Berani Terima Tantangan Mie Boxing?

1:00 pm Pertiwi Soraya 7 Comments

Percayakah kamu jika menerima suatu tantangan akan membuat kamu mendapatkan tantangan lainnya? Sama seperti jika kamu menerima menerima suatu undangan kamu akan menerima undangan-undangan lainnya yang lainnya. Minggu ini dapat unangan nikahan, minggu depannya dapat lagi, dua malah, dan minggu depannya dapat lagi :D

Yaudah..yang belum ngundang gak usah baper. Karena kita bukan mau bahas undangan yang itu. kita mau bahas tentang tantangan Mie Boxing ni. Mie yang ngajak brantam :D
Mie Boxing
Belum di pesan aja ni mie udah ngajak berantam. Yang mau pesan dilemma, mau pilih yang mana. Nanti pilih yag ini ternyata kurang pedas, pilih yang itu ternyata terlalu pedas :D. Ya, dilemma itu terjadi pada kami yang bingung mau pesan yang mana. Lagi ingin makan yang pedas-pedas tapi khawatir kepedasan :D. Mau Tanya referensi kawan, kawan belum ada yang pernah coba.

Berhubung ini menu terbaru di Mie Ayam Jamur Mahmud, di depan Mesjid Al-Jihad tepatnya. Jadi bisa dikatakan para undangan yang hadir Kamis malam kemarin adalah salah beberapa dari para pencoba pertama serial Mie Boxing :D

Jadi Mie Boxing ini hadir dalam beberapa tingkat kepedasan. Mulai dari Hangat, Panas, Demam, Step, dan yang paling tinggi Stroke.

Dan akhirnya, semua jenis tingkatan pun terpesan. Ada beberapa yang pesan Stroke. Are we going to be like what we’ve ordered?

Tada..Dan tibalah pesanan di atas meja. Yang duduk di kanan dan kiri saya, Ririn dan Lily pesan jenis yang sama dengan saya. Kami pesan yang Panas. Sedang yang di depan saya, Iyyah, pesan yang Demam. Di sebelahnya Iyyah pesan yang Stroke. Wopp.

Jika diperhatikan seksama, tak ada beda tampilan pada masing-masing tingkat. Warna mie nya juga sama. Dan ketika saya memakan mienya saja,  ternyata rasa mie nya cukup pedas.

“Jangan lupa diaduk ya Mie nya”. Celutuk seseoarang dari sebelah.
Ekspresi "before" -nya kagak sabar, ekspresi "after"-nya kagak nahan

OO pantas...ternyata cabainya (baca: Sambalnya) ada di bawah mie nya :D. Iseng, saya cobain sambalnya doang, tanpa mie. Daann...untuk 5 detik saya terdiam. Pedaaasss... teh manis mana teh manis :D. Mendadak mata pun berair :D

Aslinya sih saya suka pedas, tapi bukan pedas cabai. Pedas merica. Kalau cabai tak kuat lidah dan mata ini. Eee.. dan ini malah sok-so’an nantangi cabai rawit pulak.

Setelah teh manis hangat berhasil menenangkan hati dan pikiran, saya pun lanjut mengaduk rata cabai dan mie nya. Kapok dah.

Setelah dicampur, ternyata saya mendapatkan rasa yang sesuai dengan keinginan saya, sangat pedas namun pedas yang masih dalam batas toleransi buat saya. Alhamdulillah.

Tergiur untuk mencoba rasa dari yang Demam dan Stroke, kami pun bergantian mendaratkan sumpit dari piring ke piring.
Suapan baru satu, tegukan entah yang keberapa :D
Bersyukur karena tak memesan yang Demam, karena pasti takkan kuat menghabiskannya. Apalagi yang Stroke. Pesan yang Stroke bagi saya sama dengan makan sepiring cabai rawit tumbuk dengan Mie sebagai toppingnya :D. Ampuun.

Iyyah saja yang baru sampai suapan ke beberapa (saya gak hitung pastinya), sudah pesan teh manis dingin lagi sama Mbak-Mbak itu. Dengan berbagai ekspresi yang dihasilkan orang yang mengunyah-ngunyah cabai rawit tapi tetap berniat menghabiskan kunyahannya. Sampai menodong irisan timun dan selada tetangga, demi menghabiskan porsi pesanannya. Saluut sama Iyyah.

Tapi ya namanya juga rasa, ia memiliki suatu kesamaan dengan waktu. Re-la-tif. Pedas kata awak, belum tentu pedas kata dia.
"Belum ada yang benar-benar pedas" Kata Uwak ini. Widiii...
Seperti Uwak satu ini. Saat kami lagi berjuang menghabiskan suapan yang kebeberapa, Uwak ini lagi berjuang dengan sumpitnya untuk menyapu bersih sisa-sisa mie di piringnya. Awak setengah pun belum. Padahal ia pesan yang Stroke loh. Dan gelas tehnya masih penuh. Trus keringatan juga enggak (Hmm...gak bisa ngomong lah).

Oiya, ternyata ada juga yang pesan yang Hangat. Lalu setelah makan dia cerita. Dia bilang, tadi ketika dia ikut mengaduk-aduk mie yang dipesannya, ia tak menemukan cabai di bawah mie nya. Meski sudah dibolak-baliknya. Ahaaa...ternyata yang Hangat memang tidak ada tambahan cabainya lagi.
Foto from Bang Dolly

Kalau kamu kira-kira bakal berani terima tantangan Mie boxing yang mana? Hangat, Panas, Demam, Step atau Stroke? Untuk semua porsi bisa dinikmati dengan harga yang sama kok, yaitu Rp. 18.000,-

Btw, terima kasih banyak undangannya Mimin @mieayamjamurmahmud :D.

All resized-watermarked photos were taken with Nikon D3200
(Semua foto ber-watermark dan sudah di resize diambil dengan Nikon D3200)

You Might Also Like

7 comments:

  1. Kayaknya aku udah jatuh hati sama yang panas, ntar kalo makan mi boxing lagi, tetap pesan yang panas

    ReplyDelete
  2. Yang hangat aja rasanya udah pedas gitu di lidahku, gimana lagi level stroke yak? Wiiihh... ngerihlah! :p

    mollyta(dot)com

    ReplyDelete
  3. sepertinya pedes banget nih..tapi kalau saya makan mie sih berani coba mbak..sukak soalnya :)

    ReplyDelete
  4. Mari....silahkan dicoba. kira-kira tahan sampai level yang mana ya.. :D

    ReplyDelete
  5. Daku kalau makan mie-miean gitu memang harus pedas karena aku orangnya mudah enek. tapi nggak berani juga nyoba yang puedees banget.
    btw, Medan kayaknya lagi suka kuliner yang pake level pedas gitu ya, di beberapa tempat makan aku lihat nawarin menu dengan level pedas tertentu, cuma yang di mie ayam jamur mahmud aku belum pernah nyoba sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awak juga...apalagi kalau yang ada kuahnya. 😄😄😄

      Apa lagi ngetren ya yang pedas2. Mungkin warga medan sudah bisan dengan kata2 manis #eh. Jadi mau coba pake yang pedas-pedas😄😄😄

      Delete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Thank you for visiting. Feel free to leave your response. 🙏😁😄