersembunyi lainnya. Seperti sebuah konspirasi untuk memastikan sesuatu atau menyampaikan sesuatu.
Banyak yang melandasi opini ini. Ya, salah beberapanya adalah dari hasil pengamatan sendiri dari waktu-waktu sebelum dan selama meet up itu. Fragmen-fragmen makna yang berserakan yang sepertinya ingin disusun bentuknya. (Maaf jika bahasanya dibuat seribet mungkin^_^).
Pengulangan topic yang kerap dibahas, pengulangan dan penekanan kata yang menurut saya adalah kode yang hanya sebagian yang tahu, sehingga meninggalkan tanda tanya pada sebagian lainnya. Belum lagi topik-topik random yang dibahas untuk menyamarkan satu topik yang ingin dipastikan. Hingga pada akhirnya mereka berhenti di satu titik. Saya berfikir, sepertinya sudah cukup tarik ulurnya, sudah cukup petak umpetnya. Moment of truth.
Dan ternyata tebakan saya benar saudara-saudara. Ada suatu hal yang sedari tadi didiskusikan segolongan kelompok tadi dengan mengikutsertakan seluruh yang ada. Pertanyaannya adalah, itukah maksud utamanya?
Jika memang demikian, ada baiknya untuk mengutarakan langsung maksud dan tujuan. Karena ada saat dimana hal-hal yang secara umum selalu berlaku pada suatu kelompok, justru tidak berlaku pada kelompok yang sama. Tidak semua orang mengerti suatu kode, sindiran, dan teman-teman sejenisnya.  Kalau pun mereka mengerti kode tersebut, bukan tak mungkin jika mereka bersikap seolah tak mengerti. Bagi mereka, ada hal-hal dimana kepastian lebih diutamakan daripada kemungkinan yang sudah pasti. Apalagi dekonstruksi tidak bernilai mutlak. Maka perjelaslah. There are times when to the point is the best choice.

Jika dekonstruksi di atas salah, maka abaikanlah dekonstruksi ini. Loh? ^_^

You Might Also Like

16 comments:

  1. Hehee...emang siapa yang didekonstruksikan kak? #kepo :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapa ya vi...
      Coba tanya sama yang si reza...dia lebih tahu sepertinya๐Ÿ˜„

      Delete
  2. kalo kata Vicky Prasetyo...dekonstruksi hati untuk cinta yang hakiki dan mengilhami.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha...tetep ya mak๐Ÿ˜„ ujung2nya cinta juga๐Ÿ˜Š

      Delete
  3. Duh, meski waktu sekolah nilai bahasa bagus, tp teteup harus belajar lagih nih :)))

    ReplyDelete
  4. yahhhh kakak bener sepertinya memang ada yang ingin di deskontruksikan pada pertemuan tersebut :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada konspirasi ternyata diantara kalian ya za ๐Ÿ˜Ž

      Delete
  5. dekontruksi, apakah artinya sesimpel kosanya. de yang bertemu dengan kontruksi saat mereka sedang duduk santai, lalu de menyapa kontruksi maka jadilah dekontruksi.

    ReplyDelete
  6. Waduh... berat pembahasannya ini, dekonstruksi. Aku cuma ngertinya rekonstruksi... hihihi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita angkat bareng2 yok mbak molly. Biar lebih enteng ๐Ÿ˜„

      Delete

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜„